Kamis, 23 Agustus 2012

Tugas-5 Perkembangan Surat Kabar


Surat Kabar, menyatukan yang tak dapat disatukan...

Dewasa ini, informasi yang cepat memang sangat diperlukan. Informasi ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan zaman secara cepat. Terknologi yang sekarang ini sering kita gunakan tentunya adalah gadget. Gadget membuat kita lebih mudah mendapatkan informasi, baik dari website berita online, BM teman dari Blackberry Messenger, dan lain sebaginya. Televisi juga turut membantu kita dalam memberikan informasi yang up to date dan lengkap dengan tayangan visual yang lebih jelas. 

Beberapa surat kabar di Indonesia

Namun, setelah semua itu ada, kita jadi melupakan koran atau surat kabar. Memang surat kabar hanya ada setiap pagi, sehingga kita tidak bisa mengetahui berita secara cepat dan jelas. Namun sebelum semua teknologi informasi itu ada, surat kabar adalah media telekomunikasi massa yang paling up to date. Surat kabar atau yang lebih sering kita kenal dengan koran ini berisi berbagai macam informasi, mulai dari bisnis, politik, hiburan, ekonomi, dan masih banyak lagi. Biasanya surat kabar dicetak dengan kertas dengan harga yang murah sehingga kualitasnya kurang bagus. Mungkin ini salah satu cara untuk menekan biaya, karena dalam satu edisi surat kabar biasanya berita dari surat kabar tersebut lumayan banyak. Dulu, pada tahun 2007, sekitar 6,580 koran harian di dunia menjual 395 juta copy dalam satu harinya. Namun jumlah ini sudah mulai berkurang, seiring dengan semakin majunya teknologi.

Menurut Onong Uchjana Effendy, “Surat kabar adalah lembaran tercetak yang memuat laporan yang terjadi di masyarakat dengan ciri-ciri terbit secara periodik, bersifat umum, isinya termasa dan aktual mengenai apa saja dan dimana saja di seluruh dunia untuk diketahui pembaca”.
Arti penting surat kabar terletak pada kemampuannya untuk menyajikan berita-berita dan gagasan-gagasan tentang perkembangan masyarakat pada umumnya, yang dapat mempengaruhi kehidupan modern seperti sekarang ini.  Selain itu surat kabar mampu menyampaikan sesuatu setiap saat kepada pembacanya melalui surat kabar pendidikan, informasi dan interpretasi mengenai beberapa hal, sehingga hampir sebagian besar dari masyarakat menggantungkan dirinya kepada pers untuk memperoleh informasi.

Hal-hal yang disiarkan media cetak lainnya bisa saja mengandung kebenaran, tetapi belum tentu mengenai sesuatu yang baru saja terjadi.  Diantara media cetak, hanyalah surat kabar yang menyiarkan hal-hal yang baru terjadi.  Pada kenyataannya, memang isi surat kabar beranekaragam, selain berita juga terdapat artikel, rubrik, cerita bersambung, cerita bergambar, dan lain-lain yang bukan merupakan laporan tercepat. Kesemuanya itu sekedar untuk menunjang upaya membangkitkan minat agar surat kabar bersangkutan dibeli orang
                                
Perkembangan Surat Kabar

Sebenarnya, surat kabar sudah ada sejak zaman romawi kuno, dimana setiap harinya pemerintah menerbitkan sebuah lembaran yang ditulis tangan dan ditempelkan di tempat umum, untuk dibaca oleh orang banyak. Surat kabar yang disinyalir sebagai awal mula surat kabar pertama di dunia ini disebut dengan “Arca Diurna” yang memiliki arti “ Kejadian-kejadian harian ”. Arca Diurna yang dibuat pada 59 SM ini berisi tentang politik, skandal, persidangan, kampanye militer, dan eksekusi. Arca Diurna dibuat hanya sampai 555 masehi.
Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acra Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.  
rapat senat romawi
Berita di “Acra Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.  
Perkembangan selanjutnya pada Diurnarii tidak terbatas kepada para budak saja, tetapi juga orang bebas yang ingin menjual catatan harian kepada siapa saja yang memerlukannya. Beritanya pun bukan saja kegiatan senat, tetapi juga hal-hal yang menyangkut kepentingan umum dan menarik khalayak. Akibatnya terjadilah persaingan di antara Diurnarii untuk mencari berita dengan menelusuri kota Roma, bahkan sampai keluar kota itu.
Persaingan itu kemudian menimbulkan korban pertama dalam sejarah jurnalistik. Seorang Diurnarii bernama Julius Rusticus dihukum gantung atas tuduhan menyiarkan berita yang belum boleh disiarkan (masih rahasia). Pada kasus itu terlihat bahwa kegiatan jurnalistik di zaman Romawi Kuno hanya mengelola hal-hal yang sifatnya informasi saja.
Tetapi kegiatan jurnalistik tidak terus berkembang sejak zaman Romawi itu, karena setelah Kerajaan Romawi runtuh, kegiatan jurnalistik sempat mengalami kevakuman, terutama ketka Eropa masih dalam masa kegelapan (dark ages). Pada masa itu jurnalistik menghilang.
Dari kata “Acra Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”,  “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).


Masa Perkembangan Jurnalisme
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.  
Sedangkan koran cetak pertama adalah Di Bao (Ti-pao) tahun 700-an di Cina. Metode Pencetakannya menggunakan balok kayu, yang dipahat aksara cina. Ti-pao memiliki arti "Kabar dari Istana". Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.  
Mesin pencetak Johannes Guttenberg
Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Johannes Guttenberg pada tahun 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada tahun 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di  suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada tahun 1493.  

Pelopor surat kabar sebagai media berita pertama yang bernama “Gazetta” lahir di Venesia, Italia, tahun 1536 M. Saat itu Republik Venesia sedang perang melawan Sultan Sulaiman. Pada awalnya surat kabar ini ditulis tangan dan para pedagang penukar uang di Rialto menulisnya dan menjualnya dengan murah, tapi kemudian surat kabar ini dicetak. 
Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.  
Oxford Gazzete

London Gazette

Di Amerika Serikat ilmu persuratkabaran mulai berkembang sejak tahun 1690 M dengan istilah “Journalism”. Saat itu terbit surat kabar dalam bentuk yang modern, Publick Occurences Both Forreign and Domestick, di Boston yang dimotori oleh Benjamin Harris.
Publick Occurences Both Forreign and Domestick

Pada Abad ke-17, di Inggris kaum bangsawan umumnya memiliki penulis-penulis yang membuat berita untuk kepentingan sang bangsawan. Para penulis itu membutuhkan suplai berita. Organisasi pemasok berita (sindikat wartawan atau penulis) bermunculan bersama maraknya jumlah koran yang diterbitkan. Pada saat yang sama koran-koran eksperimental, yang bukan berasal dari kaum bangsawan, mulai pula diterbitkan pada Abad ke-17 itu, terutama di Prancis. 
Pada abad ke-17 pula, John Milton memimpin perjuangan kebebasan menyatakan pendapat di Inggris yang terkenal dengan Areopagitica, A Defence of Unlicensed Printing. Sejak saat itu jurnalistik bukan saja menyiarkan berita (to inform), tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan masyarakat (to influence).  
Aeropagitica
Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 – 1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun   1912 M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 -  1911).

Perkembangan Jurnalisme Pada Abad 18
Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan.
Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18  dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang. 
 Perceraian  antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih  berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru. 
Pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah.  Kantor berita pelopor yang masih beroperasi hingga kini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis). 

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst. 
Ciri khas “jurnalisme kuning” adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan! Namun, jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi. 
Yellow Kid (komik di koran Amerika)
Yellow Journalism headline
Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun, para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial. 
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.   
                
Pada akhir tahun 1990-an, ketersediaan berita melalui 24 jam saluran televisi dan kemudian internet menimbulkan tantangan yang berkelanjutan dalam bisnis surat kabar. Internet yang menyediakan berita secara online dan up to date membuat orang-orang lebih tertarik membacanya.

Bahkan media cetak seperti Kompas, saat ini sudah memiliki website online yang selalu di-update. Kita bisa mengaksesnya melalui www.kompas.com, selain itu Kompas juga membuat versi koran digital yaitu e-paper yang isinya sama dengan yang media cetak. Kita hanya tinggal mengakses ke cetak.kompas.com, maka akan keluar isi berita yang seperti yang dicetak oleh Kompas.  
tampilan situs Kompas.com

tampilan dari e-paper kompas yang bisa diakses dengan tablet

Berita yang dicetak dianggap sudah basi karena periode nya terjadi dalam 24 jam. Jika berita terjadi kemarin, maka kita baru bisa melihat berita tersebut dikoran hari ini. Padahal, di zaman yang serba cepat ini, masyarakat yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, tentunya ingin mendapatkan semua informasi dengan cepat. Keterbatasan lain dari surat kabar adalah wilayah penyebarannya yang dibatasi secara geografis. Sementara pembaca membutuhkan informasi yang bisa diakses dimana saja dan kapan saja. Keunggulan lainnya adalah pembaca bisa langsung memasukkan saran atau kritik kepada redakturnya. Bila tim redakturnya aktif, maka saran yang masuk ke dapur redaksi tersebut bisa langsung ditanggapi oleh tim redaksi. Bahkan sekarang jejaring sosial seperti twitter dan facebook juga turut berperan serta dalam memberikan informasi terbaru tentang dunia. Media online juga tidak ada batasan dalam sisi geografis, sehingga orang yang berada di Inggris atau negara terpelosok sekalipun asalkan ada akses ke jaringan internet, mereka dapat mengakses situs berita yang ada di Indonesia. Sementara surat kabar hanya dapat beredar secara lokal atau nasional saja.

Namun kecepatan yang menjadi keunggulan akses berita online, cenderung mengorbankan isi berita. Copy-paste dan plagiarisme mudah dilakukan, sehingga mengabaikan hak milik intelektual. 

Perkembangan Pers di Indonesia

Di Indonesia, koran sudah ada sejak tahun 1744, saat pemerintahan Gubjen. Van Imhoff, yaitu Bataviasche Nouvelles. Sayang umurnya cuma dua tahun. pada 1776, di jakarta terbit Vendu Nieus, yang memuat segala macam barang lelangan, mulai perabotan rumah tangga hingga budak. Mingguan ini berhenti terbit karena Gubjen. Daendeles mengambil alih percetakan.
vendu nieus
koran medan prijaji


Koran swasta ada di tahun 1849, pada saat ini datang wartawan Belanda, W. Bruining, yang dua tahun kemudian berhasil menerbitkan Batavia Advertentieblad. Selain Jakarta, di kota lain – Surabaya, Semarang, Pasuruan, Padang, Medan, Palembang dan Makassar – juga terbit koran.

Pada tahun 1854 akhirnya kaum pribumi mempunyai koran sendiri. Di Weltevreden (Gambir), Jakarta, muncul majalah Bianglala dari pihak Zanding, Mingguan bahasa Jawa Bromartani terbit pertama tahun 29 Maret 1855. entah kenapa, Van der Muelen dalam de Courant Stijhoff (Leiden 1885), menyebut prakarsa itu baru muncul tahun 1856, ketika terbit Soerat Kabar Bahasa Melajoe di Surabaya. Sejak itu banyak terbit koran Melayu, yang masih dikelola oleh orang belanda asli atau peranakan.

Tahun 1904 pers Indonesia bangkit, saat raden Mas Djokomono dengan akte notaris Simon Mendirikan NV Javaansche Boekhandel & Drukkerij en handel in Schrijfbehoeften Medan Prijaji di Bandung, diikuti dengan terbitnya mingguan Medan Prijaji (1907), yang pada 1910 menjadi harian. Saat itu untuk kedua kalinya bangsa Indonesia punya koran sendiri. Karena,sebenarnya koran pertama di Indonesia adalah Warta Berita. Warta Berita diterbitkan perdana pada tahun 1901, inilah pertama kalinya Indonesia mulai bangkit dari siksaan para penjajah walaupun saat itu pers sangatlah dikekang dan dibatasi.

Dari semua yang tertulis di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa teknologi memang membuat hidup lebih mudah. Namun, menurut saya, kita masih memerlukan surat kabar dalam kehidupan sehari-hari. Karena menurut saya, tidak semua orang bisa mengakses internet. Sedangkan surat kabar atau koran masih bisa dibeli dengan harga yang terjangkau oleh ekonomi menengah kebawah. Oleh karena itu, sebaiknya surat kabar tetap dibuat, agar, orang-orang yang berekonomi menengah kebawah, tetap bisa mendapatkan informasi. Jika untuk mendapatkan informasi saja sulit, maka tingkat melek huruf yang rendah di Indonesia ini akan semakin buruk. Dengan bisa mendapatkan surat kabar dengan mudah, orang-orang akan lebih tertarik dengan aktivitas membaca. Sehingga tingkat buta huruf dinegara kita dapat ditekan.

Sekian informasi yang bisa saya berikan, semoga dapat bermanfaat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar