Minggu, 23 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Ihsan Aring Trisarjono



Usia yang Telah Berkurang 16 Tahun

Jakarta, 1 Agustus 1996, merupakan tanggal kelahiran saya, tepatnya pada hari Kamis pukul 08.00 pagi WIB. Saya terlahir sebagai anak pertama dari pasangan Milug Bambang Trisarjono dan Ros Silawati, seorang anak yang terlahir dari Ayah yang berasal dari Surabaya, Jawa Timur dan Ibu dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Ihsan Aring Trisarjono, itulah nama yang diberikan kepada saya. Ihsan diambil dari Bahasa Arab yang berarti Kebaikan, Aring adalah nama pemberian almarhumah Eyang saya, sementara Trisarjono adalah nama belakang yang diturunkan dari ayah saya. Dengan harapan, saya terlahir menjadi anak laki-laki yang lebih baik dari ayah saya.

Tangisan pertama saya terdengar di sebuah ruang operasi didalam Rumah Sakit Harapan Kita, saya terlahir sehat dengan berat 2,9 kg dan panjang badan 48 cm. Proses kelahiran saya cukup mengharukan, diceritakan oleh kedua orang tua saya, saat bunda mengandung saya beliau sedang mengidap penyakit thypus, dokter memberi tahu jika saya dilahirkan pada Rabu malam 31 Juli, maka bunda saya kemungkinan tidak selamat, dan jika saya dilahirkan besok pada kamis pagi, maka saya yang mungkin tidak selamat. Akhirnya diputuskan saya akan dilahirkan pada kamis besok pagi, bunda saya selamat setelah melahirkan saya, sementara saya juga terlahir sehat pada pagi itu. Alhamdulillah Tuhan berkehendak lain, sehingga saya masih bisa merasakan kasih sayang orang tua, merasakan kehidupan di dunia, dan mengerjakan tugas ini.

Masa Balita sampai dengan SD

Sebagai anak pertama, saya mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan kedua adik saya, sekitar 4 tahun kurang saya dimanjakan oleh kedua orang tua saya. Saya dirawat dan dibesarkan dengan baik sehingga pertumbuhan dan perkembangan saya pun normal dan sehat. Sebelum memiliki adik, saya bermain dengan sepupu dari kedua pihak orang tua saya dan lebih sering berpergian keluar negeri. Sebelum memasuki TK, orang tua saya mendaftarkan saya di Tumble Tots, suatu tempat dimana saya belajar untuk bersosialiasi dan bermain, agar saya tidak kaget lagi jika saat TK nanti saya bertemu dengan banyak orang.

Setelah itu, saya di sekolahkan di Taman Kanak-kanak Al-Azhar Kemandoran 5. Kenangan yang saya ingat disini adalah ketika saya ngompol, bermula dari saya meminta guru untuk menelpon orang tua saya agar dijemput untuk buang air kecil dirumah karena tidak berani masuk toilet sekolah, namun permohonan saya itu diacuhkan dan basahlah celana saya. Disini juga saya menyalah-artikan penentuan juara dalam lomba mewarnai. Menurut saya, yang menang adalah yang tercepat, karena kepanikan melihat kebanyakan peserta sudah menyelesaikan pewarnaannya, akhirnya beberapa objek saya warnai hijau secara asal. Entah bagaimana prosedur pemutusan juaranya, saya mendapati peringkat 3, Alhamdulillah.

Lulus TK, sebetulnya Al-Azhar Kemandoran 5 juga memiliki Sekolah Dasar. Namun orang tua saya menginginkan kelas yang menggunakan AC dan SDI Al-Azharnmasih menggunakan kipas angin pada saat itu. Sehingga saya di sekolahkan di SDI Ar-Rahman Motik yang terletak di daerah Kuningan, Setiabudi. Di sekolah ini, murid kelas 1 masih belajar di karpet dengan meja lipat,  sebagai anak-anak saya menikmati itu. Barulah saat kelas 2 saya dikenalkan dengan meja dan kursi didalam kelas. Kemampuan saya dalam seni rupa menarik perhatian guru saya sehingga saya diikutkan dalam lomba melukis di kanvas saat SD, lomba itu diadakan di Labschool Kebayoran.

Di Artik ada 1 guru yang terkenal tegas dan ditakuti murid, beliau adalah Pak Bambang, seorang guru mata pelajaran IPS. Rasa takut itu sepertinya hanya muncul saat saya masih bersekolah disana, sebenarnya beliau adalah orang yang menyenangkan dan lucu, mungkin memang ada 2 kepribadian yang berbeda pada beliau. Selain ditakuti, ada juga guru yang disukai murid-murid, justru aneh jika tidak. Beliau adalah Pak Riyan, guru pelajaran PLKJ yang kebaikan dan kebijaksanaannya itu masih teringat sampai sekarang ini. Bahkan saya belum pernah bertemu dengan orang yang lebih ramah dari beliau. Sampai sekarang, jika saya datang ke SDI Artik untuk menyapa guru-guru, saya  senang karena mereka semua masih ingat dengan saya, mungkin juga karena kedua adik saya meneruskan jejak saya bersekolah disana.

Mengenai program sekolah, di Artik ada 1 program yang menjadi favorit saya yaitu ILO (Islamic Leadership and Outbond). Diadakan setiap tahun mulai dari kelas 3, berisi kegiatan yang menyenangkan karena kami disuguhkan permainan-permainan sebagai sarana refreshing. Dan pada ILO terakhir saya sebelum lulus, saya mendapat predikat “Siswa Teladan”. Setelah menerima pengumuman hasil UAN, saya mendapat peringkat 3 di angkatan dengan nem 26,5 dan membuat saya melanjutkan sekolah saya di SMP. 

Masa SMP

2008 – Setelah menyelesaikan pembelajaran saya di SDI Ar-Rahman Motik, saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negri 19 Jakarta yang terletak di daerah Mayestik. Seperti kebanyakan orang, perkembangan saya masih menyisakan keluguan seorang anak SD yang terbawa ke awal tahun ajaran di SMP ini. Untuk pertama kalinya saya merasakan yang namanya Masa Orientasi Siswa atau MOS, itu merupakan hal baru untuk saya, karena tidak saya temui di Sekolah Dasar. 3 hari MOS diawali dengan pembuatan nametag yang terbilang cukup simple, dengan bentuk rumah 2 dimensi disertai profil diri dengan foto bersama supir bajaj.

Dan untuk pertama kalinya juga saya menemui suatu organisasi yang bernama Organisasi Siswa Intra Sekolah atau yang dikenal dengan OSIS. Kami diinstruksikan untuk membawa makanan yang disamarkan dengan kode tertentu. Alhamdulillah saya berhasil bertahan hidup setelah melewati pengalaman MOS pertama saya. Kelas yang akan saya tempati di tahun pertama saya adalah kelas 7G dengan wali kelas Bapak Lukman Takarub, beliau adalah guru Agama Islam. Saya cukup mudah untuk menyesuaikan diri dengan pelajaran di kelas 7 ini, sejak SD saya memang Alhamdulillah belum pernah kesulitan dalam belajar. Di kelas 7 ini juga saya pertama kalinya mencoba untuk mencalonkan diri menjadi pengurus OSIS.

Saya naik ke kelas 8 dengan nilai yang cukup memuaskan, dan memenuhi syarat untuk mengikuti tes kelas Akademik. Tes yang menyaring murid-murid pada saat kelas 7 berada pada ranking 15 besar. Alhamdullilah saya lolos tes kelas akademik dan masuk di kelas 8E dengan wali kelas Ibu Henny Retnowati yang merupakan seorang guru Biologi. 

Kelas 8 ini menurut saya adalah saat tersantai selama di SMP, karena masih belum perlu memikirkan untuk Ujian Nasional, namun sudah mengenal lebih banyak teman dibandingkan saat kelas 7. Dikarenakan sebagian besar murid di kelas 8E berasal dari luar kelas 7G membuat saya harus berkenalan lagi dengan beberapa  teman. Berada di kelas akademik menuntut saya untuk menjadi rajin belajar dan membuat saya lebih mudah untuk menyerap pelajaran yang diberikan, karena suasana kelas dan teman-teman yang mendukung untuk belajar dengan nyaman. Namun tidak berarti kami lupa untuk bermain dan bercanda, tidak jarang keisengan yang dilakukan oleh anak-anak ini. Candaan yang kami tertawakan pun cocok dengan saya sehingga membuat saya nyaman bergaul dengan mereka.

Saya sempat heran dengan kedatangan 2-3 murid perempuan dengan seragam yang berbeda di kelas saya, ternyata sedang berlangsung pertukaran pelajar dengan murid SMP Labschool Kebayoran. 2 nama murid Labschool yang saya ingat ada Adinda Olivia Ryan Sabrina, Aldeina Putri, dan Nadhira Nur Aqila, kalau saya tidak salah ingat. Disamping pembelajaran di dalam kelas, di kelas 8 ini juga kami sering bepergian bersama kelas atau angkatan. Seperti ke daerah Bandung dalam rangka Outing Class, dan ke Taman Safari.

Meraih ranking tinggi di kelas akademik tidak mudah dikarenakan saingan-saingan yang berat. Namun perbedaan nilai yang diperoleh antar ranking pun hanya berbeda tipis, saya ingat wali kelas saya, Ibu Henny pernah mengatakan “tidak usah berkecil hati yang dapat ranking jelek, nilai anak yang ranking 40 di akademik sama dengan ranking 1 dikelas reguler”.
Kelas 8 berlalu sudah dan sampailah pada saatnya untuk menduduki bangku kelas 9. Sama seperti saat kenaikan ke kelas 8, diadakan pula tes untuk masuk kelas akademik. Alhamdulillah saya juga berhasil di tes akademik kedua saya dan mendapati kelas 9H dengan wali kelas Ibu Salmi Habib, pelajaran yang beliau ajarkan adalah Agama Islam. Ternyata teman-temannya tidak begitu banyak berubah, kelas 9H ini didominasi murid akademik yang dulunya berada kelas 8 yang sama seperti saya. Perbedaan yang ada adalah, sebagaimana umumnya, kami mendapat guru yang berbeda dalam mata pelajaran tertentu. Di kelas 9 ini saya cukup kaget dengan jadwal yang semakin padat, dimana pada pagi hari tertentu sudah dimulai pendalaman materi, dan pelajaran tambahan pada hari Sabtu. Setiap tahunnya, menjelang Ujian Nasional diadakan kegiatan Super-Camp. Selama beberapa hari seluruh murid kelas 9 menginap di villa sesuai dengan kelasnya masing-masing dan terletak di luar kota Jakarta, bertujuan untuk belajar dalam menghadapi UN kami dibantu oleh kakak-kakak dari BTA dan sekaligus refreshing dari pembelajaran didalam kelas.

Selesai UN, saya mengikuti tes masuk SMA Labschool Kebayoran, tes ini diadakan sebelum pengumuman hasil UN. Dari SMP saya sudah mengidolakan sekolah ini, dan Alhamdulillah bisa terealisasi di SMA. Dari pengumuman hasil UN saya lulus dengan nem 38.05 dan masa pembelajaran saya masih akan berlanjut di SMA.

Masa SMA

2011 - Banyak yang mengatakan bahwa masa SMA adalah saat-saat yang paling menyenangkan, yang membuat saya memutuskan untuk menjalani kehidupan SMA saya di SMA Labschool Kebayoran. Sudah banyak hal positif yang saya dengar dari sekolah ini, beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk melanjuti pembelajaran saya di SMA Labschool Kebayoran adalah karena OSIS dan program-program unggulannya. Setelah liburan kenaikan dari SMP ke SMA yang kurang lebih 30-40 hari. Hari pertama masuk sekolah kembali bisa dibilang cukup canggung. Terutama dengan lingkungan dan teman-teman yang baru dan berbeda. Kesan berbeda saat memasuki kawasan Labschool Kebayoran langsung terasa karena saya dulu bersekolah di SMP Negri.

Kedatangan saya sebagai siswa resmi SMA Labschool Kebayoran untuk pertama kalinya adalah ketika Pra-Masa Orientasi Siswa atau Pra-MOS, yang kemudian menjalani 3 hari Masa Orientasi Siswa terhitung mulai dari tanggal 11-13 Juli 2011. Dalam pembagian kelas setelah kegiatan MOS, saya mendapati kelas X-B dengan wali kelas Bapak Haji Eri Sulistyono, beliau mengajar Geografi untuk kelas X dan XI IPS. Menurut saya, beliau adalah wali kelas yang tegas dan sangat perhatian terhadap anak didiknya. Butuh waktu sampai saya bisa beradaptasi dengan teman-teman dan pelajaran baru di SMA. Karena sebagian besar murid kelas X-B berasal dari SMP Labschool Kebayoran yang membuat suasana kelas menjadi ramai menyenangkan. 

Saat bulan Ramadhan, diadakan juga Pesantren Kilat Ramadhan (PILAR). Dibimbing oleh kakak-kakak dari Pesantren Daarut Tauhiid kami mengikuti 3 hari pesantren kilat di SMA Labschool Kebayoran pada Agustus 2011. Pasca PILAR, keseharian saya di SMA Labschool Kebayoran diisi dengan belajar dan bermain di lingkungan sekolah, dan saya bertujuan untuk masuk ke jurusan IPA di kelas 11 nanti. Pada awal Oktober 2011 diadakannya Pra-Trip Observasi atau Pra-TO. Di dalam Pra-TO inilah nama dan ketua angkatan ditentukan, dan pada hari sabtu tanggal 15 Oktober 2011, lahirlah angkatan 11 dengan nama Dasa Eka Cakra Bayangkara atau disingkat menjadi Dasecakra yang diketuai oleh Adhitya Bayu, Maga Arsena, dan Rayhan Athaya.

Tanggal 20 Oktober 2011 seluruh murid angkatan 11 melakukan perjalanan ke Purwakarta. Selama kegiatan Trip Observasi berlangsung kami tinggal di Desa Parakan Ceuri selama 5 hari sampai dengan 24 Oktober 2011. Saya sangat menikmati ketika hari penjelajahan, dimana setiap kelompok menjelajah di hutan gunung dan melewati pos-pos yang masing-masing pos dijaga oleh OSIS serta berisi aktifitas yang berhubungan dengan OSIS seksi tersebut.

Dalam 5 hari itu, saya mendapat banyak pelajaran dan kekompakkan begitu terasa diantara Dasecakra. Kemudian pada bulan April adalah bulan dimana kelas 10 akan melaksanakan Bina Mental Kepemimpinan Siswa atau dikenal dengan BINTAMA di Grup-1 Komando Pasukan Khusus atau yang biasa disebut KOPASSUS di Serang, Banten selama 7 hari. Pada awalnya, hanya pikiran negatif dan bayangan akan disiksa saja yang bermunculan, namun jika me-review kembali kegiatan-kegiatan yang sudah kami lewati selama 7 hari ini, kedekatan yang sudah terjalin diantara murid-murid dan para personil KOPASSUS, meninggalkan itu semua terasa tidaklah mudah bagi beberapa orang.

Di semester 2 ini saya memfokuskan untuk belajar menjelang Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dan penjurusan. Disamping itu, saya juga mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa atau disingkat LAPINSI dan Tes Potensi Organisasi (TPO) sebagai tahap seleksi untuk terlibat didalam kepengurusan OSIS. Alhamdullah saya naik kelas 11 dan masuk dalam jurusan yang saya inginkan, yaitu jurusan IPA, disertai dengan pengumuman hasil TPO yang menyatakan saya lulus dan siap menjadi pengurus OSIS. Kelas yang akan menjadi tempat belajar di kelas 11 ini adalah kelas XI IPA 2 dengan wali kelas Ibu Indriati Wulandari yang merupakan guru Bahasa Indonesia. Kelas baru dengan teman yang baru membuat saya perlu beradaptasi lagi karena beberapa dari kami berasal dari kelas X yang berbeda. Tidak mudah untuk bertahan hidup menghadapi pelajaran di kelas IPA ini sementara saya masih menyisakan kurang dari 2 tahun lagi di SMA Labschool Kebayoran, saya berharap semua hal positif yang saya peroleh di SMA ini dapat membantu saya untuk sukses kedepannya dan dapat membuat orang tua saya bangga.