Jumat, 21 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Kallista Alsadila


Hidup Ini Telah Berjalan 15 Tahun

Cap kaki saya saat lahir
Cap kaki saat saya baru lahir

Tanggal 14, bulan Januari, tahun 1997, lahir seorang bayi perempuan dengan berat 3,6 kilogram dari pasangan Arga Bharata dan Nina Katharina di Rumah Sakit Bersalin YPK. Dengan bantuan Prof. H. dr. Sudraji, persalinan berjalan cukup lancar. Bayi perempuan tersebut diberi nama Kallista Alsadila. Dalam bahasa yunani, Kallista berarti cantik dan Alsadila merupakan nama yang mama inginkan untuk bayi perempuan. Sehari-hari saya akrab dipanggil Alsa.


Alm. Eyang sedang menggendong saya, saat saya baru lahir
Alm. Eyang sedang menggendong saya, saat saya baru lahir

Orang tua yang saya banggakan, Arga Bharata dan Nina Katharina
Orang tua yang saya banggkan, Arga Bharata dan Nina Katharina

Saat saya baru saja lahir
Saya baru saja lahir


Pada saat saya lahir, mama dan papa merasa bingung karena saya tidak seperti bayi lainnya. Kulit saya berkerut, seperti terlalu lama terendam dalam air.

"Kamu pas lahir aneh, gak kayak bayi lain, kulit kamu berkerut semua, agak mirip alien waktu itu"

Saya (sebelah kanan) dan Mama
Menurut mama, sepertinya ada kesalahan dalam perhitungan bulan, karena mama tidak tahu persis kapan ia mulai hamil. Dulu mama sulit sekali untuk memiliki anak karena mengidap Endometriosis dan setelah diberi berbagai bantuan medis baru akhirnya mama hamil. Setelah 2 hari, akhirnya saya terlihat sebagai bayi normal.


Saya merupakan anak pertama dari 2 bersaudara, dan memiliki adik laki-laki bernama Rabialco Argana. Alco (begitulan sapaanya), memiliki nama yang bagus menurut saya, karena Argana merupakan gabungan dari Arga dan Nina, dan tentu saja saya sedikit iri.


Masa Balita


        Saat berusia 1 tahun, saya sudah dapat berjalan dan dapat berbicara pada usia 1,5 tahun. Saya memulai pendidikan saya di Kelompok Bermain Al-Ikhsan saat berusia 2,5 tahun. Usia yang muda dibandingkan teman-teman saya pada waktu itu. Awalnya pihak sekolah tidak mau menerima, karena usia masalah usia. Melihat saya yang sangat aktif, dan sudah ingin bersekolah, akhirnya saya diterima. Saya bersekolah di Al-Ikhsan selama 3 tahun, KB, TK A, dan TK B. 

Pada masa itu saya termasuk anak yang aktif, saya sering mengikuti berbagai perlombaan dan tampil di berbagai acara. Tetapi ketakutan saya yang sangat besar pada badut dapat menghentikan segalanya. Pernah pada suatu acara, saya seharusnya tampil sebagai burung, tapi batal karena melihat badut. Saya pun menangis karena tidak mau lagi tampil dan akhirnya hanya duduk di pangkuan mama.


Masa SD

Menginjak SD dengan umur 5 tahun seperti yang saya alami, tidaklah mudah. Saat lulus TK, Kepala Sekolah Al-Ikhsan berkata 
" Bagaimana kalau Alsa mengulang lagi TK-nya? karena peraturan pemerintah sedang ketat masalah umur, takutnya Alsa gak diterima dimana-mana". 
Karena saya tidak mau mengulang dan bersikeras untuk sekolah, akhirnya mama memutuskan untuk tetap melanjutkan ke SD. Kami pun mendaftar ke sekolah tujuan yaitu  Sekolah Dasar di SD Islam Al-Azhar Pusat 01, benar saja karena umur saya kurang, saya tidak diterima. Papa sempat menyarankan untuk mengulang TK, saya tetap tidak mau. Saya pun mendaftar di sekolah lain, tapi hasilnya sama saja, tidak ada yang mau menerima karena umur yang kurang. Sempat kehilangan harapan, sampai akhirnya saya mendaftar di Yasporbi 01. Saya pun melakukan tes dan hasilnya memuaskan. Lagi-lagi, Kepala Sekolah sempat mempermasalahkan umur saya, papa terus memohon. Hari itu adalah H-1 sebelum masuk sekolah, tidak ada waktu lagi untuk sekolah mengadakan rapat untuk masalah ini. Akhirnya saya pun diterima dan mulai bersekolah di keesokan harinya. 

Kelas 1-kelas 2 SD, bisa dibilan saya cukup sibuk. Selain sekolah, saya mengikuti banyak les. Yang pertama adalah kumon, les matematika. Teknisnya, saya datang 2 kali seminggu mengerjakan soal, langsung dinilai, dan memperbaiki, jika ada yang salah. Saat pulang saya membawa pr untuk setiap harinya. Waktu itu saya tidak menganggap kumon adalah beban, justru kumon membantu nilai saya disekolah. Saya jadi terbiasa melatih otak saya tiap harinya. 

Kedua, ballet di Namarina, salah satu sekolah tari terkenal di Jakarta. Pada awalnya, bukan saya yang menginginkan les ini, tapi mama yang mendaftarkan. Lama kelamaan saya jadi tertarik dan tampil di konser ballet setiap tahunnya. Saya juga berkesempatan untuk mengikuti ujian tari tingkat international yaitu Royal Academy of Dance (R.A.D) setelah lolos seleksi. 

Ketiga, les piano. Sejujurnya sampai sekarang piano bukanlah sesuatu yang saya inginkan dari hati sendiri. Ini merupakan cita-cita papa yang akhirnya, ingin ia wujudkan melalui anak-anaknya. Papa sangat menyesal karena ia tidak mempergunakan fasilitas les piano yang ia punya saat kecil. Pada saat dewasa papa baru menyadari, bahwa dengan mahir bermain piano merupakan dibutuhkan dalam pergaulan. Karena itu, papa tidak mau anak-anaknya seperti dia.

Dengan kesibukan ini, bisa dibilang nilai saya disekolah cukup memuaskan. Selalu mengalami peningkatan setiap semesternya. Puncaknya pada semester kelas 2, saya mendapatkan ranking 1. Tetapi rasa senangku harus berakhir cukup cepat, karena mama memberitahukan rencana saya untuk pindah sekolah. Dalam benakku waktu itu, pindah sekolah merupakan sesuatu yang sangat menakutkan. Harus meninggalkan sekolah lama, berpisah dengan teman-teman, beradaptasi disekolah baru, dan belum mengenal siapapun. Ternyata sekolah tujuannya ada SD Islam Al-Azhar Pusat 01, sekolah awal tujuan saya. Saya melakukan tes, dan akhirnya saya diterima.

Banyak sekali pengalaman menyenangkan dan berguna bagi hidup selama belajar di SD Islam Al-Azhar. Karena selama belajar disana, kami belajar dengan fondasi-fondasi Islam yang kental. Program-programnya juga menari seperti Pesantren Kilat yang diadakan di Pusat Pendidikan dan Latihan Al-Azhar Cigombong, Sukabumi. Selain belajar agama, kami juga mengikuti outbond-outbond seru selama disana.

Saya dan teman-teman SD

Saat kelas 4 - 5 SD saya sempat mengikuti pelatihan untuk mengikuti olimpiade matematika se Al-Azhar Indonesia. Setelah mengalami kesepakatan akhirnya sekolah, mengirim saya dan beberapa teman untuk mengikuti lomba. Walaupun belum berkesempatan untuk menang, saya cukup bangga karena berkesempatan terpilih menjadi wakil sekolah untuk mengikuti olimpiade.

Tibalah saya di kelas 6. Saya harus berusaha keras untuk lulus, karena pada tahun itu saya harus mengikuti UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Itu adalah tahun pertama UASBN diadakan, karena sebelumnya kakak kelas saya masih lulus dengan ujian sekolah biasa. Walaupun standar kelulusan cukup rendah, tetap saja saya haru belajar maksimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Saya tidak ingin ijazah saya bertuliskan nilai minimum kelulusan. Sekolah pun memberikan fasilitas yang cukup seperti penambahan materi, try out, dan yang tidak terlupakan doa bersama. Setelah itu, hasil yang akan didapatkan nanti adalah hasil usaha saya sendiri.

Pada saat mengerjakan UASBN saya cukup tegang karena memikirkan hasil yang akan saya dapat nantinya. Tetapi saya mencoba untuk tenang dan mengerjakannya sebaik mungkin. Setelah semua selesai, giliran Ujian Praktek. Di tahun saya, tes dilakukan selama berhari-hari. Saya harus menghafal surat-surat pendek Al-Quran, berpidato, menyetrika, bercerita dalam Bahasa Inggris,dll.
Untuk perpisahan, sekolah mengadakan acara ke Lembang. Seperti refleksi untuk melepaskan kejenuhan. Acaranya berlangsung cukup menarik dan sedikit sedih mengingat itu adalah acara terakhir bersama Angkatan 39, angkatan saya. 
     
Pengumuman kelulusan pun datang, pada hari itu saya sedang tidak enak badam, sehingga saya datang pada saat acara telah selesai dan sudah waktunya mengambil rapor. Angkatan 39 lulus 100%, sangat senang saat mendengarnya. Tidak disangka, saya mendapatkan 3 piala, peringkat 1 UASBN Matematika, peringkat 3 UASBN Bahasa Indonesia, dan peringkat 3 Seni Rupa. Saya juga mendapatkan NEM cukup baik yaitu 26,15.

Masa SMP

Saya melanjutkan ke SMP Labschool Kebayoran. Awalnya saya mengikuti tes di SMP Al-Izhar Pondok Labu, gedung sekolahnya bagus, fasilitasnya baik, dan sekolah ini masuk dalam peringkat 10 besar DKI Jakarta. Saat mengetahui saya diterima, mama langsung mengurus administrasi dan keperluan lainnya. Dipikiranku saat itu, saya pasti sekolah disana. Tiba-tiba mama menyuruh saya untuk tes di SMP Labschool Kebayoran, dan saya sudah tidak memiliki niat untuk masuk sekolah itu. Pada saat tes saya cukup kaget, melihat banyaknya jumlah peserta penerimaan siswa baru di Labschool. Sekitar 1000 orang tes pada waktu itu. Saya langsung berfikir, tidak mungkin diterima karena kuota penerimaan hanya sedikit yaitu 200 orang. Dan juga saat tes, saya merasa tesnya sangat susah dan saya tidak bisa mengerjakannya.

Tibalah saat pengumuman. Papa sudah bersiap didepan komputer untuk melihat pengumuman online. Karena masih harus berangkat sekolah, saya pun lekas mandi. Saat mandi papa berteriak,
"Alsa, kamu gak keterima sa!!!"
Saya merasa biasa saja dan tetap melanjutkan mandi. Setelah siap berangkat, saya merasa penasaran dengan pengumumannya. Saat saya cek, papa salah melihat pengumuman. Papa melihat pengumuman untuk SMP Labschool Rawamangun. Setelah saya buka SMP Labschool Kebayoran, Alhamdulillah ternyata saya diterima. Mama dan papa sangat senang mendengarnya, karena mereka sangat menginginkan saya untuk bersekolah disana.

Memasuki SMP Labschool Kebayoran, saya pindah rumah ke Jakarta Selatan, tepatnya di Jl. Bangka VII. Kondisi ini sangat menguntungkan saya, karena tidak perlu bersusah payah untuk bangun pagi.

Terjadi banyak sekali perubahan di SMP. Pertama-tama saya harus mengikuti masa orientasi siswa yaitu Labs Fresh School Day. Saya cukup kaget karena, banyak hal yang harus dikerjakan, seperti membuat nametag dengan design yang sulit, rambut dikuncir 6 juga membawa makan siang dengan teka-teki. Hari pun berjalan, selesailah mos pertama dalam hidup saya. Saat pengumuman kelas, akhirnya saya ditempatkan di kelas 7E. Di Labschool ada tradisi untuk membuat nama kelas, pada akhirnya kami membuat nama berdasarkan salah satu super hero yaitu Green Lan(7E)rn. 

Green Lan(7E)rn


Di kelas 7 ini, saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Kami juga memiliki program wajib yaitu KALAM dan AKTUAL. KALAM atau Kajian Islam Ramadhan adalah pesantren kilat yang diadakan disekolah untuk para murid beragama Islam. Pada kegiatan ini kakak-kakak OSIS dan MPK ikut terlibat dalam pelaksanaannya. Kami dilatih untuk lebih disiplin dan mempelajari Islam lebih dalam lagi.

AKTUAL atau Ajang Kreatifitas Tim dalam Unjuk Analisa Lapangan adalah study tour sambil mengerjakan tugas. Selama di Pasir Mukti kami mengikuti tour dan mencatat untuk keperluan laporan ilmiah. Setelah itu kami diberikan waktu untuk membuat laporan perkelompok dan mempresentasikannya.

Selain kegiatan wajib, saya terpilih menjadi Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Setelah melewati proses pelantikan, MPK kami akhirnya memiliki nama Saptanayaka Wirja Dhyatmika yang artinya OSIS & MPK angkatan tujuh yang berani membela keberanian untuk kebenaran. Di MPK saya mendapat jabatan Bakti Sosial 1. Karena menjadi MPK kelas, saya diwajibkan untuk mengikuti ekskul paskibra. Saya pun dilantik dan resmi menjadi Angkatan Penerus 2.

Pelantikan Paskibra Angkatan Penerus 2

Cerita kelas 8 dimulai saat saya memasuki ke ruangan kelas 8D. Pada awalnya saya tidak mengira kelas 8 akan menjadi sangat menyenangkan. Menurut saya pengalaman kelas 8 adalah salah satu cerita yang tidak akan terlupakan. Selain kompak, e-8u(D)dy juga menjadi kelas yang sangat nyaman.


BIMENSI (Bina Mental Siswa) merupakan kegiatan wajib di kelas 8. Kegiatan ini dilaksanakan di SPN Lido dan dilatih oleh Polisi. Tujuan dari kegiatan ini adalah menjadikan kami lebih disiplin dan kuat. Kedengarannya memang menakutkan, tetapi sesungguhnya saya cukup menikmati kegiatan tersebut.

Dhirkan, Putri, Kristin, Saya (dari kiri ke kanan) saat BIMENSI

Alhamdulillah saya juga terpilih sebagai OSIS dan mendapat jabatan Koordinator Hubungan Masyarakat. OSIS kami memiliki nama Hasthaprawira Satya Mahadhika, OSIS dan MPK angkatan 8 yang jujur dan istimewa.



Naik ke kelas 9, saya cukup berhati-hati masalah nilai. Saya ingin lulus dari SMP Labschool Kebayoran dengan nilai yang memuaskan. Bersama kelas 9C proses tersebut terasa lebih mudah. Saya merasa sangat nyaman berada di kelas Van(9C)ouver.

Persiapan kami untuk mengikuti UAN cukup banyak. Dari paket, tryout, dan TO UAN (reflekasi terakhir sebelum UAN). Selain persiapan UAN, angkatan kami juga sibuk mempersiapkan farewell party dan buku tahunan. Selain itu, lahir juga nama angkatan saya yaitu Scavolendra Talvoreight yang artinya eight is a tipical entity which figure a never ending story.

Scavolendra Talvoreight

Hari yang ditunggu telah tiba yaitu pengumuman kelulusan SMP. Pada hari itu saya merasa sangat tegang. Meskipun berusaha untuk tetap optimis, bisa dirasakan tekanan-tekanan yang ada pada saat itu. Setelah mendengar sambutan Kepala Sekolah, akhirnya angkatan 8 SMP Labschool Kebayoran resmi lulus 100%. Saya pun bergembira walaupun masih harus menunggu hasil yang saya dapat. Mama pun mengambil hasil rapor, Alhamdulillah saya mendapatkan NEM 38,25. Saya sangat bangga dan puas dengan nilai yang saya dapat.

Saat liburan sekolah, saya dan kelas 9C pergi melaksanakan refleksi ke Anyer. Mengingat itu adalah terakhir kali 9C berkumpul, pada akhirnya kami merasa sedikit sedih. Tetapi refleksi itu merupakan salah satu pengalaman menyenangkan.

Anyer, bersama 9C

Andiya, Nabilah, Dea, Sasha, Saya (dari kiri ke kanan) 
sedang berlibur di Singapura saat liburan lulus SMP

Masa SMA 

Masa SMA pun tiba, masa yang orang bilang, masa terindah dalam hidup kita. Saya bersekolah di Labschool Kebayoran, melalui jalur khusus. Saya hanya perlu melewati tes berkas dan wawancara.

Saya (sebelah kanan) dan sahabat saya, Nabilah Kushaflyki

Saya masuk di SMA Labschool Kebayoran menjadi angkatan 11, atau disebut juga Dasa Eka Cakra Bayangkara (Dasecakra). Seharusnya SMA diawali dengan MOS, tetapi karena saya mengikuti program Interchange dari CISV ke Austria, saya pun masuk ke kelas XD pada minggu ke-3.



CISV Interchange Austria-Indonesia

XD

Dasecakra

Kelompok TO: 25 "Rasa Sayange"
Setelah MOS, saya mengikuti program PILAR. Hampir mirip dengan KALAM, bedanya kami dibimbing oleh para kakak pengajar dari Darut Tauhid. Pada Bulan Oktober 2011, saya mengikuti kegiatan Trip Observasi (TO). Pada kegiatan ini, angkatan 11 pergi ke Desa Parakan Ceuri, Purwakarta untuk tinggal selama kurang lebih 5 hari. Kegiatan TO ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, karena dari kegiatan ini saya belajar untuk berbagi dengan sesama dan bersyukur dengan apa yang telah diberikan Allah SWT. Namun sebelumnya, saya harus mengikuti kegiatan Pra-TO. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti TO. Kami membuat nametag, mengecat tongkat, belajar memasak berkelompok, dll. Pada kegiatan Pra-TO ini terpilihlah 3 ketua angkatan kami, yaitu Bayu, Maga, dan Abon.

Setelah TO kami mengikuti study tour ke Bandung. Selama 2 hari 1 malam, kami mengunjungi beberapa tempat. Disana saya mengunjungi pabrik farmasi, kebun botani, dll. Setelah itu kami harus membuat laporan tertulis sebagai nilai tugas.


Setelah study tour, lagi-lagi saya harus mengikuti program pembinaan mental yaitu Bina Mental Kepemimpinan Siswa (BINTAMA), dilaksanakan di Markas Kopassus, Serang. Saya mengikuti kegiatan ini selama kurang lebih 6 hari. Banyak pelajaran mengenai hidup yang saya dapatkan selama disana.

Pada liburan kelas 10 semester satu, saya mengikuti misi budaya ke India yang diselenggarakan IOV. Selama disana, saya menampilkan tarian-tarian tradisional yaitu, tari Lenggang Nyayi, Tari Papua dan Rapai. Saya juga mendapatkan banyak teman internasional. Beberapa negara lain yang ikut serta adalah Poland, Turkey dan Spain.

Pelantikan OSIS SMA
Kegiatan terakhir yang saya ikuti adalah Latihan Kepemimpinan Siswa (LAPINSI). Kegiataan ini diadakan di sekolah, selama 2 hari 1 malam. LAPINSI merupakan kegiatan wajib, bagi murid yang berminat untuk mejadi pengurus OSIS. Setelah itu, rangkaian untuk menjadi pengurus OSIS adalah Tes Potensi Organisasi (TPO). Dalam sehari kami harus mengikuti beberapa tes, yaitu Tes Fisik, Tes Agama dan Tes Makalah. Alhamdulillah saya lolos, dan sekarang menjadi pengurus OSIS dengan jabatan Publikasi Dokumentasi 3.

Buka Bersama XI IPA 2
Kelas 10 pun akhirnya terlewati, tahun yang sangat melelahkan, selama itu pula saya harus pintar membagi waktu antara kegiatan sekolah dan pelajaran. Namun, hal ini tidak sia-sia karena pada akhirnya saya masuk program IPA di kelas XI IPA II. Sampai sekarang saya terus berusaha untuk mengerjar mimpi saya untuk masuk ke falkutas SBM di Universitas ITB. InsyaAllah dengan tekad dan usaha, cita-cita saya dapat tercapai.



Saya umur 15 tahun (sebelah kanan) dan Thanya


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar