Kamis, 27 September 2012

Solusi Labsky Untuk Indonesia




Program Televisi Indonesia Kurang Bermanfaat

Di era teknologi sekarang ini tuntutan akan informasi semakin tinggi, masyarakat dengan sangat mudah dapat mengakses informasi dari berbagai sosial media seperti; facebook, twitter, website, internet dan lainnya, namun informasi dari  koran, majalah, radio dan televisi masih juga menjadi pilihannya. 

Penulis dalam hal ini akan menyoroti informasi yang diakses melalui televisi yang dengan sangat mudah dapat dinikmati oleh semua umur dan seluruh lapisan masyarakat. Karena televisi menyuguhkan berbagai jenis program seperti berita-berita penting, edukasi, iklan, sinetron, film dan hiburan musik yang dapat dinikmati dengan mudah dan cepat. 

Namun program televisi di Indonesia sekarang ini sudah bergeser sangat jauh sehingga kesan edukatifnya sangat rendah bahkan penulis dapat mengatakan bahwa program televisi memprihantinkan bagi kelangsungan generasi berikut bagi bangsa Indonesia. Penulis mengatakan pernyataan itu didasari oleh fakta yag adaKita dapat lihat dengan jelas bahwa acara televisi yang ditanyangkan di seluruh stasiun televisi banyak yang kurang bermanfaat untuk dapat dicontoh atau menjadi panutan bagi kehidupan kita sehari-hari khususnya sinetron, berita tentang kekerasan, iklan-iklan yang menyesatkan dan banyak lagi tayangan yang kurang baik disajikan bagi masyarakat

Oleh karena itu, penulis akan menjabarkan permasalahan yang terjadi dan bagaimana solusinya.

Masalah     
I.
Sinetron

     Stasiun-stasiun televisi yang menayangkan sinetron yang kurang edukatif bahkan memberikan contoh yang kurang baik bagi kehidupan kita didasari karena adanya “kejar tayang” yang sudah terikat kontrak antara prosuder dengan stasiun televisi.  Sinetron tersebut harus sudah dapat ditayangkan pada waktu yang telah ditentukan.  Sehingga cerita yang ada sangat dibuat-buat bahkan sering tidak masuk akal, meskipun didalam tayangan tersebut dikatakan cerita tersebut adalah cerita fiktif.  Bagi sebagian masyarakat misalnya anak-anak tidak dapat membedakan mana cerita fiktif dan mana cerita nyata.  Yang terjadi adalah anak-anak menganggap bahwa cerita sinetron tersebut adalah benar adanya. Sehingga anak-anak mencontoh apa yang dilihat pada sinetron tersebut

     Sinetron-sinetron yang ditayangkan kebanyakan sinetron yang menceritakan tentang kenakalan anak di sekolah, kekerasan rumah tangga, perselingkuhan, perselisihan didalam keluarga, pembangkangan anak terhadap orang tua, dan lain sebagainya.  Selain jalan cerita sinetron yang kurang edukatif, bahkan menjurus kepada kenakalan atau kekerasan sering kali terjadi peniruan oleh masyarakat yang kurang pendidikannya atau masyarakat yang kurang bahagia, apalagi masyarakat yang selalu menghadapi masalah sosial.  Inilah yang sangat merisaukan kebanyakan orang tua terhadap sinetron-sinetron yang tidak edukatif seperti itu. 


     Kita juga dapat saksikan adanya sinetron yang ditanyangkan di televisi yang dibintangi oleh anak-anak dan remaja.  Cerita sinetron yang dibintangi oleh mereka sering juga menampilkan bagaimana melawan orang tua, guru atau orang yang seharusnya mereka hormati dan sayangi.  Atau terkadang kita juga dapat saksikan adegan orang tua atau guru yang menghukum anak dengan cara yang tidak seharusnya atau tidak pantas.  Atau kita juga dapat saksikan adegan-adegan kejahatan yang sangat memilukan hati, kebohongan dan kelicikan yang dikatakan dalam dialog-dialognya untuk kepentingan segolongan atau untuk kepentingan seseorang.

     Pemain sinetron kerap kali mengenakan pakaian yang kurang sesuai dengan budaya kita.  Pakaian perempuan yang menggambarkan masyarakat modern sering ditampilkan mengenakan pakaian setengah terbuka, mini, ketat bahkan terkadang sangat tidak santun.  Hal ini juga membuat orang tua khawatir anak-anak akan meniru apa yang mereka lihat.


Solusi/Saran


Dengan adanya tayangan program-program televisi yang demikian hendaknya semua pihak bahu membahu mencari solusi agar generasi kita tidak menjadi korban dari program-program yang disuguhkan televisi.  Untuk itu penulis kira solusi yang harus diambil antara lain;
1.  Orang tua diharapkan dapat mendampingi anak dibawah umur ketika anak-anak nonton televisi. 
2.   Orang tua harus selalu mengingatkan anak-anaknya tentang perilaku yang baik dan santun.  Berikan contoh-contoh yang baik di lingkungan tempat tinggal.
3.   Pengetahuan agama juga harus diberikan kepada anak agar tertanam sejak dini bahwa cinta kasih sesama manusia harus dibangun.
4.   Para guru di sekolah hendaknya mengajarkan anak murid tentang Budi Pekerti, diharapkan pula mata pelajaran ini bisa dimasukkan kedalam kurikuler yang merupakan mata pelajaran wajib yang harus diikuti oleh seluruh pelajar.  
5.   Pemerintah juga seharusnya membatasi penayangan sinetron yang kurang edukatif dan kurang sesuai dengan budaya kita, jika perlu dilakukan proses sensor agar dapat tersaring.
6.   Untuk menumbuhkan efek jera, hendaknya stasiun televisi yang masih menayangkan program-progrm sinetron yang kurang edukatif bahkan mejurus kepada perilaku negatif hendaknya diberi sanksi siaran.
7.   Hendaknya juga penegakan hukum bagi pihak-pihak yang berwenang dan berkepentingan untuk ditingkatkan pengawasannya terhadap stasiun televisi yang masih melanggar, sehingga diharapkan akan dijadikan panutan/contoh


Masalah
II.
Iklan

     Iklan-iklan di televisi khususnya iklan produk makanan dan minuman sering menyesatkan, penulis dapat mengatakan demikian karena iklan minuman bersoda namun diiklankan bervitamin.  Padahal kita tahu bahwa soda dapat memicu obesitas.  Sedangkan makanan yang diawetkan diiklankan sebagai makanan bergizi dan menyehatkan. Makanan junk food sering kali diiklankan sebagai makanan yang modern, sehat, bergizi bahkan dapat mencerdaskan dan membuat anak jadi pintar. 

     Iklan produk lainnya seperti kosmetik, pasta gigi, sabun cuci dan sabun mandi juga tidak kalah bohongnya, dalam sekejap kulit kusam menjadi kinclong, gigi goyang menjadi kuat,  baju yang sangat kotor menjadi bersih cemerlang dan tubuh yang bermasalah menjadi mulus.  Padahal ketika kita membeli produk tersebut untuk dicoba tidak sesuai dengan iklannya.  Konsumen terjebak dengan cara-cara kreatif yang dapat “merayu” konsumen.  Memang tidak salah juga ketika strtegi memasarkan suatu produk harus ada unsur rayuan bahkan paksaan, namun semua itu pilihan pemirsa yang harus bijak menyikapi iklan-iklan tersebut.

     Iklan-iklan lainnya menawarkan diskon yang besar agar produk jualannya laku, dengan strategi “buy one get one” atau gratis bagi 100 pembeli pertama atau selama promosi berlangsung keuntungan akan diraih, dan sebagainya.

     Iklan-iklan di televisi memang punya strategi tersendiri untuk menyasar konsumennya sehingga berbagai cara ditempuh untuk mendapat  target-targetnya dan berharap produknya akan laris di pasaran.

  
Solusi/Saran


      Masyarakat sebagai konsumen hendaknya harus waspada, teliti, kritis dan cermat terhadap iklan-iklan yang disajikan oleh produsen tidak saja di televisi tetapi dimana saja  iklan itu dipublikasikan baik melalui billboard, radio, flyer dan lain-lain. Masyarakat harus melihat sisi baik dan sisi buruknya dari barang-barang yang diedarkan.  Khususnya iklan makanan dengan rasa dan bentuk inovasi baru yang mengundang selera tinggi, namun belum tentu merupakan makanan sehat dan bergizi.

     Masyarakat hendaknya jangan terjebak dengan ramainya peminat dari suatu produk makanan hingga pelanggan antre sampai panjang untuk  mencobanya.  Hal ini belum tentu dapat menjanjikan makanan yang sehat dan bergizi sebagaimana yang diiklankan.  Makanan yang terlihat lezat justru sering kali menggunakan pengawet, oleh karena itu masyarakat harus berhati-hati ketika memutuskan untuk mencoba dan membeli suatu produk makanan.

     Diharapkan pula bagi pemerintah bersikap pro-aktif untuk memeriksa secara rutin khususnya bagi Badan POM melakukan operasi mendadak ke berbagai tempat penyedia makanan/minuman, serta kosmetik yang dikonsumsi masyarakat.


Masalah
III.
Berita Kekerasan

     Semakin marak kita dapat saksikan tayangan kekerasan yang ada di sekitar kita, misalnya; tawuran antar pelajar, tawuran antar warga, tawuran antar suku, ras dan agama, pembakaran rumah penduduk, penyerangan pos polisi oleh sekelompok massa, demo massa yang anarkis dan lain sebagainya.  Kebanyakan perselisihan ini terjadi disebabkan oleh hal kecil yang di blow up sehingga memicu kemarahan dan kebrutalan tidak hanya diantara komunitas mereka, melainkan dapat merambat kepada keamanan dan keselamatan warga lainnya.

     Baru kemarin kita dapat saksikan pula tawuran antar pelajar SMA 6 dan SMA 70 yang merenggut nyawa seorang pelajar SMA 6 Bulungan, Jakarta Selatan.  Seluruh stasiun televisi seakan berlomba menyiarkan berita tawuran antar pelajar.  Kejadian seperti ini jika dilihat kembali sejak Januari 2012 sampai dengan 24 September 2012 sudah 8 kasus tawuran yang menelan korban hingga meninggal dunia. 

     Biasanya seluruh stasiun televisi berlomba untuk menyiarkan berita-berita tersebut secara berulang-ulang.  Dampak dari tayangan tersebut bukan menyurutkan minat para pelajar untuk berhenti tawuran, atau tidak juga menyurutkan minat golongan yang suka kekerasan, akan tetapi lebih kepada mencontohnya.  Coba saja kita perhatikan jika terdapat demonstrasi yang melakukan suatu tuntutan di satu kota, dengan berita-berita yang ditayangkan secara berulang-ulang akan menyulut para demonstran lainnya di kota-kota lain.

     Kita juga masih ingat belum lama ini, ketika terjadi tuntutan akan penurunan harga BBM yang merebak di satu kota yang terus menerus disiarkan di televisi secara berulang-ulang, akan ikut menyulut masyarakat di tempat-tempat atau kota-kota lainnya.

Solusi/saran

     Memperhatikan banyaknya kejadian kekerasan yang terjadi di masyarakat yang selalu dipublikasikan di media massa khususnya televisi maka berbagai pihak juga harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi lagi banyak korban yang berjatuhan yang sudah sejak lama hal ini terjadi.  Bahkan maraknya kekerasan telah berulang-ulang sejak tahun 1960, artinya sudah lebih dari setengah abad terjadi pembiaran dan tidak terlihat adanya upaya memperbaiki cara-cara penanganan kekerasan di masyarakat.

     Pihak-pihak yang berwenang juga hendaknya dapat membatasi siaran tentang gambar-gambar atau video kekerasan, kebrutalan dan kekacauan yang dapat memicu sebagian masyarakat lainnya ikut melakukannya.

    Peran orang tua juga sangat diharapkan dapat memantau kegiatan anak-anaknya selepas pulang sekolah.  Memeriksa tas bawaannya sesering mungkin dan melarang keras jika kedapatan adanya benda-benda tajam

    Kasus tawuran pelajar sudah banyak merenggut jiwa, diharapkan pihak sekolah hendaknya menyediakan alat detector untuk mengetahui para pelajar yang membawa senjata tajam.  Dan menjatuhkan hukuman yang cukup berat terhadap murid-murid yang membawa senjata tajam.

    Pemerintah dalam hal ini Kementrian Pendidikan untuk memasukkan kembali mata pelajaran “Budi Pekerti” yang telah lama hilang, karena mata pelajaran ini sangat baik diikuti oleh seluruh siswa/siswi, pelajar.  Budi pekerti harus tertanam di hati setiap insan Indonesia yang memiliki dasar negara Pancasila; Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

     Disamping itu, pendidikan agama merupakan tiang penyangga bagi jiwa seseorang agar kuat didalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Tanamkan sejak dini budi pekerti yang baik bagi anak-anak di rumah, di sekolah dan di lingkungan, agar ketika mereka bermasyarakat sudah mengetahui apa yang mereka lakukan baik dan buruknya.

      Sekian dan terima kasih



 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar