Kamis, 20 September 2012

Tugas 4 - Solusi untuk Kemanusiaan


Hitam, Putih, dan Abu-Abu

                “Bahwa sebenarnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa—“
  
              Apa kita sudah merdeka? Beragam jawabannya. Ya, kita sudah merdeka enam puluh tujuh tahun yang lalu. Apa buktinya? Naskah proklamasi ialah buktinya. Preambule yang dibacakan setiap upacara ialah buktinya. Adanya Pancasila sebagai dasar ideologi negara adalah buktinya. Garis-Garis Besar Haluan Negara adalah buktinya. Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) dan rentetan undang-undang lain sebelumnya ialah buktinya. Lambang Garuda Indonesia, lambang kebesaran Indonesia, ialah buktinya. Lagu-lagu kebangsaan nasional, yang menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia terdahulu, adalah buktinya. Kata Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah buktinya. Kita, bangsa Indonesia itu sendiri, merupakan buktinya.

                Apa kita sudah merdeka? Belum, belum sepenuhnya.

                Kita, bangsa Indonesia yang menjejaki tanah Ibu Pertiwi pada saat ini merupakan bukti kemerdekaan Indonesia, sekaligus saksi bisu yang buta akan permasalahan-permasalahan yang masih mengekang kemerdekaan Indonesia itu sendiri. Bila ditanyakan bukti akan pernyataan di atas, tidak akan cukup kata-kata ini menggambarkan seberapa banyak kerugian yang kita terima karena tingkah-tingkah laku yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri. Merdeka adalah bagaimana kita bebas mendapatkan hak dan kewajiban kita. Merdeka adalah tentang bagaimana kita bisa berdiri sendiri, menyerukan panji-panji kita, tanpa tuntutan atau kekangan dari pihak lain. Merdeka adalah tentang bagaimana kita berhak memilih apa yang ada di hadapan kita, bagaimana kita berhak dan bebas memilih pedoman hidup kita.

                Indonesia sendiri merupakan negara yang cenderung agamais. Hal ini tercantum pada dasar negara Pancasila ayat pertama yang berbunyi ketuhanan yang maha esa. Dengan kata lain, bisa dikatakan Indonesia sendiri merupakan negara dengan banyak agama. Rakyatnya berhak untuk memeluk agama yang dipilihnya masing-masing secara pribadi. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen) Bab XI yang memang mengacu pada agama; yang berbunyi:

Pasal 29
(1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu.

                Sayangnya, seperti yang seringkali terjadi, keputusan para pendiri tonggak negara ini disalahgunakan dengan berbagai macam cara, baik yang sengaja ataupun tidak sengaja. Kini agama dianggap sebagai sebuah alat untuk melindungi, dan memerangi. Agama dianggap sebagai sebuah hal yang menimbulkan sifat rasa benci, dan juga menjadi alasan mulainya perpecahan, bahkan perang. Agama dianggap sebagai sebuah pelindung; sebuah kain lebar yang menjadi penutup dari segala macam peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi.
               
                Ambil saja sebuah contoh besar dari perselisihan yang telah lama berakar di Indonesia; yaitu perselisihan antara FPI (Front Pembela Islam) dengan agama lain, terutama agama kristen. Bukannya saya bermaksud diskriminatif dalam hal ini, tetapi memang begitulah adanya.
               
                Yang harus menjadi catatan bagi semua orang adalah, semua agama adalah benar di mata penganutnya. Kita tidak bisa membenci sekelompok orang karena agamanya. Telah banyak kerusuhan yang terjadi karena orang-orang sejenis ini, seperti pengrusakan tempat-tempat ibadah agama lain, pencemaran nama-nama tuhan atau dewa-dewa dari agama lain, serta pernyataan-pernyataan di media massa yang dianggap mengandung unsur SARA yang kental.
                Tidak hanya di Indonesia, kejadian-kejadian seperti ini tampaknya sudah mendunia. Contoh besar lainnya adalah perselisihan antara umat Islam dan Yahudi di Palestina, yang telah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Dari kedua belah pihak, keduanya sama-sama salah. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah dalam kejadian ini. Sekilas, ini hanya terlihat seperti perselisihan antar negara biasa—tetapi, sebenarnya, ini adalah perselisihan antar dua umat yang berbeda.

                Masih banyak contoh-contoh yang telah beredar di dunia. Para umat Islam yang memakai kerudung banyak dicela dan menjadi sasaran dari tindak kejahatan di daerah Barat sana. Di India, masih terlihat perselisihan antara umat Hindu dan Budha, yang sebenarnya mengandung ajaran yang sama; hanya saja berbeda sangat sedikit dalam pemahamannya. Hal ini pada akhirnya berujung pada sikap diskriminasi orang terhadap orang atau umat lainnya.
                Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusian untuk membeda-bedakan yang lain. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik sukuantargolongankelaminras,agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi. Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan menghambat adanya peluang yang sama. Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi diskriminatif saat diterapkan di lapangan. Diskriminasi agama, kurang lebih berartu perlakuan yang tidak adil terhadap individu tertentu berdasarkan agamanya.
                Dibandingkan dengan di negara-negara lain, Indonesia bukan merupakan negara yang terlalu kental akan perselisihan-perselisihan seperti ini. Tetapi, tetap saja, masih bisa kita lihat banyaknya kerusuhan yang jika dirunut dari awal kejadian, merupakan perselisihan antar agama atau disebabkan karena ketidaksukaan akan sebuah agama tertentu.
                Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta, āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. Émile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya
                Di Indonesia, diskriminasi agama besar-besaran pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Dulu pernah dikeluarkan Keputusan Presiden nomor 6 tahun 2000 yang menyatakan bahwa penganut agama Konghucu, yang mayoritas merupakan orang-orang yang berasal dari etnis Cina, tidak boleh melakukan ibadah agamanya secara terbuka. Mereka tidak boleh mendirikan klenteng, tidak boleh merayakan hari-hari besar mereka. Tapi kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, aturan ini dicabut karena memang tidak sesuai dengan pasal 29 di Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen).
                Sayangnya, kini, hal tersebut terulang kembali, meskipun tidak ada pernyataan resmi seperti tahun 2000 yang lalu. Masih banyak orang yang bentrok karena pandangan berbeda yang disebabkan oleh agamanya. Banyak perpecahan yang terjadi karena agama, yang seharusnya merupakan sebuah unsur yang membawa ketenangan dan kedamaian pada pengikutnya. Banyak orang yang saling benci karena perbedaan agama, dan banyak orang yang tidak mau menjalin persahabatan dengan orang-orang yang agamanya berbeda.
                Mau tidak mau, ini adalah suatu bukti yang secara tidak langsung menyatakan bahwa Indonesia belum merdeka sepenuhnya. Seharusnya, bila Indonesia sudah merdeka, kita bisa menjunjung tinggi nilai-nilai yang sarat dengan ciri-ciri asli bangsa Indonesia. Tapi yang terjadi malah kebalikannya. Kita menyalah gunakan ayat pertama Pancasila. Kita membela agama masing-masing dengan cara yang salah. Memang, bila agama kita diinjak-injak atau dicela, sudah seharusnya kita membela. Tapi tidak perlu dengan cara kekerasan yang sangat merugikan banyak orang, seperti kerusuhan, atau penggebrekan ke tempat-tempat suci atau penjarahan orang-orang pemeluk agama tersebut. Kita tidak perlu menyerang seseorang hanya karena pandangan hidup yang berbeda. Bagaimanapun juga, setiap agama seharusnya memberikan kedamaian tanpa perpecahan kepada para pemeluknya.
                Seharusnya, rakyat Indonesia lebih mengembangkan rasa tenggang rasa antara pemeluk-pemeluk agama lainnya. Tidak seharusnya kita mencela mereka. Kita harus menjaga persahabatan antar agama. Maraknya kasus-kasus yang terjadi di luar negeri tidak seharusnya merubah pandangan kita terhadap apa yang sudah ditetapkan dan telah menjadi dasar kehidupan kita dari awal; yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Amandemen).
                Para pemuka-pemuka agama, terutama pemuka-pemuka agama yang juga sekaligus memiliki massa yang besar atau berperan penting dalam organisasi masyarakat dalam bidang agama, seharusnya bisa menjelaskan kepada para pengikut agama tersebut bagaimana seharusnya mereka bersikap terhadap agama lain. Setiap agama adalah benar di mata penganutnya. Setiap agama memiliki ritualnya masing-masing, dan setiap agama mengajarkan serta memberikan kedamaian. Kedamaian itu sendiri tidak bisa dicapai dengan jalur kekerasan.
                Kita hidup di Indonesia. Kita melihat apa yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun kita hidup. Di Indonesia, kita tidak bisa memaksakan kehendak orang lain akan agama mereka. Mereka memiliki hak yang sama untuk menganut, memeluk, dan menjalankan agama yang telah mereka pilih. Mereka memiliki kemerdekaan untuk memilik agama yang mereka suka. Semuanya kembali ke pandangan awal kita; bagaimana kita memandang agama lain, bagaimana kita memandang agama kita sendiri. Apakah hitam, dimana kita menganggap semua agama selain agama kita adalah agama yang salah dan segala macam cara dilakukan untuk menghapus kesalahan tersebut; abu-abu, dimana kita menganggap tak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah segala perselisihan SARA yang terjadi; atau putih, dimana kita menganggap bahwa semua agama memiliki jalannya masing-masing?



 Sumber:
www.id.wikipedia.com
www.google.com
Dokumen Penulis
www.wordpress.com
www.youtube.com
                

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar