Kamis, 20 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi: Annisa Zhafira R.

Autobiografi: 14 Tahun Penuh Pengalaman

Masa Lahir sampai TK
                Saat itu bulan Januari. Pada tahun 1998, bulan Ramadhan jatuh pada bulan tersebut. Semua orang yang mengaku beragama Islam menjalankan ibadah puasa. Tapi tidak bagi ibu saya, yang sedang mengandung pada bulan kesembilannya.
                Hari Jumat, tanggal 9 Januari 1998 saya lahir. Saya lahir lebih cepat daripada yang diperkirakan dokter, karena janin saya sudah dapat bernapas sendiri, jika tidak cepat-cepat dilahirkan, akan terjadi gagal janin. Saya dilahirkan melalui operasi caesar. Orangtua saya sangat gembira akan kehadiran saya, karena saya adalah anak pertama mereka setelah kakak saya meninggal setelah tiga hari dilahirkan, karena organ-organ tubuhnya masih belum sempurna. Kakak saya dilahirkan saat usia kandungannya baru kurang lebih enam bulan. Ibu saya mengatakan pada saya, “Sebenarnya waktu Ibu hamil kamu, dokter nyuruh buat ngegugurin kandungan ibu karena takut luka ibu belum sembuh dari hamil Kak Alif (kakak saya) dulu¸ tapi ibu ngotot nggak mau,” Mungkin itulah hari keberuntungan saya, karena kalau ibu saya menuruti saran dokter untuk menggugurkan kandungannya, saya tidak akan ada di dunia ini sekarang. Saat mengandung saya, ibu saya sangat berhati-hati menjaga kandungannya, tidak boleh terlalu gemuk agar luka bekas melahirkan kakak saya tidak terbuka lagi. Jadi, saat ia mengandung saya dulu ia tidak terlalu banyak makan, hanya membaca dan membaca setiap hari.
Saya dinamakan Andi Annisa Zhafira Ramadhania oleh kedua orangtua saya. Andi adalah marga ayah saya yang dari suku Bugis. Awalnya saya mau dinamakan Andini, tapi tidak jadi karena arti nama tersebut. Akhirnya saya dinamakan Annisa yang berarti perempuan. Sementara itu, nama ‘Ramadhania’ diberikan karena saya lahir pada bulan Ramadhan.
                Saya lahir di tengah-tengah kerusuhan tahun 1998, dimana krisis ekonomi melanda seluruh negeri, perubahan dari Orde Baru ke Reformasi, penembakan mahasiswa dan lain-lain, yang membuat kondisi orang-orang menjadi sulit. Ibu saya bilang, dulu semua orang yang baru punya bayi panik, karena susah beli apa-apa, termasuk susu kaleng. Selain itu, setiap hari Senin sampai Jumat saya tinggal di kos-kosan di daerah Bendungan Hilir bersama mbak saya, karena ibu dan ayah saya pergi mencari nafkah. Orangtua saya sibuk bekerja karena dulu perekonomian keluarga kami belum stabil, karena itu saya tidak terlalu terurus, seringkali saya dititipkan di rumah tante atau almarhumah nenek saya. Sampai pada akhirnya ibu saya memutuskan untuk berhenti bekerja agar dapat mengurus saya dan rumah.
                Saat berusia 2 tahun, saya sudah bersekolah di kelompok bermain, karena bagi saya lama-kelamaan rumah membosankan. Saya bersekolah di kelompok bermain Kristen bernama Twinkle Twinkle Little Star karena tidak ada sekolah Islam yang mau menerima saya karena alasan usia. Kemudian saya melanjutkan TK di TK As-Salaamah.
tahun 2001, saya berusia tiga tahun. Pada tahun itu pula, adik saya lahir. Perhatian orangtua yang awalnya hanya pada saya pun tercurahkan sepenuhnya ke adik saya. Namun untungnya saya tidak iri karena saya sudah bersekolah dan punya teman-teman tetangga. Setahun setelah itu, tahun 2002, keluarga kami pindah ke Medan karena ayah saya dimutasi.
menyiksa ayah
Masa SD
                Setelah tinggal di Medan selama kurang lebih dua tahun, ayah saya dimutasi lagi ke Jakarta. Saat itu saya berusia enam tahun atau kelas 2 SD. Keluarga kami akhirnya tinggal di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya pun bersekolah di SDI Harapan Ibu.
                Saat pertama kali bersekolah di Harapan Ibu, saya agak kaget karena cara pengajarannya cukup berbeda dengan di Medan dulu. Di Medan, saya bersekolah di sekolah bernama SD Harapan – namanya cukup mirip memang. Walaupun saya hanya belajar di sekolah itu sebentar, namun saya sudah mengetahui sistem pengajarannya berbeda dengan di Jakarta. Dulu di Medan, guru-guru mendidik dengan kekerasan. Jika tidak mengerjakan PR, punggungnya dipukul dengan penggaris kayu. Jika kukunya panjang dan tidak rapi, tangannya dipukul. Karena itu saat saya bersekolah di Harapan Ibu dan mendapat guru bernama Ibu Sisi, walaupun teman-teman saya berkata dia guru yang sangat galak, menurut saya Bu Sisi sangat baik dan saya sangat bersyukur mendapatkan guru seperti dia.
                Di kelas dua, saya mengalami masa-masa penyesuaian. Nilai-nilai saya awalnya biasa-biasa saja, tapi saya memutuskan untuk belajar mati-matian dan alhamdulillah saat semester kedua nilai ujian semester saya semuanya 100, kecuali IPS yang mendapatkan 92 dan saya meraih rangking pertama.
                Di kelas tiga, saya pernah menjadi ketua kelas. Pada masa-masa awal kepemimpinan saya, semua menganggap saya terlalu baik dan lemah. Hal itu membuat saya frustrasi. Pernah suatu hari saat sebuah pelajaran di siang bolong, guru yang mengajar tidak masuk, dan kebetulan saat itu sedang ada pertandingan bola di lapangan sekolah. Teman-teman sekelas saya semuanya langsung berhamburan menonton pertandingan, dan walaupun saya sudah mati-matian menyuruh untuk kembali masuk ke kelas, tidak ada yang mematuhi saya kecuali beberapa teman perempuan. Saya pun menangis di kelas. Namun, semakin saya dianggap gagal, semakin ingin saya membuktikan diri saya, bahwa sebenarnya saya bisa.
                Di kelas empat, saya masuk ke kelas unggulan, di mana kelas tersebut akan bersama-sama selama tiga tahun. Awalnya, di kelas tersebut saya agak tertekan, karena saya sudah berusaha semampu saya tapi sepertinya tidak terbayarkan. Saya tidak pernah terpilih untuk ikut lomba, atau dokter cilik, atau apapun. Prestasi saya juga menurun. Saya juga sempat dibully dan dikucilkan oleh teman-teman saya, dan saya berpikir bahwa guru saya tidak menyukai saya. Namun alhamdulillah beberapa teman saya tetap bersikap baik pada saya, sehingga perlahan-lahan rasa percaya diri saya kembali. Saat kelas lima, nilai-nilai saya berangsur-angsur membaik dan saya mendapatkan banyak teman, dan saya mulai merasa nyaman. Alhamdulillah hal tersebut berlanjut hingga lulus, dan alhamdulillah lagi, saya lulus dengan nem yang cukup baik yaitu 27,70.
kelas 5 SD
Masa SMP
                Saat kelas 6 dahulu, saya sangat ingin untuk masuk ke SMP Negeri 19. Saya tes dan alhamdulillah diterima, namun pada saat bersamaan saya juga diterima di SMP Labschool Kebayoran, padahal saya tidak ingin masuk ke SMP tersebut. Namun orangtua saya berkata, “coba saja, nanti kamu boleh pilih kalau dua-duanya diterima”. Tiba-tiba orangtua saya memaksa untuk masuk ke SMP Labsky dengan alasan “banyak anak teman ibu yang sekolah disana”. Awalnya saya terus menolak sampai pernah bertengkar, namun akhirnya saya menyetujui untuk masuk ke SMP tersebut, dengan harapan semoga ini yang terbaik untuk saya.
                Saya termasuk bagian dari angkatan 9, dan masuk ke kelas 7B. Saya juga termasuk calon akselerasi, bila diterima di aksel saya akan pindah dari kelas 7B. Baru dua minggu berada di kelas tersebut, saya langsung merasa betah. Orang-orangnya seru, saya langsung mendapatkan banyak teman. Namun tiba-tiba waktu bulan puasa tiba, orangtua saya mengajak saya untuk ikut umroh bersama keluarga. Saat saya pulang umroh, saya dinyatakan diterima di kelas aksel.
                Awalnya, saya kesal sekali berada di kelas aksel, karena pelajarannya susah dan saya harus mengejar ketinggalan karena sehabis umroh. Saya ingat sekali dulu ketinggalan 13 ulangan dan tugas. Ibu saya berkata, “Dulu kamu tuh  pas masa-masa selesai umroh hampir setiap hari pulang sekolah nangis, karena nggak bisa-bisa nyusul ketinggalan kamu.” Namun akhirnya saya berhasil mengejar ketertinggalan saya dan perlahan-lahan saya merasa nyaman dengan kelas akselerasi.
                Pada bulan Februari, saya dan teman-teman saya mengikuti kegiatan LDKS, yaitu kegiatan penyaringan untuk menjadi OSIS/MPK. Sejak kelas 7 dulu saya terus memimpikan untuk menjadi OSIS, namun karena sekarang saya aksel dan tidak boleh OSIS, saya mencoba MPK. Saya pun ikut kegiatan LDKS dengan seadanya, kalau lulus ya sudah, kalau tidak, juga ya sudah, karena saya sebenarnya tidak terlalu ingin jadi MPK. Saya memasrahkan keputusan ke OSIS/MPK Hastha dan guru-guru. Saat pengumuman LDKS, saya kaget mengetahui bahwa saya lulus! Namun setelah saya berpikir dan berbincang dengan orangtua, saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena selain saya tidak terlalu ingin menjadi MPK, aksel hanya dibolehkan menjadi MPK selama beberapa bulan lalu turun jabatan karena harus belajar untuk UAN. Saya tidak mau setengah-setengah, saya ingin fokus ke satu hal saja, dan karena saya aksel, saya harus fokus ke belajar, agar mendapatkan SMA yang saya inginkan.
                Banyak keputusan yang harus saya buat saat berada di kelas aksel, banyak keinginan yang harus saya korbankan contohnya sewaktu saya hampir ikut lintas budaya ke Jepang, namun saya mengundurkan diri karena di saat bersamaan ada ulangan umum semester bagi anak-anak aksel. Namun saya juga merasa bahagia di kelas aksel, banyak pengalaman yang tak bisa didapatkan bila berada di kelas reguler. Saya merasa nyaman dengan orang-orangnya. Kami semua sangat dekat karena jumlah kami yang sedikit, dan karena waktu kami bersama panjang, yaitu dua tahun. Saya merasa bahwa ada orang-orang yang memiliki nasib sama seperti saya di kelas aksel. Kami semua melalui banyak sekali hal bersama, suka dan duka. Kelas kami merupakan kelas yang cukup bandel, banyak bermasalah dengan guru-guru. Salah satu hal yang saya ingat adalah waktu guru-guru mengadakan rapat di homebase kelas kami dan menemukan banyak coret-coretan di meja kelas. Merekapun menghukum kelas kami dan menyuruh kelas kami mengamplas dan mengecat ulang semua meja.
Masa-masa di kelas aksel berlalu dengan sekejap mata, dan alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang memuaskan, dengan nem 37,35. Saya pun diterima di SMA Labsky melalui jalur khusus.
 Berat sekali rasanya berpisah dengan kelas aksel di waktu pelulusan. Selain itu, saya bersama teman-teman aksel juga mempunyai angkatan baru, angkatan 8 alias Scavolendra Talvoreight. Saya mengalami banyak pengalaman suka-duka dengan SVR, saat BIMENSI dulu, saat TO UAN, semua itu merupakan pengalaman yang berharga. Saya sangat sedih harus berpisah dengan aksel dan angkatan 8, namun alhamdulillah angkatan kami lulus dengan nilai yang bagus dan memuaskan, sehingga kami bisa meninggalkan SMP Labschool Kebayoran dengan penuh kebanggaan.



Masa SMA
                Saya memasuki masa SMA dengan hati berdebar namun juga penasaran. Walaupun begitu, karena SMA saya berlokasi sama dengan SMP saya, saya jadi lebih mudah menyesuaikan diri. Di kelas 10, saya dimasukkan ke kelas XE. Awalnya kelas ini biasa-biasa saja, tidak ada bedanya dengan kelas lainnya. Namun lama-kelamaan ternyata kelas ini sangat menyenangkan dan kompak, sehingga saya sedih sekali ketika harus berpisah dengan mereka. Alhamdulillah, pada kelas 11, saya dimasukkan ke kelas XI IPA 4. Saya berharap di kelas 11 ini saya makin pintar membagi waktu dan bersenang-senang. 






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar