Jumat, 21 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Galavia Permata



"16 Tahun Kisahnya, Galavia Permata"

Galavia Permata  merupakan putri semata wayang dari pasangan Revi Gamala dan Laksmy Ferrynasari. Kelahirannya pada saat itu sangat ditunggu tunggu oleh kedua orangtuanya. Pada saat itu sang ibu sedang dalam kondisi yang sulit dikarenakan penyakit yang di derita beliau. Namun, semua penantian keluarga kecil itu berbalas.
Hari itu hari jumat pukul dua siang, ketika suara tangis nyaring tiba tiba mengisi ruang operasi Rumah Sakit Bunda di daerah Jakarta selatan . ketika itu ayahku  baru saja tiba di rumah makan padang yang terletak persis di depan rumah sakit ketika tiba tiba ia mendapatkan kabar bahwa mama akan segera melahirkan. Detik itu juga ayahku kembali kerumah sakit dengan tergesa gesa, perasaannya ketika itu bercampur  antara khawatir dan juga senang. Akhirnya hadir satu anggota baru pada keluarga kecilnya. Aku lahir ke dunia dengan berat lahir 2,6 kilogram dan panjang 47cm dalam kondisi sehat dan sempurna.
“waktu itu , malem malem mama denger suara nyaring banget . Mama pikir suara kucing berantem. Besok paginya pas suster masuk kamar mama dia bilang ‘aduuuh ibuu anaknya suaranya nyaring sekaliii, semalem nangis terus buu’ mama langsung kaget terus ketawa geli dengernya. Jadi yang semalem mama kira kucing berantem itu ya suara kamu nangis nak!”  ungkap mama ketika aku menanyakan apa ada kejadian lucu saat dirumah sakit.
Setelah menginap di rumah sakit untuk beberapa waktu , aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah dan segera  bertemu dengan seluruh anggota keluarga mama yang sudah menunggu kedatanganku di rumah. Rumah pertamaku terletak di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Sebenarnya itu adalah rumah kedua orangtua mama, rumah tebet memiliki penghuni yang cukup banyak dikarenakan masih ada kakak laki laki dan adik laki laki mama yang belum menikah dan tinggal bersama nenek dan datuk.  Aku mulai bisa berjalan pada umur 11 bulan tanpa fase merangkak , “kamu itu dulu males banget yang namanya merangkak maunya asal langsung jalan aja”  mama tertawa geli ketika menceritakan masa kecilku. Dulu, tepat di sebelah rumah tebet terdapat sebuah lapangan dimana nenekku suka melakukan senam pagi bersama warga sekitar. Setiap pagi aku ikut nenek pergi ke lapangan , untuk berjemur dan juga belajar berjalan.
Aku sangat gemar menyanyi, mama pernah bilang kalau ketika aku kecil aku suka sekali menyanyikan salah satu soundtrack lagu sebuah film seri “Saras 008” , sehingga mama memutuskan untuk membelikanku satu album kaset Saras 008. Dan aku mampu menghafal satu album dan menyanyikannya bersama microphone mainan warna oranye kesayanganku.

Ketika memasuki usia tiga tahun, kedua orangtuaku memutuskan untuk pindah dari rumah nenek dan menghuni rumah baru kami yang telah dibangun,letaknya di daerah Bintaro. Rumah bintaro letaknya berdekatan dengan rumah Oma , Ibu dari ayahku. Pada umur tiga tahun pula, aku memasuki  dunia pendidikanku untuk pertama kalinya. Kedua orangtuaku menyekolahkanku di Taman Kanak-Kanak Citra Indonesia. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah , dan kebanyakan anak-anak yang bersekolah disana adalah teman bermainku.
Setelah lulus dari TK Citra Indonesia , aku memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yaitu Sekolah Dasar. Sekolah Dasar Islam Harapan Ibu adalah nama sekolah ku. Letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga mama mendaftarkanku untuk ikut mobil antar jemput.  Dan ternyata ada beberapa teman TK ku yang bersekolah di Harapan Ibu juga , dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata kami didaftarkan di antar jemput yang sama. Mereka adalah Helmi dan Hanif, mereka adalah kakak beradik yang kuanggap sebagai sahabat-sahabatku. Mereka berdua tinggal tak jauh dari rumahku, hanya diselangi beberapa rumah. Usia Helmi lebih tua satu tahun dibandingkan aku, sementara Hanif berusia lebih muda satu tahun dibandingkan aku. Kami masih sering bertemu hingga sekarang, terkadang lucu jika mengingat bagaimana kami ketika masih kecil dulu. Tidak banyak yang bisa ku ingat dari masa SD ku , mungkin yang masih bisa ku ingat dengan jelas adalah tahun tahun terakhirku di sekolah dasar. Saat kelas enam , yang mana berarti merupakan tahun terakhirku di SD Islam Harapan Ibu aku dan teman teman satu angkatanku mulai sering membicarakan sekolah mana yang akan menjadi sekolah kami selanjutnya. Pada saat itu kebanyakan dari kami menginginkan untuk melanjutkan ke SMP –SMP unggulan di  daerah Jakarta, salahsatunya adalah SMP Labschool Kebayoran.
Keinginanku untuk masuk SMP Labschool Kebayoran cukup besar, bukan hanya karena banyak teman teman dari Harapan Ibu yang ingin melanjutkan ke sana. Tapi juga didukung oleh para sepupuku yang usianya lebih tua dibandingkan aku sudah terlebih dahulu menjadi murid di SMP maupun SMA Labschool Kebayoran. Beberapa minggu menjelang penjualan formulir masuk SMP Labschool Kebayoran, aku mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari kedua orangtuaku, ketika itu aku baru saja pulang dari sekolah ketika tiba-tiba aku melihat mama sudah pulang dari kantor lebih cepat, tidak seperti biasanya. Mama menyambutku di rumah dengan sebuah map berwarna hijau muda berlogo-kan Al-azhar. Ternyata kedua orangtuaku telah merencanakan dengan matang dimana aku akan bersekolah selanjutnya. Mama dan Ayahku menginginkanku untuk melanjutkan di SMP Islam Al-Azhar Bintaro yang letaknya dekat dari rumah. Aku yang ketika itu sudah membayangkan akan bersekolah di SMP Labschool Kebayoran tentu merasa sedih,  namun saat itu aku berfikiran mungkin pilihan Mama dan Ayahku adalah pilihan yang terbaik untukku.
                Masa-masa awalku di Sekolah Menengah Pertama identik dengan suasana asing. Lingkungan baru, teman teman baru, guru-guru baru, suasana baru, semuanya berbeda jauh dari saat masih di sekolah dasar dulu. Teman temanku dari Harapan ibu hanya dua orang yang melanjutkan SMP di SMP Al-Azhar Bintaro ini, dan aku tidak begitu kenal dekat dengan mereka. Jadi, otomatis aku harus bisa beradaptasi dengan segala hal yang baru ini dan memulai semuanya dari awal. Teman pertamaku ketika itu bernama Salsa, yang merupakan sahabat dekatku hingga sekarang. Selain Salsa, aku dekat dengan beberapa temanku  yang lain. Kebanyakan dari mereka satu kelas denganku ketika berada di kelas tujuh. Salsa dan Karen adalah dua diantaranya.
                Angkatanku adalah angkatan ke tujuh belas di SMP Islam Al-Azhar Bintaro, ketika memasuki awal kelas sembilan, nama angkatan kamipun dibentuk. Setelah melewati perundingan bersama, maka Teveralti di tetapkan sebagai nama angkatan kami. Masa masa kelas sembilan merupakan masa masa paling sibuk selama SMP,Angkatan tujuh belas mulai sibuk memikirkan sekolah mana yang akan dituju selanjutnya, dan belajar segiat mungkin agar bisa lulus dengan nilai yang baik. Di kelas sembilan ini aku berusaha sangat keras untuk bisa melanjutkan keinginanku ketika SD dulu, yaitu masuk menjadi murid di SMA Labschool Kebayoran. Pada saat itu aku hanya mendaftarkan diri ke dua sekolah menengah atas, SMA Labschool Kebayoran dan Al-Azhar Pusat 1. Aku menyadari bahwa kedua sekolah yang ingin ku tuju adalah sekolah yang memiliki integritas tinggi, sehingga aku belajar dengan sungguh sungguh dan berdoa banyak untuk mencapai keinginanku, dan tidak lupa rasa deg-degan yang terus menghantui selama kelas sembil semester kedua. Rasa sedih akan berpisah mulai terasa di antara kami para siswa siswi kelas sembilan. Aku tidak mengikuti bimbingan belajar selama kelas sembilan, namun sesekali aku mengikuti les privat di rumah jika ada pelajaran yang kurang aku mengerti.


                Buku latihan soal PSB SMA Labschool Kebayoran tahun 2011 dijual, dan mamaku pun segera membelikan satu untukku. Aku cukup kaget dengan soal-soal yang ada, karena cukup rumit sehingga aku seringkali meminta bantuan dari guru-guruku disekolah. Cukup banyak siswa siswi angkatanku yang menginginkan untuk masuk ke SMA Labschool Kebayoran , sehingga terkadang kami mengerjakannya bersama sama. Dan satu diantara sekian hal yang bikin deg-degan selama kelas sembilan pun tiba, Ujian Nasional terlaksana dengan lancar di SMP Islam Al-Azhar Bintaro. Dan tak lama kemudian pengumuman penerimaan siswa baru SMA Labschool Kebayoran akan segera diumumkan, hasil pengumuman bisa dilihat melewati internet. Namun karena terlalu gugup aku memutuskan untuk tidak menunggu hasil pengumumannya dan membiarkan keluargaku yang terus memantau. Dan Alhamdulillah mama membawakan kabar gembira bahwa nomor ujianku tercantum dalam daftar siswa yang diterima. Dan ternyata aku juga di terima di SMA Al-Azhar pusat 1, aku sempat bingung memilih antara Labsky dan Alpus1 namun pada akhirnya aku memilih Labsky mengingat itu memang tujuanku sejak awal. Alhamdulillah Galavia Permata lulus dari SMP Islam Al-Azhar Bintaro dengan NEM yang memuaskan. Dan dapat melanjutkan ke jenjang selanjutnya, yaitu Sekolah Menengah Atas.
                Pra-mos adalah tahap pertama yang kujalani di Labschool Kebayoran, dimana tahap-tahap yang harus aku lalui selanjutnya masihlah sangat banyak. dari hampir separuh angkatan Teveralti yang mengikuti tes masuk SMA Labsky hanya beberapa yang berhasil lolos, dan jumlah anak yang memutuskan untuk memilih labsky hanya tinggal segelintir, yaitu kami bersembilan aku,Sekar,Avitya,Amyra,Tita,Bagus,Yura,Alfath,dan Bunawar. Saat Pra-mos kami diberikan pengarahan tentang apa apa saja yang harus kami buat-bawa-dan lakukan saat MOS yang akan dilaksanakan selama tiga hari. Pendapat pertamaku tentang MOS di Labsky adalah “ternyata begini” ternyata apa yang selama ini telah diwanti wanti oleh para sepupuku adalah begini , jangan kaget dengan tingkat kedisiplinan Labschool yang tinggi, waktu adalah hal penting. Yang paling membuatku ‘kaget’ mungkin adalah kegiatan makan komando dan lari pagi. Tentu aku sudah pernah mengetahui tentang tradisi-tradisi yang sudah identik dengan Labschool tersebut, tapi pasti bagi murid murid yang bukan berasal dari SMP Labschool akan merasa kaget.

                Galavia Permata terdaftar sebagai siswi kelas XB, dan kebetulan aku sekelas dengan Sekar yang mana merupakan temanku semenjak SMP. Selain itu ada Farah,Biby,Syahla dan masih banyak lagi. Saat kelas X salah satu dari setumpuk kegiatan Labschool yang padat, adalah Trip Observasi dimana kita diwajibkan untuk tinggal di desa Parakan Ceuri bersama orang tua asuh dan mengikuti kehidupan disana selama lima hari. TO merupakan pengalaman yang sangat menarik dan berkesan karena memberikan pelajaran yang sangat berarti tentang kehidupan. Padatnya jadwal kegiatan di sekolah ini membuatku terkadang susah untuk mengatur waktu antara kegiatan akademis dan non-akademis, sehingga ketika akan memasuki masa-masa kenaikan kelas aku merasa kelimpungan. Jurusan yang aku inginan adalah jurusan IPA dikarenakan cita-cita sebagai Dokter yang aku impi impikan, setelah berjuang dengan susah payah mengejar beberapa nilai yang tertinggal, Alhamdulillah Galavia Permata berhasil masuk jurusan yang di inginkannya. Sekarang saya berada di kelas XI IPA 3 dan memang selama kelas sebelas ini kadang saya mengalami kesulitan dalam pelajaran, namun saya akan terus berusaha semoga Galavia bisa mendapatkan nilai yang memuaskan dan masuk Universitas unggulan dan bisa membanggakan kedua orangtua saya. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar