Sabtu, 01 September 2012

Tugas 1 - Autobiografi Fransisca Bianca


16 Tahun yang Penuh Makna

saya ketika baru lahir
Nama saya Fransisca Bianca atau biasa dipanggil Bianca. Dan ini merupakan perjalanan hidup saya selama 16 tahun. Saya lahir pada hari Rabu, tanggal 6 Maret tahun 1996 pukul 01.30 pagi di Rumah Sakit Bersalin Asih. Nama Bianca memiliki arti “putih” sedangkan Fransisca berasal dari nama Santo Fransiskus yang merupakan nama baptis saya. Saya merupakan anak pertama dari ayah saya yang bernama Johannes Benedictus Indrasasana dan ibu saya yang bernama Reniwati Darmakusumah. Saya lahir melalui proses caesar walaupun pada awalnya saya hendak lahir secara normal. Mama saya pun mengusahakan saya lahir normal sehingga waktu itu mama saya mencoba berolahraga setiap hari. Tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, posisi saya tidak bisa lahir secara normal. Pada saat lahir berat saya 2,9 kg dan dengan panjang 49 cm. Dokter yang menangani kelahiran saya bernama Dr. Karno. Saya memiliki seorang adik perempuan bernama Priscilla Puspita yang usianya 2 tahun dibawah saya.

“Waktu itu dokter menyarankan operasi Caesar karena posisinya sungsang.


Masa Balita
saya saat di Seaworld


Sejak saya lahir sampai berusia 5 tahun, saya tinggal di Jl. Gaharu III no. 3, Cilandak bersama kakek dan nenek saya. Saya mulai bisa berjalan pada usia 11 bulan, dan pada umur 1 tahun 3 bulan saya mulai bisa berbicara. Kata mama saya, saat kecil saya senang tertawa. Saat itu mama saya pernah mengikutsertakan saya dalam suatu lomba spelling bee. “Tapi michrophone-nya mati terus kamu gak menang, sayang banget.” Pada usia 2 tahun, saya dimasukkan ke sekolah playgroup bernama Mother Goose di Kemang. Saat kecil saya sangat senang menonton film princess, sampai-sampai pada waktu itu saya minta bolos sekolah dengan alasan sakit, padahal saya sebenarnya ingin nonton Snow White dirumah.

Saya masuk TK pada usia 5 tahun di TK Teratai Don Bosco Pondok Indah. Disana saya berkenalan dengan teman-teman yang nantinya akan menjadi teman saya sampai SMP.
Mama saya mengikutsertakan saya dalam beberapa kegiatan seperti les menggambar dan les bahasa inggris, namun saya cepat bosan sehingga lesnya tidak pernah bertahan lama.
saya bersama adik saat playgroup
Karena orang tua saya dua-duanya bekerja, saya menghabiskan waktu dirumah bersama adik saya. Walaupun kami sering bertengkar, kami senang bermain bersama. Pada saat itu saya dan orang tua serta adik saya sudah pindah ke rumah saya yang sekarang yaitu di kompleks perumahan Graha Hijau 2 blok F-08 di Jl. W.R. Supratman, Ciputat.

saya saat balita

saya dan sepupu saya bermain kembang api



Masa SD
Setelah lulus dari TK Teratai Don Bosco, saya melanjutkan ke SD Melati Don Bosco. Saya mengikuti les piano yang merupakan keinginan nenek dan mama saya. Saya awalnya ikut-ikut saja, namun lama kelamaan saya mulai enggan dan malas karena tidak menyukainya. Akhirnya sejak SMP kelas 9, saya berhenti les piano.
saya bersama sepupu saya berenang
Karena sekolah saya merupakan sekolah Katolik, saya sering mengikuti perlombaan bernyanyi mazmur dan membaca Alkitab.
Setiap libur hari raya Idul Fitri, babysitter saya pasti selalu pulang kampung. Ketika saya dan adik saya masih terlalu kecil untuk ditinggal sendiri dirumah kami sering diajak mama ke kantornya di bilangan Kuningan. Meskipun kata mama saya senang jika diajak ke kantornya, saya tahu sebenarnya kehadiran saya tentunya mengganggu pekerjaan mama saya.
Sejak kecil saya memang bukan merupakan anak yang manja, karena ada adik saya yang usianya dekat dengan saya sehingga saya harus bersikap mandiri. Namun jika mama saya ditugaskan kantornya ke luar negeri tetap saja saya sering kangen dan tidak suka ditinggal sendiri.
saya dan adik saya
Akhirnya saat saya kelas 3 SD mama saya membawa saya saat tugas kantor ke Singapura. Itu merupakan perjalanan saya yang pertama kali ke luar negeri. Sejak itu saya senang sekali jika diajak naik pesawat terbang.
Semasa SD, bisa dikatakan bahwa saya bukan merupakan anak yang giat belajar. Saya sangat bergantung pada mbak saya yang dulu sering membantu saya mengerjakan PR dan belajar. Setelah ia kembali ke kampung halamannya, saya pun harus mulai mandiri dan belajar sendiri. Namun puji Tuhan meskipun saya sering malas belajar, saya tidak pernah mengalami masalah nilai di sekolah.
saya saat lulus bersama mama saya
Saat mau lulus, saya akhirnya memutuskan untuk masuk ke SMP Don Bosco. Pada waktu itu mama saya mengatakan bahwa lebih baik dilanjutkan saja di sekolah yang sama, karena sudah kenal dengan teman-teman. Saya pun tidak keberatan, karena saya senang bersekolah disitu.
Saat itu pemerintah sudah menetapkan bahwa untuk lulus SD maka harus mengikuti UAN. Akhirnya saya pun lulus dengan NEM yang cukup memuaskan waktu itu.

Masa SMP
saya bersama teman-teman SMP
Saya melanjutkan pendidikan ke SMP Seruni Don Bosco. Jadi bisa dikatakan bahwa sejak TK saya tidak pernah pindah sekolah. Saya bertemu banyak teman-teman saya dari SD sehingga saya merasa sangat senang dan familiar dengan lingkungan sekitar saya.
Saat SMP saya berusaha keras memperbaiki nilai-nilai saya yang pada saat SD pas-pasan. Saya pun senang mengikuti berbagai kegiatan di sekolah seperti menjadi pengurus OSIS sebagai sekretaris, menjadi panitia acara dalam cup sekolah, dan khususnya mengikuti ekstrakurikuler. Ekskul saya pada waktu itu adalah mading atau majalah dinding dan saya sangat senang mengikutinya.
Sejak SD saya memang suka mengikuti perlombaan pidato berbahasa inggris. Namun, selama SD saya belum pernah menang. Saat SMP puji Tuhan saya menang pada tingkat DKI Jakarta dan menjadi juara pertama. Itu merupakan pengalaman lomba yang tidak akan terlupakan dan membuat saya makin senang mengikuti lomba pidato bahasa inggris hingga sekarang ini.
Waktu kelas 7 dulu, saya adalah murid yang sangat sering terlambat. Dulu di sekolah saya berlaku sistem poin; semakin banyak pelanggaran yang dilakukan maka semakin banyak poin yang terkumpul. Poin saya banyak sekali, bahkan hampir 100 hanya karena terlambat. Saya pun sudah kena berbagai hukuman mulai dari jalan jongkok hingga membersihkan kamar mandi sekolah. Untungnya begitu naik kelas saya mulai jarang terlambat.
Saat kelas 8, saya dan teman-teman saya melaksanakan study tour ke Jogjakarta. Saya sangat menikmati perjalanan tersebut karena bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman dan melihat tempat-tempat yang menarik disana. Kenangan akan perjalanan tersebut merupakan salah satu alasan saya berkeinginan untuk bisa kuliah di UGM selepas SMA nanti.
bersama teman-teman saat Halloween
Yang paling berkesan bagi saya merupakan pertunjukan Ramayana. Menurut saya sendratari tersebut sangat indah dan unik untuk dilihat. Ssebelumnya saat saya berusia 8 tahun, orang tua saya pernah membawa saya menonton sendratari tersebut. Namun saya sama sekali tidak mengingatnya karena saya masih kecil, sehingga saat saya kelas 8 seolah-olah saya baru melihatnya untuk pertama kali.
Begitu kelas 9 mulai, saya dan teman-teman saya mulai disibukkan dengan berbagai tryout dan persiapan UAN. Kami pun sudah harus memutuskan mau melanjutkan SMA dimana. Beberapa dari teman-teman saya yang ingin meneruskan di Don Bosco, ada pula yang ingin agar masuk SMA negeri, dan ada juga yang ingin melanjutkan ke SMA swasta lainnya. Saya ikut bingung ingin meneruskan di sekolah saya atau pindah. Saya sudah merasa nyaman disana dan ingin bersama teman-teman saya lagi saat SMA, tapi saya juga ingin mencari pengalaman baru dan mencoba di tempat lain. Akhirnya saya mencoba di tempat lain.
Saya memiliki seorang guru di SMP yang sangat baik. Beliau ialah guru Bahasa Indonesia, dan jika sedang bercerita di kelas maka teman-teman saya pasti mendengarkan karena beliau sangat seru jika bercerita. Beliau-lah yang mengusulkan untuk mencoba tes di SMA Labschool. Kebetulan pada saat itu kakak kelas saya belum ada yang pernah mencoba tes di sana, maka masih terdengar asing bagi saya dan teman-teman saya.
saat di airport Bali bersama teman-teman
Akhirnya saya dan beberapa teman saya mengikuti tes seleksi di SMA Tirta Marta. Syukur saya diterima dengan hasil tes yang cukup memuaskan, sehingga saya ditawari diskon uang pangkal masuk.  Saya juga mengikuti tes di SMA Labschool bersama beberapa teman-teman saya. Saya sangat takut tidak diterima karena menurut saya tesnya susah sekali saat itu.
Menurut mama saya sebaiknya saya mendaftar saja di Tirta Marta, namun pada saat itu hasil tes Labchool belum diumumkan. Saya memilih untuk menunggu hasil tes Labschool saja. Akhirnya saat hasil tes keluar, saya sangat kecewa karena saya tidak diterima. Saya pun bingung karena pada saat itu pendaftaran di Tirta Marta sudah ditutup, sehingga akhirnya mama saya memutuskan saya masuk SMA Don Bosco saja.
angkatan ke-22 SMP Seruni Don Bosco
Beberapa hari kemudian, seorang teman saya yang waktu itu ikut tes di Labschool mengatakan bahwa daftar cadangan yang diterima sudah diperbarui lagi. Saya sangat pesimis dan sudah merelakan jika tidak diterima lagi. Namun setelah saya lihat, ternyata saya diterima. Meski diterima sebagai cadangan, namun saya senang bisa melanjutkan sekolah di SMA Labschool Kebayoran.
Setelah melalu proses persiapan UAN yang panjang dan melelahkan, akhirnya saya dan teman-teman saya lulus 100%. NEM saya saat itu 36.05 dan saya merasa cukup bangga.
Perpisahan kelas 9 berlangsung di Bali. Meskipun kami disana hanya sebentar namun sangat berkesan karena kita sudah melalui 3 tahun bersama-sama, bahkan beberapa teman saya itu sudah saya kenal sejak TK. Rasanya sedih harus berpisah dengan teman-teman saya ini namun saya senang sudah bisa mengenal mereka.

Masa SMA
Hari pertama saya di SMA Labschool adalah saat pra-MOS. Berhubung saya merupakan satu-satunya yang berasal dari Don Bosco maka pada hari pertama itu saya belum mengenal siapa-siapa. Saya merasa tidak nyaman karena belum memiliki teman namun karena itu sudah merupakan keputusan saya maka saya berusaha beradaptasi. Maklum, sebelumnya saya belum pernah merasakan yang namanya pindah sekolah, sehingga semuanya terasa sangat asing bagi saya.
Saya juga kaget saat menghadapi MOS, karena sebelumnya belum pernah merasakan yang semacam itu.
bersama teman-teman saat study tour di Bandung
Akhirnya setelah pembagian kelas saya masuk ke kelas X-A. Disana saya bertemu dengan teman-teman yang baik dan menyenangkan. Kami pun melewati masa pra-TO, TO, dan Bintama bersama-sama. Lain halnya dengan MOS, saya sebelumnya tidak tahu bahwa ada kegiatan Trip Observasi dan Bintama. Saat tahu saya merasa kaget, namun akhirnya kegiatan-kegiatan tersebut ternyata cukup seru dan menyenangkan.
bersama Ozsa dan Farissa

Pada awal masuk kelas 10, saya sempat berminat masuk IPA. Saya juga tidak tahu mengapa, namun saya rasanya ingin mencoba masuk jurusan tersebut. Seiring berjalannya waktu, saya pun menyadari bahwa kemampuan saya bukanlah di IPA, melainkan di IPS. Untungnya orang tua saya tidak menuntut saya untuk masuk suatu jurusan tertentu, sehingga saya merasa lega diberi kebebasan untuk memilih. Akhirnya saya pun fokus untuk bisa masuk jurusan IPS dan bisa naik kelas dengan nilai yang memuaskan.
lari pagi terakhir bersama X-A
Selama kelas 10, saya merasa prestasi saya di SMA ini menurun. Apalagi untuk mata pelajaran MIPA, saya sering sekali harus mengikuti remedial. Saya merasa telah mengecewakan orang tua saya, namun untungnya mereka tidak pernah menuntut apa-apa dari saya selain untuk berusaha semaksimal yang saya bisa. Saya juga merasa beruntung memiliki teman-teman sekelas yang dengan sabar mengajari saya dan membantu saya jika kurang mengerti di suatu pelajaran. Saya juga merasa berterimakasih pada mereka karena menyemangati saya dalam menghadapi remedial-remedial hingga tuntas.
Akhirnya kelas 10 pun berakhir dan saya bisa naik ke kelas 11. Saya tidak menyangka nilai-nilai saya bisa lebih baik dari yang saya perkirakan. Saya pun akhirnya masuk di kelas XI IPS 2.
bersama Aci dan Farissa 
Harapan Masa Depan
Jika ditanyakan ingin masuk jurusan apa saat kuliah nanti maka saya pun bingung. Dulu saat SMP, saya sempat berkeinginan untuk masuk jurusan sastra karena saya menyukai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan hal tersebut, seperti misalnya menulis. Namun setelah SMA, saya rasa mungkin itu bukan merupakan pilihan yang terbaik bagi saya.
Saya berharap bisa masuk jurusan Hubungan Internasional atau Psikologi dan menuntaskan S1 di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, atau Universtas Parhyangan. Awalnya saya ingin langsung bisa kuliah di luar negeri selepas SMA, namun menurut mama saya lebih baik saya mempersiapkan diri lebih jauh jika ingin ke luar negeri.
Baru setelah saya menyelesaikan S1, saya berharap bisa mencari beasiswa dan melanjutkan studi saya ke luar negeri, meskipun saya belum menentukan ingin dimana.
Saya juga berharap bisa memiliki pekerjaan yang membawa saya bisa keliling dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar