Jumat, 21 September 2012

Tugas-1 16 Tahun yang Penuh Arti



     Awal perjalanan saya  dimulai pada hari Jum’at  tanggal 19 April 1996, jam 03.15 pagi.  Aku dilahirkan pada kehamilan ke 39 minggu, di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Saya terlahir dengan berat badan 3.360 gram dan panjang badan 48 cm. Semua itu berkat  Allah SWT, Orangtuaku dibantu oleh seorang ginekolog Dr. Karno Suprapto. Saya Tidak terlalu ingat bagaimana detailnya tapi saya akan berusaha untuk menceritakan seingat-ingatnya.

MASA BALITA
      Dari sebelum menikah sampai sudah menikah dan mempunyai saya dalam keluarga, Bapak memelihara kucing yang jumlah tepatnya ada 5. Sebagian besar kucing-kucing Bapak berbulu panjang.
      Pada waktu kecil saya sering batuk dan nafasnya berbunyi, ternyata menurut Dokter Anak yang merawat saya, saya alergi dengan bulu-bulu kucing. Setelah Bapak mengetahui hal itu, dengan terpaksa Bapak memberikan semua kucing-kucingnya ke tetangga yang juga menyukai kucing.
      Bapak pernah bercerita kalau kucing-kucingnya sudah seperti keluarga baginya. Sebelum Bapak menikah dan kedua orang tuanya sudah meninggal, Bapak tinggal sendiri di rumah dan pengobat sepinya adalah kucing-kucing itu. Saat Bapak memberikan salah satu kucingnya, Abu, kepada seseorang, Abu mencakar tangan Bapak dan berontak tidak mau diambil orang tersebut. Bapakku terlihat sedih sekali, tapi itulah salah satu pengorbanannya agar saya bisa sehat kembali.
      Pada saat Batita saya sering terkena radang tenggorokan, hal ini biasanya terjadi karena saya memakan makanan yang salah. Sampai suatu waktu mengalami radang  tenggorokan yang cukup parah, sehingga suaraku yang normal berubah menjadi memberat dan sampai ada suatu hari ketika saya memesan pizza.

“Halo, Pizza Hari Ulang Tahun? Saya ingin memesan pepperoni lovers ya satu.”

“Baiklah, dengan bang siapa?”

“Euh, saya bukan...”

“Oh maaf, bapak ya?”
     
      Pada umur 3 tahun, saya masuk ke Kelompok Bermain. Tempatnya cukup dekat dengan rumah saya. Saya cuma bisa mengingat kalau dulu aku sangat menyukai tempatnya karena penuh dengan permainan. Yang saya ingat lagi kalau saya suka ngompol di sana.
      Pada umur 4 tahun aku masuk ke TK Fantasia. Di saat itu saya sedikit sensitive dan gampang marah. Tapi ternyata Tuhan mengirimkanku seorang sahabat yang baik dan mau menerimaku apa adanya yang bernama Michelle King. Dia sangat baik terhadap saya. Dia selalu menghiburku sewaktu aku menangis . Jujur, aku dan Michelle sangat bertolak belakang. Michelle pintar sedangkan saya biasa saja, Michelle bertingkah lemah lembut sedangkan saya agak kasar, Michelle sangat ramah terhadap teman-temannya sedangkan saya hanya ramah kepada orang-orang tertentu. Saya sering bermain ke rumahnya terutama sewaktu sepulang sekolah. Rumahnya besar sekali, banyak ruangan, banyak mainan. Tapi pada waktu itu aku tidak memikirkan hal itu, yang kuingat, aku senang sekali pergi ke rumah Michelle karena aku merasa menjadi lebih dekat dan bisa bermain bersama lebih lama.
      Dulu saya juga mempunyai teman dekat yang bernama Eureka walaupun tidak sedekat Michelle, tapi saya juga suka bermain dengan dia. Orangnya asyik, seru, dan ramah juga. Saya tidak tahu bagaimana kita bisa dekat. Saya juga masih ingat dulu dia sering mengirim surat kepadaku tapi aku tak pernah membalasnya. Bukannya saya tidak mau membalasnya, tapi saya selalu tidak sempat, karena orangtua selalu sibuk dan tidak dapat membantuku. Sampai hari terakhir pun saya belum minta maaf karena belum pernah membalas suratnya. Tapi sepertinya dia tidak marah padaku dan tetap main denganku seperti biasanya.
      Dan salah satu temanku lagi yang kuingat, bernama Pelangi.  Saya sempat tertawa karena waktu kecil aku takut dengannya walaupun badan saya lebih besar dari dia. Dulu saya suka merebut bonekaku dan bukannya melawan aku malah menangis.
      Tetapi pada hari terakhirku bersekolah di TK Fantasia, saat itu saya cuma tinggal berdua dengannya di tempat bermain. Dan entah kenapa kita seperti 2 anak yang baru berkenalan. Seperti kita memulai lagi dari awal. Kita mengobrol dengan tenang dan akrab, menanyakan tentang satu sama lain. Seakan ketakutan saya padanya saat itu sudah hilang.
      Selain  orang-orang itu yang membuat saya kangen terhadap Fantasia adalah guru-gurunya yang baik dan sabar membimbing kami. Kadang-kadang kami juga harus berhadapan dengan native speaker. Dan di TK ini aku merasa belajar sama asyiknya seperti bermain. Setelah dari TK ini aku melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Dasar di SD Cendrawasih.
                                                                   
Bersama Ibu

Bersama sepupu

Berkumpul di rumah nenek

Bermain Layangan bersama




MASA SD

      Ketika memasuki SD, saya menjadi sedikit lebih terbuka walaupun sifat sensitive saya masih belum hilang. Yang bisa saya deskripsikan tentang sekolah ini adalah, sekolah ini tidak terlalu besar, tapi sangat rapih dan nyaman. Saya tidak terlalu bersemangat pada saat masuk ke sekolah ini karena aku masuk ke lingkungan baru lagi. Tapi ternyata proses perkenalan tidak seburuk yang dibayangkan. Kelas pertamaku adalah kelas 1B. Wali kelasnya adalah Bu Yuni. Aku mengingatnya karena dia sangat menyenangkan dan karena dia juga adalah guru pertamaku di SD ini.

      Dari kelas 1 sampai 6 saya tidak pernah berganti-ganti teman sekelas. Kelas ku dari kelas 1 sampai 6 selalu saja B. Bayangkan saja selama 6 tahun bersama teman sekelas yang sama. Satu angkatan terbagi 2 kelas yaitu kelas A dan B. Anak-anak kelas A juga sama seperti anak kelas B, anak-anak yang sama di kelompok kelas yang sama, karena itu anak kelas A dan kelas B tidak pernah akur. Dan sampai terakhir kelas 6, kelas B hanya beranggotakan 12 anak dan kelas A sekitar  14 anak. Awalnya, di kelas 1 kelas B dan kelas A beranggotakan 30 anak. Kebanyakan yang pindah dari sekolah ini, karena orangtuanya dialih  ditugaskan ke luar negeri (Deplu) atau keluar daerah. Karena jumlah murid yang tidak terlalu banyak, maka dari itu setiap kelas anak-anaknya kompak. 
      Di masa ini, saya baru mengenal kegiatan les. Seperti les bahasa Inggris atau melukis.            Di sekolah, saya adalah salah satu murid dengan gambar-gambar yang bagus, maka saya sering diajak untuk mengikuti lomba melukis/menggambar baik oleh pihak sekolah, maupun oleh sanggar dimana saya les melukis. Bahkan saya pernah mengikuti pameran lukisan selama 1 (satu) bulan di Hotel Grand Mahakam. Masa-masa aktif berlomba ini dimulai dari kelas 3 sampai kelas 5. Sepertinya semakin saya besar,  saya tidak terlalu suka melukis lagi seperti dulu. Tapi saya tetap melanjutkan kegiatan sanggar melukisku untuk tetap mengasah kemampuanku.
      Salah satu kegiatan yang aku suka dari sekolah ini adalah kegiatan Marching Bandnya. Hampir semua anak dari kelas 3 sampai kelas 6 mengikutinya. Setiap tahun sekolah ini selalu tampil di Wijaya Festival. Sekolah kami juga pernah pentas di tempat selain Wijaya Festival. Tapi, saya sudah tidak ingat. Alhamdulillah pentas kami selalu berakhir sukses. Salah satunya berkat guru kesenian kami yaitu, Pak Soer. Pak Soer sangat galak dan tegas. Aku sempat takut dengannya. Tapi berkat sifat Pak Soer yang seperti itu, Tim Marching Band SD Cendrawasih 2 bisa tampil dengan baik. Di kelas 3 dan kelas 4, saya bermain pianica dan pada saat kelas 5 saya meminta Pak Soer untuk pindah posisi menjadi pemain xylophone, karena aku sudah bosan bermain pianica, jadi aku putuskan untuk mengganti posisi. Awalnya, saya hanya menjadi pemain pengganti xylophone yang tidak hadir, tapi setelah Pak Soer melihat kemampuanku bermain dengan baik, akhirnya saya menjadi pemain tetap. Setelah kelas 6 Semester 2, saya dengan teman seangkatanku tidak bermain lagi karena harus mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional.
      Selain semua itu saya juga ingat kalau semua guru SD Cendrawasih 2 baik. Tapi dari semua itu yang akan selalu kuingat adalah Bu Rita Manurung yang selalu dipanggil Bu Rita. Beliau adalah Wali Kelasku di kelas 5 dan kelas 6. Beliau mempunyai cara mengajar yang unik. Jika kita melakukan kesalahan, dia selalu memberikan hukuman antara 2, yaitu, menarik salah satu kuping ke atas dan sedikit memutarnya atau yang dinamakan dengan “jewer” dan yang kedua adalah memukul tangan dengan penggaris besi atau yang kita sebut hukum “ceples”. Setiap ada yang kena jewer atau ceples, anak-anak kelas B suka histeris (bukan dalam arti yang sebenarnya) walaupun tidak semuanya. Yang saya paling ingat adalah di kelas 6, ketika semuanya akan kena hukuman ceples, semua tanpa terkecuali pun histeris. Hukuman itu memang menyeramkan, tapi Bu Rita memberikan hukuman itu dengan senyuman, jadi tidak terlalu mengerikan. Karena hukuman seperti itu, saya dan teman-teman sekelas jadi belajar serius untuk UN . Kelas kami dulu termasuk kelas yang berisik tapi sepertinya semenjak Bu Rita menjadi Wali Kelas kami di kelas 5B tidak terlalu berisik seperti biasanya. Walaupun hukumannya mengerikan seperti itu tapi dia sangat baik. Dia selalu mendengarkan keluhan atau cerita dari murid-muridnya dan selalu sabar dalam mengajar. Sampai sekarang setiap saya Ulang Tahun atau Idul Fitri, dia selalu mengirimku SMS dan mengucapkan selamat. Sungguh guru yang mulia. Ketika aku akan mempersiapkan UN SMP, saya di sms olehnya dan mendo’akan saya semoga aku bisa lulus dengan nilai yang baik. Intinya dia tidak pernah melupakan muridnya dan selalu berusaha agar bisa tetap keep in touch dengan muridnya.
      Saya sempat mencoba untuk mengikuti test masuk SMP Labs School, tetapi mungkin karena aku tidak mempersiapkan diri dengan baik, sehingga saya tidak lolos. Seusai Ujian Nasional, karena NEM saya dapat dikategorikan “baik” kemudian saya mendaftarkan diri dan diterima di SMPN 19,  bersama beberapa teman sekelas SD saya.





                                                
MASA SMP

      Pertengahan tahun 2008 saya resmi menjadi murid SMPN 19 Angkatan ke 22. Di hari pertama sebelum MOS dimulai saya bertemu dengan teman SD-ku kembali, kemudian saya juga bertemu dengan teman TK, yang membuatku kaget adalah saya bertemu kembali dengan Eureka (teman baik saya di TK). Tapi sepertinya kita tidak berbicara lagi seperti waktu di TK, kita hanya sekedar menyapa dan tidak tahu lagi apa lagi yang akan dibicarakan. Waktu MOS pun dimulai. Kita diberi kakak OSIS arahan seperti apa yell kita, lalu makanan  apa yang harus kita bawa, membuat surat cinta kepada  kakak OSIS dan seperti apa name tag kita. Sepertinya aku sedikit merasa aneh karena aku belum pernah menerima arahan orang lain di sekolah selain guru. Tapi justru jadi mengasyikan karena kegiatan ini diselingi oleh tingkah kakak OSIS yang lucu.  Kami  mengikuti MOS selama 3 hari.

      Setelah MOS berakhir kemudian ditentukan kelas murid masing-masing. Aku mendapatkan kelas 7G. Disanalah saya bertemu dengan sahabat baru bernama Permata Adinda dan Kariza Gritania yang dipanggil Tata dan Ijah. Kelas 7G memang termasuk kelas yang berisik, tapi warga kelas ini termasuk anak-anak pintar. Lalu saya naik dan masuk ke kelas 8F. Kelas ini juga berisik, malah melebihi 7G, sampai guru-gurupun pusing kalau berhadapan dengan kelas kami, karena banyak anak-anak yang terkenal berisik menjadi warga 8F.  Walaupun saya tidak sekelas lagi dengan Tata dan Ijah, aku masih suka bermain bersama mereka. Disini saya berkenalan dan menjadi lebih dekat dengan banyak orang.
      Sayapun naik kelas lagi dan kemudian memasuki 9D. Di 9D aku sekelas lagi dengan Tata dan teman-teman dekat aku di 8F. Saya pernah berpikir kalau 8F adalah kelas terusuh tapi ternyata salah. 9D adalah kelas yang benar-benar rusuh sampai ada salah satu guru kami yang senang apabila dia tidak mengajar kelas kami. Karena kami jarang (malah tidak pernah) memperhatikan pelajarannya. Sepertinya 9D hanya tenang ketika pelajaran Matematika, tetapi walaupun begitu, kelas kami benar-benar solid, dan tidak mengenal perbedaan. Kami mempunyai Wali Kelas bernama Bu Dosma. Beliau adalah orang Batak. Beliau sedikit bermuka galak dan selalu berbicara tegas dengan logat khas Bataknya. Walaupun beberapa orang seram melihat Bu Dosma, tapi saya sangat menghormati dan menyayangi beliau seperti keluarga saya sendiri. Mungkin anak Gradas yang lain mempunyai seperti saya mengenai ini. Beliau selalu berusaha untuk menjaga kelas kita, seliar apapun kelakuan kita. UN semakin mendekat, kelas kamipun terasa semakin akrab karena kami mempunyai kekhawatiran yang sama dan akan menghadapinya bersama.
      Pada suatu hari kita secara iseng ingin membuat nama kelas kita. Karena kita juga ingin membuat jaket kelas dan kelas lain juga sudah membuat nama kelasnya masing-masing. Tanpa berunding panjang, ada salah satu anak yang mengusulkan nama kelas kami menjadi Gradas, yaitu, singkatan dari “Gerombolan Anak Bu Dosma”.
      April 2011, aku dan Angkatan 22 pun menghadapi UN. Aku takut tidak mendapatkan nilai yang bagus, aku takut usaha belajarku sia-sia dan juga takut mengecewakan kedua orangtuaku. “Ya sudah gak usah takut. Kamu kan sudah belajar dengan maksimal. Yang penting kamu melakukannya dengan baik dan jujur” begitulah kata Ibuku. Dan, Alhamdulillah aku berhasil melewati UN dengan NEM 35,95.
      Salah satu kegiatan yang aku kenang adalah kegiatan Super Camp. Super Camp adalah kegiatan menginap selama 3 hari di suatu villa dan menginap disana untuk mengganti suasana belajar agar bisa mempersiapkan UN. Tapi sayangnya tidak semua ikut karena biayanya yang termasuk mahal. Walaupun mahal, tapi aku tidak menyesal mengikuti Super Camp.  Satu hal yang tidak dapat saya lupakan adalah di malam terakhir, dimana semua anak perempuan di 9D berkumpul di satu kamar dan tidur bersama, sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang direncanakan. Walaupun bersempit-sempitan dengan sekitar 14 orang di satu kamar yang seluas 3 x 4 meter, aku dengan yang lain saling bercanda, berbincang-bincang, dan lainnya yang membuat kami lupa betapa sumpeknya di kamar ini.
      Aku juga senang ketika perpisahan 9D di Puncak,  sayangnya lagi ada beberapa teman yang tidak bisa datang karena alasan tertentu. Satu hal lagi yang akan selalu menjadi kenangan, adalah pada saat kami berhujan-hujanan di Taman Safari, kemudian semua anak perempuan 9D menaiki kora-kora bersama dan meneriaki nama SMA impian masing-masing.
      Di kehidupan SMP ini saya belajar banyak selain dari hal-hal umum seperti pelajaran. Tapi saya mempelajari bagaimana kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Tidak semua orang akan memperlakukan kita dengan baik, kadang ada yang kasar dan menyebalkan. Inilah dunia yang sebenarnya. Dan Allah selalu mendengar dan memberikan yang menurutNya terbaik menurut kita (terdengar cliche tapi memang benar)
      Alhamdulillah sekali saya bisa masuk SMA Labschool. Dan aku berharap setelah masuk SMA Labschool saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, berjiwa pemimpin dan berahlak mulia.
     




                                              
                                           
            Kehidupan SMA saya baru dimulai di sini, Labschool Kebayoran. Sekolah yang jujur sekali sangt saya idamkan dari dulu.

Dimulai dari hari pertama MOS. Saya sempat takut tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah ini. Apalagi lingkungan di sini sangat berbeda dibandingkan di 19. Tapi saya berusaha untuk berfikir positif dan terus mencoba.
Saya cukup kaget dengan kegiatan MOS Labschool. Cukup (sangat) melelahkan. Harus bangun sangat pagi hingga adzan subuh saja masih belum berkumandang. Mungkin banyak anak Bintaro, BSD, atau mungkin yang lebih jauh lagi daripada itu yang sudah terbiasa. Tapi karena sekolah saya selalu terjangkau jaraknya dari rumah dan saya selalu bangun jam 6.15, maka keadaan ini merupakan sesuatu yang baru bagi saya. Kemudian melakukan lari pagi di trotoar yang tidak rata. Yang merupakan mimpi buruk bagi saya di saat itu adalah makan komando. Jujur saya kurang suka disuruh makan terburu-buru apalagi waktu itu saya belum terbiasa. Sepertinya semua anak baru Labschool, hampir semuanya berwajah asing bagi saya. Saya tidak kenal siapapun. Walaupun cukup banyak murid 19 yang masuk SMA Labsky, tapi semua muridnya itu hanya saya tahu mukanya, bukan kenal orangnya. Karena sebagian besar murid 19 yang masuk ke Labsky adalah anak SBI sedangkan saya di 19 adalah anak Regular. Bisa dibilang saya hampir tidak ada yang saya kenal disini. Ya sudahlah, saya akan bisa beradaptasi dengan baik.
Saya memasuki kelas XF. Kelas paling terakhir. Awalnya saya masih asing dengan keadaan ini. Karena ternyata di kelas ini mayoritas anaknya berasal dari SMP Labsky. Sepertinya semua kelas juga begitu.
Selama berjalannya waktu, Alhamdulillah saya merasa nyaman dan mulai menemukan beberapa teman dekat saya. Dan salah satunya ada yang menginspirasi saya.

Dia bernama Jenny (saya menggunakan nama samaran karena sepertinya dia belum tentu suka melihat namanya muncul di blog saya) . Dia berasal dari SMP yang sama seperti saya. Perbedaaanya adalah dulu dia adalah anak SBI dan saya adalah anak regular. Dia memang berbeda dengan anak SMA pada umumnya. Dia sangat mandiri, sederhana, aktif, cerdas, bisa berorganisasi, kuat mental, berkomitmen, dan yang paling saya suka darinya adalah dia tidak memilih dalam berteman. Saya tidak menyangka anak seperti itu masih ada di dunia ini. Memang saya berlebihan, tapi maksud saya jarang sekali ada anak yang mempunyai kepribadian seperti itu. Apalagi di zaman modern ini. Kalau saya adalah orang ternama, saya ingin sekali memberi dia gelar “salah satu orang terhebat”. Tidak salah kan?

Selama waktu berjalan saya banyak sekali menjalankan kegiatan kelas 10, seperti TO, BINTAMA, LAPINSI, TPO, menjadi panitia dan juga tidak dilupakan LAMURU. Karena semua kegiatan itu saya jadi semakin bisa berbaur dengan anak lain selain teman sekelas saya. Salah satu yang saya tidak akan lupakan adalah TO yang memberikan kita pelajaran untuk tetap bisa peduli terhadap sesama dan juga

BINTAMA yang mengajarkan kita untuk kuat dalam menghadapi tantangan. Walaupun saya sempat kesal dengan KOPASUSnya yang cerewet dan memberi perintah dan nasihat yang sama berulang-ulang. Tapi pada akhirnya ketika kita berpisah, sedih sekali rasanya karena mereka ternyata melakukan ini semua untuk kebaikan kita semua. Dan tidak sepenuhnya mereka selalu begitu, kadang-kadang mereka selalu bercanda.

Di LAPINSI, saya mendapatkan pembekalan untuk bisa mengikuti TPO yang dipimpin bersama kakak-kakak OSIS dan juga MPK.

TPO, adalah tes untuk melihat apakah kita cocok menjadi OSIS atau tidak. Tapi mungkin Tuhan berkata bahwa saya tidak cocok untuk ini. Saya sempat sedih karena kegagalan ini. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya lebih mementingkan apa yang saya pernah perjuangkan untuk TPO ini. Saya merasa lebih lega karena saya melakukan ini dengan segala kemampuan saya. Intinya, saya lebih mencoba untuk melihat proses apa yang telah saya lakukan dibanding hasil yang saya dapatkan di saat itu.

Yang terakhir adalah LAMURU. Kalau saya boleh mengatakan saya mencintai komunitas ini dengan sangat. Banyak yang saya pelajari dari komunitas ini. Komitmen, profesionalitas sebagai seorang performer, kegagalan, usaha, dan kerja sama. Banyak sekali job yang saya ikuti bersama LAMURU. Dari membuat video clip, perform di acara launching .album dan lain-lain. Di LAMURU juga saya bisa menemukan teman yang baik-baik

 Saya sangat bersyukur menjadi bagian dari ini semua. Saya sangat bersyukur masuk Labschool Kebayoran.
Tidak terasa waktu setahun berlalu. Tidak terasa kita akan UKK. Tidak terasa sebentar lagi kita akan penjurusan. Tidak terasa juga saya akan benar-benar berpisah dengan teman saya yang akan masuk jurusan IPA. Terutama itulah tujuan sebagian teman-teman dekat saya. Karena saya sudah memutuskan untuk masuk jurusan IPS maka, masuklah saya ke Jurusan IPS. Sampai sekarang sedih juga memikirkannya, ketika kita sudah nyaman di suatu kelas dan sebentar lagi kita akan berpisah. Saya selalu berpikir kenapa rasanya waktu berjalan cepat sekali. Ketika kita mengadakan makan bersama sekelas di restoran Paregu, saya sampai menangis karena tidak mau berpisah. Mengingatnya membuat saya bertanya, kenapa saya begitu melankoli. Karena saya sudah merasa kelas ini seperti keluarga saya sendiri. Teman-teman sekelas yang sudah seperti saudara dan mempunyai Wali Kelas yang unik dan tersayang bernama Bu Wulan (kali ini bukan nama samaran). Terima kasih dan mohon maaf ya Bu Wulan!
Akhirnya saya naik ke XI IPS 3, dengan wali kelas saya bernama Bu Novi. Harapn saya adalah semoga kelas XI ini prestasi saya membaik dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik, Amin!
           
Dulu tuh kamu waktu kecil lucu banget, kaya anak bule. Sekarang udah nggak lucu lagi. Tapi ngeselin... Hahaha
            -Nasir Achmad

            Kamu tuh loyal banget ya sama teman.”
            -Widyana Krishwati

Lo tuh gila banget kalau boleh jujur. Tapi kadang-kadang karena lo terlalu gila gue jadi nggak ngerti apa yang lo omongin
-Excelita Syahrani

Bersama Wali KelasXF

Bersama Ketua Kelas

Lari Pagi Terakhir sebagai Fans Persija

Bersama Ella di Bukber XF 2012
   XF
 XF

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar