Selasa, 18 September 2012


Perkembangan Perfilman Indonesia

Dalam Kamus bahasa Indonesia film terbagi menjadi 2 pengertian. Pertama, film merupakan sebuah selaput tipis berbahan seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negatif dari sebuah objek. Yang kedua, film diartikan sebagai lakon atau gambar hidup. Dalam konteks khusus, film diartikan sebagai lakon hidup atau gambar gerak yang biasanya juga disimpan dalam media seluloid tipis dalam bentuk gambar negatif.

Periode 1900-1942. Awal dari munculnya film yakni berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.
 Film lokal pertama Kali muncul pada tahun 1926 dengan judul film Loetoeng Kasaroeng yang di sutradarai oleh L Houveldorp, walau dibikin oleh orang asing, tapi ini film cerita pertama di Indonesia yang menampilkan cerita asli Indonesia, sebuah legenda yang terkenal dari Jawa Barat. Antara lain berisi nasehat, janganlah memandang sesuatu dari kulitnya saja. Purbasari diejek karena punya pacar seekor lutung (Guru Minda), sedangkan kakaknya Purbararang membanggakan kekasihnya, Indrajaya yang manusia. Ternyata lutung itu sebetulnya adalah seorang pangeran tampan, titisan dewi Sunan Ambu. Guru Minda jauh lebih tampan dari Indrajaya. Film ini menggunakan sistem film cerita sehingga tidak menggunakan suara.
Sejak tahun 1931, pembuat film lokal mulai membuat film bicara. Percobaan pertama antara lain dilakukan oleh The Teng Chun dalam film perdananya Bunga Roos dari Tjikembang (1931) akan tetapi hasilnya amat buruk. Beberapa film yang lain pada saat itu antara lain film bicara pertama yang dibuat Halimoen Film yaitu Indonesie Malaise (1931).
Pada awal tahun 1934, Albert Balink, seorang wartawan Belanda yang tidak pernah terjun ke dunia film dan hanya mempelajari film lewat bacaan-bacaan, mengajak Wong Bersaudara untuk membuat film Pareh dan mendatangkan tokoh film dokumenter Belanda, Manus Franken, untuk membantu pembuatan film tersebut. Mereka membuat perusahaan film ANIF (Gedung perusahaan film ANIF kini menjadi gedung PFN, terletak di kawasan Jatinegara) dengan dibantu oleh Wong bersaudara dan seorang wartawan pribumi yang bernama Saeroen. Akhirnya mereka memproduksi membuat film Terang Boelan (1934) yang berhasil menjadi film cerita lokal pertama yang mendapat sambutan yang luas dari kalangan penonton kelas bawah.
Periode 1942 – 1949. Pada masa ini, Pemutaran film di bioskop hanya dibatasi untuk penampilan film -film propaganda Jepang dan film-film Indonesia yang sudah ada sebelumnya, sehingga bisa dikatakan bahwa era ini bisa disebut sebagai era surutnya prodkusi film nasional.
Pada 1942 saja, Nippon Eigha Sha, perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, hanya dapat memproduksi 3 film yaitu Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam.
Karena pada periode ini kekuasaan berada di pihak Jepang maka perfilman Indonesia tidak bisa berkembang,para seniman tidak bisa mengekspresikan dirinya, salah satu jalan keluarnyabagi para seniman yang berbakat  adalah panggung sandiwara.  sebuah kumpulan sandiwara amatir Maya didirikan, dimana didalamnya bernaung beberapa seniman-seniwati terpelajar dibawah pimpinan Usmar Ismail yang kelak menjadi Bapak Perfilman Nasional.
Periode 1950 – 1962. Hari Film Nasional diperingati pada 30 maret 1950. Tanggal, bulan, dan tahun tersebut ditetapkan sebagai Hari Film Nasional karena bertepatan dengan hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail dan merupakan film buatan asli orang Indonesia.
Pada tahun 1951 dibangun bioskop megah bernama Metropole sehingga ketertarikan masyarakat akan film terus melonjak. Pada tahun 1955 terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya melebur menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI).
Periode 1962 – 1965. Era ini terjadi kerusuhan karena terjadi pengganyangan film-film karena imperialisasi Amerika, pemboikotan, pencopotan papan reklame, dll. Dapmpaknya terjadi pada penurun drastis bioskop dan disinyalir merupakan era suram perfilman Indonesia.
Periode 1965 – 1970. Peredaran film rusak karena ada gerakan anti-imperialisme, sedangkan produksi film nasional masih sedikit sehingga pasokan untuk bioskop tidak cukup. Saat itu inflasi yang sangat tinggi melumpuhkan industri film. Kesulitan ini ditambah dengan kebijakan pemerintah mengadakan sanering pada tahun 1966 yang menyebabkan inflasi besar-besaran dan melumpuhkan daya beli masyarakat. Pada akhir era ini perfilman Indonesia cukup terbantu dengan membanjirnya film impor sehingga turut memulihkan bisnis perbioskopan dan juga meningkatkan gairah masyarakat untuk menonton yang pada akhirnya meningkatkan jumlah penonton.
Periode 1970 – 1991. Perfilman Indonesia sempat memiliki sejarah yang gemilang sekitar tahun 80-an, banyak film-film yang menduduki layar tancap di Indonesia untuk dinikmati para rakyat seperti  film Catatan si Boy, Blok M, Aladin dan Lampu Wasiat, Gema Hati Bernyanyi, Tjoet Nja’ Dhien,  dan masih banyak lainya. Kita tahu beberapa film lama ada yang dibuat kembali seperti Catatan si Boy, dan terbukti film yang diluncurkan tahun lalu ini laku keras dikalangan rakyat Indonesia, berarti masyrakat Indonesia memang perlu film lokal yang mempunyai kualitas dan keterampilan yang bagus.
Sayang puncak kejayaan Film Indonesia pada tahun 80-an tidak berlanjut ke tahun 90-an. Pada tahun 90-an, perfilman Indonesia memasuki masa suram. Hampir semua film Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa dengan adegan menyerempet, namun beberapa film yang mempunyai unsur tersebut sempat terkenal dan menjadi favorit masyarakat antara lain adalah Warkop DKI, film yang bercerita tentang 3 sekawan (Dono, Kasino, Indro) ini berhasil sukses sebagai film series, film ini merupakan film bergenre komedi namun ada beberapa adegan yang tidak patut dilihat anak tapi nyatany rakyat Indonesia senang dengan fil series ini dan film ini akan selalu dikenang nantinya. Tetap saja kualitas film Indonesia menurun di tahun 90-an, terbukti dari film Indonesia yang tersingkir dari bioskop – bioskop, digantikan oleh Film-film  Hollywood dan Hong Kong. Masalah sumber dana, Sumber Daya Manusia, dan kebijakan pemerintah juga mempengaruhi terpuruknya film Indonesia dan semakin memperlebar jarak antar film, bioskop, dan penonton. Padahal ke tiga aspek ini seharusnya memiliki hubungan yang sama dalam menjalan industri film.

Periode 2000-Sekarang. Terpuruknya Film Indonesia di Negara sendiri berlangsung sampai awal tahun 2000, sampai muncul nya film Petualangan Sherina yang diperankan oleh Sherina Munaf. Film drama musical karya Riri Riza dan Mira Lesmana  berhasil menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Setelah film Petualangan Sherina, mulai muncul film dengan berbagai tema, Film Jelangkung yang merupakan tonggak tren film horor remaja., Film Ada Apa dengan Cinta? yang mengorbitkan sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung, Biarkan Bintang Menari, Eiffel I’m in Love,  Arisan! Selain film komersil, perfilman Indonesia berhasil melahirkan banyak film non komersil yang berhasil memenangkan penghargaan internasional, antara lain : Film Pasir Berbisik, Daun di Atas Bantal, dll.

Sekarang perfilman Indonesia nampaknya mengalami kemajuan yang pesat, walaupun sebagian besar film masih didominasi dengan film yang bergenre horror, sexuality, dan komeditetap saja Indonesia memiliki film berkualitas internasional seperti Laksar Pelangi , Sang Pemimpi, Perempuan Berkalung Sorban, Darah Garuda, dan sampai yang terakhir muncul film Sang Pencerah. Film-film seperti ini lah yang harus dilestarikan yang  dapat ditonton oleh umum dan mempunyai pesan moral dan patut di contoh oleh pemuda-pemudi Indonesia.
Dalam jenis film animasi, sebenarnya Indonesia mempunyai  kualitasnya yang sama dengan negara tetangga hanya saja kurangnya perusahaan film yang berminat untuk memproduksi film animasi yang ditujukan untuk anak-anak ini mempersempit kebebasan berkreasi karena sehingga banyak pembuat film animasi yang menjual film mereka ke luar negri dan ternyata bisa terkenal di negara tersebut sehingga banyak pula para pembuat film animasi yang merantau ke luar negri, selain penghasilan yang lebih banyak, film meraka juga banyak peminat. Seharusnya pemerintah dapat membantu mereka yang sebenarnya bisa membawa nama Indonesia terkenal di dunia dengan cara hargai karya mereka  dengan memproduksikan di Indonesia.
Indonesia memiliki saran perfilman yang memadai, bisa dilihat dengan banyaknya produksi film yang bisa memberi alternatif pilihan film kepada penonton. Namun banyak pula film yanghanya mengejar omzet semata dengan mengundang  unsur negatif yang merusak moral kita. Para penonton sebaiknya sebelum menonton me-review film terlebih dahulu yang bisa dibuka di situs review film Movietei.com.
Seperti roda yang terus berputar, seni merupakan kegiatan yang selamanya ada dan selalu ada peningkatan kualitas di dalamnya. Kita melihat sekarang muncul sutradara-sutradara Indonesia yang bergairah untuk membangkitkan perfilman Indonesia, karya-karya sineas seperti Garin Nugroho, Riri Reza, Rizal Mantovani, Ifa Isfansyah, Jose Purnomo dan beberapa sineas lainnya memberikan  warna baru dalam perfilman Indonesia.
Berikut adalah profil, karya, dan prestasi salah satu sutradara Indonesia yaitu, Ifa Isfansyah

Lahir: Yogyakarta, 16 Desember 1979
Umur: 32 tahun
Pendidikan terakhir: Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Film yang dibuat:  1. Air Mata Surga
2. Mayar
3. Harap Tenang, Ada Ujian!
4. Setengah Sendok Teh
5. Garuda di Dadaku
6. Sang Penari
Prestasi: 1. Diundang oleh Festival Film-Video Indonesia 2002 denagn film Air Mata Surga sebagai film pembuka.
 2. Meraih penghargaan SET Award untuk penata kamera terbaik dan penata artistik terbaik pada Festival Film-Video Independen Indonesia 2002 dan berhasil masuk di beberapa festival termasuk Roterdam dan Hamburg Internationall Film Festival.
3.  Film pendek terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Festival Film Pendek Konfiden dan Festival Film Indonesia 2006, dan berhasil masuk di sesi international competition Short Shorts Film Festival 2007, Tokyo, Jepang dan Alamaty Film Festival di Kazakhstan serta Three Eyes Film Festival di Mumbai.
4.  Salah satu sineas Asia yang terpilih untuk mengikuti Asian Film Academy di Pusan International Film Festival 2006 dan berhasil memenangkan scholarship award di Fakultas Film dan Video Dongseo University/Im Kwon Taek Film School, Korea.
Dan tentu saja setiap negara mempunyai fil lokal favorit mereka sendri, dibawah ini adalah 10 film Indonesia terbaik sepanjang sejarah perkembangan film:
1.Laskar Pelangi (2008)                                           6. Badai Pasti Berlalu (1977)
2. Naga Bonar (1986)                                               7. Arisan (2003)
3. Ada Apa Dengan Cinta? (2001)                          8. GIE (2005)
4. Tjoet Nja’ Dien (1986)                                         9. Si Doel Anak Betawi (1973)
5. Kejarlah Daqku Kau Kutangkap (1985)           10. Petualangan Sherina (1999)
Semoga di era kebangkitan ini perfilman Indonesia dapat terus menghibur rakyat Indonesia maupun rakyat internasional dan terus menumbuhkan bibit-bibit baru yang nantinya akan menurus kreasi perfilman Indonesia ke kancah dunia. Sukses Indonesia!.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar