Rabu, 19 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Dicky Duta Hidayat


Masa Pasca Lahir


Enam belas tahun yang silam, tepatnya tanggal 1 April 1996, seorang ibu yang adalah mama saya dengan susah payah melahirkan saya ke dunia ini. Dengan masa kehamilan 10 bulan lebih 5 hari, sudah menjadi hal yang wajar apabila seorang ibu panik dengan keadaan bayinya yang tak kunjung lahir. Namun akhirnya, bayi tersebut lahir dan diberi nama Dicky Duta Hidayat. Dengan lahirnya saya, tentu kedua orang tua saya sangat bahagia. Sebab, sebenarnya, saya bukanlah anak pertama dari orang tua saya, melainkan yang ketiga. Namun karena satu dan lain hal,  kedua anak orang tua saya yang mana adalah calon kakak-kakakku, gugur dalam kandungan. Oleh karena itu, hal ini menjadi hal yang sangat disayangkan oleh kedua orang tuaku, namun dengan kehadiran saya, rasa sedih yang dirasakan orangtua saya telah terobati.

Tidak lain halnya dengan mama saya yang dengan sepenuh jiwanya berusaha melahirkan saya. Butuh waktu 6 jam untuk melahirkan saya. Ini bukanlah waktu yang singkat bagi seorang ibu untuk melahirkan seorang anak. Penderitaan yang dirasakan tidaklah menjadi halangan bagi mama untuk melahirkanku. Dengan didampingi papa disamping mama saat persalinan, menambah semangat mama dalam melahirkan. Oleh karena itu, kelahiran saya sangat diharapkan orang kedua.

Disamping itu, saya adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuaku, sehingga secara otomatis saya adalah doa sekaligus harapan kedua orang tua saya kelak saat dewasa nanti, karena sayalahlah satu-satunya anak yang merupakan pewaris kedua orang tua saya. Masa kini adalah masa dimana kedua orang tua saya melatih agar saya menjadi anak yang sukses dan sesuai harapan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, kini saya berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita-citaku dan harapan orang tua saya kelak.


Masa Balita


Pelajaran mengemudi pertama saya adalah pada saat saya menginjak umur 1,5 tahun. Pada saat itu, kami sekeluarga ingin pergi ke suatu tempat, saya duduk di kursi pengemudi bersama papa saya. Pada saat kembali ke rumah, tepatnya ssat memarkir mobil, papa saya benabrak pot bunga milik si empunya rumah, mungkin gara-gara pot bunga itu terlalu pendek sehingga tidak terlihat dari posisi kemudi, atau mungkin karena konsentrasi papa yang setengah-setengah karena saya juga duduk di kursi yang sama, sehingga mungkin gerakannya kurang leluasa. Dan setelah 3,5 bulan berlalu, kami langsung pergi menuju kota Batam karena papa saya kembali ditugaskan di tempat yang berbeda.






Masa SD

Pada tahun 2002, saya berumur 6 tahun dan sudah saatnya saya belajar di sekolah dasar.  Saat ini, saya sudah berada di Jakarta, sebab sebelumnya saya tinggal di Medan dan belajar di TK Djuwita cabang Medan. Karena baru saja tinggal di Jakarta, kami sekeluarga untuk sementara tinggal di rumah sepupu yang ada Depok sambil menari-cari rumah di daerah kompleks itu. Dan juga dengan bantuan kakak dari Mama saya, akhirnya saya bersekolah di SD Pangudi Luhur. Hari pertama di SD PL sangatlah menyenangkan, apalagi sudah bertemu dengan teman-teman baru. Salah satu teman dekat saya dulu adalah Daniel. Saat itu, saya ditempatkan di kelas 1 A dan guru yang mengajar adalah Bu Yovita. Saat itu, Bu Yovita sudah memberi tanggung jawab kepada saya menjabat sebagai ketua kelas.  Suatu hal dan tanggung jawab yang besar yang diberikan oleh seorang guru kepada murid. Saat itu, saya duduk sebangku dengan Tasya. Pernah suatu hari, saat mengerjakan tugas, saya melihat Tasya sedang mengerjakan tugasnya, namun ada hal yang membuat saya sebal. Dia mengerjakan pekerjaan itu dengan sangat lambat. Saking sebalnya, saya cubit pinggangnya karena lama kelamaan kesabaran saya sudah habis. Saya sempat tidak habis piker mengapa saya melakukan hal itu

Sifat mistis saya sudah keluar saat kelas 3 SD. Saat kelas 3 SD ini saya bersama dengan teman-teman yang lain yang kira-kira berjumlah 7-8 orang melakukan pemburuan hantu yang berada pada lingkungan sekolah. Hingga suatu saat kami pernah membuat denah sekolah serta letak tempat-tempat yang perlu diinvestigasikan disaat jam pelajaran, namun kertas itu langsung diambil. Namun pada jam istirahat, kami tetap melaksanakan investigasi terhadap beberapa tempat yang kami anggap cukup untuk membuat bulu roma kami semua berdiri. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah lorong di depan kelas 4 B sebab tempat tersebut memiliki jendela yang mana pemandangan di luar jendela tersebut adalah gedung dan didalam gedung tersebut sering terlihat mondar –mandir sesosok bayangan putih. Kemudian kami menuju UKS sekolah. Hal yang membuat kami menjadikan tempat ini sebagai tempat investigasi karena di dalamnya terdapat salib dengan patung Yesus tanpa kepala ! . Sungguh hal yang mengerikan melihat pemandangan seperti ini bagi anak-anak S.D. kemudian kami melanjutkan investigasi kami ke toilet laki-laki. Salah satu teman kami yang ikut berkata bahwa ia mencium harum bunga kenanga disekitar tempat ini. Langsung saja hal ini membuat kami serentak takut, belum lagi terjadi hal yang tidak lazim namun hanya bisa dilihat oleh orang tertentu.





Masa SMP

Pada tahun 2008,  saya mengikuti tes masuk SMP Pangudi Luhur. Hari pertama di kelas 7 cukup menegangkan. Pernah suatu saat saya salah memasuki kelas selama seharian padahal itu adalah hari pertama di kelas 7. Seharusnya saya adalah murid kelas 7 E, namun kelas yang saya masuki adalah kelas 7 F. Disaat absensi kelaspun nama saya tidak disebutkan sebab didalam daftar siswa tidak ada namaku disitu. Saat upaara benderapun saya memasuki baris kelas 7E dengan mengenakan nametag bertuliskan “Dicky 7F”. Banyak yang menanyakan mengapa aku tidak masuk pada hari itu. Ada-ada saja kekonyolan yang terjadi hari itu.

Hal yang berkesan saat kelas 8 adalah mengerjai orang via telephone.  Waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.15. Kami (Saya, Michael, Angie, Tania) duduk di bagian belakang bus. Saat itu aku berinisiatif untuk mengerjai Mc Donald dengan memesan makanan. Setelah selesai mengerjai, Tania memiliki ide untuk menjahili temannya di tempat lain. Kemudian setelah  selesai, diapun berinisiatif  untuk menjahili salah satu anak yang ada di 8 B. Skenario dari isi telepon itu adalah bahwa ada seseorang diujung telepon yang berteriak-teriak meminta tolong karena ia isandera oleh sekelompok orang. Tanpa disangka, ternyata anak-anak 8 B ketakutan betulan, bahkan ada yang hampir menangis.

Tahun ajararan 2010-2011 pun dimulai. Kini aku sudah kelas 9. Aku dan sekarang aku adalah murid kelas 9 C. Hari pertama sekolah memang cukup menegangkan seperti biasa, ditambah melihat teman-teman sekelasku adalah anak-anak yang bisa dibilang lumayan “Jeger” kemudian ditambah lagi dengan kepalaku yang botak karena pada saat liburan kenaikan kelas yang lalu, aku bersama orangtuaku menunaikan ibadah umrah ke Mekah dan Madinah. Kurasa semakin banyaklah mungkin penderitaanku. Namun semua itu berubah 180˚. Karena penampilanku yang unik inilah mungkin itu semua terjadi. Mereka yang kuanggap “jeger” itu menyapaku dan mngajak bercanda. Hingga pada saat pemilihan ketua kelas, oleh mereka akupun didaulat sebagai ketua kelas. Pastilah aku kaget saat itu karena pada saat itu aku belum siap dan merasa tidak bisa memimpin kelas dengan siswa yang dominan adalah seperti mereka-mereka ini. Namun lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan situasi kelas.


Masa SMA

Hari pertama masuk di Labschool Kebayoran ini sangatlah menegangkan karena satu-satunya orang yang saya kenal disini hanyalah Ozsa karena dia sama-sama berasal dari SMP Pangudi Luhur juga. Beberapa hari kami melaksanakan MOS di sekolah.

Pada saat kelas sepuluh, saya ditempatkan pada kelas X-A. Semua anak di X-A sangatlah kompak. Kekompakkan kami pun terwujud pula pada saat ulang tahun pak Yusuf. Kami semua sama-sama memberikan ia kejutan dengan memberikannya rainbow cake dan kumpulan foto-foto. 


Isak haru pak Yusuf

Tampak senang Pak Yusuf menerima kejutan dari anak didiknya...


Peristiwa yang sangat mengesankan di kelas sepuluh adalah di akhir tahun pelajaran. Sekitar 27 siswa yang terdiri dari 19 perempuan dan 8 laki-laki termasuk saya mengikuti misi budaya di kota Buyukcekmece, Turki. Terdapat 10 orang yang memainkan musik yaitu saya sebagai pemain alat musik saron, Avi dan Kania sebagai pemain kenong, Dwiki, Reyhan, Hasif, Badra, IP, dan Egi sebagai pemain gendang dan ketimpring. Tarian yang ditampilkan disana antara lain Nandak Ganjen, Tari Piring, Tari Lontar, Tari Soya-Soya, Tari Tifa, Tari Tokecang, dan terakhir Tari Saman. Pelatihan dilakukan di aula lantai 4 selama kurang lebih satu bulan. Pertama kali latihan, kami diajarkan kak Osa bermain gendang untuk tarian Nandak Ganjen. Dibenak saya pada waktu itu adalah apa mungkin dengan latihan sesingkat ini dapat menghasilkan sesuatu yang membanggakan? Ternyata dugaan saya salah. Kami (Indonesia)  memenangkan kategori ‘The Best Female Dancer’ (walaupun begitu, peran pemusik tidak kalah penting lho) yang diselenggarakan oleh 13th Gold Bridge Folk Dance Competition and International Büyükçekmece Culture & Art Festival.


 Kami berada di Turki selama 10 hari. Disana kami melakukan latihan intensif di hotel di sela-sela istirahat kami. Kami juga melakukan parade keliling kota dan hal itu sangatlah melelahkan. Namun semangat yang diberikan pelatih dan Bu Yuni yang ikut mendampingi kami serta melihat wajah antusias dari para penonton lainnya yang membuat semangat kami pulih kembali. Setiap hari selepas pulang tampil pertunjukkan, semua negara diajak untuk berpesta bersama dengan negara yang lain. Tentu Indonesia ikut berpesta dengan yang lain, namu karena kadang kala kami mengantuk, ada dari kami yang sempat tertidur di kursi masing-masing dalam keadaan duduk. Namun setelah beradaptasi dengan keadaan, kami pun mulai bisa menikmati. Acara pembukaan diikuti oleh 20 negara antara lain Turki, Indonesia,  Amerika Serikat, Belanda, Brasil, Bulgaria, Jordania, Korea Selatan, Meksiko, Macedonia, Polandia, Serbia, Siprus Utara, Slovakia, Spanyol, Tarjikistan, Thailand, Togo, Ukania, dan Yunani. Pembukaan dilakukan dengan melakukan tarian khas Turki dan kembang api serta penampilan beberapa artis lokal. Setelah pembukaan, dibeberapa hari ke depanya kami melakukan beberapa kali pertunjukan di pusat kota, dan pentas di Kultur Park di kota Büyükçekmece. Kami pun sempat dimarah-marahi oleh pelatih kami yang bernama kak Ayu karena penampilan kami yang kurang maksimal di beberapa pentas. Kadang kami kurang senyum atau mungkin para penari yang masih melakukan kesalahan-kesalahan gerak. Namun semua itu tetap kami kerjakan dengan gembira. Hari terakhir merupakan hari yang sangat berat bagi kami semua mengingat apa yang telah kami lalui selama ini. Senang, suka, duka, kegagalan, dan keberhasilan telah kami lewati bersama untuk mengharumkan nama Indonesia namun segala sesuatu pastilah terdapat suatu titik akhir. Lagipula, sehabis ini kita pun masih akan melakukan tur keliling Eropa yang meliputi Perancis, Belgia, Belanda, Swiss, Jerman, dan Itali

Suasana perayaan kecil-kecilan:






Penampilan kami saat di 13th Gold Bridge Folk Dance Competition and International Büyükçekmece Culture & Art Festival, Turki
           
          
Destinasi liburan pertama kami yaitu di Perancis, Paris. Kami semua sangat bahagia pada saat itu. Kak Doni, tour guide kami selama liburan di Eropa pun membawa kami ke Paris Look, toko dimana semua oleh-oleh kota Paris dijual dengan harga yang disesuaikan. Umumnya yang berbelanja disana adalah orang Asia khususnya Indonesia, jadi kami bisa berbahasa Indonesia dengan pegawai toko disana. Kemudian di Paris, kami juga mengunjungi menara Eiffel. Semua ini tampak seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Berkunjung ke Paris dan melihat langsung menara yang terkenal di dunia itu.


Ada suatu kejadian yang tak mengenakkan di Paris. Saat kami berada di  Champs-Élysées, Saya, Kigung, dan Egi berjalan bersama untuk berbelanja di sekitar jalan tersebut. Kemudia kami mencari tempat duduk. Saat kami duduk, 2 orang wanita menghampiri kami dan bertanya apakah kami seorang Muslim dan kami berkata iya, lalu mereka mengucapkan salam kepada kami dan menujukkan buku tentang sumbangan untuk orang cacat. Kami terkesan dipaksa dan saya pun memberkan sepuluh Euro kepada mereka, namun ternyata mereka mengatakan bahwa sumbnagan ini untuk 2 jenis cacat jadi kami harus membayar 2 kali lipatnya. Lau kemudia saya melirik seorang pria tua lokal yang sedari tadi melihat kami yang sedang ‘dipalak’. Setelah mereka pergi, pria tua itu mengatakan “it’s not good for you, they are frauds and you won’t gain any benefit from it” dan kami pun tersadar bahwa kami telah ditipu. Yah setidaknya hal itu menjadikan pelajaran bagi kami. Kemudian kamipun berkumpul kembali dan kami dibelikan 2 scoops Häagen-Dazs oleh kak Doni secara gratis! Namun karena tidak tahu maka saya pun mengatakan kepada pelayannya “3 scoops please with caramel topping on it” walhasil saya pun meresa bersalah setelah mengetahui bahwa jatah yang diperbolehkan hanyalah 2 scoops dan pada akhirnya, es krim itu pun tidak saya habiskan karena kenyang. Kemudian, di Champs-Élysées ini pula, salah satu teman kami, Rizky Agung/Kigung mendapatkan kejutan ulang tahun berupa tulisan ‘Happy Birthday Kigung’ dengan alphabet bermotif yang kami beli secara patungan dekat toko Häagen-Dazs. Semua termasuk Kigung pun bergembira bersama di tempat berjalan kaki dan sedikit ‘bernorak’ ria.

Di Paris kami juga mengunjung Disneyland Paris. Permainan disana cukup banyak. Namun permainan yang saya naiki hanyalah permainan –permainan yang tidak ada loopnya. Di Eropa, kami juga mengunjungi Belgia. Disana kami membeli cokelat Belgia yang terkenal akan kenikmatanya. Kami juga melihat patung bocah yang sedang buang air kecil yang terkenal.Kemudian kami juga ke Amsterdam, Belanda. Disana kami mengunjung taman mini. Ya, karena pengunjung akan merasa seperti raksasa yang menjelajahi kota Amsterdam karena replica-replika gedung dan tempat-tempat terkenal yang berukuran mini.
 Di Amsterdam, kami juga mengunjung restoran Indonesia bernama Desa. Susana di dalam restoran sangatlah ‘homey’ karena ornament-ornamen nusantara yang banyak dipajang di dalam restoran dan juga harum aroma terapi yang membuat kami semakin nyaman. Tidak hanya orang Indonesia saja yang singgah makan di Desa, namun juga penduduk lokal pun juga ada yang makan di restoran tersebut. Kemudian kami ke Swiss. Disana kami menaiki pegunungan tertinggi di Eropa yang bernama Titlis. Itu adalah kali pertamanya saya bermain bahkan melakukan perang bolag salju, bahkan saya pun terkena timpuk oleh teman saya yang dia kira adalah bola salju namun ternyata itu adalah sebuah batu. Kami semua pun berfoto bersama-sama. Pada hari terakhir travel, kami mengunjungi pulau Venezia di Itali. Disana kami menaiki gondola. Gondola adalah sebuah perahu berkapasitas kurang lebig 6-7 orang dengan supir yang berdiri diujung perahu dan mengendalikan perahunya. Pengemudi oerahu pun harus memiliki SIM untuk dapat mengendalikan sebuah gondola yang harganya bisa mencapai harga sebuah mobil ini. Tapi mereka memang terbukti ahli yang terlihat dari kelihaian mereka dalam mengarahkan kapal agar ak tersenggol tembok karena lorong-lorong yang harus dilalui sangatlah sempit. Pada siang harinya, kami pun pulang kembali ke Indonesia dengan selamat.



sumber:
dokumen pribadi penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar