Jumat, 21 September 2012

Solusi Labsky Untuk Indonesia


Memulai dari Diri Sendiri

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." -Pramoedya Ananta Toer

Masalah di Indonesia itu sebenarnya adalah pendidikan karakter. Karakter-karakter dari rakyat Indonesia yang masih sangat diperlukan adalah kejujuran, percaya diri, kemauan untuk belajar, dan tentu saja kesopanan, serta keseimbangan karakter. 
Pada bidang kejujuran, Indonesia kurang disini karena nyatanya dana Indonesia sangat kurang untuk berbagai hal seperti pendidikan, kesehatan, pertahanan negara, dan lain-lain. Ini salah siapa? Mungkin jika orang-orang ditanyakan ini mereka akan langsung berteriak "Pemerintah!". Walaupun tidak salah, tapi ada juga rakyat yang tidak jujur dengan "ngumpetin" harta kekayaannya agar dia tidak perlu bayar pajak yang besar. Karena jika seseorang memiliki banyak harta berarti pajak yang dibayar akan lebih besar.
Pada hal percaya diri, orang Indonesia masih kurang percaya diri dalam bersaing, bahkan untuk mengutarakan pendapat saja masih sulit, dapat terlihat seperti bedanya orang Indonesia dengan Apple dan Samsung, Apple menuntut Samsung karena Apple menganggap Samsung Galaxy mengikuti modelnya iPhone, jika CEO Apple adalah pebisnis Indonesia tentu dia tidak berani melakukan hal ini, tetapi kenapa Apple berani? Karena Apple dan Samsung berani untuk bersaing secara terang-terangan, bersaing secara terang-terangan tidak berarti bahwa mereka bersaing tidak sehat. Sedangkan, pebisnis Indonesia sulit untuk bersaing terang-terangan untuk berkata “kita bersaing dengan mereka”. Kalaupun ada, lebih sering yang saling menyindir, bukan untuk bersaing secara sehat.

Ketidakseimbangannya karakter juga merupakan salah satu masalah di Indonesia, misalnya seperti orang yang kritis, kerap mereka tidak sopan, atau orang-orang yang pintar, mereka tetap harus peduli terhadap lingkungan dan orang lain, misalnya saat membuat mesin yang hebat tetapi merusak dan menggusur rumah orang lain. 

Pendidikan dan kesehatan juga merupakan masalah-masalah yang ada di Indonesia, jika rakyat-rakyat Indonesia cerdas dan sehat, walaupun awalnya mereka miskin pasti bisa maju. Pada logikanya, mau sepintar apapun, jika sakit, tidak bisa melakukan apa-apa, dan jika sehat tapi bodoh juga percuma. Sayangnya pemerintah hanya memperhatikan perkembangan ekonomi tetapi esensi dari pendidikan dan kesehatan itu terlupakan. Coba kita lihat kualitas dari beberapa guru di sekolah-sekolah tertentu. Guru tidak lagi mempunyai hubungan dekat dengan murid-murid, tanpa kenal tentu guru tidak dapat melakukan "Tut Wuri Handayani" (Tut Wuri Handayani adalah ideologi mengajar guru-guru Indonesia yang dapat diartikan "mendorong dari belakang" seperti memotivasi) ke muridnya. Terlalu banyak jumlah murid di kelas juga menyulitkan keaadaan kondusif, wajar saja jika murid berisik atau tidak terkontrol, karena sulit untuk satu orang untuk mengontrol berpuluh-puluh anak.

Belum lagi gaya mengajar guru-guru di Indonesia yang umumnya hanya belajar di kelas saja. Hal-hal ini menyebabkan jarangnya guru yang bisa membuat muridnya bersemangat dalam pelajaran yang sebenarnya mereka sukai. Kurikulum di Indonesia juga merupakan salah satu faktor, pelajaran-pelajaran pada jaman ini semakin menekankan pada nilai saja. Faktanya, menurut penelitian itp, murid yang diterima karena undangan (nilai-nilai yang telah diproses) lebih kompeten dari murid-murid yang diterima perguruan tinggi negeri karena tes (hanya tes satu kali, benar benar hanya melihat nilai saja). Hal ini wajar saja, karena daripada hasil nilai tes yang hanya 60 menit dan bahkan mungkin terdapat bocoran tentu akan berbeda dengan nilai-nilai murid selama beberapa tahun yang diraih dengan penuh kerja keras.

 Membaca juga salah satu faktor, bangsa yang maju adalah bangsa yang membaca, liat pendidikan di Indonesia, sangat jarang murid membaca buku, buku pelajaranpun bahkan tidak tersentuh. Menurut International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV menempati Indonesia pada urutan ke 29 dari 30 negara dengan tingkat kemampuan baca yang rendah. Pada Hari Aksara Internasional tahun 2003, ditunjukkan bahwa 18,7 persen penduduk Indonesia di atas usia sepuluh tahun buta huruf. Sedangkan dari laporan UNDP dalam “Human Development Report 2003” menyatakan bahwa pembangunan manusia di Indonesia menempati peringkat 112 dari 174 negara yang dievaluasi. Sayangnya, pendidikan di Indonesia tidak membuat murid-murid menjadi menyukai membaca dan menulis. Padahal ketika membaca, otomatis kita akan mempelajari hal-hal baru, dan ketika menulis, kita akan menghasilkan pemikiran, sebuah karya baru yang akan menciptakan perkembangan. Seperti yang Pramoedya Ananta Toer (satu-satunya penulis Indonesia yang berkali-kali nyaris mendapat nobel sastra), bahwa seseorang boleh saja pintar tetapi jika ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat. 

Faktor ekonomi dalam rendahnya pendidikan juga berpengaruh besar, walaupun sekolah-sekolah telah dikatakan gratis, tetap ada “pungutan-pungutan” di dalamnya. Tidak sedikit pula orang tua yang menganggap "Sekolah = mahal = buang-buang duit" logikanya orang-orang yang memang ekonominya menengah kebawah tidak menyadari akan arti penting dari pendidikan. Hal ini menyebabkan kebanyakan orang-orang yang berpendidikan itu orang yang menengah keatas, jadi yang maju hanya orang-orang itu. Banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena orang tuanya menganggap “mending dia bantu gue untuk nyari duit buat makan ketimbang sekolah”. 


Korupsi juga merupakan salah satu masalah vital di Indonesia, berhubung Indonesia adalah negara tertinggi ke 5 di dunia dalam hal ini. Hal ini terjadi karena orang Indonesia  otaknya itu orientasinya mengejar uang, karena itu korupsi menjadi hal yang biasa. Penegasan UU di Indonesia juga masih kurang karena itu orang-orang berani. Konsekuensinya juga tidak sebesar kelakuannya.

Pengelolaan sumber daya alam yang kurang baik merupakan salah satu masalah di Indonesia, walaupun beruntung telah memiliki sumber daya alam yang melimpah, penduduk-penduduk Indonesia yang konsumtif tidak dapat hidup hemat dan menghambur-hamburkan sumber daya alam ini, sehingga Indonesia menjadi semakin miskin. Hal ini juga menyebabkan tidak adanya pemerataan kesejahteraan, karena yang kaya menjadi semakin kaya, sedangkan yang misikin menjadi semakin miskin. 

Solusi dari masalah-masalah ini menurut saya pertama dalam perlunya peningkatan karakter-karakter rakyat Indonesia sejak kecil. Masa anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan kebiasaan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua. Hal ini menyebabkan rakyat Indonesia memiliki karakter-karakter yang jujur, berani, rajin, dan juga sopan. Jika karakter-karakter ini telah terbangun dengan baik sejak dini, tentu pendidikan dan kesahatan di Indonesia akan meningkat. Keluarga menjadi media yang efektif untuk menumbuhkan suatu kebiasaan, karena itu Keluarga menjadi faktor dominan dalam pembentukan karakter serta kebiasaan seseorang.

Guru-guru di Indonesia juga harus mendapat pendidikan karakter yang kokoh karena mereka lah yang akan mendidik murid-muridnya yang kemudian akan memimpin bangsa Indonesia ini, mereka harus dapat melakukan Tut Wuri Handayani kepada murid-muridnya. Dengan pemimpin yang baik, Indonesia akan semakin maju. Murid-murid juga harus lebih didorong untuk membaca dan menulis agar memiliki ide-ide yang baru.

Meningkatkan minat membaca dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti penanaman kebiasaan sejak dini, membangun sarana dan prasarana membaca, dorongan tenaga dari pendidik,  dan lainnya.

Sekolah-sekolah “gratis” juga harus lebih diperhatikan, jangan sampai ternyata ada “pungutan-pungutan” yang seharusnya tidak ada, guru-guru yang ada di dalam sekolah-sekolah itu juga harus guru-guru yang berkualitas, jangan karena murid-muridnya tidak membayar, mereka tidak mendapatkan pendidikan yang pantas, mereka harus sering mengajak murid-muridnya untuk belajar di luar kelas, atau belajar mengaplikasikan hal yang telah dipelajari, karena murid-murid akan memerlukan cara pengaplikasiannya di kehidupan bermasyarakat nanti, bukan hanya konsep akademiknya saja. Karena itu pembelajaran sebaiknya dilakukan jangan dengan cara hafalan, tetapi lebih ke pengertiannya, karena saat sudah besar nanti, jika murid-murid mempelajari suatu hal dengan menghafal, tentu mereka tidak akan ingat lagi, dan hal-hal yang telah dipelajari selama bertahun-tahun menjadi percuma. 

Perlu dilakukan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi anak, sekaligus penyadaran di kalangan orangtua bahwa pendidikan di sekolah sangat penting untuk bekal masa depan anak.

Untuk korupsi, seharusnya ada hukum yang jelas dan tegas, seharusnya para koruptor tidak diberikan perlakuan khusus, bahkan sebaiknya jangan diberikan remisi dan dimiskinkan agar jera.UU juga harus lebih ditegaskan agar para koruptor segan. Pihak-pihak yang berwenang juga harus bisa menolak segala suap dan berusaha sekeras mungkin mencari jejak-jejak uang para koruptor, mereka juga harus dapat bersikap netral dan profesional, serta harus tegas, harus tau mana yang benar mana yang salah, harus tau aturannya dan lalu mempertegak aturan tersebut. Sebenarnya solusi dari korupsi ini dapat kita mulai dari diri sendiri, sebelum menyalahkan orang-orang lain atas hal ini, kita harus sadar apakah kita sebenarnya telah melakukan “korupsi-korupsi kecil” atau tidak. 

Penduduk Indonesia juga harus hidup hemat, perhatikan kebutuhan yang memang dibutuhkan, jangan keinginan yang dahulukan. Barang-barang bekas yang telah dipakai juga jangan langsung dibuang, harus dilihat dahulu apakah bisa dipakai lagi atau tidak. Perekonomian yang sejahtera dan berkembang dapat dimulai dari diri sendiri. Hidup hemat adalah awal dari membangun perekonomian Indonesia. Sikap saling berbagi juga akan membantu pemerataan kesejahteraan bangsa Indonesia.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar