Senin, 24 September 2012

Tugas 4 - Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


            Saat ini tawuran banyak terjadi dan dapat di katakan menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh anak-anak sekolah. Tawuran antar sekolah, kelompok, sampai antar daerah pun sering terjadi. Hal ini tidak hanya melibatkan para remaja, tetapi juga anak-anak SMP yang sudah mulai mengikuti budaya yang tidak berkemanusiaan ini.                                                 
            Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan lebih jauh lagi tentang pengertian, pelaku, penyebab, akibat, dan cara mengurangi atau bahkan menghilangkan budaya buruk tersebut, dll.                            

Definisi
Tawuran adalah prilaku agresi dari seorang individu atau kelompok.Agresi itu sendiri diartikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat,menyerang,membunuh atau menghukum orang lain,dengan kata lain agresi  secara singkat didefinisikan sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain                                 
Faktor penyebab
Sering dituduhkan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Data di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah. 
  Padahal penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama di kotabesar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang padat misalnya), serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota. 


Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. Pada delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan pada delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. 

Menurut tinjauan psikologi
Ada 2 faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Yang dimaksud dengan faktor internal di sini adalah faktor yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam menanggapi ilmu di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar. Perilaku merupakan reaksi ketidakmampuan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan sekitar. Sedangkan faktor eksternal adalah sebagai berikut:         
1. faktor keluarga
a. baik buruknya rumah tangga atau berantakan dan tidaknya sebuah rumah tangga.
b. perlindungan lebih yang diberikan orang tua.
c. penolakan orang tua, ada pasangan suami istri yang tidak pernah bisa memikul tanggung jawab sebagai ayah dan ibu.
d. pengaruh buruk dari orang tua, tingkah laku kriminal dan tindakan asusila.
2. Faktor lingkungan sekolah
inilah yang menjadi akar dari permasalahan tawuran antar pelajar sekarang.sekolah adalah media yang paling berpengaruh dalam proses pembentukan karakter seorang remaja,karena hampir 90% waktu kita selama seharihari kita habiskan di sekolah. sampai sekarang sekolah masih diangap sebagai tempat yang mebosankan hampir seluruh siswa,yang menjadi landasan mereka mengambil argument seperti itu karena.lingkungan yang tidak nyaman (fasilitas yang kurang memadai,proses pembelajaran yang monoton,peraturan yang dirasa mengekang,kedisiplinan guru,dll) halhal inilah yang menjadi akar permasalah ini,siswa yang sudah sering mendapat perlakuan ini cenderung lebih banyak melakukan sesuatu di luar sekolah ,yang tidak dapat di awasi oleh pihak sekolah,dan akan membawa teman-temannya untuk mengikuti apa yang menjadi keinginannya.         
3. faktor miliu/lingkungan
ini juga adalah factor yang mempengruhi dalam perkembangan pola pikir siswa.dan sangat berkaitan dengan seluruh factor-faktor yang dipaparkan di atas.karena apaun bentuk persoalannya pasti di awali dari lingkungan tempat mereka. termasuk yang sangat berpengaruh adalah lingkungan sekolah,seperti apa yang tadi di paparkan di atas.         
Pihak yang terlibat tawuran
Tawuran pada dasarnya hanya dilakukan oleh para preman yang tidak bermoral,namun pada periode tahun 1997-1999 tawuran sudah didominasi oleh anak-anak sekolah yang sebagian besar adalah para pelajar STM dan SMK,tapi saat ini tidak hanya dilkalangan itu saja,SMA,mahasiswa,hingga SMP juga sudah banyak terlibat kegiatan tawuran ini.         
4.Senjata Pada Saat Tawuran
     Senjata-senjata yang digunakan pada saat tawuran antara lain,benda-benda tajam,contohnya adalah pedang samurai,kopel,gesper berkepala gear,bom molotof,dll.Apabila seorang tidak membawa senjata,dia akan menggunakan batu,kayu,atau bamboo untuk melawan,senjata tersebuat biasanya mereka sembunyikan di kantin atau semaksemak,bahkan ada yang didalam langit-langit kelas mereka.

 Dampak perkelahian pelajar
            Jelas bahwa perkelahian pelajar ini merugikan banyak pihak. Paling tidak ada empat kategori dampak negatif dari perkelahian pelajar. Pertama, pelajar (dan keluarganya) yang terlibat perkelahian sendiri jelas mengalami dampak negatif pertama bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan fasilitas lainnya, serta fasilitas pribadi seperti kaca toko dan kendaraan. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir, mungkin adalah yang paling dikhawatirkan para pendidik, adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Parapelajar itu belajar bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka, dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia. 

UPAYA MENGATASI TAWURAN
1. Dengan memandang masa remaja merupakan periode storm and drang period (topan dan badai) dimana gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Maka pelajar sendiri perlu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, Seperti Mengikuti kegiatan kursus, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, dll.
2. Lingkungan keluarga juga dapat melakukan pencegahan terjadinya tawuran, dengan cara:
a. Mengasuh anak dengan baik.
- Penuh kasih sayang
- Penanaman disiplin yang baik
- Ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- Mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- Mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.
b. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat:
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
c. Meluangkan waktu untuk kebersamaan
Orang tua menjadi contoh yang baik dengan tidak menunjukan perilaku agresif, seperti: memukul, menghina dan mencemooh.
d. Memperkuat kehidupan beragama
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari – hari.
e. Melakukan pembatasan dalam menonton adegan film yang terdapat tindakan kekerasannya dan melakukan pemilahan permainan video game yang cocok dengan usianya.
f. Orang tua menciptakan suasana demokratis dalam keluarga, sehingga anak memiliki keterampilan social yang baik. Karena kegagalan remaja dalam menguasai keterampilan sosial akan menyebabkan ia sulit meyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Sehingga timbul rasa rendah diri, dikucilkan dari pergaulan, cenderung berperilaku normatif (misalnya, asosial ataupun anti-sosial).Bahkan lebih ekstrem biasa menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.
3. Sekolah juga memiliki peran dalam mengatasi pencegahan tawuran, diantaranya:
a. Menyelenggarakan kurikulum Pendidikan yang baik adalah yang bias
Mengembangkan secara seimbang tiga potensi, yaitu berpikir, berestetika, dan berkeyakinan kepada Tuhan.
b. Pendirian suatu sekolah baru perlu dipersyaratkan adanya ruang untuk kegiatan olahraga, karena tempat tersebut perlu untuk penyaluran agresivitas remaja.
c. Sekolah yang siswanya terlibat tawuran perlu menjalin komunikasi dan koordinasi yang terpadu untuk bersama-sama mengembangkan pola penanggulangan dan penanganan kasus. Ada baiknya diadakan pertandingan atau acara kesenian bersama di antara sekolah-sekolah yang secara “tradisional bermusuhan” itu.
4. LSM dan Aparat Kepolisian
LSM disini dapat melakukan kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah mengenai dampak dan upaya yang perlu dilakukan agar dapat menanggulangi tawuran. Aparat kepolisian juga memiliki andil dalam menngulangi tawuran dengan cara menempatkan petugas di daerah rawan dan melakukan razia terhadap siswa yang membawa senjata tajam.

KESIMPULAN
            Tawuran memang suatu hal yang meresakan masyarakat, tetapi jika kita melihat dari pandangan pelaku maka tawuran bukanlah hal yang buruk, bahkan itu dianggap sebagai suatu hal yang dapat di banggakan. Untuk menyelesaikan masalah itu, maka harus ada pendekatan-pendekatan yang di lakukan terhadap para pelaku. Selain itu, harus ada penanaman kemanusiaan yang lebih dan melatih kedisiplinan para pelaku tanpa adanya suatu kekerasan. Janganlah kita menjauhi para pelaku kekerasan ini, karena pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.
            Mungkin hanya ini yang dapat saya tuliskan pada tugas sejarah ini. Semoga artikel tugas ini memiliki manfaat lebih bagi Labschool khususnya, dan Indonesia. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar