Jumat, 24 Agustus 2012

TUGAS 5 - SEJARAH FILM DAN PERKEMBANGAN FILM DI INDONESIA


Film sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kita dapat melihat berbagai film melalu televisi ataupun dengan menonton di bioskop. Menonton film bisa menjadi hiburan bahkan adapula yang menjadikannya sebagai hobby. Kita dapat melihat imajinasi sutradara yang dituangkan secara apik dalam film. Dunia film semakin berkembang dari masa ke masa. Perkembangan yang paling pesat dan jelas terlihat adalah dari sisi teknologinya. Namun, masih banyak hal – hal tentang dunia perfilman yang belum kita ketahui.  
            Pada 1250-1895, disebut dengan masa pra sejarah film karena pada tahun itu merupakan masa dimana terdapat penemuan - penemuan baru yg disebabkan obsesi – obsesi besar orang eropa. Contohnya adalah terciptanya sebuah alat yang bisa merekam gerak yang disebut juga dengan kinetograph.
Ada tiga orang penemu yang menciptakan kinetograph selain Lumiere dan Melies yaitu Thomas Alfa Edison,  penemu asal Amerika yang dikenal dengan bola lampu temuannya itu ternyata juga menemukan kinetograph pada tahun 1880. Lalu penemu lainnya adalah Max Skladanowsky yang berasal dari Jerman, dan Friese Green dari Inggris. Tetapi, masyarakat lebih mengenal Lumiere sebagai penemu kinetograph karena dalam ciptaan Lumiere terdapat keunggulan jika dibandingkan dengan alat perekam gerak yang lain. Diantaranya adalah, gambar yang dihasilkan lebih tajam, lalu mereka juga menggunakan proyektor dan kinetograph yang diciptakan lebih fleksibel, ringan dan kecil.
Lalu di tahun 1895, dikenal sebagai tahun dimana awal adanya sebuah sinema. Diketahui demikian karena pada tanggal 28 desember 1895, Lumiere bersaudara yaitu Louis dan Auguste Melies mempertunjukan cinematograph untuk pertama kalinya kepada masyarakat paris di sebuah cafe hanya dengan membayar 1 franc. Maka, hingga saat ini hal itulah yang dianggap menjadi hari dimana sebuah sinema itu ada. Dikenallah sampai saat ini orang yang menciptakan film adalah Lumiere dan Melies.
film pertama lumiere tentang datangnya kereta api
Meski mereka adalah sutradara yang jenius dan paling dikenal pada masa itu, tetapi karya – karya yang mereka hasilkan sangatlah berbeda. Sebenarnya Lumiere sama sekali tidak mempunyai ketertarikan pada film, melainkan tertarik pada alat yang bisa merekam gambar bergerak. Karya yang dihasilkan oleh Lumiere merupakan kejadian sehari – hari, fakta, dan dalam bentuk dokumenter. Berbeda dengan Melies sutradara ini tertarik memfilmkan sebuah teater ketika melihat alat temuan Lumiere itu. Film – film yang diciptakan oleh Melies berupa cerita khayalan, fiksi.
Pada zaman dahulu terdapat perbedaan arti antara film, movie, dan cinema. Istilah film biasanya berhubungan dengan sosial dan politik, sementara movie dihubungkan dengan industri dan sesuatu yang bersifat komersil, sedangkan istilah cinema biasanya berhubungan dengan estetika.
Lima tahun setelah Lumiere dan Melies membuat dunia terkejut, barulah di Indonesia muncul istilah gambar hidup. Yaitu pada 1900, dilihat dari sejumlah iklan di surat kabar masa itu. De Nederlandshe Bioscope Maatschappij memasang iklan di surat kabar Bintang Betawi mengabarkan dalam beberapa hari lagi akan diadakan pertunjukan gambar hidup. Di surat kabar terbitan yang sama pada Selasa 4 Desember 1900 itu, ada iklan berbunyi besok Rabo 5 Desember Pertunjukan Besar yang Pertama di dalam satu rumah di Tanah Abang Kebondjae moelain pukul 7 malam” Bioskop Kebonjahe yang kemudian diberi nama The Roijal Bioscope mulai dioperasikan dengan harga tiket dua gulden untuk kelas 1, satu gulden kelas 2, dan 50 sen kelas 3. Pada masa itu penonton pria dan wanita dipisah. Pertunjukan dengan pembagian kelas-kelas yang kini sudah dihilangkan bioskop kelompok 21, mengikuti pola pertunjukan Komedi Stamboel dan opera melayu. Kelas termurah duduk di bangku papan yang berada di deret depan (stalles), tepat di belakang orkes. Penonton juga diberi libretto berisi ringkasan cerita film yang akan diputar.

bioskop capitol, bioskop Indonesia pertama. 

Setelah pemutaran perdananya, Bioskop Kebonjahe segera menjadi terkenal. Namun demikian belum bisa mengalahkan popularitas pertunjukan lain yang sedang digemari masyarakat: Komedi Stamboel (sering disebut Bangsawan atau Opera Melayu). Keduanya adalah pertunjukan sandiwara keliling yang diselenggarakan dalam tenda kain besar. Penontonnya bukan hanya pribumi, tetapi dari semua golongan. Bahkan film-film tempo doeloe itu, dalam pemilihan repertoire -nya juga banyak mengambil cerita dari panggung pertunjukan ini. Mulai dari hikayat-hikayat, seperti Djoela-Djoeli Bintang Tiga , sampai cerita-cerita realistis seperti Nyai Dasima.
Misbah Yusa Biran, kelahiran Rangkasbitung, Banten, 11 September 1933, telah berkecimpung dalam dunia film sejak 1954. Pada 1967, ia terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya Di Balik Cahaya Gemerlapan. Sejak 1971, ia mulai merintis berdirinya lembaga arsip film, Sinematek Indonesia, dan mulai melakukan penelitian sejarah film Indonesia dan penulisan skenario. Sinematek Indonesia berdiri 1975, sebagai arsip film pertama di Asia Timur.
            Film cerita pertama Tahun 1926 merupakan tonggak bersejarah bagi perfilman Indonesia. Dengan dibuatnya film cerita pertama dongeng Sunda Loetoeng Kasaroeng. Pembuatan film ini mendapat dukungan dan bantuan besar dari Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Dorongan bupati ini bertolak dari hasratnya untuk mengembangkan kesenian Sunda. Perhitungan dari segi ekonomis bersumber dari kenyataan bahwa 80 persen pemasukan bioskop berasal dari saku orang Cina dan pribumi. Para pemainnya terdiri dari sepupu dan kemenakan sang bupati. Setahun kemudian (1927) Java Film menggarap film kedua Eulis Atjih. Sebuah drama rumah tangga modern, bukan lagi cerita dongeng. Tiga hari sebelum pertunjukan berakhir, Pewarta Soerabaya melaporkan di kota buaya ini film tersebut dibanjiri penonton. Dalam iklan disebutkan: “Liat bagimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen di dalam film, tida koerang dari laen macem film dari Eropa atawa Amerika”. Yang menarik, saat awal produksi film pertama Indonesia, para calon pemain akan diuji untuk memperlihatkan ”rupa gusar, sayang, kagum, jemu, kasihan, masa bodoh dan kurang ajar”.
Pada 1938 film Terang Boelan tiba-tiba membuat ledakan. Rembulan film Hindia Belanda menampakkan sinar terangnya. Dunia film telah menemukan resep yang bisa digemari penonton, mengalahkan sandiwara panggung.
Film Batavia ini menyedot semua penonton ke bioskop. Lagu ‘Terang Boelan’ yang dinyanyikan oleh Roekiah, kemudian menjadi lagu kebangsaan Malaysia ‘Negaraku’. Meledaknya film ini membuat orang-orang panggung lari ke dunia film. Komponis terkenal Indonesia, Ismail Marzuki, turut memainkan musiknya untuk film ini. Pembuatan film pun mendadak ramai dilakukan dengan resep Terang Boelan .
Di Amerika, sejak 1926 sudah dimulai film bicara. Film Hollywood pertama yang percakapan pemainnya bersuara adalah The Jazz Singer. Penonton Indonesia baru bisa menyaksikan keajaiban itu akhir 1929-awal 1930. Mula-mula kota Surabaya dan Batavia baru menikmati film suara pertama tiga bulan kemudian. Pada masa awal film bersuara di Indonesia, perekaman dialog maupun musik pengiring dilakukan langsung pada saat pengambilan gambar, persis seperti jalur suara yang terdapat pada film sekarang. Indonesia baru bisa membuat film bicara pertama pada 1932. Kemudian disusul Indonesia Malaise keluaran studio Halimoen Film.
Begitu Jepang memegang kekuasaan di Indonesia (1942-1945), mereka menutup semua      studio film, yang kesemuanya milik Cina, kecuali satu milik Belanda, Multi Film. Alasannya agar jangan digunakan untuk membuat film anti-Jepang. Kedua, Jepang pasti tidak percaya kepada para produser Cina peranakan, yang budayanya tidak membantu. Hampir semua film Jepang yang dipertontonkan di Jawa merupakan film propaganda anti-Sekutu. Penonton dihidangkan kemenangan Jepang dalam berbagai front. Bukan hanya itu, semua bioskop diambil-alih Jepang. Distribusi film diatur langsung oleh pemerintah pendudukan Jepang, yakni Jawa Ehai yang didirikan April 1943. Pada saat itu gedung bioskop yang diambil-alih berjumlah 117 gedung. Sebanyak 95 persen milik orang Cina.
Dengan kehadiran bioskop 21, film-film lokal mulai tergeser peredarannya di bioskop-bioskop kecil dan bioskop-bioskop pinggiran. Apalagi dengan tema film yang cenderung monoton dan cenderung dibuat hanya untuk mengejar keuntungan belaka, tanpa mempertimbangan mutu dari film itu sendiri. Hal lain yang tidak bisa dipungkiri turut berperan dalam merosotnya film nasional ini adalah impor dan distribusi film yang diserahkan kepada pihak swasta. Bioskop 21 bahkan hanya mau memutar film – film Hollywood saja, tidak mau memutar film-film lokal. Akibatnya di tahun 80-an, kondisi film nasional yang ada di tanah air semakin parah dengan hadirnya stasiun televisi swasta yang menghadirkan film-film impor dan sinema elektronik serta telenovela.
Pertengahann 90-an, film-film nasional yang sedang menghadapi krisis ekonomi harus bersaing keras dengan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta. Akibatnya, semua aktor dan aktris panggung dan layar lebar beralih ke layar kaca. Apalagi dengan kehadiran VCD dan DVD yang semakin memudahkan masyarakat untuk menikmati film impor.

cinema 21

cinema XXI
suasana dalam bioskop 






Namun disisi lain, kehadiran kamera-kamera digital berdampak positif juga bagi perkembangan dunia film Indonesia. Mulailah terbangun komunitas-komunitas film independen. Film-film yang dibuat oleh komunitas film independen diluar aturan baku yang ada. Meskipun banyak film yang terlihat amatir, namun tidak sedikit juga film-film yang mempunyai kualitas sinematografi yang baik. Sayangnya film-film independen ini masih belum mempunyai jaringan peredaran yang baik, yang menyebabkan film-film karya komunitas independen hanya bisa kita nikmati secara terbatas dan dalam ajang festival saja.
Saat ini, dunia perfilman Indonesia perlahan lahan mulai bangkit. Beberapa film bahkan sempat booming dengan jumlah penonton yang sangat banyak. Contohnya pada tahun 2002 terdapat film drama yang mengisahkan tentang cinta remaja yang berjudul Ada Apa dengan Cinta, dimana film itu membangkitkan kembali industri film Indonesia. Beberapa film yang laris manis dan menggiring penonton ke bioskop seperti Petualangan Sherina, Jelangkung, Ayat Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi  maupun Naga Bonar Jadi 2. Genre film di dunia perfilman Indonesia juga semakin kreatif, walaupun tema-tema yang diusung terkadang latah, jika dipasaran sedang ramai horror, banyak yang mengambil tema horror, begitu juga dengan tema-tema remaja atau anak sekolah. Dan terkadang tema-tema yang ramai dipasaran tidak mementingkan mutu filmnya.
Ada Apa dengan Cinta
Dengan variasi yang diusung, itu memberikan kesempatan media film menjadi sarana pembelajaran dan motivator bagi masyarakat. Seperti film King, Garuda di Dadaku, serta Laskar Pelangi. Bahkan Indonesia sudah memulai masuk ke industri animasi. Meski bukan ya pertama karena dahulu Indonesia juga pernah membuat film animasi dengan judul Huma, kini hadir film animasi berjudul Meraih Mimpi, yang direncanakan akan go international. Bahkan film Indonesia sudah ada yang memasuki dunia perfilman internasional salah satunya film bergenre action dengan judul The Raid. 

the raid 

sumber:





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar