Jumat, 28 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Ghinaa Nabiila

16 Tahun Kehidupan Saya 

Sumbawa 



Saya lahir pada tanggal 20 Juni 1996 di Rumah Sakit Asih, Jakarta Selatan. Ayah saya bernama M. Guntur Widjayanto dan ibu saya bernama Baby Ulifia. Saya memiliki kakak bernama Mohamad Baridi Bagaskara yang dipanggil Barry. Pada saat saya lahir, keluarga saya masih tinggal dengan nenek dan kakek saya dari ibu. Pada saat umur saya 6 bulan, kakek saya meninggal dunia L.                                       

Tiga tahun setelah saya lahir, pada tanggal 7 Mei 1999 lahirlah adik saya yang diberi nama M. Syauqi Adnan dan dipanggil Syauqi atau Oqi. Saat lahir terjadi kelainan darah pada Oqi yang menyebabkan Oqi harus dirawat di Rumah Sakit sampai sebulan lebih.




Pada saat Oqi berumur 4 bulan, kami sekeluarga pindah ke Nusa Tenggara Barat tepatnya di Sumbawa karena pekerjaan ayah saya di Newmont. Di sana kami tinggal di sebuah Townsite yang isinya para pekerja Newmont lainnya.

Townsite dibagi 3 bagian, ada bagian rumah dengan bentuk rumah panggung karena bagian perumahan tersebut masih dikelilingi hutan dan bagian ini disebut bagian GMH, bagian townsite lainnya disebut SOG adalah bagian dengan bentuk rumah biasa karena sudah tidak terlalu dikelilingi hutan, bagian terakhir adalah bagian perumahan bagi security.  Di setiap bagian perumahan GMH dan SOG terdapat beberapa playground untuk anak-anak bermain.  Rumah saya sendiri terdapat di bagian GMH. Ditengah tengah townsite ada sekolah, kolam renang, supermarket, rumah sakit, lapangan, dll.


Untuk memasuki townsite, kita harus melewati gate yang dijaga security. Di gate tersebut, kita harus diperiksa identitas, suhu tubuh, dan kendaraan kita. Tiap penghuni towsite, bahkan anak kecil, punya id card sendiri yang harus selalu dipakai kemanapun. Di id card tersebut ada identitas kita beserta foto kita.


Hanya ada dua sekolah di dalam townsite, sekolah internasional untuk bule-bule dan sekolah biasa. Saya dan kakak saya bersekolah di sekolah biasa. Hanya sedikit anak-anak di townsite ini, karena itu tiap angkatan hanya mempunyai satu kelas. Sering sekali kami mendapat teman baru dikarenakan adanya pekerja baru di Newmont, tapi banyak juga yang pindah karena ayahnya atau ibunya ditugaskan ditempat lain atau keluar dari Newmont. Disekolah ada playground yang dibuka setiap hari, jadi kalau sabtu-minggu bisa main di playground sekolah walaupun di bagian perumahan juga terdapat playground tapi biasanya anak-anak dari GMH dan SOG bisa bermain bersama. Setiap pagi, ada bus yang melewati halte-halte untuk menjemput anak-anak ke sekolah. Ada bus yang datang pada pukul 07.00 ada juga yang datang saat 6.30 dan yang paling pertama datang adalah pada pukul 06.00, kalau kita terlambat naik berarti kita harus ke sekolah sendiri.

Rumah saya yang berada di bagian GMH memiliki satu kolam pasir untuk bermain dan ada satu kolam yang kosong, karena malas mengurus kolam ayah saya akhirnya memasukan batu ke dalam kolam kosong tersebut. Karena saya tinggal di GMH, rumah saya masih dikelilingi hutan. Saat malam, sering terlihat babi hutan dan monyet berkeliaran. Babi hutan yang berkeliaran sering menyeruduk bagian bawah rumah dan tempat sampah. Rumah kami adalah rumah panggung dan karena itu dibawahnya terdapat celah, di celah tersebut sering ditemukan sarang ular. Karena kondisi lingkungan yang bahaya, pintu rumah dibuat menjadi 2 lapis, lapis pertama ada pintu tralis dan lapis ke dua adalah pintu kayu. Saat pagi, biasanya suka ada kumbang yang menempel di pintu tralis atau kupu-kupu. Saya sangat takut dengan kupu-kupu jadi kalau pagi hari saya tidak berani membuka pintu duluan. Pernah waktu itu ada ular yang menyelip di ban mobil sampai akhirnya ayah saya menelfon pawang binatang untuk mengusir ular itu. Kata pawang binatang tersebut, ular itu memang kecil tapi sangat bahaya kalau digigit bisa harus sampai di amputasi. Kolam pasir di rumah saya juga selalu di cek sebelum kami main dan selalu ditutup saat kami tidak bermain karena takut ada ular yang masuk. Pernah juga saat itu ada kuda-kuda yangkabur dari peternakan susu dan lari ke dalam townsite. Kuda-kuda nya sangat bagus dan besar-besar hingga saat mereka berlari dalam townsite, malah terasa seperti gempa.


Sistem pembayaran di supermarket dalam townsite sangat unik, kita tinggal tanda tangan dan bayarannya akan dipotong dari gaji. Saya sering beli minuman atau makanan di supermarket sendiri karena dulu saya pikir itu gratis dan hanya tanda tangan saja. Ternyata pembayarannya akan dipotong lewat gaji ayah saya.

Sumbawa dikenal dengan alamnya yang masih bagus dan alami. Pantainya masih bersih dan sangat berbeda dengan pantai-pantai di Jakarta. Kadang-kadang kami keluar townsite untuk ke pantai bersama teman-teman ayah saya. Biasanya ayah saya dan temannya memancing di pantai lalu ikannya dibakar dan dimakan bersama.

Saat liburan, saya akan pulang ke Jakarta dan menginap di rumah nenek saya. Liburan di towsnite sangat lama bisa sampai sebulan per semester. Biasanya saat liburan townsite menjadi sepi karena orang orang pada balik ke kampungnya tapi ada juga beberapa yang biasanya menetap di townsite. Kehidupan di townsite bisa dibilang sangat modern, dari pembayaran supermarket, lalu lintas, bus yang tepat waktu, dll. Kebanyakan orang yang tinggal dalam townsite adalah orang luar sehingga budaya budaya di townsite agak mirip dengan luar negri. Penjagaan dalam townsite juga sangat ketat karena Newmont adalah tambang emas jadi penjagaan security nya sangat ketat.

Di dalam townsite tidak ada Mall atau restoran. Hanya ada satu restoran yang berisi makanan makanan barat dan bir. Kalau liburan, saya pasti akan diajak ke Mall dan makan makanan seperti KFC, Mcd, dll karena di dalam townsite tidak ada. Jujur saja, kehidupan dalam townsite sangat terpencil, tidak ada hiburan seperti toko buku, toko mainan, restoran, dan temannya pun itu-itu saja karena hanya sedikit orang yang ada dalam townsite. Saat waktu-waktu tertentu kami ikut merayakan halloween dan sering mengadakan festival festival seperti di luar negri.

 Jakarta

Saya sempat bersekolah di TK Muhammadiyah selama 6 bulan karena ayah saya ada proyek di Jakarta saat itu. Ini foto saya dan teman-teman saya saat akan menari. Saya kedua dari kiri dan paling kanan ada Ami, yang nantinya saat SMA akan bertemu dengan saya lagi di Labschool.






Yang ini adalah foto saya dan Ami saat menjadi mayoret :D


Saat kelas 2 sd saya pindah ke Jakarta, saya sekolah di Harapan Ibu selama satu setengah tahun dari kelas 2 semester 2 sampai kelas 3. Setelah itu, saya pindah ke SD Al-Fath karena lebih dekat dengan rumah saya di Cirendeu. Sekolah di Al-Fath sangatlah santai, sekolah ini berbasis active learning jadi banyak mainnya dan ada 2 hari dalam seminggu yang disebut english day, jadi pada hari tersebut kita harus bicara dalam bahasa inggris walaupun saat istirahat. Pada hari rabu, kita bebas memakai baju apapun tapi harus tetap sopan. AL-fath juga mewajibkan murid-muridnya untuk hafal juz amma sebagai syarat kelulusan. Jadi, setiap hari di pagi hari kita menghafal 2 atau 3 ayat bersama – sama. Metode ini membuat kita tidak terlalu berat menghafal juz 30 sehingga saat kelas 6 alhamdulillah saya berhasil meghafal juz amma. Sebenarnya saya sempat tertinggal jauh karena saya baru masuk saat kelas 4, tapi tiap pagi juga kita menghafal kembali surat-surat yang sudah selesai jadi saya bisa terbantu untuk menghafal ketinggalan-ketinggalan saya. Dan pada kelas 6, ada hari “khataman juz amma” dimana kita memperlihatkan ke orang tua kita hafalan kita.

Di SD Al-Fath saya punya beberapa sahabat yang sampai saat ini masih dekat dengan saya seperti Audi, Icha, dan Kemal. Dan kebetulan, kami juga satu SMP di SMP Al-Fath. Sangking dekatnya, keluarga saya dan keluarga mereka sudah saling kenal.

Di SMP Al-Fath, ada pelajaran cookery, sewing, dan electro. Saat pelajaran cookery biasanya kami disuruh masak berkelompok dan menjual hasil masakan tersebut. Karena pelajaran sewing, saya jadi suka menjahit dan merajut, sangking sukanya jadi keterusan sampai sekarang. Kebetulan nenek saya juga suka merajut jadi saya belajar dari nenek saya juga. Saya lebih senang merajut daripada menjahit tapi nenek saya tidak begitu bisa merajut jadinya saya sempat belajar di hobby craft. Untuk pelajaran electro, kita biasanya membuat rangkaian rangkaian listrik perkelompok, kita diajarkan cara membor timah, dan yang paling menarik buat saya, waktu itu kita diajari cara merakit CPU.

Kalau di SD kami disuruh menghafal juz amma, di SMP kami disuruh menghafal surat yassin. Metode menghafal nya berbeda dengan di sd, kalau di sd kita menghafal bersama-sama, kalau di SMP kita menghafal sendiri-sendiri dan tiap 5 ayat, kita menyetornya ke guru kita. Di kelas 7 saya sangat santai dan menganggap remeh hafalan yassin saya hingga saat kelas 3 saya agak kesusahan untuk meghafal yassin tapi alhamdulillah saya berhasil hafal. Seperti saat sd, ada hari dimana kita mengundang orang tua kita untuk mendengar hafalan yassin kita, saat itu kita di beri 3 mike dan saya kedapatan memegang satu mike. Di tengah tengah hafalan sekitar ayar 46, saya sedikit lupa dan akhirnya meng’korupsi’ ayat jadi saya tidak membaca ayat 46-50 tapi langsung ke ayat 51. Saat saya sadar kalau saya salah baca, teman-teman saya sudah senyum-senyum dan saya melihat dari atas panggung guru-guru saya menertawakan saya. Selesai acara, saya minta maaf ke guru-guru dan teman-teman saya, untungnya tidak ada orang tua murid yang hafal yassin jadi mereka tidak tahu kalau saya salah baca.



Bersama teman SMP

Di SMP saya, setiap tahunnya ada acara yang dinamakan “Pentas Akhir Tahun” atau biasa disingkat PAT yang isinya drama, tarian, paduan suara, serta pelepasan untuk kelas 9. Saat saya kelas 9, saya diberi tugas untuk membuat naskah drama musikal yang berbau kebudayaan Indonesia perkelompok. Sedihnya, kelompok saya berisikan orang-orang yang tidak begitu rajin. Karena menganggap tugas itu tidak penting, kelompok saya mengerjakannya sehari sebelum tenggat waktu mengumpulkan dan bisa dibilang asal-asalan, yang mengerjakannya pun cuma saya dan 2 oreang teman saya padahal satu kelompok ada 10 orang. Ternyata, tugas tersebut akan dipilih naskah yang terbagus menurut guru dan ditampilkan di PAT. Lucunya, naskah kelompok saya terpilih dengan judul “BerTA”. Ceritanya tentang seorang gadis ambon yang bernama Berta, seperti gadis ambon pada umumnya Berta berkulit hitam. Dia diputusin oleh pacarnya karena pacarnya yang bernama Alejandro lebih suka dengan gadis berkulit putih. Sebenarnya saya hanya iseng mengidekan ke kelompok saya untuk menulis naskah drama dengan tema tersebut karena ada teman saya, Svara Wening Laraasati yang sangat benci dengan kulit hitamnya dan saya bermaksud meledek dia dengan naskah saya. Tapi saat guru saya menanyakan kenapa saya membuat naskah itu, biar terlihat keren saya menjawab “Ini naskah tentang gimana caranya menghargai perbedaan sama mensyukuri apa yang udah dikasih ke kita”. B-) Dan dengan bantuan guru-guru serta teman-teman yang lain akhirnya naskah yang saya buat berhasil dipentaskan. Saya disuruh memilih pemerannya dengan bantuan guru-guru, saya akhirnya memilih Wening yang menjadi inspirasi saya dan ingin saya ejek lewat naskah tugas saya menjadi pemeran utama. Lalu saya memilih peran agak gabut tapi bagus untuk saya sendiri :p. Rasanya bangga saat pementasan berlangsung.



Kelulusan yang digabung dengan PAT

SEKARANG

Saya hanya mengikuti tes masuk Labschool Kebayoran dan setelah tau saya diterima saya tidak mengikuti tes disekolah lainnya karena nenek saya ingin saya bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Karena rumah saya ada di Cirendeu dan saya malas bangun pagi, saya akhirnya tinggal di rumah om, atau saya panggil dengan sebutan “papa” saya di Pondok Pinang. Lalu pada sabtu-minggu saya kembali ke rumah saya di Cirendeu.

Awalnya sangat susah untuk saya beradaptasi di Labsky karena saya benar-benar tidak mengenal siapa pun di sekolah itu. Teman SMP saya tidak ada yang masuk ke Labsky dan hanya satu teman kakak saya saja yang saya tau. Saya benar-benar memulai pertemanan saya dari nol. Dan karena saya tinggal dan sekolah di Tanggerang, saya tidak mengenal anak-anak dari sekolah lain di Jakarta.

Banyak program wajib di SMA Labsky yang harus dijalani pada saat kami kelas 10, ada MOS, pilar, TO, dan BINTAMA. Dan jika ingin jadi pengurus OSIS, maka program wajib nya bertambah satu yaitu LAPINSI. Semua kegiatan punya kesan sendiri bagi saya. Dan di setiap kegiatan, saya merasa jadi tambah kenal satu sama lain dengan teman-teman angkatan saya. Saat pra TO, angkatan 11 mendapat nama yaitu “Dasa Eka Cakra Bayangkara” yang disingkat menjadi “Dasecakra” dan kami juga mendapat ketua angkatan yaitu Bayu, Maga, dan Abon.

Pilar adalah kegiatan pesantren ramadhan, kami menginap 3 hari 2 malam di sekolah. Kalau TO adalah singkatan dari Trip Observasi yaitu kami menginap selama 5 hari di sebuah desa per kelompok, dan punya orang tua asuh sendiri yang berbeda beda selama kami tinggal disana. BINTAMA adalah sebuah kegiatan dimana kita tinggal selama 6 hari di group satu KOPASSUS dan dilatih oleh pelatih-pelatih dari KOPASSUS. Di semua kegiatan wajib Labsy kecuali pilar, anak laki-laki selalu diwajibkan untuk mencukur rambut sampai botak. Aneh rasanya saat melihat teman-teman satu angkatan kita botak semua. Apalagi saat belajar di kelas sehabis BINTAMA, semua orang gosong kulitnya dan yang laki-laki masih botak. Lapinsi adalah kegiatan yang wajib bagi anak-anak yang ingin menjadi pengurus OSIS, setelah mengikuti Lapinsi kita disuruh ikut TPO (Tes Potensi Organisasi) dan 60 orang yang mendapat nilai tertinggi akan menjadi pengurus OSIS tahun berikutnya.

Sekarang ini saya masuk ke kelas XI IPS 2, insya Allah saya masih bisa bersenang-senang dan menikmati kehidupan saya untuk ke depannya :D


Saat lalinju

XD!!!




1 komentar:

  1. Ghinaa dulu Om Robby juga pernah tinggal di GMH dirumah Om Antonius Antono temen ayah Ghinna. Dulu kamu masih kecil. Tinggal di GMH benar2 sangat berkesan dan Om selalu terkenang

    Salam sama ayah yah, sukses selalu

    BalasHapus