Rabu, 19 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Ghina Faradisa Hatta



 16 Tahun Terlewati

PERIODE BALITA

Saya digendong oleh ayah saya
Pada suatu pagi yang cerah, bagi sebagian orang mungkin pagi itu adalah pagi yang seperti pagi pada hari lainnya, dengan rutinitas yang sama, tanpa hal istimewa. Tetapi pagi itu merupakan pagi yang istimewa bagi pasangan suami istri Mohammad Hatta dan Kurniati, karena telah lahir putri pertama mereka yang tercinta dengan keadaan sehat pada hari itu. Hari Minggu, tanggal 26, bulan Mei, tahun 1996.

Saya bersama ibu saya
Tidak seperti kebanyakan wanita yang melahirkan dengan cara normal, wanita yang merupakan ibu saya melahirkan putrinya dengan jalan operasi caesar. Sebenarnya, pilihan melahirkan dengan jalan operasi caesar bukan merupakan rencana awal ayah dan ibu saya. Tetapi, 2 bulan sebelum waktu melahirkan, ibu saya melakukan tes USG dan menemukan kenyataan bahwa leher sang janin, yang tidak lain adalah saya, diperkirakan terlilit tali pusar. Hal tersebut menyebabkan pilihan melahirkan dengan cara normal tidak lagi menjadi pilihan. Jalan yang harus ditempuh melainkan melalui operasi caesar. Maka dari itu, hari demi hari, uang demi uang dikumpulkan oleh ayah dan ibu saya untuk mencukupi biaya operasi caesar, karena operasi tersebut tidaklah murah. Orang tua saya mengatakan, "Jerih payah mama dan papa terbayar oleh kelahiran kamu.". Di sebuah rumah sakit bersalin yang terletak di Jakarta Selatan, tepatnya Rumah Sakit Bersalin Budhi Jaya, saya pun terlahir dengan nama Ghina Faradisa Hatta.

Saya di rumah Ciputat saya
Nama Ghina Faradisa Hatta pun tidak didapatkan dengan sekali berpikir. Sebelumnya nama yang diusulkan oleh orang tua saya adalah Ghina Muthyah Shabira Hatta. Tetapi, terjadi perundingan dengan kakek saya sehingga nama Faradisa muncul. Faradisa merupakan sebuah ide dari kakek saya. Faradisa seperti layaknya surga dalam Bahasa Inggris, yaitu paradise. Dalam Bahasa Arab, Ghina berarti kaya, sedangkan Hatta berarti hingga, sehingga nama panjang saya memiliki arti "kaya hingga surga". Ibu saya pernah mengatakan, "Nama yang orang tua berikan adalah sebuah doa dari orang tua terhadap anaknya.".

Kata yang pertama kali dapat saya ucapkan adalah "mama". Ketika usia saya menginjak usia 1 tahun, saya mengadakan pesta ulang tahun pertama saya. Pesta ulang tahun kecil dengan kue tart, lilin, topi pesta, serta teman-teman dan keluarga saya. Pesta kecil tersebut diadakan di rumah nenek di Tebet, yang juga pada saat itu saya dan orang tua saya tinggal sementara di rumah nenek saya tersebut. Pada tanggal 1 Mei 1998, saya serta orang tua saya pindah ke sebuah rumah berteras di Ciputat.

Saya bersama Shidqi, adik saya
Hari-hari saya sebagai anak satu-satunya tidaklah lama. Pada tanggal 28 Februari di tahun 2000, saya menjadi seorang kakak. Adik laki-laki saya dinamakan Fauzul Umara Shidqi, dengan Shidqi sebagai nama panggilannya. Tidak lama setelah itu, dengan waktu berselang 2 tahun, adik laki-laki saya yang kedua terlahir ke dunia dengan nama Faza Raihan, yang dipanggil dengan nama kecilnya, yaitu Raihan. Ketika adik saya yang bernama Raihan lahir, saya, Shidqi, serta orang tua saya sudah pindah dari rumah berteras di Ciputat tersebut. Saya dan keluarga saya pindah ke sebuah rumah luas di Ciledug, yang saya dan keluarga saya masih tinggali sampai sekarang ini.

PERIODE SD

Saya bersama saudara-saudara saya
Setelah menyelesaikan masa sekolah taman kanak-kanak saya, sekolah dasar menjadi tujuan berikutnya. Orang tua saya mendaftarkan saya di Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 08 Kembangan. Pada suatu pagi, saya berangkat ke sekolah dasar tersebut untuk melaksanakan tes masuk. Ketika tes, saya disuruh untuk memasuki sebuah ruang kelas bersama beberapa peserta tes lainnya. Di dalam ruang kelas terbut terdapat beberapa meja dan kursi yang disusun berjajar membentuk setengah lingkaran. Masing-masing kursi dan meja tersebut ditempati oleh seorang guru dengan materi tes yang berbeda satu sama lain. Saya menjalani satu per satu tes, dari meja ke meja, sampai pada akhirnya di hari pengumuman tes, saya resmi menjadi siswi Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 08 Kembangan.

Saya bersama adik dan saudara saya
Memasuki kelas 1 SD, saya ditempatkan di kelas 1A yang berwali kelaskan Ibu Erni. Untuk berangkat ke sekolah, saya tidak diantar oleh kedua orang tua saya, melainkan menaiki sebuah mobil jemputan berwarna hijau tua. Saya pun mendapatkan teman pertama saya di mobil jemputan itu. Anak-anak yang juga menaiki mobil jemputan tersebut bermacam-macam dan dari kelas yang berbeda-beda. Di kelas 1, saya dan teman-teman kelas 1 lainnya pergi field trip. Tempat tujuan kami adalah Taman Mini Indonesia Indah. Saya mendapat banyak pengalaman baru dan menyenangkan.

Saya belajar dan bermain dengan senang hati di kelas 1A sampai pada saatnya saya naik kelas dan menjadi seorang siswi kelas 2 SD. Saya memasuki kelas 2B dengan harapan dapat memiliki teman baru. Di kelas 2B, wali kelas saya kebetulan adalah Ibu Erni lagi. Field trip diadakan setiap tahun, maka di kelas 2 saya dan teman-teman juga mengikuti acara field trip. Dan di kelas 2 tujuan field trip kami adalah Taman Mini Indonesia Indah lagi.

Pada awal kelas 3, pada mobil jemputan yang saya naiki, bertambahlah seorang perempuan seusia saya. Dia bernama Sartika dan kami menjadi teman dekat. Pada kelas saya, yaitu kelas 3C, saya berkenalan dengan salah satu anak perempuan yang akhirnya menjadi sahabat saya. Anak perempuan itu bernama Nadya. Kami langsung merasa cocok ketika mengobrol, akhirnya kami berteman dekat. Kelas  3C juga kebetulan berwali kelaskan Ibu Erni. Dan tujuan field trip saya dan teman-teman pada tahun itu adalah Taman Mini Indonesia Indah lagi. Untungnya, tahun itu adalah tahun terakhir saya pergi field trip dengan tujuan Taman Mini Indonesia Indah. Di kelas 4 SD, tempat tujuan field trip berbeda.

Di kelas 4A, saya bertemu sahabat semasa SD saya. Anak itu bernama Selma. Pertama kali kami berteman adalah ketika kami berbagi komputer berdua. Pelajaran komputer mengharuskan 1 komputer dipakai untuk berdua. Setiap pelajaran komputer kami duduk berdua dan berbagi tugas. Terkadang saya yang mengetik, terkadang pula saya yang membacakan teks yang harus diketik.

Saya bersama saudara dan keluara teman ayah saya
Kelas 4 pun selesai, kelas 5 juga dengan cepatnya berlalu. Tibalah tahun terakhir saya di Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 08 Kembangan. Saya mengikuti bimbingan belajar di dekat rumah. Saya mendaftarkan diri sebagai peserta tes masuk Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran. Pada hari tes, saya datang dan ternganga karena melihat yang mengikuti tes sudah seperti memenuhi seisi sekolah yang luas tersebut. Ibu saya panik karena mendengar ibu-ibu anak-anak yang lain mengecek banyak soal-soal. Setelah selesai mengikuti psikotes dan tes akademis, saya merasa pesimis karena soal tes akademis tersebut sangat sulit. Pada hari pengumuman tes, saya pergi ke sekolah seperti biasa. Sebelumnya, saya hanya menunggu ibu saya memberitahukan hasil tes tersebut. Tetapi, karena banyak teman-teman saya yang juga mengikuti tes masuk Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran, teman saya membuka website pengumuman dan saya pun mengecek apakah nomor tes saya terpampang sebagai murid yang diterima atau tidak. Ternyata saya diterima. Saya merasa senang sekali.

Sesampainya di rumah, saya mendapat telepon dari ibu saya dengan berita bahwa beliau melihat website pengumuman dan saya tidak diterima serta menyuruh saya untuk jangan kecewa. Kemudian saya mengatakan bahwa saya telah melihat pengumuman tersebut melalui komputer sekolah, dan saya diterima. Setelah ibu saya mengecek kembali, ternyata beliau salah melihat pengumuan. Pengumuman yang ibu saya lihat adalah pengumuman Sekolah Menengah Atas. Setelah meluruskan kesalahpahaman kecil tersebut, saya resmi diterima sebagai siswa baru Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran.

PERIODE SMP

Minggu pertama di Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran, saya menjalani Labs Fresh School Day, atau yang umumnya disebut sebagai Masa Orientasi Siswa. Selama seminggu penuh saya menjalani Masa Orientasi Siswa yang peraturannya ketat, dengan kakak-kakak OSIS yang tegas. Labs Fresh School Day dimulai di hari Senin dengan pagi yang cerah. Apel pembukaan kegiatan Labs Fresh School Day menandakan kegiatan tersebut resmi dimulai. Dapat dirasakan bahwa murid-murid baru yang menjalani kegiatan Labs Fresh School Day merasa tegang, bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saya bersama teman saya, Ella dan Aza
Setiap hari, seluruh peserta Labs Fresh School Day diperintahkan untuk membawa bekal berupa makan siang dan seliter penuh botol Aqua. Menu makan siang hari demi hari berbeda-beda, dan tidaklah mudah menyiapkan menu makan siang tersebut. Pada hari Kamis, menu makan siang peserta Labs Fresh School Day adalah pelangi. Ketika hal tersebut diumumkan, ruangan tempat kami berkumpul langsung penuh dengan hiruk pikuk anak-anak bertanya apa maksud dari menu tersebut. Dijelaskan bahwa makan siang kami harus mengandung warna pelangi. Tengok kanan dan tengok kiri, serta suara bertanya-tanya terdengar kembali. Pada akhirnya, saya membawa nasi kuning serta bermacam-macam sayuran. Kegiatan Labs Fresh School Day diakhiri dengan lari pagi di Jumat pagi serta apel penutupan kegiatan Labs Fresh School Day di sore hari. Sorakan berbahagia membahana, dan kami pun disadari dengan kenyataan bahwa kami akan segera menyongsong kehidupan belajar dan bermain di Sekolah Menengah Pertama pada hari Senin berikutnya.

Saya bersama teman-teman 9C saya
Ho7dog adalah nama kelas saya di kelas 7. Di kelas itulah kala pertama kalinya saya bertemu beberapa teman, yang kemudian menjadi teman dekat saya sampai sekarang ini. Orang pertama yang saya ajak bicara adalah seorang anak perempuan bernama Safira, yang sekarang ini dipanggil dengan nama panggilan Aza. Di kelas itu, saya juga bertemu dan mengenal Vika, Ella, Dinda, Ziha, dan Cindy.

Saya ketika melaksanakan homestay di Sydney
Fli8ckr atau dapat disebut juga 8C, adalah kelas yang memiliki banyak kenangan. Kenangan menyenangkan bermain bersama teman-teman. Di semester itu pula, nilai rapor saya menjadi turun. Sekolah memiliki kegiatan khusus untuk siswa siswi kelas 8, yaitu drama kelas yang akan ditonton oleh kakak-kakak kelas 9 serta adik-adik kelas 7 setelah lari pagi di hari Jumat. Kegiatan tersebut dinamakan Exasky. Kelas saya mendapatkan urutan terakhir. Pada awalnya, kami merasa senang sekali karena dengan urutan terakhir, kami mendapatkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan. Tetapi, perasaan senang tersebut berubah menjadi kekecewaan. Kami tidak mendapatkan waktu untuk tampil, sehingga kelas saya tidak melakukan kegiatan Exasky.

Saya dan teman-teman ketika pengambilan foto buku kenangan
Van9couver adalah kelas yang membuat saya menangis ketika berpisah. Waktu yang saya jalani bersama 9C memang tidak selama ketika bersama kelas 7D maupun kelas 8C, tetapi di kelas 9C kami merasa dekat satu sama lain. Dimana kami sibuk menghadapi Ujian Nasional, pemotretan untuk buku kenangan, malam farrewell, sampai wisuda pun, kami menjalani semua itu dengan suka cita. Walaupun juga terdapat air mata dan emosi, rasa senang tetap mendominasi setahun yang penuh kenangan.
Saya mengikuti tes masuk Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran. Seperti biasa, soal tes akademis Sekolah Menengah Pertama Labschool Kebayoran sangat sulit. Saya tidak tahu harus bersikap pesimis atau positif, maka saya hanya bertawakkal kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ternyata, saya diterima.

PERIODE SMA

Saya bersama Tasya, ketika study tour ke Bandung
3 hari pertama bersekolah di Sekolah Menengah Pertama, saya menjalani Masa Orientasi Siswa. Pagi hari dimulai dengan lari pagi yang jalurnya lebih jauh daripada jalur lari pagi ketika SMP. Hari diakhiri dengan apel di sore hari.

Teman-teman baru yang saya kenal semenjak Masa Orientasi Siswa menjadi 1 kelas dengan saya, di kelas XC. Kami semua menjadi sangat dekat. Kelas saya dapat dibilang adalah kelas pembuat masalah, walaupun begitu, kelas XC memiliki waktu-waktu yang sangat menyenangkan dan tidak terlupakan.

Saya bersama Alissa di kelas 10
Ketika masa-masa penjurusan, saya menjadi bimbang antara jurusan IPA atau IPS. Orang tua saya menganjurkan untuk mengikuti program IPA saja, sedangkan seorang teman saya mengatakan untuk mengikuti kata hati dan berusaha sebaiknya pada jurusan yang dipilih nanti. Pada akhirnya, saya memilih jurusan IPA. Sekarang, saya dan teman-teman kelas XI IPA 1 sedang berjuang agar dapat mencapai apa yang ingin dicapai pada masing-masing individu.



Saya dan teman-teman XC, di acara ulang tahun teman
Saya bersama Sarah dan Vika, ketika acara buka bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar