Sabtu, 22 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Jasmine Tiara Iqbal

16 tahun Penuh Senyum dan Tawa

MASA KANDUNGAN
            Setelah sekian lama menjadi pasangan akhirnya pada 9 Juni 1995, Iqbal Thoha Saleh yang nantinya akan menjadi bapakku dan Sri Rahayu Darmawani atau yang biasa dipanggil Yudit yang nantinya akan menjadi mamaku resmi menikah. Sembilan minggu kemudian mama pergi ke dokter karena mengalami pendarahan, setelah pemeriksaan singkat oleh si dokter ternyata mama dinyatakan hamil. Menurut dokter di klinik kecil tersebut mama telah hamil selama sepuluh minggu. Saat itu mama dan bapak pun kaget, "Gimana bisa dok? Kan baru nikah 9 minggu." Dokter hanya terkekeh dan mengatakan "Yakan bisa aja bu" dengan santainya. Tetapi untuk memastikan dokter di klinik tersebut merekomendasikan untuk memeriksa kandungan dengan pemeriksaan yang lebih detail. Rupanya hasil pemeriksaan sebelumnya mengindikasikan kalau jantung janin sudah tidak berdetak. Namun setelah hasil pemeriksaan lengkap telah keluar, dengan bahagianya dokter mengumumkan bahwa ternyata usia kandungan tujuh minggu dan masih hidup.
MASA KELAHIRAN
            Pada usia kandungan 36 minggu mama mengalami sesak nafas dan pergi ke rumah sakit Zuster Tedja di Jl RA Martadinata atau yang biasa di kenal dengan Jl Riau, Bandung. Setelah ditangani sebentar oleh suster sebenarnya mama sudah bisa kembali sembuh dan pulang, tetapi karena besoknya dokter anestesinya harus ke Jakarta untuk berangkat haji jadi sekalian saja bayinya dikeluarkan hari itu. Jadilah aku, bayi yang harusnya menurut perhitungan lahir pada tanggal 6 Mei 1996 keluar pada tanggal 16 April 1996 tepatnya pukul 11.10 malam melalui operasi caesar karna saat itu posisiku terbalik, kepalaku berada di bagian atas.
            Karna operasi caesar membutuhkan tabung darah bapak berniat pergi mengambil tabung darah di PMI. Saat itu bapak belum terlalu familiar dengan wilayah Bandung, ia pun bertanya pada suster rumah sakit dimana letak PMI. Padahal ternyata letak PMI hanya di belakang rumah sakit tersebut. Maka jadilah suster-suster di rumah sakit itupun bergosip dengan seru dalam bahasa Sunda "Aduh ini pasangan muda ga direstuin ya kabur dari Jakarta buat ngelahirin bayi" kurang lebih begitu intinya. Ditambah lagi karena aku lahir tiba-tiba pada malam hari tidak ada yang datang mengunjungi, baru besok paginya kakek nenekku datang dari Jakarta. Maka orangtuaku tambah terlihat seperti pasangan muda yang kabur.
Foto-foto di Rumah Bandung
            Aku lahir dalam kondisi premature maka dari itu aku terkena penyakit kuning seperti kebanyakan bayi yang lahir sebelum waktunya. Namun aku lahir dengan ukuran yang sudah ideal, beratku 3030 gram dan panjangku 49 cm dengan golongan darah O. Reaksi orang-orang saat pertama kali melihatku adalah "cantik ya kayak orang Jepang" pernyataan itu membuat kesal orangtuaku, memangnya cuma bayi Jepang yang boleh cantik?
            Awalnya bapakku ingin aku diberi nama Clarissa alasannya adalah karena bapakku menyukai seorang tokoh Rusia bernama Clarissa dan semenjak itu ingin anak perempuannya diberi nama tersebut, tetapi setelah pertimbangan lebih lanjut akhirnya diputuskan untuk tidak menggunakan nama itu. Alasannya selain karena tidak tau arti nama tersebut tiba-tiba di tengah kehamilan mama ada sebuah iklan 'Clarissa kasur pegas empuk' hilanglah keinginan memberi nama itu. Kemudian munculah ide memberi nama Jasmine karena bunga melati merupakan bunga khas Indonesia, selain itu warnanya putih suci dan baunya harum. Kemudian nama tengahnya Tiara karena tidak sembarang orang bisa menggunakan tiara jadi tiara itu spesial untuk orang yang bertanggung jawab. Dan Iqbal selain nama bapakku, Iqbal artinya terkabul dan ternyata merupakan nama perempuan dan laki-laki. Maka namaku Jasmine Tiara Iqbal.
MASA BAYI
            Setelah lahir aku terus tinggal di Bandung. Ketika usiaku 6 bulan, aku sudah bisa merangkak. Orangtuaku penasaran dan mencoba memasukan aku ke dalam kolam renang, ditengah udara dingin Bandung aku belajar berenang. Karena terbiasa aku jadi sangat senang dengan udara dingin.
            Pada usia 9 bulan aku mulai bisa berjalan dan bicara. Sejak saat itu aku menjadi bayi yang cerewet.
MASA BALITA
            Sejak 1 taun aku mulai lancar bicara terutama setelah sering mudik ke Jakarta karena di Jakarta aku bertemu banyak keluarga dan jadi sering mendengar orang bicara. Aku punya kebiasaan buruk saat kecil yaitu suka menjilat kaca jendela, kebiasaan itu membuatku sering menjilat kaca jendela kereta ketika mudik. Menjijikan.
            Sebagai seorang anak aku merupakan anak yang periang dan selalu ingin melakukan semua hal sendiri, maka dari itu sejak usia 1,5 tahun aku sudah bisa makan sendiri mulai dari es krim sampe mie. Bahkan disuatu waktu di usia 3 tahun aku dibiarkan makan sate sendiri, jadilah tidak sengaja tusuk sate berakhir dimataku. Saat itu semua panik dan segera membawaku ke UGD, ternyata aku masih beruntung karena tusuk sate hanya melukai sedikit bagian tepi mataku.
            Pada usia 2 tahun, bapakku pindah dinas ke Jakarta. Maka kami sekeluarga pindah ke Jakarta, kampung halaman kami. Awalnya kami sekeluarga tinggal di rumah nenek kakek dari mamaku tapi beberapa bulan kemudian kami pindah ke rumah kami sendiri di Taman Sari Pesona Bali, Cirendeu.
Di halaman belakang rumah
            Sebulan setelah pindah lahirlah adikku, Aisha Kirana Iqbal. Dia lahir pada tanggal 14 September 1998 berjarak 2,5 tahun dariku. Aku sangat senang dengan kelahiran adikku itu dan langsung sok bertindak sebagai kakak ingin mengurus adik baruku itu.
Bersama Aisha di Taman sebelah rumah
Bersama Aisha, Bitha, Viola dan Yutha
            Kebetulan tetangga depanku juga memiliki anak yang lahir beberapa bulan sebelum adikku, namanya Viola. Kami bertiga pun akhirnya sering bermain bersama dan bersahabat dekat. Kamipun juga berteman dengan anak-anak lain di gang kami, Dilla, Yutha dan Bitha. Kami semua pun menjadi dekat dan selalu bermain bersama.
Lomba menghias sepeda
            6 bulan setelah adikku lahir aku memiliki seorang baby sitter baru, aku dan adikku memanggilnya mpok Yani. Mpok Yani sangat sayang dengan kami dan teman-teman kami. Setiap dia ulang tahun dia memberikan kami kantongan berisi permen-permen yang hanya dijual di kampungnya, begitu juga ketika kami yang berulang tahun. Mpok bekerja pada kami selama 6 tahun sampai akhirnya sakit-sakitan dan jarang datang.
            Ketika usiaku 3 tahun lebih 3 bulan akhirnya aku masuk ke playgroup di kidsport, Pondok Indah. Pada usia itu aku sebenarnya ingin sekali les balet dan biola tetapi orangtuaku melarang. Mereka bilang biola mengganggu pendengaran karena hanya melatih satu telinga dan balet bisa membuat pertumbuhan terhambat karena banyak gerakan yang memaksakan tubuh. Karena aku tidak mau menjadi seseorang yang pendek dengan pendengaran terganggu aku tidak jadi ingin les. Baru setelah SMP lah aku tahu bahwa ternyata aku hanya dibohongi untuk alasan tertentu mereka sendiri.
            Pada usia 4 tahun sesuai keinginan mamaku akhirnya aku les piano tapi karena aku tidak menyukainya, setiap hari les aku menangis. Akhirnya karena sama-sama stres, setelah naik satu tingkat aku berhenti les.
            Setahun setelah playgroup aku masuk taman kanak-kanak di TK Ketilang UIN. Tidak seperti sebelumnya, ketika masuk TK aku menjadi anak yang pendiam dan tidak banyak bicara.
            Ketika usiaku 4 tahun mamaku hamil lagi saat itu usia mama 33 tahun. Aku sungguh senang karena akan memiliki adik baru lagi dan sangat menantikan kelahiran adikku itu. Sampai suatu malam, saat itu usia kandungan mama 14 minggu atau sekitar 3 bulan. Seluruh keluargaku saat itu tidur di kamar orangtuaku. Aku teringat terbangun sekitar tengah malam, saat itu aku masih sedikit mengantuk dan melihat pintu sedikit terbuka, mama dan bapakku saat itu juga bangun dan sedang sibuk melakukan sesuatu. Akupun penasaran, kulihat sekitarku dan menyadari bahwa aku dikelilingi darah. Ya, di lantai, tempat tidur dan seluruh tempat penuh dengan darah dan kedua orangtuaku sedang sibuk membersihkannya. Karena bingung aku mencoba tidur lagi.
            Beberapa saat kemudian aku dan adikku dibangunkan kedua orangtuaku dan mereka sudah berpakaian rapi. Tengah malam itu aku dan adikku pun dibawa ke rumah nenekku, kami tidak bertanya apapun dan segera tidur. Esok paginya ketika bangun aku turun ke lantai bawah rumah nenekku dan bertemu orangtuaku sedang bicara dengan nenekku. Ekspresi muka mereka sedih seperti habis menangis. Mungkin karena merasa ada yang salah aku dan adikku tidak bicara banyak sampai akhirnya kami diberi tahu bahwa kami tidak jadi memiliki adik, saat itu kami hanya bingung dan mengiyakan saja. Lama kelamaan akhirnya aku mengerti bahwa kandungan mama keguguran. Inilah satu-satunya hal yang benar-benar kuingat pada usia 4 tahun sampai sekarang.
MASA SD
Bersama Bitha, Viola, Aisha, Dilla dan Yutha
            Usiaku pun akhirnya 6 tahun dan waktunya aku masuk SD. Pilihannya saat itu antara Madania dan Al-Fath, karena saat itu Madania sangat jauh dari rumah aku pun memilih bersekolah di Al-Fath, Cirendeu yang jaraknya kira-kira hanya 1 km dari rumahku. Seperti saat TK di SD aku termasuk anak yang pendiam dan cenderung kalem. Aku masuk ke Al-Fath sebagai angkatan kedua SD tersebut.
            Pada usia yang kurang lebih sama aku les vokal di binavokalia. Awalnya aku sangat bersemangat mengikuti les tersebut sampai pada suatu saat aku sadar aku tidak pernah naik tingkat. Setelah ditelusuri ternyata aku tidak naik tingkat karena adikku yang les bersamaku tidak mau ditinggal. Jadilah setelah itu aku mogok les dan berhenti.
            Aku mengalami kesulitan di tahun pertamaku di SD karena aku termasuk satu dari sedikit anak yang belum bisa membaca dan menulis ketika masuk SD. Saat kelas 1 aku sangat bingung dan tertinggal pelajaran karena hal tersebut. Setiap ulangan akan ada seorang guru yang mendampingiku untuk membaca soal, ketika aku memberi jawabannya maka guru tersebut akan mengajariku cara menulisanya. Sungguh repot memang. Tapi aku tidak menyerah.
            Akhirnya setelah awal kelas 2 aku mulai lancar membaca dan menulis. Setelah itu belajarku pun makin kondusif sehingga aku menjadi sangat pintar jauh dari sekarang. Sejak kelas 3 aku sering mendapat rangking 1 di kelasku.
Kelas 4 SD
            Aku merupakan anak yang pendiam, sok dewasa dan feminin di sekolah, kebalikan dari adikku yang tomboy dan sok kasar, semua orang sering membandingkan kami mulai dari cara bicara sampai model sepatu kami yang sangat berbeda, saat itu adikku ke sekolah dengan sepatu hitam biasa sedangkan aku dengan flats leopard. Teman-temanku kebanyakan hanya di lingkungan rumah, banyak yang kami kerjakan di kompleks, kami les art and craft di tetangga kami seminggu sekali, pergi ke TPA seminggu sekali, merayakan hari raya bersama, mulai dari lomba pada hari kemerdekaan, sampai heloween.
Liburan di Marbella bersama sepupuku
            Pada usia 8 tahun saat mama berusia 37 tahun, lagi-lagi mama mengalami keguguran, aku tidak terlalu tau bagaimana ceritanya. Yang kutahu hanya lagi-lagi aku tidak jadi memiliki adik, dan pada masa itu kesedihan mama sangat terasa di dalam keluargaku.
            Setelah 6 tahun bersekolah di SD akhirnya pada usia 12 tahun aku lulus, saat itu merupakan tahun pertama diadakannya ujian akhir UASBN.
MASA SMP
            Ketika lulus SD aku tidak tau apa-apa tentang SMP. Orangtuaku memberiku pilihan untuk tes di dua tempat, Labschool Kebayoran dan Madrasah Pembangunan namun akhirnya pilihanku jatuh ke Labschool walaupun kesan pertamaku Labschool terlihat seperti kantor kelurahan.
            Akupun masuk ke SMP untuk pertama kalinya dan rutinitasku pun menjadi sangat berubah, bangun pagi dan pulang sore setiap hari. Mulai dari acara pertama fresh school day atau mosnya dimana saat itu semua sangat di disiplinkan sampai cara belajarnya yang sangat jauh berbeda dari SDku. Selain itu jumlah muridnya juga jauh berbeda, angkatan SDku hanya memiliki 69 anak dengan sekitar 20 anak perkelasnya, sedangkan di SMP ada sekitar 200 orang dengan 40 anak perkelas. Jadi aku sangat membutuhkan penyesuaian diri di SMP.
            Namun justru di SMP ini hidupku menjadi menyenangkan dan mulai 'terasa'. Aku masuk pertama kali di kelas 7A, saat itu aku masih pendiam tapi aku langsung menemukan teman-teman dan sahabatku. Diantara teman-temanku aku biasa dipanggil Mimin dan sampai sekarang nama itu melekat padaku.
Ulang tahun ke 13
            Pada tahun berikutnya aku masuk ke kelas 8B. Pada kelas 8 ini aku mulai mengenal banyak orang, tidak hanya dikelas saja. Di akhir kelas 8, aku mulai sedikit nakal dan sering pulang malam. Hampir setiap hari aku pulang maghrib sampai orangtuaku sering marah. Tapi aku berhasil menebus kesalahanku dengan mendapat nilai baik dan peringkat terbaik yang pernah kudapat selama SMP pada akhir semester 2.
Di Sidney bersama Uti, Tasya, Nadia, Ghina K, Rasya, Ghina F, Icha dan Ghibon
            Diawal Kelas 9, aku mengikuti program homestay ke Sidney, Australia bersama 19 orang teman dan 2 orang guru yang mendampingi kami. Ini merupakan pertama kalinya aku dan sebagian besar temanku pergi keluar negeri tanpa ditemani oleh kedua orangtua kami. Di Sidney kami belajar sangat banyak. Mulai dari bagaimana mereka belajar, kebudayaan mereka, hingga belajar mandiri. Kebetulan kami semua teman-temanku yang pergi mengikuti program ini sangat menyenangkan dan tidak kaku, kami sangat kompak baik sebelum berangkat, saat disana hingga sampai setelah pulang dari sana.
Leri pagi terakhir bersama Sabel dan Vika
            Aku masuk ke kelas 9D yang bernama The Empire of Mon9Dolia, walaupun kelasku sangat amat menyenangkan tapi saat itu kami semua sudah mulai sibuk dengan persiapan UN dan lainnya. Saat itu angkatanku juga sudah memiliki nama yaitu Scavolendra Talvoreight. Ditengah sibuknya persiapan UN, kami juga harus menyiapkan buku kenangan dan farewell. Namun walaupun jadwal penuh, akhirnya aku tetap bisa lulus dengan nilai yang lumayan baik dan memuaskan.
MASA SMA
            Sekarang ini setelah melewati SMP akhirnya aku kembali berjuang di SMA. Melalui jalur khusus aku meneruskan ke SMA Labschool Kebayoran lagi. Di SMA aku lebih mudah menyesuaikan diri, mungkin karena lingkungan yang familiar dan teman-teman yang juga lebih mudah bergaul. Di SMA aku mengikuti berbagai program seperti MOS, Pilar, Pra TO, TO, Bintama, Lapinsi, Study Tour ke Bandung dll. Angkatanku memiliki nama Dasa Eka Cakra Bayangkara atau yang biasa disebut Dasecakra.
            Aku masuk di kelas XC dengan wali kelas bu Fitri yang merupakan kelas terasik yang pernah aku tempati. Kelas kami heboh dan suka membuat onar, tapi kami kompak dan saling menyayangi satu sama lain. Disinilah aku menemukan sahabat-sahabat baru dan kenangan-kenangan menyenangkan yang terlalu banyak untuk diceritakan.
XC
Surprise ulang taun ke 16 bersama Ghibon, Ella, Fakhry, Tasbel, Tasya dan Miranda
Merayakan ulang taun ke 16 bertiga dengan Shanty dan Putri
Perpisahan XC bersama Sabel dan Deina
            Alhamdulillah akhirnya aku naik ke kelas 11 dan mendapatkan jurusan IPA sebagaimana keinginanku. Aku masuk ke kelas XI IPA 1 dan semoga tahun ini aku bisa berkembang dan berprestasi jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

 xoxo <3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar