Kamis, 20 September 2012

Tugas 5 - Perkembangan Tata Kota Modern Kota Paris

Pengaruh Fundamental Rencana Haussmann terhadap Modernisasi Tata Kota Paris

Siapa yang tidak tahu Paris?
Paris adalah sebuah kota yang keindahannya begitu tersohor hingga ke pelosok dunia. Mereka bilang, Paris adalah kota seni, dan bagi saya, kota Paris itu sendiri merupakan sebuah karya seni. Bahkan setiap lampu merah yang ada di Paris terlihat seperti sebuah unsur dekoratif. Namun ada satu komponen penting yang sederhana dari banyak hal lain yang turut mendasari keindahan Paris, yaitu daya tarik dari komposisi penataan kota beserta bangunan-bangunannya.
Paris, Perancis memang merupakan salah satu surga bagi para turis yang mencerminkan kemegahan arsitektur, dimana sejarah telah menyaksikan kelahiran, transformasi, dan perkembangan gaya-gaya bangunan paling monumental dalam dunia arsitektur. Beberapa bangunan paling ikonik yang pernah dikenal oleh peradaban, seperti misalnya Menara Eiffel, Katedral Notre Dame atau Arc de Triomphe, ada di Paris. Keunggulan estetika bangunan di Paris yang didukung oleh sebuah konsep penataan kota yang ramah akan masyarakat dan para pejalan kaki membuat Paris menjadi sebuah tempat yang istimewa bagi setiap orang yang mengunjunginya.

Bangsawan Haussmann

Ini semua tidak lepas dari jasa Bangsawan Haussmann, seorang perencana tata kota yang telah membentuk Paris ke dalam bentuk modernnya hari ini. Reformasinya untuk kota Paris dikenal lewat Rencana Haussmann. Ialah yang mewujudkan konsep Paris yang memiliki trotoar-trotoar lapang untuk para pejalan kaki, kafe-kafe dan toko-tokonya, juga jalanan-jalanannya yang lebar. Ia juga mengembangkan bangunan-bangunan, fasilitas-fasilitas kota, monumen-monumen bersejarah, sistem pengairan, dan juga taman-taman kota di Paris. Singkatnya, Paris yang ada pada hari ini sebagian besar berasal dari hasil renovasi di zaman Haussman.
Renovasi Paris Haussmann, atau Rencana Haussmann, adalah sebuah program modernisasi kota Paris yang digagas oleh Napoleon III dan dipimpin oleh seorang prefek Seine bernama Bangsawan Georges-Eugene Haussmann, yang berlangsung pada tahun 1853 sampai 1870. Meskipun pekerjaan ini dilanjutkan hingga akhir abad 19, jauh setelah kekalahan rezim Kerajaan Kedua di tahun 1870, proyek Haussmann sering disebut sebagai ‘Reformasi Kerajaan Kedua’.
Proyek Haussmann mencakup seluruh aspek dari perencanaan urban, baik di pusat kota Paris maupun di distrik-distrik sekelilingnya: jalanan dan jalan raya, taman-taman umum, saluran pembuangan dan saluran air, fasilitas kota, dan monumen publik. Perencanaan Haussmann dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya sejarah revolusi jalanan di kota Paris.

Haussmann Boulevard

Pendekatan Haussmann terhadap perencanaan urban ditentang dengan keras oleh orang-orang pada zamannya, namun belakangan di re-evaluasi ketika pendekatan modernis terhadap perencanaan urban mendapat celaan.
Di awal abad 19, pusat kota Paris memiliki struktur yang sama dengan strukturnya di Zaman Pertengahan. Jalinan jalanannya yang sempit dan bangunan-bangunannya yang padat menghambat aliran lalu lintas, dan berdampak pada kondisi yang tidak sehat yang dikecam oleh para ilmuwan ahli kebersihan. Dari tahun 1830 hingga tahun 1860, keadaan ini tidak berubah.
Sebenarnya, ide untuk merenovasi kota Paris sudah ada sejak zaman revolusi. Di tahun 1794, dalam masa Revolusi Perancis, sebuah Perkumpulan Seniman membentuk suatu proyek yang bertujuan untuk merealisasikan pembukaan jalan raya yang lebih lebar di Paris.

Ile de la Cite sebelum dan sesudah Renovasi Haussmann

Kemudian, Napoleon I menugaskan pembangunan jalanan kolosal di sepanjang Jalan Rivoli. Jalanan baru ini mengatasi kemacetan lebih baik daripada jalanan yang dirancang oleh Perkumpulan Seniman dalam proyek mereka. Jalanan ini juga dijadikan sebagai dasar untuk alat hukum baru bernama servitude d’alignement, yang mencegah pemilik-pemiliki real estate untuk merenovasi atau membangun ulang bangunan mereka di luar garis tertentu yang dibuat oleh badan administrasi kota.
Di penghujung dekade 1830-an, seorang prefek Paris bernama Rambuteau menyadari bahwa masalah-masalah kemacetan dan kebersihan di distrik yang mengalami kelebihan penduduk telah berkembang menjadi sebuah kekhawatiran. Ia menyadari pentingnya membiarkan udara dan manusia bersirkulasi. Gagasan ini datang dari insiden epidemi kolera di tahun 1832—yang membunuh 20.000 jiwa di Paris dari total 650.000 penduduknya—juga sistem baru bernama ‘pengobatan sosial’ yang dianalisis oleh Michel Foucault (yang salah satu fokusnya adalah memanfaatkan kelancaran sirkulasi udara). Sehingga Prefek Rambuteau membangun sebuah jalan baru di pusat zaman pertengahan kota Paris, tetapi kuasa administrasi kota terbatas karena berlakunya aturan pengambilalihan kepemilikan. Hukum baru pun dibuat untuk menyelesaikan masalah ini.

garis-garis batas dari Paris setelah mengalami perluasan

Terpilih menjadi presiden Republik Perancis di tahun 1848, Louis-Napoleon Bonaparte mendapatkan gelar Napoleon III. Dibawah naungan pangkat barunya, Napoleon III memutuskan untuk memodernisasi Paris setelah melihat kota London, sebuah kota yang telah bertransformasi sebagai hasil dari Revolusi Industri, yang menawarkan taman-taman kota yang luas dan sistem pengairan yang lengkap untuk masyarakatnya. Terinspirasi dari ide Rambuteau, dan kesadarannya akan isu-isu sosial, ia berusaha untuk memperbaiki kondisi perumahan masyarakat kelas bawah; di beberapa perumahan, kepadatan penduduk mencapai angka 100.000 orang/km2 dengan keadaan sistem sanitasi yang menyedihkan. Tujuan lainnya adalah mempermudah pemerintah setempat agar dapat mengontrol ibukota dengan lebih baik.
Untuk memuaskan ambisinya, Napoleon III membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk menyelesaikan tugas besar tersebut. Ia menemukan pria yang tepat dalam diri Georges-Eugene Haussmann, seorang pria dari badan administrasi kota yang loyalitas dan keefektifitasannya telah terbukti. Belakangan, pada tahun 1853, ia menganugerahi Haussmann dengan gelar Perfek Seine. Napoleon III dan Haussmann bekerja sama dengan baik. Napoleon III mendukung Haussmann bahkan jika ia harus bertentangan dengan para penasihatnya, dan Haussmann menunjukkan kesetiaannya setiap waktu sebagai balasannya, sambil mempromosikan ide-idenya sendiri di saat yang bersamaan seperti proyek untuk Jalan Raya Saint-Germain.
Sebagai langkah awal, pihak kota mengambil alih kepemilikan bangunan dari para pemilik-pemilik yang tanahnya berada dalam wilayah renovasi.
Haussmann memiliki kesempatan untuk bekerja dalam konteks legislatif yang telah dimodifikasi secara khusus untuk merenovasi kota. Dekrit 26 Maret 1852 mengenai jalanan-jalanan di Paris diterbitkan setahun sebelum penunjukan Haussmann oleh Napoleon III sebagai pelaksana, menghasilkan hukum-hukum yudisial utama sebagai berikut.

1. Tentang pengambilalihan kepemilikan dengan tujuan yang berdasarkan kepentingan umum: kota bisa mendapatkan bangunan-bangunan yang terletak di sepanjang jalan untuk direkonstruksi.
2. Orang-orang yang memiliki bangunan diwajibkan untuk membersihkan muka bangunan mereka setiap sepuluh tahun sekali.
3.  Perataan jalan di Paris, penataan bangunan-bangunan dan koneksi dengan saluran air diatur oleh pemerintah kota.

Pada waktu yang sama, pemerintah setempat juga mengatur hal-hal seperti dimensi bangunan dan aspek-aspek estetika bangunan:

1. Regulasi tahun 1859 untuk perencanaan urban di Paris meningkatkan tinggi maksimum bangunan-bangunan kota dari 17.55 meter menjadi 20 meter di jalan yang lebih luas dari 20 meter. Atap-atap diwajibkan untuk memiliki sudut inklinasi setidaknya 45 derajat. Kombinasi antara tinggi bangunan dan kemiringan atap memberikan karakter bagi arsitektur di zaman Kerajaan Kedua saat itu, termasuk atapmansard dan garret di lantai puncak.
2.  Konstruksi di sepanjang jalan-jalan raya baru harus memenuhi aturan-aturan yang berkenaan dengan penampilan luar bangunan. Gedung-gedung di sekitarna harus menyesuaikan tinggi lantai mereka agar berukuran sama, dan garis utama pada muka bangunan juga harus disesuaikan. Penggunaan batu tambang merupakan perintah yang diberlakukan untuk jalan-jalan raya yang baru ini. Ini adalah permulaan dari pembangunan Paris ke dalam bentuk khasnya saat ini, yaitu percampuran antara arsitektur modern dan klasik.

Rencana Haussmann merupakan refleksi dari evolusi Kerajaan: otoriter hingga tahun 1859, dan lebih fleksibel setelah tahun 1860. 20.000 rumah dihancurkan, dan lebih dari 40.000 dibangun dalam selang waktu antara tahun 1852 dan 1872. Beberapa bagian dari proyek ini masih berlanjut di bawah rezim Republik Ketiga, setelah Haussmann dan Napoleon III turun jabatan.
Renovasi Paris bersifat total. Membersihkan area perumahan bukan hanya berarti sirkulasi udara yang lebih baik tetapi juga evakuasi sampah dan distribusi air yang lebih baik. Pada tahun 1852, air minum di Paris berasal terutama dari Ourcq. Mesin uap juga mengekstraksi air dari Sungai Seine, tetapi kebersihannya bermasalah. Maka, Haussman menugaskan insinyur Belgrand untuk menciptakan sistem distribusi air yang baru untuk ibukota. Hasilnya, 600 kilometer bendungan dikonstruksi antara tahun 1865 dan 1900.
Tantangan berikutnya yang harus diselesaikan oleh renovasi Paris adalah permasalahan daerah hijau. Daerah hijau di Paris cukup langka. Setelah mengunjungi dan menikmati keindahan dari taman-taman di London, Napoleon III pun merekrut insinyur Jean-Charles Alphand—suksesor Haussman di masa depan—untuk menciptakan taman-taman dan daerah hijau. Selain itu, di setiap distrik alun-alun didirikan, dan pepohonan ditanam di sepanjang jalan raya.

Napoleon III

Upaya dari Rencana Hausmann tidak terbatas pada jalan-jalan baru dan utilitasnya, tetapi juga menentukan fasad bangunan.
Blok jalanan dirancang sebagai satu keutuhan arsitektur homogen. Bangunan tidak diperlakukan sebagai struktur mandiri, tetapi bersama-sama harus menciptakan lanskap perkotaan yang terpadu.
Peraturan dan batasan yang diberlakukan oleh pihak berwenang menghasilkan tipologi yang membawa evolusi klasik dari bangunan Paris khas era Haussmann:

1.  Lantai dasar dan basement dengan dinding bantalan yang tebal.
2.  Mezanin atau entresol pada lantai pertengahan, dengan langit-langit rendah.
3.  Lantai kedua dilengkapi dengan lantai piano nobile dan balkon.
4.  Lantai ketiga dan keempat dengan gaya yang sama namun menggunakan instrumen batuan yang lebih simpel di sekeliling jendela-jendela; terkadang tidak memiliki balkon.
5.  Lantai kelima dengan satu balkon yang tidak didekorasi.
6. Atap mansard, dengan kemiringan 45 derajat, disertai ruangan-ruangan garret dan jendela-jendela dormer.

Bangunan-bangunan khas Haussmann ini berdiri di sekitar garis horizontal yang berlanjut dari satu bangunan ke yang berikutnya: balkon dan cornice yang sempurna selaras, tanpa terlihat ceruk pemisah atau proyeksinya. Dengan risiko keseragamannya, Jalanan Rivoli dianggap sebagai model untuk jaringan jalan-jalan Paris yang baru secara keseluruhan. Untuk bagian depan bangunan, kemajuan teknologi gergaji batu dan transportasi uap memungkinkan penggunaan blok batu besar sebagai pengganti batuan sederhana. Ini memberikan efek monumental yang membebaskan bangunan-bangunan dari ketergantungan dekorasi.
Banyak orang-orang di zaman itu menganggap Napoleon III menyembunyikan motif sebenarnya—dengan menggunakan kedok meningkatkan kondisi sosial dan sanitasi—bahwa sebenarnya proyek renovasinya diarahkan pada bidang militer agar bisa berfungsi lebih efektif bagi keamanan ibukota. Berdasarkan teori ini, satu jalan yang lebar dibangun untuk memfasilitasi pergerakan pasukan dan mencegah pemblokiran barikade demonstran di jalan, dan kelurusan jalan-jalan memudahkan artileri untuk menembaki kerumunan kerusuhan dan hadangan dari mereka. Apalagi, persimpangan terbuka memungkinkan kontrol yang lebih mudah. Penafsiran ini telah banyak diulang dan diterima oleh berbagai sumber.

gambaran dari jalan raya di Paris

Meski demikian, tingkat pekerjaan itu sendiri menunjukkan bahwa tujuan Napoleon III itu, setidaknya, tidak semata-mata berorientasi pada keamanan militer kota. Di sisi lain, spektakulernya jalan-jalan raya, transformasi kota, juga termasuk pembangunan jaringan bawah tanah modern selokan dan air tawar, instalasi rencana bangunan yang efisien di permukaan, dan harmonisasi arsitektur sepanjang jalanan baru telah terwujud.

kota Paris modern

Transformasi Haussmann atas Paris membawa perbaikan yang nyata terhadap kualitas hidup di ibukota. Penyakit epidemi (seperti tuberkulosis) berhenti, kualitas sirkulasi udara meningkat, dan bangunan-banguanan baru yang lebih baik dibangun, bahkan lebih fungsional daripada pendahulu mereka. Paris pun tumbuh menjadi sebuah nama yang tak mungkin luput dari ingatan, sebuah kota yang dicintai penduduknya; sebuah kota yang dirindukan setiap pengelana dari sudut-sudut dunia.
Dan pada akhirnya, Paris yang dicintai para turis hari ini, adalah hasil dari sebuah sejarah panjang yang melibatkan gagasan-gagasan hebat para pemikir masa depan dari masa lalu. Paris adalah sebuah mahakarya, sebuah panutan untuk kota-kota lain di manapun di belahan lain bumi yang mencerminkan kepedulian para pendahulunya untuk membentuk ruang yang lebih baik untuk waktu yang akan datang. Jadi, sah-sah saja jika Ernest Hemingway mencoba menjabarkan keindahan kota Paris yang dicintainya dengan amat sederhana: “Hanya ada dua tempat di dunia ini dimana kita bisa hidup dengan bahagia: di rumah dan di Paris.”




Sumber-Sumber:
3. arthistoryarhchive.com/arthistory/architecture/haussmans-architectural-paris.html
4. parisnotes.com/architecture/parisbuildings.html
8. http://en.wikipedia.org/wiki/Georges_Eug%C3%A8ne_Haussmann
9. about.com/architecture
10.  allhistory.com/european_architecture_history.html
11.  en.wikipedia.org/wiki/french_architecture.html

1 komentar: