Sabtu, 22 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Maryam Nazihah

Dibalik 16 Tahun Kehidupan


saat berusia 1 hari
Subuh hari itu, 9 April 1996 seorang wanita berumur hampir 30 tahun yang sedang hamil tua pergi menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Kita di bilangan Slipi, Jakarta Barat, dengan didampingi oleh seorang pria berumur 2 tahun lebih tua darinya. Pukul 22.55 WIB lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang kemudian diberi nama Maryam Nazihah, yang berarti wanita paling mulia (Maryam) yang bersih dari noda. “Dikirain kamu itu bayi berbadan besar sampe-sampe susah dilahirin, ternyata mungil banget,” kata wanita itu setelah mengetahui bahwa anaknya itu hanya memiliki berat 2,9 kg dan panjang 49 cm. Wanita yang melahirkan itulah yang sampai saat ini saya panggil dengan sebutan Ummi (ibu) dan pria yang bersamanya adalah Abi (bapak). Ummi bernama Agustina Nuranie dan Abi bernama Rois Hadayana Syaugie.

MASA BALITA

3 tahun masa kecil saya dihabiskan bersama dengan kakak laki-laki yang hanya terpaut usia 1 tahun di atas saya dan kedua orang tua di rumah milik datuk yang cukup besar dan nyaman di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Di bulan April tahun 1999 atau tepatnya 4 hari sebelum hari ulang tahun saya yang ke-3, saya diberikan seorang adik perempuan.

bersama Kak Tsabit
Mulai dari bayi, saya sudah dibiasakan memakai jilbab. “Kamu dipakein jilbab dari sekarang supaya nanti sudah terbiasa menjalankan kewajiban bagi semua perempuan muslim ini,” begitu kata ummi dan abi. Saya sanga dekat dengan kakak. Saking dekatnya kami, selama playgroup di KB Islam Az-Zahra, saya sangat jarang belajar dan bermain dengan kelas saya sendiri, melainkan saya pergi dan belajar bersama kakak dan teman-temannya di TK B.

Sejak TK, saya sangat menyukai olahraga. Dan saya pun menjadi tim bola keranjang TK saya. Di tahun 2001, saya kembali diberikan seorang adik perempuan, sehingga saya pun menjadi 4 bersaudara. Dan Alhamdulillah saya berhasil menjadi murid teladan selama TK A maupun TK B.

MASA SD

Juni 2002, rumah saya pindah ke daerah Kebon Jeruk, tapi masih berada di wilayah Jakarta Barat. Tahun itu pula saya akan memasuki tingkat SD. Karena jarak dari rumah ke sekolah lama cukup jauh dan karena ingin memberikan pendidikan Islam yang lebih luas kepada saya, orang tua saya mendaftarkan saya ke Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) A Ba Ta di daerah Srengseng.

Sebenarnya saya sudah mulai menghafal surat-surat pendek dari TK, tapi di SD, saya lebih ditekankan untuk menghafal lebih banyak surat-surat di juz 30. Alhamdulillah, saya dapat merampungkan hafalan juz 30 di akhir kelas 3. Dan pada kelas 4 akhir saya resmi menjadi wisudawati Hafizhul Qur’an juz 30 di lingkungan sekolah saya.

Alhamdulillah, selama 4 tahun bersekolah di SDIT A Ba Ta, saya berhasil mendapat peringkat 1 di kelas maupun tingkat paralel (digabungkan dengan kelas lain). Saya juga memutuskan untuk terjun ke dunia bela diri dengan mengambil ekskul taekwondo dan sempat mengikuti dua kali ujian kenaikan tingkat. Saya sangat nyaman dengan lingkungan sekolah ini.

Namun mungkin memang jalan takdir saya untuk bersekolah di lain tempat. Saat berpamitan, saya paling ingat sebuah pesan dari seorang guru saya yang bernama Pak Hafizh. Dia berkata “Yah, A Ba Ta kehilangan orang seperti kamu, Nazihah. Semoga tetap sukses ya, di manapun kamu berada. Semoga tetap bisa bersinar di jalan Allah”.

Akhirnya saya pindah ke Madina Islamic School di Tebet, Jakarta Selatan. Sekolah itu berbasis internasional, membuat saya sedikit khawatir tidak dapat beradaptasi dengan baik karena saya menyadari kemampuan bahasa Inggris saya masih sangat kurang. Pada saat pindah itu, ummi baru saja melahirkan anak ke-6 atau adik ke 4 saya, setelah sebelumnya saya juga mendapatkan seorang adik di tahun 2004. Saya pun menjadi 6 bersaudara.

Jumlah murid yang sedikit di Madina membuat saya merasa sangat nyaman. Kekeluargaan yang tercipta pun cukup kuat. Selain itu, kegemaran saya dalam bidang olahraga masih terus saya jalani selama di Madina. Saya menjadi tim basket dan tim atletik, walaupun saya tidak mengikuti ekskul bola basket. Meskipun hanya pernah juara 4 dalam pertandingan basket se-kecamatan, tapi itu cukup membuat saya bangga karena saya memang baru pertama kali berkecimpung di dunia basket. Sementara di bidang atletik, saya pernah mengikuti O2SN lari sprint 60 meter dan berhasil lolos sampai tingkat kecamatan II serta lomba lari 5 kilometer.

Di Madina Islamic School, saya mengalami perubahan yang cukup baik. Saya berkembang menjadi anak yang lebih terbuka, berbaur, dan sedikit lebih percaya diri. Dan Alhamdulillah, saya masih bisa mempertahankan prestasi dengan meraih peringkat 1 di kelas 5 dan 6 dan menjadi peraih NEM tertinggi di sekolah. Selain itu, di akhir kelas 6 saya dapat merampungkan hafalan Al-Qur’an juz 29 dan 28. Setelah itu saya mengikuti Tes Penerimaan Siswa Baru (PSB) SMP Labschool Kebayoran dan akhirnya memutuskan untuk masuk ke sekolah umum untuk pertama kalinya setelah sebelumnya dinyatakan diterima.

MASA SMP

Juli 2008 saya resmi menjadi murid SMP Labschool Kebayoran. Menjadi murid sekolah umum untuk pertama kalinya membuat saya sedikit canggung, karena terbiasa memiliki teman yang semuanya adalah muslim dan lingkungan yang semua perempuannya memakai jilbab. Untungnya hal tersebut hanya berlangsung sebentar. Saya dapat menerima perbedaan-perbedaan tersebut dan justru merasa nyaman dengan itu. Saya merasa nyaman dengan angkatan saya, yaitu angkatan 8 yang dikemudian hari bernamakan Scavolendra Talvoreight.

Namun seperti biasa, saya agak mengkhawatirkan kemampuan akademis saya, karena saya merasa sekolah saya bukanlah sekolah yang dikenal banyak orang, dan pandangan tentang Labschool Kebayoran yang katanya berisikan anak-anak pintar membuat saya semakin tidak percaya diri. Semester 1 kelas 7 memang tidak terlalu berjalan mulus. Nilai-nilai saya masih tidak stabil, terlebih di pelajaran IPA. Semenjak mengetahui nilai ujian praktik dan UASBN IPA, pandangan saya terhadap pelajaran ini berubah. IPA yang tadinya menyenangkan berubah menjadi pelajaran yang sangat rumit. Hal ini diketahui oleh wali kelas saya saat kelas 7, yaitu Pak Adi, sehingga di rapor kualitatif kelas 7 semester 1 saya ia menuliskan “...walaupun katanya ‘ga suka’ yang tentang ilmiah. Ah, barangkali ada jendela yang belum terbuka. Ada gudang ilmu yang masih terkunci dan Ziha belum mau membukanya. Bukanlah Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Chaldun, Al-Jabbar, yang mengembangkan prinsip-prinsip ilmiah adalah orang-orang yang senang dan piawai dalam bidang sastra”. Beliau memberikan nama-nama tokoh tersebut karena saat itu saya mengaku sangat menyenangi puisi. Hal itulah yang menjadi pemicu saya untuk belajar lebih serius dan tekun dalam pelajaran IPA. Saya menjadi lebih giat dalam belajar IPA dan Alhamdulillah semuanya mulai terbayar di rapor kelas 8 semester 2. Pelajaran IPA menjadi pelajaran yang memberikan nilai sangat nyaris sempurna. Sampai di akhir kelas 9, saya bisa memberikan bukti kepada Pak Adi bahwa jendela gudang ilmu yang kala itu masih terkunci sudah saya buka sedikit demi sedikit dengan mendapat nilai sempurna di Ujian Nasional (UN) IPA. Dan kekhawatiran-kekhawatiran saya saat pertama kalinya masuk ke SMP Labschool Kebayoran pun tak telalu terbukti, termasuk kekhawatiran sosial saya, tidak dapat beradaptasi dengan baik karena keluarga saya mungkin tidak semampu keluarga teman-teman saya di Labschool. Meskipun begitu abi selalu berkata "Teruslah hidup dalam kesederhanaan, walaupun saat kita berlebih".

NEM yang saya dapatkan pun cukup memuaskan. Tiba di rumah saya membaca surat dari abi dan ummi (semua orang tua menuliskan surat untuk anaknya) dan melalui surat itu abi dan ummi berkata “...yakinlah itu yang terbaik bagi Ade dari Allah. Teruslah bersemangat, berprestasi dalam berbagai hal, senantiasa berusaha untuk mencapai yang terbaik. Tetapi hasil akhirnya selalu harus kita serahkan pada keputusan Allah. Apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah, sebaliknya apa yang tidak baik menurut kita justru mungkin baik menurut Allah”. Surat tersebut cukup bisa menenangkan saya. Tapi saat membaca surat itu, saya semakin merasa bersalah tidak dapat memberikan yang terbaik untuk mereka. “Kalo dalam bola, kamu itu udah jago ngegocek nya, cuma belum berhasil mencetak gol”, begitu kata abi. Akhirnya saya merasa lega dan bertekad untuk bisa lebih baik kelak di SMA. Saya harus mampu mencetak gol-gol baru yang lebih banyak dan lebih baik.

Metode-metode pembelajaran di SMP Labschool Kebayoran membentuk diri saya menjadi anak yang lebih percaya diri dan aktif dalam kegiatan. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari OSIS/MPK Hasthaprawira Satya Mahadhika, tepatnya menjadi bendahara 1 OSIS. Bersama teman-teman OSIS/MPK lah saya belajar bagaimana berorganisasi, memimpin, dan juga dipimpin. Sebuah pengalaman berharga yang tak akan terlupa sampai kapanpun.

Saya pernah menjadi siswa pertukaran di SMP Negeri 29 Jakarta, SMP Negeri 1 Malang, dan Sri Cempaka Damansara School Malaysia. Kegiatan-kegiatan ini membuka mata dan hati saya akan perbedaan sosial dan kultur. Begitupun dengan kehidupan di dalam sekolah itu sendiri. Semua kebersamaan yang tercipta mulai dari Labs Fresh School Day, KALAM, AKTUAL, SSN, BIMENSI, ACEX LABSPART 2009 dan 2010, TO UAN, Paket, kepanitiaan Farewell, Farewell dan acara lainnya membuat saya menyadari arti persahabatan yang utuh. Mereka semua, teman-teman angkatan 8, adalah teman-teman yang tak tergantikan.

Di tahun terakhir SMP, saya sempat mengalami kegalauan untuk memilih SMA. Saat itu saya bingung antara mencoba jalur khusus SMA Labschool Kebayoran atau memantapkan hati untuk masuk ke salah satu SMA negeri unggulan di Jakarta. Namun setelah meyakinkan diri sendiri dan berkat masukan dari orang lain, saya memutuskan untuk mengambil jalur khusus SMA Labschool Kebayoran dan Alhamdulillah saya dapat diterima di sekolah itu.

MASA SMA

Menjadi siswi SMA Labschool Kebayoran yang berasal dari SMP yang sama membuat saya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Saya sudah cukup tau kegiatan-kegiatan sekolah ini. Di tahun pertama, saya ditempatkan di kelas XE yang berwalikelaskan Pak Edy Rufianto.

Teman-teman dan lingkungan di XE membuat saya merasa nyaman menjalani hari-hari yang bisa dibilang berat selama kelas 10. Adaptasi pelajaran mungkin yang paling sulit karena di awal, nilai ulangan yang saya dapat masih di bawah harapan.

Kegiatan pertama di SMA adalah MOS, lalu diikuti dengan pesantren Ramadhan (Pilar). Kegiatan selanjutnya adalah Trip Observasi yang sebelumnya didahului dengan Pra-TO. Pra-TO adalah kegiatan yang saya bilang sangat berat, namun di Pra-TO ini angkatan saya, angkatan 11, resmi mempunyai nama, yaitu Dasa Eka Cakra Bayangkara (Dasecakra) dan diketuai oleh Bayu, Maga, dan Rayhan Athaya.

TO 2011 bersama Kel. 3 dan Bapak Apip dan Bu zaenab
Kegiatan yang ditunggu pun tiba. Trip Observasi 2011. Dasecakra bersama guru-guru dan kakak OSIS-MPK pergi ke Desa Parakan Ceuri, Purwakarta, selama 5 hari, yaitu dari tanggal 20-24 Oktober 2011. Teman-teman kelompok saya adalah Rayhan Bayu, Naryn, Abhi, Dinda Salsabila, Adnin, Andre, dan Aqel, dan didampingi oleh Kak Chicha dan Kak Nabilla. Kami mempunyai bapak asuh yang bernama Pak Apip dan istrinya, Ibu Zaenab. Kegiatan TO merupakan kegiatan yang paling mengesankan di awal kelas 10.

Di semester 2, ada studi lapangan ke Bandung dan kegiatan-kegiatan lainnya, misalnya Bintama. Awalnya saya dan teman-teman merasa tidak tertarik dan takut mengikuti Bintama. Tapi ternyata, Bintama menjadi kegiatan yang paling mengesankan bagi saya dan mungkin hampir seluruh teman-teman Dasecakra.

Kegiatan selanjutnya adalah Lapinsi atau Latihan Kepemimpinan Siswa. Ini adalah program yang wajib diikuti oleh siswai-siswi yang ingin menjadi pengurus OSIS. Setelah lapinsi, ada Tes Potensi Organisasi yaitu tes untuk menjadi pengurus OSIS, yang terdiri dari tes kebugaran jasmani, tes presentasi makalah, dan tes agama. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menjadi calon pengurus OSIS tahun 2012-2013 yang pada 9 September lalu dilantik dan bernamakan Amarasandhya Batarasena.

Madrid, bersama Dhyka Tikka Rama
Tahun 2012 mungkin menjadi tahun yang membahagiakan bagi saya, karena orang tua saya bersedia memberangkatkan saya untuk mengikuti misi budaya ke Eropa. Memang bukan misbud dari sekolah, melainkan dari sanggar seorang teman. Dari tanggal 22 Juni-5 Juli 2012 saya beserta 15 orang lainnya pergi ke Barcelona, tepatnya di Lloret de Mar untuk memperkenalkan budaya tari saman, piring, dan batak, serta musik tradisional dari Indonesia. Selain Barcelona, rombongan kami juga mengunjungi Madrid, Zaragoza, Nice, Cannes, Monaco, dan Milan. Ini adalah sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Alhamdulillah, hasil yang saya raih selama kelas 10 terbilang memuaskan, dan akhirnya saya naik ke kelas XI jurusan IPA. Saya sendiri masuk ke XI IPA 1 yang berwalikelaskan Bu (Sensei) Juli. Semoga di kelas 11 ini saya dapat menjadi lebih baik dan seluruh kegiatan selama kelas 11 dapat terlaksana dengan baik.

Teman-teman KB Az-Zahra

Teman-teman TK A Al-Chasanah

Bersama Kakak, sama-sama botak

keluarga

XE April 2012

Camp Nou (Barcelona FC)

Ki-ka: Ziha Naryn Anne Aza Tikka

Perpisahan XE di Tanjung Lesung, Juli 2012

1 komentar: