Sabtu, 22 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Excelita Syahrani


Tanggal 2 Januari 199, di tengah malam yang sunyi tiba-tiba terdengar teriakan dan tangisan di RS Bunda Menteng. Bayi yang lahir itu adalah saya, Excelita Syahrani Dwirajani. Excel dari kata excellent, lita dari jelita. Kemudian syah berarti raja, namun diubah menjadi syahrani yang artinya raja wanita yang menguasai. Sedangkan Dwirajani artinya dua kerajaan. Jadi kurang lebih nama saya artinya Kesempurnaan dan kecantikan dari raja wanita yang menguasai dua kerajaan. Sebenarnya sendiri sendiri kurang mengerti apa maksudnya, tapi tak apalah toh nama saya keren. Kata mama, yang membuatkan nama saya bukan papa tetapi kakak dari mama. Saya dengar beliau juga yang memberi nama Muhammad Rifki untuk kakak saya, padahal menurut saya sendiri nama itu luar biasa pasaran, sangat berbeda dengan nama saya. Benar kan?
Saya dan kakak

Faktanya, saya hampir tidak lahir di dunia ini. Ketika saya dalam kandungan, ibu Yumeilani Shinta Dewi ini tengah tenggelam dalam pekerjaannya. Ayah, Bramantio, menghimbau ibu untuk aborsi saja daripada beliau kelelahan nantinya. Namun tekad ibu kuat sehingga saya tetap hidup saat ini. Alhamdulillah, ya Allah. Nasib anak kedua, orang tua saya sudah bosan bermain dan berfoto-foto dengan kakak semasa dia balita. Saya cemburu dan memutuskan untuk cari perhatian, jadi saya nangis sekencang-kencangnya. Alhasil saya sukses membuat ayah dan ibu paranoid terutama kalau mandiin saya. Soalnya setiap saya nangis situasinya jadi luar biasa heboh, orang-orang sekampung berbondong-bondong menggedor pintu karena mengira saya adalah korban KDRT. Jujur saya sendiri lupa dengan kejadian ini tapi saya kenal dengan karakter saya sendiri, jadi saya tidak heran.
“Excel itu kalo nangis nggak jelas. Mau mandi aja nangisnya kayak ngeliat setan. Sampai tetangga pada datang, ngira ada KDRT.” – Ibunda Yumeilani Shinta Dewi.
MASA BALITA
Buat saya, masa balita itu masa dimana saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan mereka hanya senyam-senyum dengan gemas ketika saya ingin melempar sendok karena sulitnya berkomunikasi dengan mereka. Sepupu-sepupu saya bilang, saya berisik sekali karena selalu mencoba berbicara padahal belum mengerti apa-apa. Setiap malam ibu sering membacakan buku untuk saya. Akhirnya saya mencoba menirukan cara bicara ibu dan saya sudah bisa bilang Thank You, Good Night, Hello. Belakangan saya baru sadar itu bukan bahasa yang di biasa gunakan orang-orang disekitar. Saya merasa di tipu! Setelah itu saya mati-matian belajar bahasa Indonesia sendiri. Sekarang saya jadi seperti anak impor yang bisa bahasa inggris duluan baru bahasa Indonesia. Rupanya itulah strategi ibu. Beliau sengaja membacakan buku bahasa inggris kemudian menempel poster-poster alphabet berbahasa Indonesia di dinding. Jadi setelah saya bisa bahasa inggris, ibu tinggal duduk memantau saya belajar bahasa Indonesia sendiri.
Ingatan saya tentang masa kecil saya tidak begitu banyak. Yang saya ingat di Playgroup Kembangan ada kelinci lucu, kalau bosan bisa lompat-lompat jungkir balik di trampoline, lalu jika saya bersikap baik maka Bu Ila akan memberikan sebungkus kue semprong favorit saya. Yang paling berkesan itu ketika saya berkenalan dengan benda warna-warni yang disebut krayon. Kalau semua hal bisa warna-warni seperti ini, kenapa harus putih polos? Seperti tembok Playgroup kembangan misalnya. Setelah memberi sentuhan artistik kepada tembok-tembok itu, saya jadi ngetop di kalangan guru-guru. Saya akhirnya di pindahkan ke TK Islam Al-Azhar 4, meninggalkan segala seni-onar yang saya buat di Kembangan. Solusi ibunda untuk hobi saya yang satu itu ternyata dengan mengikutsertakan saya ke dalam ekstrakurikular menggambar. Saya tidak terlalu suka menggambar di kertas, rasanya dunia jadi sempit sekali. Kegiatan menghias tembok pun saya lanjutkan dirumah. Namun saya berhasil meraih beberapa piala perlombaan menggambar kategori TK.

Ulang tahun saya yang ke empat.

SEKOLAH DASAR
Saya memilih untuk move on dari kegiatan menggambar saat saya bertemu dengan soulmate baru, yaitu piano. Pada awalnya saya cuma sekedar iseng main di rumah tetangga yang kebetulan les piano secara privat, saya sering kali ikutan belajar. Waktu saya minta si guru untuk mengajari lebih lanjut, dia bersikeras menyuruh saya untuk masuk ke Sekolah Musik YPM bahkan sampai bicara langsung dengan ibu. Jadilah saya mendalami musik.
Di SDI Al-Azhar 4 Kebayoran Lama, saya menerima banyak sekali pengalaman masa kecil yang tak terlupakan. Saya sering mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai perlombaan meski ranking saya sedang-sedang saja. Memang nilai saya sangat bagus pada pelajaran tertentu, dan di pelajaran lainnya, yaa, cukup baik. Salah satu perlombaan yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika Lomba MIPA Se-Jakarta Selatan. Karena lokasi lombanya cukup jauh, ibu meminjamkan handphone kakak kepada saya agar saya bisa memberi kabar jika terjadi sesuatu. Di tengah mengerjakan soal, saya pergi ke kamar kecil. Pikiran saya tidak bisa lepas dari soal yang sedang saya kerjakan. Pada saat itu saya tidak fokus dengan apa yang saya lakukan dan kebodohan kecil itu berakibat sangat fatal. Benar sekali, jantung saya mencelos ketika melihat benda kotak yang tenggelam di kloset itu. Seusai mengerjakan soal, saya menceritakan hal ini dengan teman baik saya yang juga mengikuti lomba, yaitu Pritta. Dengan canggihnya dia membongkar handphone kakak dan mencoba mengeringkannya. Saya takut sekali dengan kakak saya dan juga dengan hasil lomba karena setelah itu saya tidak bisa fokus mengerjakan lagi. Namun Pritta mencoba menenangkan saya dengan berkata bahwa kejadian buruk juga bisa menjadi pertanda baik karena tidak ada hal yang buruk terus atau baik terus. Dan memang benar, saya lolos lomba ke babak berikutnya dan di lain sisi kakak saya tidak mau berbicara dengan saya selama beberapa hari. Hikmah dari cerita ini sangat berarti.
Pengalaman lainnya, ketika kelas 6 terjadi perang dingin antara anak-anak perempuan kelas 6A dan 6B. Akhirnya kami memutuskan untuk menyelesaikan pertengkaran aneh itu dengan pertandingan bola tangan, di jam istirahat selama tiga hari berturut-turut. Kelas 6C juga jadi ikut pertandingannya entah kenapa. Guru-guru menyerah menghentikan kami dan akhirnya mereka malah ikut meramaikan pertandingan. Peristiwa ini sangat heboh sampai pertandingannya seperti festival dengan spanduk dukungan, kaos-kaos seragam, dan terompet.
Menjelang kelulusan, saya ingin sekali masuk SMP Labchool Kebayoran namun mungkin menurut Allah.sw.t itu bukan yang terbaik bagi saya, jadilah saya masuk SMP 19 Jakarta.

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Sebenarnya masa SMP saya tidak segemilang masa SD saya. Beberapa kali saya terlibat kasus dengan teman, adik kelas, bahkan kakak kelas. Tetapi saya merasa saat-saat itu adalah saat dimana saya belajar banyak hal mengenai bagaimana cara bergaul dengan orang lain. Di SMP ini juga saya bertemu dengan orang-orang luar biasa yang hingga saat ini masih menjadi sahabat terbaik bagi saya. Diantaranya yang selalu saya banggakan adalah Permata Adinda, Farah Marintan, dan Abi Cintha. Dengan mereka juga saya bekerja dalam organisasi MPK SMPN 19 Jakarta. Awalnya saya bukan MPK, saya hanya sering menemani Farah, Dinda, dan Cintha setiap mengerjakan tugas karena saya pulang bersama mereka. Hanya didasari rasa bosan, saya membantu pekerjaan mereka agar cepat selesai daripada tidak ada kerjaan. Ternyata yang saya lakukan membuahkan hasil yang jauh diluar perkiraan saya. Para dewan guru meminta saya untuk masuk kedalam MPK dengan rekomendasi. Betapa terkejut saya ketika ditempatkan sebagai Wakil Ketua 1, mendampingi Farah sebagai ketua. Kami juga berhasil merevolusi kegiatan organisasi di SMPN 19. Bekerja dalam organisasi ini merupakan pengalaman yang sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter saya.

“Excel itu super duper iseng, penasaran, unpredictable, polos. Suka maksain sesuatu kadang walaupun dia nggak bisa. Suka nggak mikir kalau mau ngapa-ngapain, kebiasaan banget semuanya dibawa asik aja.” – Abi Cintha Pramesti.
Sebenarnya saya ingin masuk SMA 70, mengikuti jejak sepupu saya. Tapi ibu tidak mengizinkan saya masuk ke SMA Negeri kecuali SMA 8 yang letaknya cukup jauh dari rumah, mengingat kebiasaan saya yang suka lupa waktu kalau bekerja, ibu takut saya bisa tidak pulang-pulang. Ibu juga tidak mengizinkan saya untuk ngekos. Saya sendiri tidak mau punya sekolah yang terlalu jauh karena penyakit mager anak muda jaman sekarang. Pilihannya Cuma SMA Labschool Kebayoran atau SMA Al-Azhar. Tentu saja saya memilih SMA Labchool. Selain karena kakak bersekolah disana, saya juga sangat mengidolakan LAMURU dan saya punya pilihan berjalan kaki ke sekolah atau naik bus 72. Perjuangan saya belajar untuk tes Labschool ditemani oleh sebuah Kelompok Belajar yang unik. Tara Annisa-lah yang mengajak saya ikut kelompok ini. Yang membuat saya kaget adalah guru dari kelompok ini tak lain tak bukan adalah dua adik kelas jenius, Aji dan Gino yang sudah memahami pelajaran sampai kelas 3 SMA. Awalnya saya merasa kurang ikhlas diajari oleh adik kelas, mereka juga sepertinya segan dengan saya. Seiring berjalannya waktu sayapun jadi dekat dengan mereka dan saya sangat berterima kasih karena berkat mereka juga saya sekarang ada disini.
Dinda, Saya, dan Farah di perpisahan SMPN 19

SEKOLAH MENENGAH ATAS
Orang bilang manis-pahitnya masa muda dialami di masa SMA. Tapi yang saya ingat sekarang Cuma manis-pahitnya Liang Teh Cap Pistol. Teman-teman Angkatan 11 yang sudah sama-sama melewai MOS pasti tau minuman itu. Padahal kakak saya sering bilang “Sekolah di Labschool seru sih, tapi capek lho!” mungkin saat itu saya terlalu naif. Karena saya orangnya memang mudah bosan, saya senang sekali mengetahui banyaknya kegiatan yang ada di Labschool. Misalnya Trip Observasi dan Bintama. Di lain sisi, SMA Labschool juga mewajibkan siswanya mengikuti minimal satu kegiatan ekstrakurikuler. Di SMP dulu saya mengikuti ekstrakurikuler basket, namun sudah dilarang karena cedera. Sekarang saya ingin mencoba hal baru lainnya.  Diajak oleh teman saya, saya banting setir mendaftar Dazzling dan Tari Tradisional. Sayangnya ibu menentang keras keinginan saya yang ini. Dilanda rasa galau, saya bingung mau ikut ekstrakurikuler apa. Tiba-tiba kak Alvin Zulfikar mengajak saya ikut ekstrakurikular PALABSKY. Daripada saya tidak dapat nilai ekstrakurikular, maka saya mengikuti saran Kak Alvin. Kalau ditanya kenapa masuk PALABSKY, saya tidak tahu mau jawab apa. Namun saya sadar bahwa PALABSKY mengubah cara hidup dan pola pikir saya menjadi jauh lebih baik, jadi saya sama sekali tidak menyesali keputusan saya pada saat itu.
Satu hal lagi yang mewarnai masa SMA saya adalah LAMURU, yang memang sudah saya idolakan sejak masa SMP. Saya memiliki keunggulan ketika bergabung. Karena kakak saya juga LAMURU, saya sering menonton penampilan LAMURU di Sky Avenue, kemudian saya sudah sering mencoba belajar sendiri dari youtube LAMURU. Disini, saya merasa sangat nyaman karena saya rasa saya mengikutinya murni karena keinginan dan minat saya meski selalu dikejar-kejar Kak Belanegara Abimanyu yang hebat untuk selalu tampil dengan detail dan sesempurna mungkin. Selain itu saya juga menjadi anggota komunitas ROHIS sebagai bendahara dan juga anggota MPK Dakshabadrika Aswatama sebagai Komisi Olahraga 2.
Mengikuti berbagai kegiatan di SMA Labschool Kebayoran membuat saya menjadi luar biasa sibuk namun saya tidak pernah merasa lelah karena saya melakukannya dengan senang hati. Sementara itu saya juga harus tetap mempertahankan nilai pelajaran saya agar tidak jatuh. Sebenarnya saya ingin masuk jurusan IPA, namun nilai saya hanya cukup untuk masuk jurusan IPS. Saya tidak bersedih karena hal ini, karena  saya yakin jurusan IPS bukan berarti tidak sepintar jurusan IPA. Saya belajar caranya membagi waktu dan disiplin dan hal ini sangat penting ketika bekerja di masa depan nanti. Saya bahkan belum tiba di awal kehidupan yang sebenarnya dan ketika saat itu tiba, saya yakin semua pengalaman hidup saya ini akan berguna bagi saya ataupun orang-orang disekitar saya.
Komisi Olahraga MPK Dhaksabadrika Aswatama


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar