Sabtu, 22 September 2012

Tugas-1 Autobiografi Bagus Arifianto

16 Tahun Terbaik Dalam Hidupku


Balita
                Semua bermula dari pernikahan seorang bernama Heri Sasono dengan Resna Damayanti pada 15 Mei 1994 di Jakarta.
Dari pernikahan merekalah lahir seorang anak bernama Bagus Arifianto Sasono, tepat 2 tahun setelah pernikahan mereka. Dan Bagus Arifianto Sasono itu adalah saya. Lahir setelah ibu saya mengandung saya lebih dari 9 bulan dan sudah akan dipredeksi terlahir sesar. Tapi, semua dugaan dokter itu salah. Setelah direncanakan akan dilahirkan sesar pada 20 Mei 1996, saya akhirnya lahir dengan proses normal pada tanggal 15 Mei 1996. bertepatan dengan 2 tahun ulang tahun pernikahan kedua orang tua saya.
Entah apa maksud dari Tuhan seorang anak yang sudah dipredeksi lahir dengan proses sesar oleh dokter bisa terlahir dengan normal dan tepat pada 2 tahun ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Mungkin itulah yang kita sebut anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Awalnya, ibu saya mengalami kontraksi pada subuh tanggal 15 Mei 1996. Setelah mengetahui hal itu, ayah saya membawa ibu saya untuk dirawat di Rumah Sakit Ibu Anak Harapan Kita, Jakarta. Dan tidak butuh proses lama sekitar magrib atau pukul 18.00 WIB anak bertinggi 47 cm dan berat 2.7 kg dilahirkan. Kelahiran saya tentulah sangat ditunggu-tunggu semua anggota keluarga saya terlebih ayah dan ibu saya. Sebelum saya menjadi janin, saya sebenarnya hampir mempunyai kakak. Namun dalam bulan ke-6 dalam kandungan ibu saya mengalami keguguran dan apahasil mereka harus menunggu kembali untuk mendapatkan buah hati.
Saat berumur 1 bulan, saya tinggal di daerah Pancoran bersama ayah ibu saya. Saya tinggal disana karena dekat dengan kedua kantor orang tua saya. Dirumah, saya diasuh nenek saya yang tinggal di daerah Bungur, Kebayoran. Nenek saya saat itu masih berumur sekitar 50 tahun sehingga masih kuat mengurusi saya. Senin sampai Jumat nenek saya menginap dirumah saya dan Sabtu Minggu kembali lagi kerumahnya untuk mengurus adik-adik ibu saya dan tentu kakek saya. Saya tidak tahu lagi apa jadinya jika dulu takada nenek saya, akan diasuh siapa saya.

Bersama Mama
Selang setahun lima bulan, saya mendapatkan adik perempuan. Ia bernama Ajeng. Dari cerita ibu, ternyata saya hanya minum asi sampai berusia 10 bulan karena saya memang sudah tidak mau meminum ASI ibu saya. Sampai sekarangpun, ibu saya tidak tahu alasan mengapa saya tidak mau minum susu ASI-nya saat ibu saya sudah mengandung adik saya.
Setelah adik saya lahir, saya pindah rumah di daerah Ciputat. Tepatnya bersebelahan dengan rumah nenek saya yang biasa mengurus saya. Nenek saya dulu yang pindah ke Ciputat, baru saya menyusul dengan alasan dekat dengan nenek saya. Selanjutnya berjalan menyenangkan karena saya bukan hanya dekat dengan nenek kakek saya, tapi juga dekat dengan seluruh keluarga besar yang tinggal di rumah nenek.
Namun, ada sedikit kekecewaan pada ulang tahun saya yang ke-2. Saya merayakan ulang tahun saya tanpa kedua orang tua saya, karena mereka tidak bisa pulang dari kantornya akibat kasus kerusuhan 1998. Pada akhirnya saya merayakan ulang tahun saya bersama tetangga-tetangga saya dan seluruh keluarga saya kecuali kedua orang tua saya.

Bersama Papa
Foto bersama keluarga
Masa TK
Saya tergolong anak yang cukup kecil pada saat masuk ke Taman Kanak Kanak karena memang saya masih berumur 3 tahun saat itu. Kedua orang tua saya memasukkan saya ke TK bukan ke playgroup karena tidak ada playgroup didaerah rumah saya. Sehingga saya harus TK 3 tahun lamanya.
Pada tahun pertama saya masuk ke TK A saya termasuk anak yang cukup pemberani karena saya pulang sekolah sendiri naik sepeda dengan teman-teman. Namun saat pergi saya masih diantar nenek saya. Pada saat akhir TK A saya mendapat juara 3 saat itu. Saya juga cukup heran karena saat itu saya masih berumur 3 tahun sedangkan siswa lain rata-rata berumur 4 tahun dan saya sering sekali telat masuk sekolah.

Bersama adik terjelek dan tercantik

Pada tahun kedua dan ketiga semua berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Saya sudah mulai pintar bergaul dengan teman, bermain bola, bersepeda, dan bermain mainan lain. Akhirnya saat saya berumur 5 tahun, saya lulus TK.

Masa SD
                SD Nusa Indah, itulah nama SD saya. SD Nusa Indah adalah SD swasta yang sesungguhnya beryayasan kristen. Namun berstatus SD Umum jadi saya yang beragama Islam juga bisa bersekolah disitu. Saya bersekolah disitu karena permintaan dari nenek saya yang berteman dengan kepala sekolah SD Nusa Indah. Nenek saya adalah pemeluk agama kristen yang biasa pergi ke gereja Nusa Indah yang sesungguhnya bertempat di aula SD Nusa Indah dan disitulah tempat mereka saling kenal.
                Saat kelas 1, saya masih tergolong kecil. Bukan karena umur saya yang kurang dari kawan sebaya lainnya, tapi karena badan saya memang kecil. Namun saya tidak pernah memperdulikan itu, yang terpenting adalah saya mempunyai kelebihan. Saya bisa lebih hebat dari kawan lainnya, terutama dalam hal pelajaran. Saya mendapat ranking pertama saat awal itu sehingga saya mendapat julukkan ‘kecil-kecil cabe rawit’ dari guru saya.
                Sampai tahun ketiga alias saya kelas 3 SD, nenek saya masih menunggu saya sekolah. Padahal saya sudah tidak mau diantar dari awal kelas 1, namun apa boleh buat. Nenek saya tetap mau mengantar karena di SD saya banyak ibu-ibu lain juga yang mengantar sehingga nenek saya mendapatkan banyak teman disana. Maka dari itulah saya sangat sayang terhadap nenek saya, bahkan sama sayangnya dengan sayang saya terhadap ibu saya.

Bersama Mama


Perayaan Hari Kartini

                Pada Ulang Tahun saya ke-10, saya mendapatkan kado spesial dari kedua orang tua saya. Saya dijanjikan akan dibelikan motorcross di PRJ pada tahun itu juga. Tidak lama kemudian, saya mendapatkan kado saya. Saya mempunyai motorcross lengkap dengan baju dan helm-nya. Saya sangat senang kali itu, setiap sore dikala anak-anak lain bermain dengan sepedanya. Saya sudah bermain dengan motor saya. Kebetulan, tidak jauh dari Ciputat, didaerah bintaro ada track motorcross. Pada akhirnya saya sering berlatih disana untuk melakukan latihan.               
Tidak lama dari itu saat kelas 4 SD, saat saya sudah diperbolehkan mengikuti exkul. Saya sangat bersemangat, saya mengikuti exkul futsal alias sepak bola mini yang merupakan hobi saya. Ayah saya tidak hobi bola bahkan dia lebih baik tidur daripada harus bangun tengah malam untuk menonton bola. Namun, karena saya tinggal bersama keluarga besar saya. Saya sering diasuh oleh om saya yang sangat hobi bola. Saat siang pulang sekolah, saya diajak dia untuk menonton dia bermain PS dan disitulah saya mulai menyukai sepak bola.
                Kelas 5 SD adalah awal dari terpanggilnya saya untuk mewakili SD Nusa Indah dalam pertandingan futsal antar sekolah. Awalnya saya bermain untuk tim B dan menjadi cadangan. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi starter alias pemain inti dalam tim. Saya teringat oleh gol pertama saya saat itu, saya bermain di sekolah Al-Falah saat itu. Saya turun dari bangku cadangan dan berhasil menciptakan gol yang menyelamatkan SD Nusa Indah saat itu. Pertandingan berakhir dengan skor 1-1 pada akhirnya. Lama-kelamaan saya masuk ke tim A dan akhirnya berhasil menjadi pemain inti juga. Namun sayang, saya belum berhasil memberikan juara apapun untuk SD saya saat itu.
                Selanjutnya adalah saat-saat menegangkan menghadapi UASBN. Itu adalah ujian berstandar nasional pertama yang diselenggarakan di sekolah dasar. Saya dan teman-teman seangkatan saya adalah angkatan pertama. Setelah belajar keras, akhirnya saya berhasil lulus dengan NEM 26,75. NEM saya tidak terlalu bagus, karena saya tidak terlalu membutuhkan NEM saat itu. Saya akan melanjutkan sekolah di SMPI Al-Azhar Bintaro dan saya sudah lolos masuk tanpa harus tes karena nilai rapot saya sudah mencukupi.

Masa SMP
                Masa SMP adalah masa yang tidak bisa dilupakan bagi saya. Awal saya masuk SMP, saya masuk ke kelas bilingual yang menggunakan 2  bahasa dalam proses pembelajarannya. Itu adalah kelas unggulan di SMP tersebut. Kelasnya tidak akan berubah selama 3 tahun, 7A, 8A, 9A. Itulah yang membuat kekerabatan kami sangat dekat dan kami sudah menganggap kami semua adalah sebuah keluarga besar dengan 36 anggota didalamnya.

Foto bareng Nisa si idung jambu

Dikelilingi orang gila

                Semuanya berjalan lancar dan saya juga mendapatkan prestasi yang cukup gemilang saat itu. Dan salah satu prestasi non-akademik yang membuat saya cukup heran adalah “Peserta Terbaik Pesantren Alam”. Sedikit bingung kenapa saya bisa mendapatkannya, namun itulah anugrah, tidak diduga-duga namun datang begitu saja. Selain itu prestasi yang membuat saya bangga juga ketika saya mendapatkan beasiswa sebesar Rp 650.000 per semester. Memang itu tidak akan cukup untuk membiayai saya untuk bersekolah selama 6 bulan, namun setidaknya ada penghargaan dari pemerintah untuk saya.
                Saat kelas 9, saya sedikit bingung untuk menentukan SMA, antara alpus dan labsky. Saya mengikuti tes keduanya dan saya berhasil lolos seleksi kedua SMA tersebut. Di Alpus saya berhasil masuk seleksi tanpa mengikuti tes tersebut karena dilihat dari nilai rapot. Sedangkan labsky, saya mengikuti tes dan alhamdulillah saya berhasil lolos juga. Pada akhirnya saya memilih labsky karena saya bosan dengan atmosfir al-azhar dan ingin mencoba tantangan baru di labsky.
Teveralti Bilingual Class


Masa SMA
                Pertama saya menginjakan kaki di SMA, saya cukup takjub dengan segala keadaan yang ada disana. Sekolah yang bagus, murid yang ramah, serta pendidikan yang sangat terstruktur itulah gambaran awal saya ketika pertama kali masuk di SMA Labschool Kebayoran.
                Awal kelas 10, mungkin adalah masa yang paling sulit bagi saya. Beradaptasi dengan pelajaran, dengan pertemanan, dengan lingkungan, semuanya harus saya lakukan dalam satu waktu. Sesungguhnya saya tidak harus mengalami adptasi yang sangat sulit dalam hal pelajaran. Tetapi dalam hal pertemanan, itulah hal yang menurut saya paling sulit. Berada diantara orang-orang yang sudah saling mengenal karena berasal dari satu SMP, itu cukup berat sampai akhirnya saya mengikuti Trip Observasi yang merubah segalanya.


XD

                Trip Observasi adalah sarana bagi siswa SMA Labschool Kebayoran untuk belajar tentang nilai kehidupan, persahabatan, dan sebagainya. Saat itu Trip Observasi dilaksanakan pada bulan Oktober selama 5 hari di Purwakarta. Disana kami hidup tanpa keluarga, hanya bersama teman. Disitulah yang membuat saya merasa dekat dengan teman satu angkatan.

TO

                Seiring hari berjalan, semua terasa sangat cepat. Dengan teman yang sudah akrab, suasana sekolah yang nyaman, dan segala kegiatan yang ada. Mulai dari Field Trip hingga Bintama. Di kegiatan itu saya mendapat banyak sekali pengalaman yang saya rasa jika saya tidak sekolah di SMA Labschool Kebayoran, saya tidak akan mendapatkannya.

Foto bersama Tim Bola Labsky 
Penampilan Pertama bersama Madland
XI IPA 4
MPK

Bersama Komisi Olahraga MPK
                Sampai akhirnya kelas 11, saya terpilih menjadi MPK yang mewakili kelas 11 IPA 4. Saya senang bukan kepalang saat itu, karena jujur saya gagal untuk menjadi OSIS pada saat kenaikan kelas. Sampai akhirnya saya mendapatkan jabatan Koordinator Komisi Olahraga, disitu saya akan membimbing OSIS untuk menjalankan Program Kerja mereka. Kami akan saling bekerja sama agar semua proker bisa berjalan dengan sebaik-baiknya.
                Begitulah sedikit kisah hidup saya selama 16 tahun. Ada pahit manis, naik turun, jatuh bangun. Namun semua itu bisa saya lewati dan semuanya bisa membuat saya bangga dengan diri saya. Bagi saya, semua pengalaman adalah pelajaran paling berharga dalam hidup. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar