Jumat, 21 September 2012

Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

DAMPAK PERCERAIAN BAGI ANAK


                Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan.
                Perceraian dibagi menjadi dua jenis, yaitu cerai hidup yaitu cerai akibat tidak adanya kecocokan antara satu sama lain, dan cerai mati akibat meninggalnya salah satu pasangan. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perceraian adalah :
·         Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian yang lebih mendetail.
·         Krisis moral dan akhlak
Selain ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh landasan berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan, pelecehan dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri, misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.
·         Pernikahan tanpa cinta
Alasan lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.
·         Adanya masalah-masalah dalam perkawinan
Dalam sebuah perkawinan pasti tidak akan lepas dari yang namanya masalah. Masalah dalam perkawinan itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi percekcokan yang berlarut-larut dan tidak dapat didamaikan lagi secara otomatis akan membuat ketidakharmonisan antara pasangan.
Perceraian sering dianggap oleh suatu pasangan yang sudah tidak ada lagi kecocokan sebagai suatu solusi paling tepat untuk mengakhiri permasalahan dalam rumah tangga mereka. Di satu sisi jika perceraian terjadi satu masalah selesai, pasangan tersebut sudah lega karena permasalahan rumah tangga mereka sudah berakhir. Tetapi, di sisi lain, perceraian bisa saja membawa masalah baru, khususnya bagi sang anak.
Perceraian pasinya merupakan berita yang akan sangat membuat hati anak resah dan sedih. Jika orangtua bercerai, anak jelas menjadi korban yang paling utama.  Pastilah si anak harus memilih salah satu akan bersama siapakah dia tinggal. Tentunya sangat perlu si anak beradaptasi dengan kehidupan barunya. Dan setelah orangtua mereka telah benar-benar bercerai pasti sang anak akan sedih. Namun, itu hanyalah dampak sementara saja. Jika orangtua mereka sudah pisah rumah, itu berarti si anak akan merasa keluarganya kini tidak lengkap lagi. Dan biasanya hatinya akan selalu sedih dan iri melihat teman-temannya dengan  keluarga mereka yang harmonis dan lengkap. Dan pastinya, akan muncul dampak-dampak yang berbeda pada setiap anak. Dampak yang timbul biasanya adalah dampak negatif namun boleh jadi dampak yang timbul adalah dampak positif. Dampak itu biasanya berpengaruh terhadap psikologis anak tersebut dan juga perilaku dan keseharian mereka.



DAMPAK PADA ANAK

                Perceraian bagi anak adalah “tanda kematian” keutuhan keluarganya, rasanya separuh “diri” anak telah hilang, hidup tak akan sama lagi setelah orang tua mereka bercerai dan mereka harus menerima kesedihan dan perasaan kehilangan yang mendalam. Dampak yang dapat terjadi pada diri anak adalah :
·         Perasaan kehilangan arti keluarga
Pada kondisi ini anak-anak merasa diabaikan, kesepian, merasa ketakutan. Perasaan ketakutan ini akan dapat menjadi kronis yang pada akhirnya perlu waktu untuk menghilangkan.
·         Kualitas hubungan dengan orang tua menurun
Secara tidak langsung anak-anak akan merasakan ledakan emosi, pada kondisi ini anak-anak akan sangat mudah mengalami luka dalam emosi dan hal itu menjadikan anak-anak memilih menutup diri secara alamiah untuk membatasi hubungan dengan orang tuanya. Biasanya hal ini terjadi pada masa-masa krisis sebelum dan sesudah perceraian.
·         Konflik Kepercayaan
Pada kondisi ini, meski anak kecil sekalipun dia akan mengalami rasa kehilangan kesetiaan dan kepercayaan pada orang tuanya. Disini anak mengalami kebingungan yang luar biasa, harus memilih ayah atau ibu?
·         Kecemasan akibat ketidak pastian
Kondisi ini anak-anak merasa sangat kehilangan kepastian akan masa depannya, dan hal itu kan menimbulkan kecemasan. Disini bermacam-macam kecemasan muncul bahkan kecemasan yang salah (anxiety disorder) sekalipun yang pada akhirnya menjadikan beberapa macam phobia yang diakibatkan oleh perceraian kedua orang tuanya.
·         Depresi dan sulit belajar pada anak.
Hal yang perlu di pahami adalah semakin muda usia anak mengalamiperceraian orang tuanya, maka semakin fatal akibat yang dialami anak. Pada kondisi ini anak-anak mengalami stress yang akibatnya sulit berfikir dan sulit belajar.
                Hal diatas adalah dampak perceraian orang tua terhadap anak secara umum. Dampak lain nya bisa dilihat dari pengelompokkan umur yaitu :
·         Usia 2-4 tahun
Anak akan mengalami kemunduran masa pertumbuhannya baik secara fisik maupun mental, selain itu anak-anak juga merasakan kehilangan figur orang tua.
·         Usia 5-8 tahun
Pada anak-anak usia ini, dampak perceraian yang dialami adalah perkembangan jiwanya mengalami kemunduran. Merasa bersalah, merasa menjadi penyebab perceraian. Pada kondisi ini anak cenderung mudah ketakutan yang ciri-cirinya adalah tidak bisa tidur, ngompol, dan karena kesedihan yang berlarut maka menjadikannya suka berkhayal.
·         Usia 9-12 tahun
Hal yang dialami anak usia ini ketika orang tuanya bercerai adalah ledakan emosinya sangat tinggi dan mudah marah. Anak-anak usia ini melampiaskan kemarahan kepada orang tuanya yang dikira sebagai penyebab perceraian itu sendiri. Pertumbuhan rohani akan terganggu, kecewa, penolakan karena mereka mengira Pembina spiritual mereka juga akan munafik dan sama dengan orang tua mereka yang mengecewakannya.
·         Usia 13 tahun keatas
Pada usia ini jika kedua orang tuanya bercerai, maka perasaanya akan terluka, benci akan orang tua mereka yang bercerai yang pada akhirnya mereka mencari pelarian dengan bergaul erat bersama teman-teman mereka. Perasaan dilema yang sangat juga dirasakan, dilema memihak kepada siapa akan sangat mengganggu pertumbuhan hidupnya. Hal paling fatal adalah pada akhirnya mereka lari dari kenyataan dan menjadi pemberontak, pecandu obat terlarang dan bahkan seks bebas.


SOLUSI


Dari uraian-uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa perceraian orangtua memang dapat mempengaruhi psikologis seorang anak. Anak yang mudah beradaptasi dengan kehidupan barunya setalah perceraian, akan ikhlas, tegar dan tetap enjoy menjalani kehidupannya. Namun, bagi anak yang tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan barunya, anak itu lama-lama akan mengalami kehancuran diri. Ia akan menderita sedih berkepanjangan bahkan depresi dan mengganggu kondisi psikis anak tersebut. Tentunya ada faktor yang dapat mempengaruhi kondisi psikis seorang anak yang orangtuanya bercerai. Antara lain adalah, konflik kedua orangtua yang masih berlanjut walaupun sudah bercerai dan faktor yang kedua adalah konflik si anak dengan salah satu atau bahkan kedua orangtuanya.
Maka ada hal-hal yang perlu dilakukan baik dari sisi orang tua maupun sisi anak. Dari sisi orang tua yaitu : 
·         Begitu perceraian sudah menjadi rencana orangtua, segeralah memberi tahu anak bahwa akan terjadi perubahan dalam hidupnya.
·         Di luar perubahan yang terjadi karena perceraian, usahakan agar sisi-sisi lain dan kegiatan rutin sehari-hari si anak tidak berubah. Misalnya: tetap mengantar anak ke sekolah atau mengajak pergi jalan-jalan.
·         Jelaskan kepada anak tentang perceraian tersebut. Jangan menganggap anak sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, jelaskan dengan menggunakan bahasa sederhana. Penjelasan ini mungkin perlu diulang ketika anak bertambah besar.
·         Jelaskan kepada anak bahwa perceraian yang terjadi bukan salah si anak.
·         Anak perlu selalu diyakinkan bahwa sekalipun orangtua bercerai tapi mereka tetap mencintai anak. Ini sangat penting dilakukan terutama dari orangtua yang pergi, dengan cara: berkunjung, menelpon, mengirim surat atau kartu. Buatlah si anak tahu bahwa dirinya selalu diingat dan ada di hati orangtuanya.
·         Orangtua yang pergi, meyakinkan anak kalau ia menyetujui anak tinggal dengan orangtua, dan menyemangati anak agar menyukai tinggal bersama orangtuanya itu.
·         Orangtua yang tinggal bersama anak, memperbolehkan anak bertemu dengan orangtua yang pergi, meyakinkan anak bahwa dia menyetujui pertemuan tersebut dan menyemangati anak untuk menyukai pertemuan tersebut.
·         Selalu menjaga kontak dengan sang anak.
·         Tidak saling mengkritik atau menjelekkan salah satu pihak orangtua di depan anak.
·         Tidak menempatkan anak di tengah-tengah konflik.
·         Tidak menjadikan anak sebagai senjata untuk menekan pihak lain demi membela dan mempertahankan diri sendiri. Misalnya mengancam pihak yang pergi untuk tidak boleh lagi bertemu dengan anak kalau tidak memberikan tunjangan; atau tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan anak supaya pihak yang pergi merasa sakit hati, sebagai usaha membalas dendam.
·         Tetap mengasuh anak bersama-sama dengan mengenyampingkan perselisihan. Kalau perceraian memang tidak bisa dihindari, orang tua harus menjelaskan kepada anak. Kumpulkan antara anak, ayah, dan ibu. Orang tua di sini harus menjelaskan keputusan mereka. Jangan juga memberi harapan palsu kepada anak.
·         Agar anak tidak terus menerus merasa bersalah, tetap berikan perhatian yang tidak berubah dari kedua belah pihak orang tua. Intinya biar bagaimanapun, dalam kasus perceraian, orang tua harus ingat bagaimana perasaan dan kepentingan anak.
Sedangkan bagi sang anak, tidak usah dipikirkan berlarut-larut tentang perceraian orang tua, karena toh itu adalah keputusan mereka. Harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Lama kelamaan akan terbiasa juga dengan kehidupan yang baru. Jangan berpikir bahwa perceraian itu adalah hal buruk. Selain itu, jangan merasa minder dan tidak percaya diri karena memiliki keluarga broken home, dan jangan pula dengan alasan tersebut menjadi terpuruk dan akhirnya terjerumus kedalam hal-hal jahat. Harus terus belajar yang rajin dan tidak merepotkan kedua orang tua. Harus membuktikan kepada orang-orang bahwa dengan keluarga yang broken home tidak menjadikan alasan untuk tidak berprestasi.
                Selain itu, apabila sedang ada masalah yang menyangkut kedua orang tua, dapat meminta bantuan kepada orang yang lebih tua untuk dimintai saran. Jangan dipendam sendiri, dan yang terakhir, jadikan kejadian ini sebagai pelajaran untuk dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar