Senin, 27 Agustus 2012

Tugas-5 Sejarah Perkembangan Buku


"Sejarah dari Jendela Dunia"


Mengutip perkataan David McCullough, “setiap buku adalah perjalanan baru”. Cara yang sangat tepat untuk menjelaskan apa arti dari benda ini hanya dalam lima kata saja.  Hanya dengan membuka lembaran-lembarannya dan membaca kata demi kata, buku membawa kita dalam sebuah perjalanan ke masa lampau atau bahkan dunia yang hanya ada dalam imajinasi penulisnya. Seringkali pula kita mendengar perkataan “buku adalah jendela dunia.” Setiap halaman merupakan pengetahuan baru, perluasan dari wawasan pembacanya.
Buku tidak selalu berbentuk seperti yang kita kenal dan baca pada saat ini. Sebelumnya, buku mempunyai bentuk yang berbeda.
Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, do’a-do’a, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Zaman ini disebut zaman Pra-Aksara, zaman sebelum tulisan. Oleh karena itu, hafalan merupakan ciri utama dari zaman ini. Semua informasi, cerita-cerita tersebut harus dihafal dan diceritakan turun temurun untuk menjaga agar tidak hilang dari masyarakat. Namun, hal ini menyebabkan keakuratan dari informasi tersebut semakin berkurang. Cerita-cerita berubah dari generasi ke generasi. Kemudian terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan, dan terciptalah buku kuno.
Buku kuno pada awalnya hanya berupa tanah liat yang dibakar, mirip dengan proses pembuatan batu bata di masa kini. Penulisannya semua menggunakan tulisan tangan. Buku tersebut digunakan oleh penduduk yang mendiami pinggir Sungai Euphrates di Asia Kecil sekitar tahun 2000 SM.
Gulungan Papirus
Penduduk Sungai Nil, yaitu Bangsa Mesir, memilih untuk menuangkan tulisan mereka yaitu hieroglif ke atas sesuatu yang berbeda. Mereka menuliskannya di atas kertas papirus yang dibuat dari batang-batang papirus dengan cara membelah tipis-tipis pohon papirus kemudian diawetkan. Batang ini banyak tumbuh di pesisir Laut Tengah dan di sisi Sungai Nil. Gulungan dari batang papirus inilah yang melatarbelakangi adanya gagasan kertas gulungan.

Bangsa Romawi pun menggunakan cara yang hampir serupa. Namun perbedaannya adalah mereka menggunakan model gulungan dengan kulit domba, bukan papirus. Model gulungan dengan kulit domba ini disebut parchment (perkamen).
Bentuk buku berupa gulungan ini masih dipakai hingga sekitar tahun 300 Masehi. Beberapa kesulitan dari penggunaan gulungan papirus maupun perkamen membuat buku mengalami perkembangan dan perubahan bentuk. Panjang gulungan tersebut dapat mencapai puluhan meter. Bahkan, gulungan papirus terpanjang terdapat di British Museum di London yang panjangnya mencapai 40,5 meter. Hal ini tentu sangat tidak efisien dan merepotkan baik penulis maupun pembacanya. Oleh karena itulah, gulungan-gulungan tersebut dipotong-potong.
Pada awal abad pertengahan, gulungan-gulungan buku digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras yang dinamakan codex. Kulit domba yang lebih kuat dan lebih mudah dipotong dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid. Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana.
Indonesia sendiri juga mengenal buku kuno. Tulisan-tulisan dituangkan ke atas daun lontar yang kemudian disatukan dan dijilid sehingga membentuk sebuah buku.

Codex
Pada tahun 105 Masehi, Ts’ai Lun, seseorang berkebangsaan Cina di Tiongkok yang hidup pada zaman kekaisaran Ho Ti berhasil menciptakan kertas. Kertas tersebut terbuat dari bahan serat yang disebut hennep. Serat ini ditumbuk, kemudian dicampur dan diaduk dengan air hingga menjadi bubur. Setelah dimasukkan ke dalam cetakan, buku di jemur hingga mengering. Kemudian setelah mengering, bubur tersebut berubah menjadi kertas. Ditemukannya kertas ini berpengaruh besar terhadap perkembangan dan perubahan bentuk buku. Hingga sekarang, kertas masih digunakan sebagai bahan baku pembuatan buku menggantikan papirus, kulit domba, dan bahan kuno yang merupakan bahan pembuat buku pada awalnya. Pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.
Pada tahun 751, pembuatan kertas telah menyebar hingga ke Samarkand, Asia tengah, dimana beberapa pembuat kertas bangsa Cina diambil sebagai tawanan oleh bangsa Arab. Bangsa Arab, setelah kembali ke negerinya, memperkenalkan kerajinan pembuatan kertas ini kepada bangsa Morris di Spanyol. Pada tahun 1150, dari Spanyol, kerajinan ini menyebar ke Eropa. Pabrik kertas pertama di Eropa pun kemudian dibangun di Perancis, tahun 1189, lalu di Fabriano, Italia tahun 1276 dan di Jerman tahun 1391.
Setelah penemuan kertas, ditemukanlah mesin cetak pada abad ke 15 yang juga merupakan benda signifikan dalam perkembangan buku berikutnya. Penemu mesin cetak itu adalah orang berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg.


Gutenberg dan mesin pencetaknya
Ide Gutenberg ini  tercetus ketika ia bekerja sebagai tukang emas di Mainz. Dia mendapatkan ide untuk menghasilkan surat pengampunan dengan membentuk kop huruf untuk mencetak surat pengampunan dalam jumlah banyak agar dia mendapatkan uang untuk membayar hutang-hutangnya. Pada saat itu, buku dan surat ditulis dengan tulisan aksara latin dengan tangan dan mengandung banyak kesalahan ketika penyalinan. Kekurangannya yang lain adalah kelambatannya dalam penulisan.
Gutenberg pertama kalinya membuat acuan huruf logam dengan menggunakan timah hitam untuk membentuk tulisan aksara latin. Pada awalnya, Gutenberg terpaksa membuat hampir 300 bentuk huruf untuk meniru bentuk tulisan tangan yang berbentuk tegak bersambung. Setelah itu, Gutenberg membuatkan mesin cetak yang bergerak untuk mencetak tulisan-tulisan.
Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.

Di era modern sekarang ini perkembangan teknologi semakin canggih. Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan penemuan mesin komputer sehingga memudahkan untuk menyusun huruf dan mengatur tata letak halaman.
Perkembangan ini diikuti pula dengan penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner (alat pengkopi gambar, ilustrasi, atau teks yang bekerja dengan sinar laser hingga bisa diolah melalui komputer), dan juga printer laser (alat pencetak yang menggunakan sumber sinar laser untuk menulis pada kertas yang kemudian di taburi serbuk tinta).


Semua penemuan-penemuan tersebut telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan bagus dan rapi, serta hasil cetakan dan desain yang bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita dapati berbagai buku terbit dengan penampilan yang semakin menarik.
Seiring dengan perkembangan dunia teknologi dan komputer, buku yang berbentuk soft cover maupun hard cover berubah menjadi e-book atau buku elektronik. Sesuai dengan namanya, buku elektronik adalah versi elektronik dari buku. Jika buku pada umumnya terdiri dari kumpulan kertas yang dapat berisikan teks atau gambar, maka buku elektronik berisikan informasi digital yang juga dapat berwujud teks atau gambar. Buku elektronik ini dapat diakses menggunakan perangkat keras seperti komputer, handphone, ataupun tablet. Pada zaman sekarang ini, buku dengan bentuk e-book semakin populer di kalangan masyarakat dikarenakan oleh kepraktisannya. Tidak perlu membawa banyak buku yang berat dan memakan tempat, kita cukup membawa satu perangkat keras yang bisa membaca e-book dan memuat semua buku-buku kita. Selain itu, e-book juga bersifat ramah lingkungan dan mendukung gerakan paperless. Dengan adanya e-book, pohon-pohon yang ditebang untuk memproduksi kertas pun menjadi berkurang drastis.
Dynabook
Di antara buku-buku versi e-book yang ada pada umumnya, sumber e-book yang pertama kali ada dikenal dengan nama: Proyek Gutenberg. Proyek ini dimulai oleh Michael S. Hart pada tahun 1971. Sebuah implementasi awal e-book adalah pembuatan prototipe desktop bernama Dynabook, pada tahun 1970 di PARC. Dynabook menjadi komputer umum yang khusus digunakan untuk kebutuhan membaca pribadi, termasuk membaca buku. Ide yang serupa juga diungkapkan oleh Paul Drucker.
Sony Data Discman
Pada awalnya, e-book ditulis untuk masyarakat tertentu dan terbatas saja. E-book dimaksudkan untuk dibaca hanya oleh kelompok-kelompok kepentingan kecil dalam lingkup tertentu, misalnya kaum akademis di kampus. Ruang lingkup materi pelajaran dari buku-buku elektronik termasuk pedoman teknis untuk hardware, teknik manufaktur, dan mata pelajaran lain. Kemudian pada tahun 1990, fasilitas media dalam internet mengalami perkembangan dengan dapat dibuatnya program yang membuat pentransferan file elektronik menjadi jauh lebih mudah, termasuk e-book.

Pada tahun 1992, Sony meluncurkan Data Discman, yaitu alat untuk membaca buku elektronik yang bisa membaca e-book yang tersimpan dalam CD. Mengikuti hal ini, muncullah perangkat-perangkat untuk membaca e-book lainnya, yaitu Amazon Kindle, Nook Simple Touch, dan iPad.

Aplikasi iBooks pada iPad

Berbagai jenis format e-book mulai bermunculan, beberapa diantaranya didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Adobe dengan format PDF-nya, dan lain-lain didukung oleh programmer open source dan independen. Beberapa pembaca menggunakan berbagai macam format dalam membaca e-book, namun ada pula yang hanya menggunakan satu jenis format saja, yang membuat pasar e-book semakin terpecah belah.
E-book terus bergerak maju di dalam kalangan mereka sendiri. Bahkan, banyak penerbit e-book mulai membagikan buku secara gratis yang berada di domain publik. Pada saat yang sama, penulis dengan buku-buku yang tidak diterima oleh penerbit menawarkan karya-karya mereka secara online sehingga karya tersebut dapat dilihat oleh masyarakat luas. Katalog tidak resmi pun tidak jarang tersedia melalui web dan situs yang ditujukan untuk e-book.
Berbagai perpustakaan di Amerika mulai menyediakan e-book gratis kepada publik pada tahun 1998 melalui situs web mereka dan layanan terkait. E-book yang berisikan naskah bersifat ilmiah, atau teknis tersebut diatur supaya tidak bisa di-download. Kemudian pada tahun 2003, perpustakaan mulai menawarkan fiksi populer gratis yang bisa didownload dan e-book non-fiksi untuk umum. Peluncuran model peminjaman e-book menghasilkan respon yang lebih besar dibandingkan dengan perpustakaan umum/konvensional.
Jumlah distributor perpustakaan e-book terus meningkat selama beberapa tahun terakhir ini. Pada tahun 2010, sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa 66% dari perpustakaan umum di Amerika Serikat menawarkan jenis format e-book untuk buku-bukunya. Selain itu, gerakan besar di industri perpustakaan mulai serius memeriksa persoalan yang berkaitan dengan peminjaman buku menggunakan e-book. Dalam hal ini patut diakui bahwa penggunaan e-book semakin hari semakin meluas.
Dari papirus yang terbuat dari batang pohon, kemudian kulit domba yang dilipat dan diapit kayu keras, sehingga menjadi lembaran-lembaran kertas yang dijilid seperti yang kita kenal saat ini, lalu bentuk buku yang terbaru yaitu buku elektronik, perkembangan buku dari masa ke masa sudah sangat pesat. Namun perkembangan ini tidak akan berhenti di sini saja. Dengan pesatnya perkembangan teknologi saat ini, buku pun akan semakin berevolusi dan mengalami perkembangan yang lebih pesat lagi.

Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar