Jumat, 21 September 2012

Tugas-4 Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan

Human trafficking, Kejahatan Keji yang Merajalela
                Berdasarkan sebuah artikel yang dimuat pada koran kompas beberapa hari yang lalu, sebagian besar korban perdagangan manusia atau human trafficking terdapat di wilayah Asia dan Timur Tengah.  Menurut pernyataan dari Ibrahim Yusuf, Ketua Badan Eksekutif dari Indonesian Council on World Affairs atau yang biasa disebut dengan ICWA pada sebuah seminar tentang penanggulangan perdagangan manusia di Asia Tenggara yang diadakan Universitas Kristen Indonesia, saat ini terdapat 2.500.000 jiwa korban perdagangan manusia di dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 1.400.000 jiwa berada pada kawasan Asia Pasifik dan sebanyak 230.000 jiwa berada pada kawasan Timur Tengah. Di Asia Tenggara sendiri terdapat 200.000 sampai 225.000 jiwa setiap tahunnya yang menjadi korban aktivitas perdagangan manusia.
                Sungguh jumlah yang sangat banyak. Bayangkan, jiwa sebanyak itu menjadi tersia-sia karena perdagangan manusia. Sebanyak 2.500.00 orang seakan tidak memiliki hak dan harus hidup menderita dibawah kontrol orang yang sama sekali tidak memiliki rasa kemanusiaan, apalagi korban dari human trafficking ini kebanyakan perempuan dan anak-anak yang tidak berdaya. Apakah masih bisa tenang ketika mengetahui hal keji seperti ini terjadi tepat di depan mata kita?
                Human trafficking atau perdagangan manusia merupakan sebuah kejahatan yang sangat tidak bermoral namun saat ini sangat merajalela di seluruh dunia. Menurut data dari PBB saat ini perdagangan manusia sudah menjadi perusahaan kriminal terbesar ketiga di dunia (setelah perdagangan senjata dan narkoba) yang menghasilkan keuntungan sekitar 7.000.000.000 USD setiap tahun bagi pelakunya. Bahkan menurut data laporan dari Asia Development Bank atau ADB, diperkirakan hingga tahun 2008, keuntungan yang didapatkan oleh traffickers atau para pelaku perdagangan manusia, mencapai 40.000.000.000 USD.
Di Asia Tenggara sendiri, hampir seluruh negara merupakan sumber dari perdagangan manusia. Negara-negara yang tidak menjadi sumber seperti Singapura, Malaysia dan Brunei Darusallam menjadi tujuan perdagangan manusia dari negara-negara lain.
                Di Indonesia, aktivitas perdagangan manusia sangat besar. Berdasarkan Laporan dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Indonesia merupakan sumber utama, tempat transit dan tujuan perdagangan manusia dari seluruh dunia. Hal ini disebabkan oleh migrasi yang terjadi di Indonesia bukan migrasi yang aman sehingga trafficking seakan menjadi bagian dalam proses migrasi itu sendiri. Sebuah data rilis resmi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2010 yang lalu menyatakan kedudukan Indonesia dalam aktivitas perdagangan manusia di dunia.
                Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa saat ini Indonesia posisinya berada pada tier 2, posisi ini merupakan perkembangan yang lebih baik dibandingkan posisi pada tahun 2001 dimana Indonesia berada di posisi tier 3. Tier 3 adalah negara-negara yang pemerintahannya sepenuhnya tidak memenuhi standar minimumTVPA (Trafficking Victims Protection Act’s) dan tidak melakukan upaya yang signifikan untuk melakukannya. Negara-negara yang termasuk ke dalam tier 3 ini antara lain Myanmar, Congo, Sudan dan banyak lainnya. Sedangkan Tier 2 adalah negara-negara yang pemerintahannya tidak sepenuhnya memenuhi standar minimum TVPA, tetapi telah membuat upaya yang signifikan untuk membawa diri menjadi sesuai dengan standar-standar minimum tersebut. Jadi pemerintah sudah berusaha dan menunjukan perkembangan yang signifikan dalam usaha perlindungan korban tetapi usaha tersebut belum maksimal.
              Jumlah sumber perdagangan manusia yang paling signifikan terutama dari wilayah Pulau Jawa, Kalimantan Barat, Lampung, sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Diperkirakan 69% dari seluruh tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah perempuan dan lebih dari 50% dari tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah anak-anak. LSM Migran Care Indonesia memperkirakan bahwa 43% atau sekitar 3 juta dari tenaga kerja  Indonesia di luar negeri tersebut adalah korban dari human trafficking atau perdagangan manusia. 
               Menurut catatan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi atau IOM, organisasi perekrut tenaga kerja, baik yang legal maupun tidak legal, bertanggung jawab untuk sektar 50% dari kasus human trafficking  atau perdagangan manusia yang dialami pekerja Indonesia di seluruh dunia. Dapat dilihat jumlah tersebut tentunya didapat karna pengawasan yang kurang pada perekrut tenaga kerja dari dalam negara sendiri.
                Kebanyakan korban perdagangan manusia dari Indonesia diperjualbelikan ke negara Asia yang lebih maju  dan Timur Tengah, khususnya Malaysia, Saudi Arabia, Singapura, Jepang, Kuwait, Suriah, dan Irak.  Disana sebagian besar dari mereka dijadikan pelacur atau pekerja paksa.
                Banyak alasan yang menjadi kedok para pedagang manusia dari Indonesia sampai pemerintah sempat melarang pengiriman perempuan ke Jepang dan Korea Selatan untuk ‘Pertunjukan Kebudayaan’  karena banyak yang menggunakan alasan tersebut namun nantinya berakhir dengan perdagangan perempuan sebagai pelacur disana. Pada tahun 2007 terdapat petambahan yang signifikan tehadap jumlah perdagangan manusia, para pedagang manusia mulai banyak yang menggunakan dokumen palsu seperti pasport atau visa turis untuk wanita atau perempuan Indonesia yang dipaksa terlibat dalam prostitusi di Jepang, keuntungan yang didapat dari bisnis ini mencapai sekitar 20.000 USD per orangnya. Selain itu para pedagang mengirim manusia dengan cara menyamarkan perempuan Indonesia, terutama dari Kalimantan Barat sebagai pengantin yang akan dikirm ke Taiwan. Para pedagang ini membuat surat nikah, visa, dan dokumen palsu lainnya demi bisa menjual perempuan Indonesia ke Taiwan dan mempekerja paksakannya disana.
Cara lain dari para pedagang adalh menjadikan sebagian besar buruh migran Indonesia menghadapi kondisi kerja paksa dan perbudakan utang atau dipaksa bekerja karena memiliki utang. Pekerja terpaksa bekerja di bawah utang abadi berupa uang muka yang sebelumnya telah diberikan kepada keluarga mereka di  Indonesia oleh broker. Utang perbudakan (menjadi korban human trafficking karena berutang) sangat menonjol di antara korban perdagangan seks, dengan utang awal 600 dollar AS sampai 1.200 dollar AS yang dikenakan pada korban, jumlah ini kemudian ditambahkan dengan  akumulasi biaya tambahan dan utang sehingga hal ini menyebakan perempuan dan anak perempuan seringkali tidak dapat melarikan diri dari perbudakan utang, bahkan setelah bertahun-tahun dalam perdagangan seks. 
Sangat banyak cara yang dapat digunakan para traffickers atau pedagang manusia, janji-janji pekerjaan dengan gaji yang tinggi, jeratan utang, tekanan masyarakat dan keluarga, ancaman kekerasan, perkosaan, pernikahan palsu, dan penyitaan paspor. Cara lanjutan adalah melakukan penculikan untuk prostitusi paksa dalam perdagangan seks di Malaysia dan Timur Tengah. 
Cara yang lebih baru diidentifikasi oleh polisi adalah perekrutan buruh migran Indonesia di Malaysia untuk umrah ke Mekah, setelah sampai di Saudi mereka diperdagangkan ke titik lain di Timur Tengah. Di tahun 2010 trafficker uga menggunakani internet terutama social networking seperti Facebook untuk merekrut korban, terutama anak-anak untuk perdagangan seks. Beberapa  perempuan asing dari daratan Cina, Thailand, Asia Tengah, dan Eropa Timur menjadi korban perdagangan seks di Indonesia. 
Selain sebagai sumber, Indonesia juga merupakan tempat tujuan human trafficking. Perempuan dari Cina, Thailand dan Eropa Timur banyak diperdagangkan di Indonesia untuk prostitusi, walaupun jumlah yang diperdangkan jauh lebih sedikit dari jumah yang dikirim Indonesia ke luar negeri untuk tujuan yang sama. 
Bukan hanya wanita yang menjadi korban, terdapat jumlah pekerja atau TKI yang cukup banyak, baik perempuan atau laki-laki yang dijadikan pekerja paksa di Malaysia, Jepang, Saudi Arabia, Iraq, Singapura, Taiwan, Hongkong, Uni Emirat Arab, Yordania, Kuwait, Qatar, Syria, Perancis, Belgia, Jerman dan Belanda. Mereka bekerja dengan upah rendah untuk konstruksi, pertanian, industri dan lain-lainnya.
Perdagangan manusia atau human trafficking merupakan sebuah kejahatan yang  harus segera diberantas. Memang, perdagangan manusia telah menjadi isu lama yang menjadi perhatian khusus negara-negara Asia Tenggara. Pada tahun 1997, negara-negara Asia Tenggara membuat Vision 2020 yang betugas memerangi kejahatan perdagangan anak dan perempuan.  Pada 2004 ASEAN menandatangani deklarasi melawan perdagangan manusia.
 Pemerintah Indonesia sendiri terus berupaya untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah perdagangan manusia. Pemerintah terus bekerja sama dengan berbagai LSM dan organisasi internasional untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah perdagangan manusia. Pada tahun 2007, Jawa Timur Pemprov bekerja sama dengan LSM untuk merumuskan panduan tentang bagaimana untuk menangani kasus-kasus perdagangan manusia.
 Sebagai masalah yang serius, diperlukan kerjasama secara menyeluruh dalam hal human trafficking ini. Perlu ada pengawasan dan penanganan dari berbagai pihak. Mulai dari pihak terkecil hingga kerjasama Internasional yang lebih diperketat.
Selain segera meratifikasi Konvensi Internasional tentang Perlindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya, penting pula untuk membuat MoU dengan sejumlah negara tujuan terutama negara yang memiliki banyak catatan kasus praktik human trafficking seperti Malaysia dan Arab Saudi.
Kemudian dengan lebih memperketat seleksi TKI yang akan dikirim keluar. Mereka harus melewati pendidikan dan pelatihan yang benar-benar baik sehingga tenaga kerja yang dikirim merupakan tenaga kerja pintar bersertifikat dan berkualitas. Karena kadang berbagai kekerasan atau penganiayaan yang dilakukan majikan di luar negeri adalah karena TKI yang tidak berkualitas dan tidak mengerti apapun. 
Yang paling penting persoalan paling mendasar yang harus dituntaskan adalah masalah kemiskinan dan ketidakadilan ekonomi terhadap perempuan karena inilah awal dari segala masalah yang ada. Perempuan sebagai korban utama perdagangan manusia perlu diberi akses yang lebih luas agar bisa mandiri dan melepasakan diri dari kemisikinan dirinya dari kemiskinan dan mengambil peran yang lebih penting dalam pembangunan.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar saat ini? Mungkin saat ini kita cukup tau bahwa diluar sana ada jutaan orang yang bukan hanya mendapat hidup kurang dari kita, tapi bahkan hidup seakan tanpa haknya. Dan kemudian setelah mengetahui itu kita akan belajar bersyukur atas apa yang kita dapatkan. Tahapan selanjutnya kita akan peduli dan berusaha menolong dengan cara kita sendiri. Kita bisa menanyakan ke organisasi-organisasi yang peduli terhadap human trafficking seperti Organisasi Anti Perdagangan Manusia dan menawarkan bantuan kita. Bantuan tersebut bisa berupa sumbangan atau uang bagi korban perdagangan manusia yang membutuhkan lebih dari kita. Selain itu bantuan bukan hanya materi saja, kita bisa menawarkan diri untuk bekerja sebagai volunteer disana.
 
Sumber:
Koran Kompas, Rabu, 19 September 2012 halaman 10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar