Sabtu, 22 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Dahlia Ramya Cahyani


15 Tahun Perjalanan Hidup yang Tidak Akan Terjadi Lagi.


Tepat pada tanggal 6 Oktober 1996 sekitar jam 19.05 WIB di rumah sakit Asih, saya dilahirkan. saya adalah anak ke empat dari pasangan Sayuti Melik dan Tjiptandajani Umi Udjianti. Saya diberi nama Dahlia Ramya Cahyani yang memiliki arti bunga yang cantik, baik, ramah, pintar yang bersinar. Nama Dahlia diberikan oleh ibu saya, nama Ramya yang didapatkan dari bahasa Sansekerta yang diberikan oleh kakek saya, sedangkan nama Cahyani diberikan oleh ayah saya. Saya lahir secara normal dengan berat 3.850 gram dan panjang 50 cm. Saya lahir tepat 1 hari setelah ulangtahun ayah saya yang ke 45. Dirumah saya di panggil “I’a” yang berasal dari Dahlia tetapi di sekolah saya lebih dikenal dengan Dahlia atau Dahl. Saya mempunyai 3 kakak kandung yang berbeda cukup jauh dengan umur saya. Yang pertama laki – laki bernama Agung Budhi Ramadhani yang biasa dipanggil mas Aung, berbeda 17 tahun dari saya, yang kedua bernama Barina Dewi Elvandari yang biasa dipanggil mbak ina, yang berbeda 13 tahun dengan saya, dan kakak yang ketiga yaitu Cempaka Ayu Diana yang dipanggil mbak ayu, yang berbeda 7 tahun dengan saya. Karena saya merupakan anak terakhir, saya lebih dimanjakan oleh ibu dan ayah saya.
Saat berumur 1 tahun

Bersama ketiga kakak

Periode Balita

Saya lahir di Jakarta, dan tinggal di Jakarta sampai umur 1,5 tahun. Lalu pada bulan Mei tahun 1998, saya dan keluarga pindah ke Bali karena tugas ayah yang dipindah ke Bali. Tetapi, kami hanya pindah ber 5, yaitu ayah, ibu, kakak kedua saya yaitu mbak ina, kakak ketiga saya yaitu mbak ayu, dan saya sendiri. Kakak pertama saya yaitu mas aung tidak ikut ke Bali dan tinggal di Jakarta sendiri karena ia sudah berkuliah. Saya tinggal di Bali sampai tahun 2001 yaitu sampai saya berumur 4 tahun. Di Bali, saya dimasukkan di playgroup Khairusanah. Ketika saya berumur 3 tahun, saya dan kakak saya ( cempaka) masuk ke sebuah les modelling bernama “Eskalis”. Saya sering tampil di beberapa acara fashion show begitu pula kakak saya, yang pernah menjadi gadis sampul beberapa majalah. Ibu saya mengatakan bahwa dulu waktu saya kecil, saya sering sekali marah dan membanting barang, khususnya telepon. Sampai – sampai telepon rumah saya diganti sebanyak 5 kali karena semuanya hancur.
Saat Ulang tahun ke 2
Saat ulangtahun ke 3
Saat Ulangtahun ke 4
Saat mengikuti lomba modelling

Periode TK

Ketika saya berumur 5 tahun, saya dan keluarga pindah lagi ke kota lain, yaitu Bandung. Disana, saya hanya sebentar, hanya 1 tahun saja. Saya dimasukkan di TK Al – Hassan. Di Bandung, saya tinggal sekeluarga bersama saudara perempuan saya yaitu mbak Anggi. Rumah saya disini tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk ditinggali. Setiap hari saya sering sekali bermain batu yang dibuat menjadi rumah – rumahan. Di TK Al- Hassan saya sering mengikuti beberapa kegiatan, contohnya menari. Dulu saya senang sekali menari dan mengikuti beberapa pentas. Pernah pada suatu waktu, saya mengikuti sebuah acara tari di Taman Lalu Lintas Bandung. Setelah saya tampil, saya dan teman – teman saya bermain disekitar situ. Kami bermain gendong – gendongan sampai suatu saat saya dan teman saya jatuh dan kepala saya terjeduk batu sampai bocor. Saya menangis sangat kencang hingga membuat ibu saya dan orang- orang disekitar situ panik. Darah yang keluar waktu itu sangat banyak. Tadinya ibu saya berencana untuk membawa saya kerumah sakit untuk dijahit, tapi saya menolak karena takut akan operasi. Hingga akhirnya sampai sekarang masih terdapat bekas luka itu di kepala saya.
Tahun 2002, saya dan sekeluarga pindah lagi ke Padang, Sumatera Barat. Tetapi kali ini, saya hanya pindah berempat; ibu, ayah, saya, dan mbak ayu karena mbak ina berkuliah di Bandung. Rumah saya di Padang sangat besar, hal itu dikarenakan ayah saya yang menjabat menjadi Pemimpin Wilayah. Dirumah itu saya mempunyai lapangan tenis dan halaman yang sangat luas. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memelihara hewan peliharaan, yaitu kelinci. Sampai pada akhirnya, total kelinci yang ada di rumah saya mencapai 100 ekor. Tetapi ketika saya pindah ke Jakarta lagi, kelinci saya satu demi satu mati karena tidak ada yang mengurus lagi. Di Padang, saya di masukan di TK Pertiwi. Di TK itu, saya mendapatkan teman – teman yang sangat ramah. Disitu pun, saya sering dipuji karena saya termasuk salah satu anak yang pintar.
Saat Ulangtahun ke 5

Saat berjalan - jalan ke Singapore


Periode SD

Saya pun masuk Sekolah Dasar di SD Pertiwi Padang. Disana, saya hanya bersekolah sampai kelas 2 semester 1. walaupun waktunya singkat, saya sangat menikmati sekolah disana. Teman – teman saya sangat baik begitupun guru – gurunya. Saya sempat beberapa kali mendapat juara kelas ketika di Padang.
Karena dinas ayah dipindahkan lagi, saya pun pindah lagi ke Jakarta dan masuk ke SD Mexico Gunung 05 pagi. Disana saya melanjutkan pendidikan dari kelas 2 semester 2 sampai lulus kelas 6. Tadinya, saya ingin masuk ke SD Gunung 01, tetapi dikarenakan kepala sekolahnya sedang pergi keluar kota, saya tidak jadi mendaftar dan masuk ke SD Mexico. Sebenarnya ini bukan SD internasional, nama Mexico diambil karena sekolah ini bekerja sama dengan pemerintahan Mexico. Oleh karena itu, setiap tahun menteri dari Mexico datang untuk melihat sekolah ini. Kami pun sering mengadakan beberapa acara penyambutan dengan tari mexico. Bahkan pernah beberapa saat diadakan mata pelajaran bahasa Spanyol. Di SD ini, saya mengikuti beberapa ekstrakurikuler, yaitu Drumband dan Angklung. Saya bertugas memainkan pianika didalam drumband ini. Saya pun sudah mengikuti beberapa lomba Drumband dan mendapatkan beberapa juara.
Saat kelas 6, saya harus mengikuti UASBN untuk kelulusan SD. Pertamanya saya tidak tahu harus masuk di SMP mana karena saya tidak mengerti perbedaan satu SMP dengan lainnya. Lambat laun, semakin mendekati UASBN, saya pun mulai mencari – cari sekolah yang bagus dan pilihan saya pun jatuh di SMP Labschool Kebayoran. Saya melihat SMP Labschool Kebayoran merupakan SMP yang bagus dan paling didambakan, oleh karena itu saya ingin sekali masuk ke SMP ini. Saya pun mengikuti test masuk SMP Labschool. Dan ketika hari pengumuman tiba, ibu saya memberi tahu bahwa saya tidak diterima. Saya pun sempat kecewa, tetapi ibu saya menyarankan saya untuk test di SMP 19 Jakarta. Ia bilang bahwa sekolah itu juga bagus. dengan berat hati, saya pun mengikuti test masuk sekolah tersebut. Saya mendaftar di program SBI atau Internasional yaitu program yang mengharuskan kami untuk belajar di 2 bahasa yaitu inggris dan Indonesia. Setelah melewati serangkaian test, saya pesimis tidak akan diterima. Tapi takdir berkata lain, saya diterima di SMP 19 ini dan bersedia sekolah disini untuk 3 tahun kedepan. Saya telah mendapatkan SMP sebelum UASBN dilaksanakan. Oleh karena itu, saya tidak terlalu panik dan takut untuk menghadapi ujian akhir ini karena saya sudah tidak perlu mencari sekolah lagi. Walalupun begitu, saya tetap belajar dengan giat sampai akhirnya saya mendapatkan NEM sebesar 25,10. memang tidak cukup besar, tetapi cukup untuk membuat kedua orang tua saya bangga.

Kelas 3 SD


Periode SMP

Tak menyangka masa SMP pun tiba. Pertama kali saya mengenakan seragam SMP, terasa agak canggung karena rok nya yang panjang sampai mata kaki. Tetapi lama – lama saya bisa beradaptasi. Penggunaan bahasa inggris dalam mata pelajaran IPA dan Matematika pun membuat saya sulit memahami pelajaran pada awalnya, tetapi saya terus belajar hingga akhirnya cukup terbiasa. Saya pun mengikuti 2 ekskul, tari saman dan Science Club. Tiga tahun pun terasa cukup singkat, sampai pada akhirnya tibalah saya di kelas 9 dan akan melaksanakan ujian akhir lagi dan harus mencari sekolah lagi. Saya pun memutuskan ingin sekali masuk ke SMAN 8 Jakarta didaerah tebet. Walaupun jauh, saya sudah bertekad ingin masuk kesana dan mengekos di tebet. Awalnya ibu dan ayah saya agak melarang saya untuk tinggal sendiri disana, tetapi setelah saya bujuk, akhirnya mereka memberi izin. Karena takut tidak mendapat sekolah, saya pun mencoba kembali test di SMA Labschool Kebayoran. Walaupun saya tidak terlalu ingin masuk Labschool dan lebih ingin masuk SMA 8. Ternyata, di percobaan kedua ini, saya diterima di SMA Labschool. Akhirnya, kedua orangtua saya pun membayar uang pangkal untuk Labschool hanya untuk berjaga- jaga.
Uan pun tiba. Walaupun NEM saya tidak digunakan untuk masuk ke SMA, saya tetap semangat belajar.. Saya belajar sangat giat di sekolah maupun di bimbingan belajar. Saya pun sering pulang jam 6 malam dari tempat bimbel dan lanjut belajar dirumah sampai jam 9. Alhamdulillah, kerja keras saya membuahkan hasil. Saya mendapat NEM yang cukup tinggi yaitu sebesar 37,85. Saya pun tidak pernah merasakan ribetnya mencari sekolah dengan NEM karena Alhamdulillah saya selalu mendapat sekolah sebelum ujian akhir. Keinginan saya untuk masuk ke SMA 8 pun goyah. Alasan pertama, banyak yang mengatakan bahwa saya tidak akan kuat bersekolah disana karena tuntutan pelajaran yang sangat berat, selain itu juga begitu jauhnya letak SMA tersebut. Lebih lagi, saya merasa tidak akan mampu untuk mengekos sendiri dan jauh dari keluarga. Alasan lainnya juga karena orangtua saya yang sudah membayar uang pangkal SMA Labschool sehingga saya berpikir ulang untuk tidak membuang- buang uang. Karena banyaknya pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk tidak jadi test di SMAN 8 dan melanjutkan pendidikan SMA di SMA Labschool Kebayoran.

Saat kelas 8



Saat Studytour bersama teman SMP


Akhir kelas 9

ketika foto Buku Kenangan



Periode SMA

Mbak ayu yang dulu juga bersekolah di Labschool mengatakan bahwa saya pasti akan capek karena aktivitas di Labschool yang sangat padat sehingga membuat saya tidak mempunyai waktu untuk bermain. Tetapi setelah saya jalani, ternyata saya mampu menjalani semua aktivitasnya. Pertama – tama saya menjalani MOS (Masa Orientasi Sekolah) yang berlangsung selama 3 hari. Saya berpikir bahwa MOS ini sangat berat karena saya harus membuat nametag yang sangat ribet dan harus mengikuti makan komando yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Selama MOS, kami dipandu oleh kakak OSIS dan MPK yang sangat baik dan ramah. Setelah MOS selesai, diadakan pembagian kelas dan saya masuk di kelas XA dengan wali kelas pak yusuf seorang guru kimia. Pertamanya saya mengira pak yusuf orang yang dingin dan tegas, ternyata beliau adalah orang yang asik dan seru. Saya pun mencoba mencalonkan diri sebagai MPK (Majelis Perwakilan Kelas) dan Alhamdulillah saya terpilih. Saya pun mengikuti serangkaian pelantikan yang dimulai dengan LALINJU (Lari Lintas Juang). Lalinju ini merupakan lari sejauh 17 KM dari Kalibata bersama anggota organisasi lainnya seperti OSIS dan Palabsky. MPK tahun 2011 diberi nama Aryasangga Bawalaksana dan saya terpilih menjadi bidang Dana dan Logistik.
Bersama MPK Aryasangga Bawalaksana angkatan 11
bersama teman - teman kelas X
Saya mengikuti ekstrakurikuler Tari Tradisional lagi untuk melanjutkan apa yang sudah saya pelajari di SMP. Saya pun mengikuti sebuah komunitas yang bernama LAMURU (Labsky Community Drum). Disana saya bisa belajar bermain drum dan belajar berinteraksi dengan orang banyak.
LAMURU saat Skylite


Saat tampil LAMURU


Selama kelas 10, saya menjalani begitu banyak program wajib, yaitu PILAR ( Pesantren Ramadhan), TO (Trip Observasi), dan BINTAMA. Dari semua program wajib tersebut, salah satu yang paling saya suka adalah TO. To adalah kegiatan dimana kita akan dibawa ke desa selama 5 hari untuk menjalani kehidupan disana. Sebelum TO, diadakan lah PraTO yaitu kegiatan dimana saya dan teman – teman membuat nametag TO, Tongkat angkatan, dan nama angkatan. Angkatan saya merupakan angkatan 11 yang diberi nama Dasa Eka Cakra Bayangkara yang memiliki arti angkatan 11 yang menjaga roda kehidupan. Pra TO dan TO pun sangat seru sampai – sampai saya tidak bisa menceritakannya satu persatu. Setelah itu ada pula BINTAMA, yaitu kegiatan pendidikan dengan KOPASSUS dari group 1 kesatriaan Pancasila yang dilaksanakan selama 6 hari. Pertamanya saya takut mengikuti BINTAMA ini karena banyak yang mengatakan bahwa KOPASSUS itu galak dan sebagainya. Tetapi setelah dilakukan, kami malah sedih ketika harus meninggalkan para pelatih disana. Memang keras mereka mendidik kami, kami harus bangun pagi, selalu siaga, tidak boleh takut, makan harus cepat, harus sigap dan sebagainya. Tetapi itu semua menyenangkan dan patut dikenang. Setelah BINTAMA, diadakanlah Lapinsi, yaitu program untuk anak – anak yang ingin menjabat sebagai OSIS atau MPK. Setelah itu saya mengikuti TPO (tes potensial Akademik) yang terdiri dari tes makalah, tes olahraga, dan tes agama. Walaupun sedikit susah, alhamdulilah saya diterima sebagai Capsis (Calon pengurus Osis) 2012. Setelah melalui beberapa tes, termasuk tes bidang hingga pelantikan, saya pun akhirnya resmi dilantik sebagai OSIS Amarasandhya Batarasena sebagai Seksi Dana dan Logistik.

Saat Ulangtahun ke 15


Lari pagi terakhir kelas 10 dengan angkatan Dasecakra


Saat  penjelajahan TO


bersama OSIS Seksi Dana dan Logistik


Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Saya naik ke kelas 11 dan diterima di program IPA walaupun saya ingin berkuliah di jurusan Bisnis. Dulu, saya ingin sekali menjadi sekretaris setelah datang ke kantor ayah, tetapi sekarang saya bertekad untuk membuka bisnis sendiri. Saya berharap, apapun kerja saya nanti, bagaimanapun masa depan saya kelak, saya dapat membanggakan kedua orang tua dan keluarga besar saya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar