Sabtu, 22 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Dhiya Divia R.


"16 Tahun Yang Sudah Terlewati"

Pada tanggal 6 November tahun 1995 pukul 18:56, tepat pada adzan salat Isya, di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), saya dilahirkan dengan berat 2,8 kilogram dari ayah saya, Didan Rachmat Saptaman dan mama saya, Lusti Justisiana yang memberi nama saya Dhiya Diviana Rachmat, dengan nama panggilan Dana. Tetapi, ketika orang tua saya memberikan nama saya kepada perawat, ia salah menuliskannya pada akte kelahiran menjadi Dhiya Divia Rachmat, dengan nama panggilan Divia.

Ketika saya berumur 24 hari


Periode Balita

Sejak lahir, ayah saya tidak ingin dipanggil papa, sedangkan mama saya tidak ingin dipanggil ibu. Sehingga, sekarang saya dan adik saya memanggil mereka mama dan ayah.

Rumah pertama saya adalah di Jalan Kucica pada Bintaro Sektor 9. Kata pertama yang dapat saya ucapkan adalah kata ‘Mama’. Pada usia enam bulan, saya ditinggal di Jakarta bersama nenek dan kakek saya karena ayah saya pergi ke Hong Kong utuk bekerja selama dua minggu dan mama saya pergi ke Amerika juga untuk bekerja selama dua minggu. Pada usia delapan bulan, saya sudah dapat berjalan dan pada usia sembilan bulan sudah bisa menyebutkan kata-kata berdasarkan alfabet. Pada umur satu tahun, saya sudah dapat membuat kalimat-kalimat.

Ketika saya berumur satu tahun

Pada umur dua tahun, saya bersekolah di Whiston Pre-School. Saya dan keluarga saya pindah rumah ke Jalan Brawijaya dan juga pada tahun itu, mama saya melahirkan adik saya, Basil Pradipta Rachmat pada tanggal 18 Maret tahun 1998. Ketika mama saya di rumah sakit, saya dititipkan di rumah kakek dan nenek saya. Ketika saya empat tahun, saya pindah sekolah ke Taman Bermain Kepompong. Pada umur lima tahun, saya bersekolah di TK Al-Izhar Pondok Labu.

Ketika saya berumur dua tahun, saya sudah gemar membaca buku

Ketika saya berumur tiga tahun bersama adik saya

Ulangtahun saya yang ke empat

Berlibur ke Korea Selatan ketika saya berumur lima tahun


Periode TK

Di TK A di Al-Izhar, ada tes pelajaran berhitung tetapi saya tidak bisa melanjutkan berhitung dari 11 dan seterusnya dengan bahasa Indonesia karena diajarkan oleh orang tua berhitung dan berbicara dengan bahasa Inggris. Ketika diminta untuk membuat cerita dengan gambar, saya pandai dalam hal itu sehingga saya disuruh membantu teman-teman saya.

Ulangtahun saya yang ke enam di TK Al-Izhar Pondok Labu

Hobi saya ketika TK adalah menyusun puzzle. Jika ada perayaan 17 Agustus di sekolah, saya pasti terpilih untuk lomba menyusun puzzle karena saya selalu menang.

Di Al-Izhar, murid-murid wajib membawa buku penghubung yang dikumpulkan untuk ditulis oleh guru-guru hal penting yang perlu diketahui oleh orang tua. Murid-murid di kelas saya dulu, B-1, ingin mengumpulkan buku penghubung paling terakhir sehingga terletak di atas buku-buku penghubung murid-murid lainnya. Kami sampai kejar-kejaran agar dapat mengambil buku penghubung murid lainnya dan menaruhnya di bawah buku penghubungnya sendiri.

Berlibur ke Australia ketika saya berumur tujuh tahun

Periode SD

Saya melanjutkan sekolah dasar di SD Al-Izhar. Setiap tahun di SD Al-Izhar terdapat pentas akhir tahun yang temanya berbeda-beda setiap tahunnya. Acara lainnya yang juga diadakan setiap tahun adalah Field Day. Acara Field Day adalah acara dimana semua murid dari kelas satu sampai enam SD dengan nomor absen yang sama bergabung dan ikut serta dalam games-games dan berlomba dengan absen-absen lainnya. Manasik Haji adalah acara yang dilakukan semua murid dari kelas satu sampai kelas empat setiap tahun. Pada acara tersebut, murid-murid perempuan harus memakai baju muslim dengan jilbab dan murid-murid laki-laki harus memakai kain ihram dengan peci. Ketika acara itu sedang berlangsung, murid-murid harus seperti melakukan haji di sekolah karena sekolah saya juga didekorasi menjadi seperti lokasi-lokasi tertentu untuk melakukan haji. Contohnya, lapangan belakang adalah tempat tawaf sehingga ada Ka’bah yang dibuat, di selasar adalah tempat sa’i sehingga ada tulisan Safa di satu bagian dan Marwah di bagian lainnya, dan lain-lain. Ketika saya bersekolah di SD Al-Izhar, saya dipilih untuk mengikuti olimpiade matematika dari kelas 3 sampai 5. Kelas-kelas yang saya dapatkan adalah kelas 1B, 2A, 3B, 4A, 5B, dan 6B.

Saya (kiri) dan adik saya (kanan) ketika lebaran tahun 2003

Pada kelas 1, saya mendapatkan guru yang dijuluki guru yang paling galak yaitu Bu Ana. Mama saya tidak terima dengan kegalakan beliau sehingga mama saya memarahinya. Lalu, saya bertemu dengan Bu Ana lagi di kelas 3 tetapi ia menjadi lebih baik terhadap saya sejak ditegur oleh mama saya.

Pada saat saya kelas 3, saya baru pertama kali menggunakan kawat gigi. Awalnya saya tidak nyaman menggunakannya tetapi lama-lama saya membiasakan diri. Kelas 3 adalah pertama kalinya semua murid dari kelas 3A sampai 3C bergabung untuk melakukan pentas bersama-sama yang bertema Betawi. Angkatan saya, angkatan 17 atau XVII, melakukan pentas Betawi tersebut di rumah teman saya yang mempunyai ruangan besar cukup untuk dibangun panggung. Pada pentas itu, saya terpilih untuk menjadi penari.

Di kelas 4, saya mulai memakai kacamata. Awalnya, semua orang tidak terbiasa dengan saya memakai kacamata. Pada kelas 5, saya mengalami pengalaman buruk karena saya dijauhi oleh teman-teman dekat saya sejak TK tanpa alasan yang jelas. Maka dari itu, saya tidak mau berteman dengan mereka lagi. Tetapi, dari pengalaman buruk itu, saya menemukan teman-teman dekat saya yang sampai sekarang masih dekat dengan saya walaupun sekolah kami berbeda-beda.

Pada kelas 6, saya masuk kelas 6B dan pada tahun itu saya bertemu dengan murid yang sekarang juga bersekolah di SMA Labschool Kebayoran yaitu Yealinzka Tinnovia Kurrota Aini. Tahun itu, saya berteman baik dengan Via dan dua murid laki-laki bernama Aufar dan Eugene. Di Al-Izhar, ada sebuah tradisi dimana murid-murid berpindah tempat duduk setiap beberapa bulan sekali dan setiap berpindah tempat duduk, kami berempat pasti duduk bersama.

Pada akhir sekolah dasar, ada tiga tes yang harus dilakukan yaitu UN (Ujian Nasional), UAS (Ujian Akhir Sekolah), dan ujian praktek. Saya merasa bangga ketika diberitahu bahwa nilai UAS mata pelajaran IPS saya adalah yang terbaik dari satu angkatan. Dari semua ujian-ujian tersebut, saya paling takut menghadapi ujian praktek karena dari semua praktek yang pernah dilakukan, murid-murid akan mengambil undian yang berisi praktek yang harus dilakukan. Hal yang paling saya tidak bisa adalah mencangkok tanaman sehingga sebelum mengambil undian, saya berdoa agar tidak mendapat praktek mencangkok.

Wisuda SD Al-Izhar diadakan di gedung di sekolah yang bernama Gedung Serba Guna. Semua murid mengenakan baju bebas tetapi memakai baju toga berwarna merah diluarnya tetapi tidak menggukanak topinya.

Periode SMP

Saya tidak pindah sekolah untuk SMP karena saya sudah merasa nyaman dengan teman-teman saya di SD Al-Izhar. Selama saya di SMP Al-Izhar, kelas-kelas yang saya dapatkan adalah kelas 7B, 8E, dan 9D. Seperti sekolah-sekolah lain, di SMP Al-Izhar juga ada Masa Orientasi Siswa (MOS). Di Al-Izhar, murid-murid kelas 7 diperintahkan untuk meminta tanda tangan semua pengurus OSIS SMP, tetapi sebelum diberikan tanda tangan oleh kakak kelas, mereka menyuruh adik kelasnya untuk melakukan sesuatu dahulu. Setelah adik-adik kelas melakukan hal tersebut, pengurus OSIS akan memberikan tanda tangan. Untungnya bagi saya, saudara sepupu saya, Avi Bellerizki, adalah salah satu dari pengurus OSIS SMP maka saya memintanya daftar kakak-kakak kelas yang termasuk dalam pengurus OSIS karena banyak murid-murid SMP biasa yang mengaku pengurus OSIS.

Ketika camping LDKS kelas 8
 
Semua murid kelas 7 juga diwajibkan untuk ikut serta dalam Latihan Kepemimpinan Dasar Siswa (LDKS) setiap hari Rabu. Pada pertemuan pertama, kami diberitahu untuk mengambil undian yang bertuliskan nomor kelompok kami dan semua murid harus berkumpul dengan kelompok masing-masing setelah mendapatkan undian kelompok. Bagian terakhir dari LDKS adalah camping LDKS. Camping dilaksanakan sebagai penilaian terakhir untuk seorang murid. Pada hari terakhir camping LDKS, disebutkan 50 nama yang berhasil menjadi Kader Osis (KAOS), termasuk nama saya.

Saya (kanan) dengan teman baik saya, Nabila (kiri)

Pada kelas 8, diadakan Pendidikan dan Latihan (DikLat) untuk 50 kader OSIS agar dapat dipilih 25 pengurus OSIS. Menurut saya, hal yang paling sulit dari DikLat adalah tes tertulis mengenai kepengurusan OSIS. Walaupun saya tidak yakin dengan jawaban-jawaban tes tertulis, saya akhirnya terpilih menjadi salah satu dari 25 pengurus OSIS SMP dan ketua OSIS angkatan saya memilih saya menjadi pengurus OSIS pendidikan. Baju OSIS angkatan saya dibuat seperti baju baseball, dan di punggung terdapat nama dan nomor OSIS.

Saya ketika mejadi OSIS nomor 15 (Sie. Pendidikan 2)

Pada kelas 9, semua murid mulai sibuk dengan pembelajaran masing-masing untuk mempersiapkan diri untuk UAS dan UN. Pada semester kedua, satu angkatan dibagi menjadi 6 kelompok berdasarkan nilai try out untuk ujian akhir. Saya bangga karena saya tidak pernah masuk kelompok dibawah kelompok 4.



Setelah ujian nasional dan juga ujian akhir sekolah terdapat pengumuman kelulusan secara umum yang dilakukan di Lapangan Bulan Sabit SMP. Pada saat itu, adik-adik kelas 7 dan 8 juga ikut mendengarkan, beserta orang tua yang ingin melihat. Ketika kepala sekolah kami mengatakan bahwa angkatan XVII lulus 100%, kami langsung menuju papan dimana terdapat nilai-nilai UAS dan UN kami. Saya merasa puas dengan hasil ujian saya karena menurut saya, NEM saya sudah lumayan tinggi yaitu 38,00.

Sebagian dari murid-murid kelas 9D ketika perpisahan ke Dufan (saya berada di kedua dari kanan)
Periode SMA

Saya bersekolah di SMA Labschool Kebayoran karena memang tujuan saya adalah SMA di Labsky. Tiga teman dekat saya juga diterima di SMA Labschool Kebayoran tetapi mereka tidak jadi mengambil untuk bersekolah di Labsky karena satu dari mereka diterima di SMAN 8, satu yang lainnya ingin bersekolah di sekolah internasional, dan yang terakhir pindah ke Switzerland.

Saya masuk di kelas XD di kelas 10. Awalnya saya tidak kenal siapapun di kelas tersebut kecuali teman SD saya, Via. Tetapi, lama-lama kelas XD terasa sangat nyaman dan menurut saya kelas itu adalah kelas paling kompak yang pernah saya tahu. Sangat banyak kenangan baik bersama kelas itu yang ingin saya ulangi jika bisa. Walaupun terdapat beberapa konflik diantara siswa-siswa kelas saya tetapi menurut saya tidak mungkin jika tidak ada konflik sama sekali diantara siapa pun jika bersama-sama selama satu tahun. Setelah penerimaan rapor untuk kenaikan kelas, saya diberitahu oleh teman-teman saya bahwa saya di peringkat kelima di kelas XD. Saya sama sekali tidak mengharapkan peringkat yang tinggi tetapi saya tetap bersyukur karena mendapatkan peringkat yang sangat baik.

Kelas XD

Kenangan yang tidak mungkin dilupakan adalah Trip Observasi (TO) dan BINTAMA. Saya tidak pernah merasakan hidup di desa sebelum ikut TO, sehingga kegiatan tersebut adalah pengalaman yang berharga. Mengikuti BINTAMA juga merupakan pengalaman unik yang tidak semua orang bisa alami.

Pada liburan Lebaran tahun 2011, saya dan keluarga saya berlibur ke tiga negara di Eropa yaitu Inggris, Italia, dan Spanyol. Kami pergi ke Inggris karena itu adalah kemauan saya dan adik saya, ke Italia karena kemauan mama saya, dan ke Spanyol karena kemauan ayah saya. Kami menghabiskan 5 hari di London, 4 hari di Dorset, 3 hari di Florence, 4 hari di Venice, dan 5 hari terakhir di Barcelona. Pengalaman yang paling berharga menurut saya adalah mengunjungi stadion klub sepak bola Arsenal karena saya adalah penggemar tim tersebut. Pengalaman berharga yang lainnya adalah menonton pertandingan sepak bola di London ketika tim sepak bola Chelsea melawan Norwich City dan Chelsea memenangi pertandingan itu dengan skor akhir 3-1. Walaupun saya bukan penggemar Chelsea, suasana menonton suatu pertandingan English Premier League sangat menakjubkan dan sangat berbeda dengan menonton pertandingan sepak bola di Indonesia. Kami juga sempat mengunjungi stadion Camp Nou, stadion tim sepak bola Barcelona FC di Barcelona. Menurut saya, mengunjungi kota Florence adalah hal yang sangat menarik karena di kota tersebut terdapat banyak sekali patung-patung bersejarah yang terawat dengan baik sehingga masih terlihat sangat bagus.

Stamford Bridge, sebelum kick off Chelsea FC melawan Norwich City

Ketika saya melihat kelas saya untuk kelas XI, saya mendapatkan kelas XI IPA 4. Banyak siswa yang belum saya kenal di kelas itu tetapi saya berharap bahwa kelas tersebut adalah kelas yang kompak dan nyaman. Ternyata, keinginan saya terkabulkan karena menurut saya, siswa-siswa kelas XI IPA 4 membuat suasana kelas menjadi nyaman.

Acara lamaran saudara saya di Bandung (saya berada di ketiga dari kiri)
Demikian cerita mengenai 16 tahun kehidupan saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar