Sabtu, 22 September 2012

solusi untuk kemanusiaan


Bullying merupakan suatu aksi atau serangkaian aksi negatif yang
seringkali agresif dan manipulatif, dilakukan oleh satu atau lebih orang terhadap orang lain atau beberapa orang selama kurun waktu tertentu, bermuatan kekerasan, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Pelaku biasanya mencuri-curi kesempatan dalam melakukan aksinya, dan bermaksud membuat orang lain merasa tidak nyaman/terganggu, sedangkan korban biasanya juga menyadari bahwa aksi ini akan berulang menimpanya.
Kata bullying familiar dalam bahasa Inggris (etimologi dari kata bully barangkali berasal dari kata Middle Dutch, boele yang bermakna first sweetheart, kemudian fine fellow, kemudian blusterer: Encarta World English Dictionary, 1999). Konsep ini familiar di Scandinavia dan Jerman melalui kata bermakna sama, mobbning (Swedia), sedangkan bullismo seringkali digunakan di Italia. Di samping itu, beberapa pendapat menyatakan bullying berasal dari kata bull yang berarti sapi jantan sebagai lambang kekuatan, ada pula yang menyatakan bull mengacu pada hubungan pertemanan atau teman sebaya. Terlepas dari beragam pendapat tersebut, hubungan pelaku dan korban bullying biasanya merupakan hubungan sejawat atau teman sebaya, misalnya teman sekelas, kakak kelas dan adik kelas, senior dan yunior, atau rekan kerja, sehingga sebenarnya bullying tidak saja berkemungkinan terjadi di sekolah atau rumah, namun juga berpeluang terjadi di tempat kerja, juga penjara. Pelaku dan korban pun biasanya saling mengenal, pada mulanya bukan ‘musuh’, dan kekuatan pelaku jauh lebih besar daripada korban, sehingga korban dalam posisi tak berdaya. Bullying dengan setting sekolah dapat terjadi di kelas, misalnya yang terjadi pada anak sekolah dasar, korban tidak akan diajak bermain kalau tidak menyerahkan uang saku dalam jumlah tertentu setiap harinya. Bullying sering pula terjadi di kamar mandi, kantin, halaman sekolah, atau perjalanan dari dan ke sekolah. Kekerasan ini dapat dilakukan pada saat jam pelajaran di kelas, istirahat, jam ekstrakurikuler, orientasi sekolah bagi siswa baru, bahkan ada pula yang terjadi pada saat study tour.
Bullying dapat berbentuk fisik, seperti pukulan, tendangan, dibenturkan tembok, tamparan, dorongan, serta serangan fisik lainnya. Yang berbentuk non fisik, bullying dapat dilakukan secara verbal dan non verbal. Ejekan, panggilan
1
dengan sebutan tertentu, ancaman, penyebaran gosip, penyebaran berita rahasia, perkataan yang mempermalukan, tergolong aksi verbal. Ekspresi wajah yang tidak menyenangkan dan bahasa tubuh yang mengancam merupakan aksi nonverbal yang dilakukan secara langsung. Sedangkan pengabaian, penyingkiran dari kelompok, serta pengiriman pesan tertulis yang bernada mengganggu, dan merebut pacar, termasuk aksi nonverbal secara tidak langsung. Yang sedang marak saat ini adalah penulisan kesaksian yang bersifat mengganggu (bisa palsu atau membuka rahasia) di friendster. Bullying dapat pula berbentuk pengrusakan atau perampasan barang milik korban, seperti penyobekan, pencoretan, pembantingan, perebutan, dan pencurian. Para pelaku laki-laki cenderung lebih banyak melakukan aksi fisik dibandingkan pelaku perempuan yang lebih memilih melancarkan aksi nonfisik.
Bullying melibatkan beberapa pihak. Pertama, tentu saja pelaku, yang biasanya bertujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, mendapatkan kepuasan setelah unjuk kekuatan, balas dendam, namun bisa juga tadinya ia iseng, coba-coba, dan ‘berhasil’, sehingga ingin mengulang kembali keberhasilannnya tersebut. Pelaku ada yang memang terkenal bengal, prestasi belajarnya kurang baik, dan suka membuat onar, sehingga orang lain menganggap tidak aneh apabila ia melakukan bullying. Namun, ada pula pelaku yang merupakan anak berprestasi baik dan tampak alim, yang mampu menutupi aksinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak menyangka bila ia adalah pelaku. Para pelaku ada pula yang juga menjadi korban pada saat yang sama dalam setting yang berbeda, misalnya di sekolah menjadi pelaku, tapi di rumah menjadi korban.
Pihak berikutnya adalah korban. Korban ada yang bersifat pasif yang senantiasa menuruti permintaan pelaku, ada pula yang provokatif, mencoba melawan atau menampilkan diri dan menunjukkan perilaku tertentu secara menonjol yang memancing pelaku melakukan aksi kekerasan. Korban biasanya memiliki karakteristik tertentu yang menarik perhatian atau oleh pelaku ‘dianggap berbeda’ dibandingkan teman sebayanya, sehingga memicu pelaku untuk melakukan bullying. Korban bisa dianggap berbeda secara fisik, seperti memiliki paras wajah, warna kulit, susunan gigi, jenis rambut tertentu, atau tinggi badan dengan ukuran tertentu. Korban dapat pula menunjukkkan perilaku tertentu,
2
seperti cara berjalan atau logat bicara. Latar belakang korban, seperti kondisi keluarga, status sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal, atau hal-hal lain yang menyangkut orang tua, selain juga hal-hal yang terkait dengan sekolah, misalnya kemampuan membaca, prestasi di sekolah, dapat juga menjadi bahan ejekan atau kondisi yang memancing pelaku melakukan bullying. ‘Kesalahan’ pada korban dapat pula dicari-cari, misalnya dianggap ‘melanggar tradisi’ dengan berpenampilan yang dirasa terlalu menor, terlalu rapi karena memakai gel rambut dan minyak wangi, tidak ‘nongkrong’ seperti kakak kelas, dan sebagainya. Korban yang merahasiakan tindakan bullying terhadapnya, biasanya memiliki alasan sebagai berikut. Bila bercerita kepada orang lain, ia takut akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dan takut dikucilkan. Ia mungkin juga berharap pelaku akan menyukainya. Korban dapat pula tidak percaya pada guru, tidak ingin membuat orang tua khawatir, bahkan ada pula diantaranya yang merasa bahwa dirinya juga patut disalahkan.
Pihak ketiga yang terlibat adalah bystanders. Bystander terdiri dari empat tipe, sidekick, reinforcer, outsider, atau defender, yang secara berurutan berarti berperan membantu pelaku secara langsung dalam memperdaya korban, menyemangati pelaku misalnya bertepuk tangan atau bersorak, bersifat acuh tak acuh ketika terjadi bullying, atau melakukan pembelaan terhadap korban. Peran bystander sebetulnya berkontribusi menentukan apakah bullying akan berlanjut atau tidak. Kekuatan bystander dapat menghentikan bullying, namun parahnya bila mereka acuh tak acuh atau bahkan membantu dan menguatkan aksi pelaku, bullying pun tak terbendung.
Bullying dapat mengakibatkan korban merasa cemas, mengalami gangguan tidur, sedih berkepanjangan, menyalahkan diri sendiri, depresi, bahkan bunuh diri. Terkait dengan aktivitas sekolah, korban dapat pula sering absen, terisolasi secara sosial, prestasinya menurun, atau mengalami drop-out. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa korban bullying pada 4 tahun berikutnya berpotensi menjadi pelaku. Sedangkan pada para pelaku bullying, mereka beresiko tinggi terlibat kenakalan dan tindakan kriminal serta berpotensi mengalami hambatan penyesuaian diri dan sosial. Tidak hanya sampai di situ,
3
bullying juga meresahkan para orang tua dan masyarakat dan ketika terjadi di sekolah, tingkat kepercayaan mereka pada institusi pendidikan menjadi menurun.
Ketika isu bullying mencuat di Indonesia tahun 1980-an, sejak tahun 1970- an, bullying telah dikenal sebagai penyakit sosial di beberapa negara. Hal ini merupakan sebagian dampak dari beberapa penelitian yang secara sistematis telah dilakukan dari tahun 1970-an, dimulai dengan penelitian Olweus di Scandinavia (1978, 1993), dan berlanjut di Inggris dan beberapa negara di Eropa, dan juga Jepang, Australia, dan Amerika Utara. Di Jepang, kekerasan yang lebih dikenal dengan sebutan ijime ini menyeruak pertama kali sekitar tahun 1984 ditandai dengan 16 peristiwa bunuh diri yang terkait dengan bullying. Di Amerika Serikat, meskipun bullying sangat populer, namun tidak mendapatkan perhatian sebesar masyarakat di Jepang, karena terkacaukan dengan beragam bentuk lain kekerasan di sekolah yang juga marak terjadi. Suatu penelitian yang dilakukan pada 4092 siswa usia 10-12 tahun di 10 sekolah menengah pertama di Portugal memberikan gambaran bahwa resiko tinggi menjadi korban bullying mengarah pada siswa laki- laki dari kelas sosial rendah. Di Taiwan, penelitian pada 238 siswa kelas tujuh menunjukkan bahwa sebagian responden telah menjadi korban bullying sejak semester awal sekolah menengah pertama. Kekerasan oleh teman sekelas lebih sering terjadi dibandingkan oleh rekan yang tidak sekelas. Aksi verbal dan fisik merupakan tipe kekerasan yang paling sering ditemui. Penelitian dengan self dan peer-report measure ini juga menunjukkan bahwa siswa laki-laki lebih banyak terlibat dalam bullying fisik dan verbal dibandingkan siswa perempuan.
Terkait dengan penanganan bullying, di Norwegia, Menteri Pendidikan memulai kampanye nasional melawan bullying pada tahun 1983. Bersamaan dengan kampanye ini, dilakukan penelitian besar secara longitudinal yang melibatkan 2500 siswa selama 2,5 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat penurunan angka kejadian bullying sebesar 50% setelah 2 tahun pertama dilaksanakannya program kampanye. Pada tahun 2000, Menteri Pendidikan juga mengembangkan jaringan nasional bagi para professional terkait dan mengembangkan lembaga yang menangani bullying dan problem perilaku siswa lainnya. Lain halnya dengan yang terjadi di Belanda, mulai tahun 1970-an, para psikolog mulai mengusulkan kebijakan untuk menangani bullying. Pada tahun
4
1992, seorang peneliti mengemukakan bahwa terdapat 25% dari populasi siswa sekolah dasar (385.000 anak) menjadi korban bullying. Sejak saat itu, National Education Protocol Against Bullying dibentuk, dengan menyelenggarakan program-program seperti pelatihan ketrampilan sosial untuk pelaku dan korban, sosialisasi informasi pada guru dan orang tua mengenai bullying, pemberian informasi secara aktif kepada siswa mengenai adanya bullying dan luasnya cakupan masalah bullying, pengadaan tenaga konselor di sekolah, kerja sama dengan sekolah dengan mengedepankan sharing pengalaman dengan siswa, serta penandatanganan kesepakatan-kesepakatan melawan bullying. Sedangkan di Hongkong, cara menangani bullying dengan taktif supresif, seperti menceramahi pelaku, mengundang orang tua ke sekolah, dan penjadwalan ulang pertemuan ternyata kurang efektif dibandingkan dengan melakukan strategi antibullying secara komprehensif, seperti melatih siswa mengembangkan kompetensi diri dan ketrampilan sosial, sementara hubungan baik orang tua-guru bermanfaat sebagai strategi anti kekerasan



.
Mengingat begitu memprihatinkannya aksi bullying, waspadalah ketika pada anak atau remaja di sekitar Anda terdapat tanda-tanda seperti seringkali terdapat luka fisik, baju sebagian hilang atau sobek, minta uang saku lebih, mencuri uang, sebagian barang hilang, mood berubah-ubah, tidak bahagia, prestasi menurun, enggan ke sekolah, sering tidak masuk, tidak punya teman, jarang terlibat aktivitas, barangkali ia menjadi korban bullying. Atau, bila anak-anak Anda di usianya yang masih sangat muda sudah mulai menunjukkan tanda-tanda suka merendahkan teman, dengan sengaja mengisolasi seorang kawan untuk tidak bermain bersama, atau memperlihatkan keengganan berbagi dengan sebayanya, segeralah ajak dia berdialog, mulailah mencermati lebih jauh aktivitasnya sehari- hari, berkomunikasilah dengan teman-temannya, serta berdiskusilah dengan wali kelas dan guru bimbingan konseling di sekolah, tentunya dengan tanpa meninggalkan introspeksi diri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar