Minggu, 23 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Astrid Amalia

 16 Tahun Yang Tak Ternilai Harganya 


Nama saya Astrid Amalia, biasa dipanggil Astrid. Saya lahir hari Selasa, pada tanggal 24 September 1996  di Jakarta. Tepatnya di Rumah Sakit Asih, Kebayoran Baru. Saya adalah anak pertama dari pasangan Agus Eddy Prakosa dan Hikmawati.
                Menurut cerita mama saya, beliau mendapatkan nama Astrid ketika beliau sedang menonton film di televisi dan salh satu tokohnya bernama Astrid. Menurut orang tua saya, nama yang bagus itu terdiri dari 2-3 kata. Maka, jadilah nama saya Astrid Amalia.
Saat saya berumur 0-5 tahun, keluarga saya sering pindah-pindah. Ketika saya baru lahir sampai saya berumur sekitar 1,5 tahun, saya tinggal di Tangerang atau tepatnya di daerah Pamulang Villa. Saat itu, daerah Pamulang masih tergolong daerah pemukiman yang sepi. Bahkan tetangga terdekat saya berada di seberang rumah, sementara di kiri, kanan  dan belakang rumah saya merupakan tanah kosong yang baru akan dibangun. 1 tahun pertama setelah saya lahir, eyang saya yang berada di Bandung sering mengunjungi saya dan menjaga saya ketika cuti melahirkan mama saya habis dan terpaksa bekerja kembali. Karena itu, saya cukup dekat dengan eyang saya yang dari Bandung.
                Ketika saya berumur 1 tahun, saya sering menginap di Bandung pulang pergi Jakarta-Bandung. Hal ini karena papa saya yang sibuk dan mama saya yang terkadang kelelahan mengurus saya seorang diri dengan tanpa pembantu rumah tangga untuk membantunya. Pada awalnya, eyang saya dari Bandung yang sering datang menginap ke Pamulang. Tetapi karena sudah terlalu sering, mama saya merasa tidak enak dan akhirnya saya yang pergi menginap di Bandung. Terkadang mama saya ikut menginap tetapi kadang tetap tinggal di Jakarta menemani papa saya. Karena seringnya saya menghabiskan waktu bersama keluarga saya yang di Bandung, waktu kecil saya lebih ingat dan kenal keluarga dari mama saya dibandingkan keluarga dari papa saya.
Bandung 
                Sewaktu saya berumur 2 tahun, papa saya dipindah tugaskan ke kantor cabang yang berada di Surabaya. Maka pindahlah saya sekeluarga ke Surabaya. Disana, adik pertama saya lahir, bernama Rayhan Ahmad Hidayat. Pada usia 3 tahun, saya bersekolah di sekolah pertama saya yaitu Kelompok Bermain Tadika Puri di Surabaya. Awalnya, orangtua saya ingin menyekolahkan saya dari awal di Jakarta. Tapi apa boleh buat, karena kondisi tidak mendukung akhirnya sekolah pertama saya bertempat di Surabaya.
Hari Kartini di Tadika Puri
Berdasarkan cerita orang tua saya. Waktu kecil saya termasuk anak yang aktif tapi pendiam. Saya juga merupakan anak yang susah berkenalan dengan orang yang baru bertemu. Tetapi setelah bersekolah di kelompok bermain selama 1 tahun, saya pun berubah menjadi tidak pemalu lagi. Sekolah saya waktu itu sering menyelenggarakan acara dimana murid muridnya mengisi acara dengan tarian atau nyanyian. Waktu itu, saya diminta untuk menari. Entah kenapa sejak saat itu, menurut cerita mama saya, setiap mendengar lagu di radio, televisi, maupun di toko toko yang kita lewati setiap ke mall saya langsung menari saat itu juga, atau sekedar menggerakkan kepala saya. Kalau diingat-ingat, untung waktu itu saya masih kecil dan sekarang pun saya tidak terlalu ingat. Ketika mendengar cerita orang tua saya saja langsung merasa malu, bagaimana jika ingat detail kejadiannya.
                Setelah menyelesaikan masa kelompok bermain saya. Saya pun meneruskan ke taman kanak kanak Islam Al-Azhar di Surabaya. Namun, belum lama saya bersekolah disana, papa saya dipindah tugaskan kembali ke Jakarta. Saya bersekolah di TKI Al-Azhar tidak sampai 6 bulan.
Ketika pindah ke Jakarta, saya sekeluarga mengontrak rumah di Jl. Merpati Raya, Bintaro Jaya Sektor 1 sebagai tempat tinggal sementara. Sementara untuk sekolah, orang tua saya memutuskan untuk mendaftarkan saya di TK Islam Harapan Ibu. Pada awalnya, saya kurang bisa menyesuaikan diri karena masih kangen dengan teman teman yang di Surabaya. Tetapi, ketika saya naik kelas ke TK B, saya mulai bisa bermain dengan leluasa bersama teman-teman saya yang baru.
Ulang Tahun yang ke-3 di Surabaya
                2 tahun saya bersekolah di Taman Kanak Kanak, saya melanjutkan ke jenjang Sekolah Dasar di SD Islam Harapan Ibu. Waktu itu, proses pendaftarannya mengalami sedikit hambatan. Waktu itu, sekolah saya menetapkan peraturan baru yaitu murid yang mendaftar umurnya harus pas 6 tahun saat mendaftar. Sedangkan, karena saya berulang tahun pada bulan September umur saya sewaktu mendaftar belum pas 6 tahun. Tetapi setelah bernegosiasi dengan kepala sekolah, saya diizinkan untuk masuk sebagai murid SD Islam Harapan Ibu karena ulang tahun saya tidak terlalu jauh dengan bulan pendaftarannya. Saya pun resmi menjadi murid SD islam Harapan Ibu angkatan ke-22.
Singapore, bersama adik
                Jujur, saya sendiri tidak terlalu ingat masa masa saya kelas 1 sampai dengan 2 SD. Namun, menurut cerita orang tua dan kerabat saya, sewaktu saya kelas 1-2 SD saya adalah anak yang aktif dan sedikit tomboy. Menurut mereka, sejak awal kelas 1 saya tidak suka bermain boneka dan lebih suka bermain yang mengharuskan untuk berlari.
                Saat saya naik kelas 3, saya pindah rumah ke Komplek Taman Bintaro Blok E No.6, Bintaro Jaya. Waktu itu saya sangat senang ketika pindah rumah. Karena rumah yang baru lebih besar dan lebih nyaman dari rumah yang lama. Saya sekeluarga sudah tinggal di rumah ini sampai sekarang.
                Menginjak kelas 6, akhirnya satu tahun lagi saya bersekolah di SD. Pada tahun saya menduduki kelas 6, kepala sekolah saya mengumumkan  bahwa angkatan saya adalah angkatan pertama yang diharuskan untuk melakukan UASBN sebagai persyaratan kelulusan. Walaupun sempat kesulitan karena tidak ada yang bisa memberitahu kita bagaimana soal soal UASBN itu. Tetapi, Alhamdulillah angkatan saya berhasil menyelesaikan UASBN dengan nilai yang cukup.

Masa SMP
                Setelah menyelesaikan pendidikan di SD Islam Harapan Ibu, saya melanjutkan ke SMP Labschool Kebayoran. Saya memang sudah tertarik untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran. Hal ini karena banyak orang di sekitar saya yang menyarankan untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran karena menurut mereka sekolah ini termasuk sekolah terbagus di Jakarta. Ditambah lagi kakak sepupu saya yang sudah bersekolah di SMP Labschool Kebayoran  saya menjadi semakin tertarik untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran. Dalam persiapan untuk mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran, saya belajarhampir setiap hari. Karena waktu itu saya sangat ingin masuk ke SMP Labschool Kebayoran dan benar benar tidak mau masuk ke SMP yang lain. Setelah mempersiapkan diri semaksimal mungkin, saya pun siap untuk mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran . Kebetulan waktu itu sepupu saya (adik dari kakak sepupu saya yang berskeolah di SMP Labschool Kebayoran) juga mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran. Kira-kira seminggu setelah tes masuk SMP Labschool Kebayoran , saya dibangunkan pagi pagi untuk melihat pengumuman siswa baru di website-nya SMP Labschool Kebayoran . Dan Alhamdulillah saya dan sepupu saya diterima. Saya pun sangat senang karena saya memang sangat ingin masuk ke SMP Labschool Kebayoran.
Shanghai, China
                Pertama kali saya masuk ke SMP Labschool Kebayoran sebagai murid SMP Labschool Kebayoran adalah sewaktu Pra-MOS 2008. Waktu itu saya menginap di rumah sepupu saya karena orang tua saya masih berada di Eropa dalam rangka liburan dan belum pulang. Pada hari Pra-MOS, kita diberitahu kelompok MOS kita dan apa saja yang harus kita bawa selama mengikuti MOS. Saya masih ingat sampai sekarang, ketika saya memasuki gerbang SMP Labschool Kebayoran, guru-guru dan kakak-kakak OSIS berbaris di depan gerbang untuk menyambut kita dan mengajarkan cara salam di Labschool. Pertamanya saya berpikir bahwa cara salam seperti itu aneh karena sejak Kelompok Bermain sampai Sekolah Dasar kemarin cara salam yang diajarkan berbeda dengan yang di Labschool. Namun lama kelamaan, saya menjadi terbiasa melakukan salam Labschool sampai sekarang. Bahkan ketika waktu itu saya mengunjungi Sekolah Dasar saya untuk menjemput adik saya, saya bertemu dengan guru saya dulu dan tanpa sadar melakukan salam Labschool.
                 Ketika MOS yang dilaksanakan selama 5 hari tersebut selesai, resmilah kami menjadi siswa/i SMP Labschool Kebayoran angkatan ke-8. Saya pun melihat daftar kelas dan ternyata saya masuk ke kelas 7C. Hari hari pertama saya bersekoah di SMP Labschool Kebayoran agak sulit. Hal ini karena, sistem di Labschool yang leih padat jadwalnya dan persaingannya yang lebih ketat. Tapi setelah beberapa saat, saya bisa beradptasi dengan sistem di Labschool. Hal yang masih saya ingat sewaktu saya kelas 7 sampai sekarang adalah seleksi pengurus OSIS. Setelah saya melihat kakak kakak OSIS pada saat MOS, saya menjadi sangat ingin masuk OSIS. Saya pun mengikuti seleksinya  yang terdiri dari beberapa tahap . Tapi sayang, saya tidak berhasil lolos. Naik ke kelas 8, saya masuk ke kelas 8B.
Sydney, Australia 
                Naik ke kelas 9 (9E), saya adalah satu dari 20 siswa/i yang pergi ke Sydney, Australia dalam rangka mengikuti program homestay selama 2 minggu. Perjalanan homestay ini merupakan satu dari sekian bayak pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Disana, saya bersekolah di Menai High School dan tinggal bersama host parent saya. Selain itu, saya juga mengunjungi tempat tempat terkenal di Sydney bersama teman teman saya.
                 Setelah 3 tahun bersekolah di SMP Labschool Kebayoran, akhirnya saya bisa melewati UAN dan lulus dengan nilai yang cukup baik.

MASA SMA
Bersama XD
                Pada awalnya, untuk SMA saya tertarik untuk masuk ke SMAN 3 Bandung. Namun, karena mama saya masih ragu mau membiarkan saya hidup sendiri di Bandung. Sehingga ketika mama saya tahu ada program Penerimaan Siswa Baru SMA Labschool Kebayoran Jalur Khusus, mama saya langsung mendaftarkan saya. Setelah mengikuti tes-tes yang diharuskan, saya pun resmi diterima menjadi siswi SMA Labschool Kebayoran angkatan ke -11 dan menjadi bagian dari kelas XD di tahun petrama saya.
                Kelas X di SMA Labschool Kebayoran adalah tahun dimana kita mendapatkan jadwal kegiatan yang padat dari sekolah. Salah satunya adalah TO (Trip Observasi). Disini siswa-siswi kelas X mengunjungi Kampung Parakan Ceuri dan tinggal disana sambil merasakan kehidupan di kampung selama 5 hari. Sewaktu TO lah nama angkatan kami pertama kali diumumkan, DASA EKA CAKRA BHAYANGKARA atau DASECAKRA. Kenangan TO merupakan satu dari sekian banyak kenangan berharga yang tak terlupakan  sampai sekarang. Setelah TO kami juga harus mengikuti program BINTAMA. Dimana kita dididik selama 6 hari di Grup 1 Kopassus. Saya rasa BINTAMA merupakan 6 hari terberat sepanjang masa SMA saya hehe… Selain itu, saya juga mengikuti pelatihan dan tes untuk menjadi anggota OSIS. Ketika naik ke kelas 11, Alhamdulillah saya berhasil masuk ke jurusan yang saya inginkan. Saya pun menjadi bagian dari kelas XI IPA 2. Di luar kegiatan wajib, saya juga mengikuti banyak kegiatan non-akademis lainnya.  Padatnya jadwal di Labschool membuat saya terkadang kesulitan untuk mengatur jadwal antara yang akademis dan non-akademis.
Kelompok 11 Trip Observasi 
XI IPA 2
Lalinju 2012, Sie. Kesehatan dan Kemanusiaan Masyarakat 
                Keinginan saya ke depan adalah meningkatkan nilai akademis saya, lulus SMA dengan nilai memuaskan dan mendapatkan SNMPTN undangan ITB jurusan Teknik Kimia. Selain itu, saya juga mau mencoba mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri terutama Australia. Dengan keinginan dan impian yang begitu banyak, semoga saya masih diberikan kesempatan dan umur yang panjang untuk mencapainya oleh Allah SWT.             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar