Sabtu, 22 September 2012

tugas 4- Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Pendahuluan
Krisis kemanusiaan sudah membumi sekarang-sekarang ini.  Menurut kamus, krisis dapat berarti keadaan genting atau payah yang dialami seorang atau segelintir umat manusia, keadaan yang berbahaya, keadaan sakit, atau saat dimana suatu keputusan harus dibentuk atau diambil.
Asal muasal krisis pangan…
Dalam pergulatan manusia selama hidupnya, mencari pangan adalah pergulatan yang paling tua.  Riwayat pencarian pangan tentu saja ada sejak manusia muncul di muka bumi ini.
Pada zaman prasejarah tidak jarang pergulatan itu menghasilkan krisis pangan karena kebutuhan pangan manusia lebih besar dari yang disediakan alam.  Munculnya teknik budidaya pada masa neolitik sekitar 5.000 tahun Sebelum Masehi diduga menjadi titik di mana manusia berusaha mengatasi krisis pangan.
Semula yang ada adalah teknik pencarian pangan yang berpindah dengan cara seperti berburu, kemudian berubah menjadi pertanian yang menetap hingga muncul apa yang disebut teknik budidaya.
Teknik budidaya itu hingga sekarang terus berkembang, tetapi pada kenyataannya problem pangan juga terus bermunculan. Dalam catatan sejarah, krisis pangan juga terjadi di Yunani kemudian di Romawi. Penduduk sampai berdoa kepada dewa untuk meminta pangan.
Beberapa faktor penyebab krisis pangan antara lain:
1.Umat manusia yang makin bertambah 

Ketika penduduk semakin bertambah maka konsumsi dunia yang semakin tinggi. Tingginya permintaan ini disebabkan salah satunya oleh semakin bertambahnya penduduk di tiap-tiap negara setiap tahunnya.
 Laster Brown, kepala lembaga kebijakan bumi di Washington DC, mengemukakan bahwa keterbatasan pangan dapat menyebabkan runtuhnya peradaban dunia.  Menurut Brown, manusia mempertahankan kehidupannya dengan mengikis tanah dan menghabiskan persediaan air tanah lebih cepat dari pemulihannya kembali. Laporan kompas menjelaskan bahwa populasi manusia di dunia mengalami peningkatan sebesar 1,2% setiap tahunnya sehingga kenaikan konsumsi pangan harus bisa mengimbangi pertambahan penduduk demi kelangsungan hidup dimasa depan.



2.Cuaca Ekstrem

    Perubahan cuaca cukup ektrem yang terjadi di beberapa negara termasuk salah satu faktor yang memberikan dampak negatif bagi produksi pangan. Beberapa wilayah bahkan tidak hanya mengalami gagal panen, tetapi juga turut merusak lahan produksi sehingga kecukupan pangan bisa terganggu dalam waktu yang cukup lama. Hal ini tampak jelas di beberapa negara, baik negara maju, berkembang maupun miskin. Pada bulan November 2007 terjadi topan Sidr menewaskan ribuan orang di Bangladesh dan menyapu lahan-lahan padi di negara itu. Lebih lanjut, berita dari media Epochtime menyebutkan bahwa pada tahun 2010 banyak wilayah penghasil pangan dunia diterpa berbagai bencana alam dan musibah yang menyebabkan produksi bahan pangan merosot drastis.

3. Pembatasan Ekspor

    Kenaikan harga pangan dunia juga dipicu oleh perlindungan persediaan pangan dalam negeri masing-masing negara sehinggamenurunkan kuantitas jumlah ekspor bahan makanan di pasaran internasional. Direktur organisasi perdagangan dunia (WTO), Pascal Lamy, di Jenewa pada 22 January 2011, Swiss, mengemukakan bahwa pembatasan ekspor saat ini menjadi penyebab utama melonjaknya harga pagan dunia. Kebijakan tersebut  mengkhawatirkan karena tidak hanya akan mengganggu harga pangan di pasaran, tetapi juga ancaman bagi negara-negara yang amat bergantung kepada pasokan impor untuk memenuhi kecukupan pangan mereka. Lamy mengungkapkan pembatasan ekspor telah memainkan peran utama dalam krisis pangan.

4. Trend energi alternatif  biofuel
    
Salah satu faktor penyebab krisis pangan dunia adalah kebijakan energi alternatif biofuel yang banyak dikembangkan di negara-negara industri maju. Jagung dan kelapa sawit misalnya, kedua pangan itu sebelumnya  untuk konsumsi masyarakat dunia, tetapi saat ini banyak dijual untuk biofuel yang permintaannya cukup tinggi. Keterkaitan biofuel dengan kenaikan harga pangan memang sangat erat. Hal ini terjadi karena beberapa komoditi pangan kini dipergunakan sebagai bahan baku biofuel. Jika harga beli jagung dan kedelai untuk kebutuhan  biofuel lebih tinggi dibanding harga beli untuk kebutuhan konsumsi, maka pelaku pasar memiliki kecenderungan untuk menjual hasil panen jagung dan kedelai mereka ke produsen biofuel. Seperti yang terjadi di Cina, pengalihan produksi jagung untuk biofuel menyebabkan kelangkaan pakan ternak di negara itu.

5. Industri Ternak

Industry ternak tanpa disadari pun juga menyebabkan krisis pangan. Seperti di beberapa negara penghasil gandum, 70 % hasil gandum itu diberikan untuk pakan ternak.  bakar bio dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan karena pengalihan makanan. Lebih dari tujuh kali biji-bijian dipakai untuk bahan bakar nabati diberikan kepada hewan ternak daripada diberikan langsung kepada orang-orang, sehingga menimbulkan keprihatinan yang lebih besar.




Jadi, Krisis pangan adalah suatu keadaan gejolak yang timbul akibat kurangnya produksi pangan untuk kebutuhan masyarakat.  Agraris adalah wilayah yang memiliki keunggulan absolut untuk pertanian. Karena adanya krisis pangan yang melanda dunia maka akan menimbulkan kelaparan. Sekitar satu milyar orang mengalami kelaparan di muka bumi ini dan setidaknya terdapat empat puluh juta orang meninggal karena kelaparan setiap tahunnya Walaupun demikian, lebih dari sepertiga panen gandum dunia yang seharusnya untuk manusia dipakai untuk ternak. Di Amerika Serikat, ternak menghabiskan 70% dari semua hasil gandum. Jika kita berikan kepada manusia, tidak seorang pun akan kelaparan.
 Beberapa daerah-daerah miskin miskin di seluruh dunia pasti menghadapi masalah yang serupa.  Sektor pertanian di AS saat ini terancam kekeringan parah, demikian juga wilayah dekat Laut Hitam. Sementara curah hujan di India sangat sedikit, belum lagi kelaparan di beberapa wilayah Afrika. Ini mengindikasikan dunia terancam krisis pangan. Harga beras dunia sekarang adalah yang tertinggi dalam 20 tahun ini. Pada 30 tahun terakhir ini penghasilan beras di dunia adalah yang terendah. Pada awal tahun 2007, harga gandum adalah US$210 per ton. Pada tahun 2008, hanya setahun kemudian, gandum telah meningkat sebesar US$ 440 per ton, i.e., lebih dari dua kali lipat dalam waktu setahun. Penghasilan gandum adalah yang terendah dalam 50 tahun. Stok gandum dunia cukup hanya untuk 5 bulan. Ini berarti apabila tidak adanya gandum baru yang ditanam maka suplai gandum akan habis dalam waktu lima bulan. Ini adalah suatu hal yang sangat serius.

Negara-negara Asia saat ini sedang berjuang untuk menjaga panen berasnya tetap kuat, sementara negara anggota G20 mencoba untuk menahan ancaman lonjakan harga pangan.
di India, semua mata memantau kondisi inflasi pangan yang terjadi akibat curah hujan yang sangat jarang.  Curah hujan turun 15,2% di bawah rata-rata pada pertengahan Agustus ini. Ini membuat harga beras di Asia bakal naik 10% pada bulan depan, karena pasokan menipis. Krisis pangan yang terjadi di Indonesia sangat tidak pantas yang menyebabkan harus mengimpor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mengapa demikian ? karena Indonesia memiliki tanah pertanian yang sangat luas dan cocok dengan tanah dan iklim sebagian besar pangan yang kita butuhkan. Belum lagi katanya 70 persen penduduk Indonesia adalah petani yang tentunya menghasilkan kebutuhan pangan masyarakat dinegeri ini. Dalam berita yang pernah saya tonton di tv, mengatakan bahwa barang-barang yang dimpor untuk kebutuhan pangan adalah ikan lele, buah-buahan, bawang, kentang, garam, kedelai, dan beras. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Indonesia tidak memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan tersebut ? ternyata salah, karena swasembada beras pernah dilakukan pada zaman Suharto, pemeliharan ikan lele semua cocok di Indonesia, buah-buahan juga cocok, Indonesia memiliki laut yang sangat luas untuk memproduksi garam. Jadi tida ada alas an untuk mengatakan bahwa Indonesia harus mengimpor sebelum memberdayakan potensi yang Indonesia miliki.



Solusi untuk memecahkan masaah pangan di dunia:
Pertama, negara perlu memaksimalkan kemampuan nasional dalam konsep ketahanan pangan. Sektor pangan seprti pertanian, perkebunan dan peternakan perlu difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Pemerinah dituntut untuk berperan dalam menjamin ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat pada semua lapisan sosial. Pemerintah perlu menjadikan sektor pertanian sebagai sektor utama pembangunan ekonomi. Dengan memaksimalkan kemampuan domestik dalam arti sumber daya alam (lahan) dan para ahli (teknologi), diharapkan ketahanan pangan dapat terwujud.
    
Kedua, dibutuhkan peran pemerintah yang proporsional dalam menjaga stabilitas harga produk pangan sehingga masyarakat pada semua lapisan sosial mendapatkan hak dan kesempatan yang sama dalam akses pemenuhan kebutuhan pangan. Peran pemerintah dibutuhkan dalam melaksanakan kebijakan yang lebih berpihak pada petani dan kaum ekonomi lemah dengan transparansi subsidi impor dan prioritas kebijakan impor dalam kondisi darurat sehingga harga produk pangan relatif stabil dan semua masyarakat mendapat akses yang sama dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
    
Ketiga, pemerintah harus dapat melaksanakan kebijakan untuk menjaga kestabilitan harga pangan. Disaat panen raya, misalnya, pemerintah harus membeli produk pangan dengan harga yang rasional  demi kesejahteraan petani, sedangkan disaat gagal panen, pemerintah menjadi tiang penyangga dalam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan. Pemerintah harus lebih bijak dalam menentukan harga produk pangan. Pemerintah juga dapat memberikan suntikan dana dan fasilitas pada para petani sehingga hasil produksi pertanian akan menigkat.
    
Keempat, sektor pertanian perlu didorong untuk selalu melakukan inovasi-inovasi mutakhir dengan memberikan insentif pertanian supaya petani termotivasi dan berkembang.  Aspek ini yang secara tidak langsung sangat mempengaruhi kinerja dan semangat hidup petani adalah akses pendidikan dan kesehatan bagi keluarganya sehingga dukungan terhadap aspek-aspek ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sebagai aktor utama dalam perkembangan sektor pertanian. Dengan peningkatan aspek tersebut, petani tidak akan terlalu pusing-pusing memikirkan urusan keluarga dan bisa fokus ke hasil pertanian mereka. Hal ini dapat membuat peningkatan pada hasil pertanian yang ada dan krisis makanan pun dapat ditekan.

Kelima, kadang kala melihat makanan sisa tidak terlalu membangkitkan selerea kita. Kita lalu biasa membuangnya lansung ke tong sampah. Padahal makanan tersebut masih dapat kita makan. Seharusnya kita tidak menghamburkan makanan seperti itu.  Kita dapat mengambil langkah kecil untuk dilakukan di lingkungan kita seperti menghabiskan makanan yang kita ambil atau mengambil makanan secukupnya. Lauk yang sisa pun apabila masih dalam kondisi bagus dapat dipanaskan kembali untuk dimakan
dilain waktu. Karena bisa jadi makanan yang kita buang tersebut masih meninggalkan protein atau zat-zat yang masih bermanfaat bagi tubuh kita. Sayang kan kalau gizi-gizi itu terbuang secara sia-sia?

IMG_8298.JPG

Sumber-sumber:
finance.detik.com
Dokumen pribadi penulis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar