Kamis, 23 Agustus 2012

Tugas-5 Perkembangan sepeda di Indonesia


Pengertian sepeda

Pagi di bumi tropis seolah diciptakan Tuhan sebagai periode waktu yang paling indah  bagi manusia. Kita cukup merugi bila tak terbiasa menikmati suasana menjelang matahari terbit. Bersepeda pada pagi hari, menurut banyak orang selalu membawa manfaat,apalagi bila kebetulan langit cerah.
Bersepeda adalah salah satu olahraga yang menyehatkan badan. Dari mulai anak-anak sampai orang dewasa pun bisa menikmati olahraga ini. Jaman dahulu sepeda adalah salah satu alat transportasi Indonesia yang terkenal, akan tetapi pada masa sekarang ini banyak masyarakat yang lebih ingin membeli mobil atau motor dibandingkan dengan membeli sepeda.

Sepeda adalah benda transportasi yang sederhana tanpa motor sehingga di Indonesia dikenal sebagai kereta angin. Dari bangun sepeda inilah yang akhirnya dibuat sepeda motor. Seperti yang ditulis Ensiklopedia Columbia, nenek moyang sepeda diperkirakan berasal dari Prancis. Menurut kabar sejarah, negeri itu sudah sejak awal abad ke-18 mengenal alat transportasi roda dua yang dinamai velocipede. Bertahun-tahun, velocipede menjadi satu-satunya istilah yang merujuk hasil rancang bangun kendaraan dua roda. Yang pasti, konstruksinya belum mengenal besi. Modelnya pun masih sangat "primitif". Ada yang bilang tanpa engkol, pedal tongkat kemudi (setang). Ada juga yang bilang sudah mengenal engkol dan setang, tapi konstruksinya dari kayu.

     Baron Karls Drais von Sauerbronn adalah seorang Jerman yang pantas dicatat sebagai salah seorang penyempurna velocipede. Tahun 1818, von Sauerbronn membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi kerjanya. Sebagai kepala pengawas hutan Baden, ia memang membutuhkan sarana transportasi bermobilitas tinggi. Tapi, model yang dikembangkan tampaknya masih mendua, antara sepeda dan kereta kuda. Sehingga masyarakat menjuluki ciptaan sang Baron sebagai dandy horse. Baru pada 1839, Kirkpatrick MacMillan, pandai besi kelahiran Skotlandia, membuatkan "mesin" khusus untuk sepeda.

Tentu bukan mesin seperti yang dimiliki sepeda motor, tapi lebih mirip pendorong yang diaktifkan engkol, lewat gerakan turun-naik kaki mengayuh pedal MacMillan pun sudah "berani" menghubungkan engkol tadi dengan tongkat kemudi (setang sederhana). Sedangkan ensiklopedia Britannica.com mencatat upaya penyempurnaan penemu Prancis, Ernest Michaux pada 1855, dengan membuat pemberat engkol, hingga laju sepeda lebih stabil. Makin sempurna setelah orang Prancis lainnya, Pierre Lallement (1865) memperkuat roda dengan menambahkan lingkaran besi di sekelilingnya (sekarang dikenal sebagai pelek atau velg). Lallement juga yang memperkenalkan sepeda dengan roda depan lebih besar daripada roda belakang. Namun kemajuan paling signifikan terjadi saat teknologi pembuatan baja berlubang ditemukan, menyusul kian bagusnya teknik penyambungan besi, serta penemuan karet sebagai bahan baku ban. Namun, faktor safety dan kenyamanan tetap belum terpecahkan. Karena teknologi suspensi (per dan sebagainya) belum ditemukan, goyangan dan guncangan sering membuat penunggangnya sakit pinggang. Setengah bercanda, masyarakat menjuluki sepeda Lallement sebagai boneshaker (penggoyang tulang). Sehingga tidak heran jika di era 1880-an, sepeda tiga roda yang dianggap lebih aman buat wanita dan laki-laki yang kakinya terlalu pendek untuk mengayuh sepeda konvensional menjadi begitu populer.

 Trend sepeda roda dua kembali mendunia setelah berdirinya pabrik sepeda pertama di Coventry, Inggris pada 1885. Pabrik yang didirikan James Starley ini makin menemukan momentum setelah tahun 1888 John Dunlop menemukan teknologi ban angin. Laju sepeda pun tak lagi berguncang. Penemuan lainnya, seperti rem, perbandingan gigi yang bisa diganti-ganti, rantai, setang yang bisa digerakkan, dan masih banyak lagi makin menambah daya tarik sepeda. Sejak itu, berjuta-juta orang mulai menjadikan sepeda sebagai alat transportasi, dengan Amerika dan Eropa sebagai pionirnya. Meski lambat laun, perannya mulai disingkirkan mobil dan sepeda motor, sepeda tetap punya pemerhati. Bahkan penggemarnya dikenal sangat fanatik.

 Perkembangan Sepeda di Indonesia


Awal popularitas sepeda di Indonesia adalah pada masa kolonial Belanda. Orang belanda membawa sepeda buatan Eropa sebagai alat transportasi pada masa pendudukan mereka di Indonesia. Pada masa itu rakyat jelata belum bisa menikmati sepeda, hanya para penguasa dan bangsawan yang bisa. Hampir semua orang mengakui bahwa sepeda, yang umumnya buatan Belanda dan Inggris, merupakan alat transportasi bergengsi. 

Pada tahun 1960-an, seiring perkembangan teknologi transportasi, kedudukan sepeda sebagai kendaraan kelas atas perlahan tergeser oleh popularitas motor dan mobil. Sepeda buatan 1930-an sampai 1950-an segera menjadi barang lama yang mudah ditinggalkan, walau mulai juga dikoleksi orang. Sepeda kuno buatan Inggris antara lain Humber Cross (1901), Raleigh (1939), Phillips (1956), Hercules (1922). Sedangkan sepeda buatan Belanda adalah Batavus (1920), Gazelle (1925), Valuas (1940), Master (1950), dan beberapa lagi. Sepeda-sepeda kuno buatan Belanda (Dutch Bike) sering dijuluki sebagai sepeda onthel atau unta. Bahkan kini pada abad ke-21, masih terdapat koleksi sepeda buatan awal abad ke-20 seperti merek Veeno. Selain onthel, kita mengenal sebutan sepeda jengki. Istilah “jengki” berasal dari kata “Yankee”, sebutan untuk orang Amerika. Istilah ini muncul ketika orang Amerika pada tahun 1960-an menginvasi Indocina. Ketika itu orang Amerika beserta produk-produknya membawakan ciri fisik, perilaku, pemikiran, dan tampilan baru kepada orang Asia. Presiden Soekarno bahkan pernah melarang masuknya segala produk buatan barat. Akibatnya sepeda buatan Belanda dan Eropa Barat sempat tidak lagi masuk ke Indonesia sehingga pasar sepeda diramaikan dengan sepeda buatan Cina dengan bentuk dan proporsi baru misalnya merek Butterfly, Phoenix, dan beberapa lainnya. Rangka sepeda buatan Cina lebih ringan dan ukurannya lebih kecil sehingga lebih mudah dikendalikan oleh orang Indonesia. Sepeda keluaran baru itu sering disebut orang sebagai sepeda jengki. Pada masa itu, segala sesuatu yang baru memang diberi julukan “jengki”, dari sepatu, celana, sepeda, bahkan hingga rumah. Sepeda jengki akhirnya dianggap sebagai sepeda masa kini pada zaman itu. Walaupun makna jengki identik dengan kebaruan, oleh orang Betawi sebutan “sepeda jengki” sempat ditafsirkan sebagai turunan dari bahasa Betawi “jingke” yang artinya berjinjit, sebab posisi sadelnya yang tinggi mengharuskan pengendara untuk berjinjit saat menaikinya. Demikianlah, sepeda jengki menjadi istilah populer terkait sepeda antik di samping sebutan lain, misalnya sepeda kumbang dan sepeda sundung.         
 
Selain sepeda jengki, Indonesia telah lama pula mengenal sepeda balap. Sebelum Perang Dunia II telah ada beberapa pebalap sepeda profesional Indonesia yang dibiayai oleh beberapa perusahaan semacam Mansonia, Triumph, Hima, dan lainnya. Kegiatan balap sepeda awalnya bermula di Semarang. Di kota itu sempat didirikan velodrome oleh arsitek Ooiman dan Van Leeuwen. Namun kegiatan ini terhenti pada masa penjajahan Jepang. Setelah masa proklamasi, balap sepeda kembali digiatkan. Pada Pekan Olahraga Nasional ke-2 tahun 1951, balap sepeda merupakan cabang olahraga resmi yang diperlombakan. Beberapa daerah kemudian membentuk perkumpulan balap sepeda, dan akhirnya berdirilah ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) pada 20 Mei 1956 di Semarang.

 Pada 1980-an, popularitas sepeda di Indonesia mulai didominasi oleh sepeda modern, seperti sepeda gunung (mountain bike), sepeda perkotaan (commuting bike), sepeda anak, dan belakangan sepeda lipat (folding bike). Dari sekian jenis sepeda modern, sepeda gununglah yang paling diminati di Indonesia. Sepeda yang diperkenalkan pertama kali tahun 1977 oleh Joe Breeze, Gary Fisher  dan timnya itu banyak digemari oleh masyarakat perkotaan di Indonesia.

Manfaat bersepeda

       Menurut sebagian masyarakat, bersepeda banyak membawa manfaat. Apalagi apabila bersepeda pada pagi hari saat langit cerah. Manfaat pertama yang akan didapat adalah penyegaran tubuh karena jalanan masih sepi dan udara masih kaya oksigen. Bersepeda pada pagi yang cerah juga akan mendatangkan suasana indah sebab sepanjang pagi kita dapat bertemu dengan rekan pesepeda yang sama-sama bersemangat di lingkungan yang lebih luas dan baru. Penggiat komunitas pesepeda pada umumnya menentukan titik berkumpul pada pagi hari. Penggiat fun bike pun selalu start pada waktu pagi. Para penggiat downhill sudah sibuk berangkat naik ke lokasi pegunungan pada pagi hari dan menyelesaikan turunan saat makan siang, sebelum akhirnya berpisah. Setiap awal pagi mereka umumnya mulai berboseh sembari berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan, mulai soal kesehatan, kadar kolestrol dan asam urat, curhat kehidupan, cerita tentang pekerjaan, hingga pengetahuan tentang sepeda. Walau demikian, tidak semua aktivitas berkumpul komunitas sepeda dilakukan pada pagi hari. Kelompok Cruisers van Java (CvJ) atau Flower City Rider gemar menggelar acara “night riding” atau acara berkeliling kota pada malam hari. Kelompok penggemar sepeda low-rider yang dirintis sejak 2006 di Bandung ini juga sering berkumpul untuk berbagi pengetahuan tentang bagaimana memodifikasi sepeda, misalnya menentukan setang tinggi bentuk-U menggantung (ape hanger), garpu roda bengkok (bent springer fork), rangka model pelangi, jok pisang dan seebagainya, kala petang.

Bersepeda itu seolah terapi diri. Kita bisa mengaitkannya dengan beban yang harus ditanggung oleh masyarakat perkotaan modern. Masyarakat perkotaan setiap detik terbiasa melihat segala sesuatu dari balik layar, misalnya lewat televisi, monitor komputer, monitor handphone, bahkan kaca mobil atau kaca kendaraan lain. Segala hal dalam kehidupan menjadi biasa terlihat dalam bingkai. Segala sesuatunya menjadi serba tak langsung bersentuhan dan berjarak. Terkadang perasaan sudah menjadi sedemikian tumpul untuk merasakan desiran udara sejuk, mencium aroma rerumputan, dan mendengar derit gerobak pedagang keliling. Dengan kebiasaan bersepeda, kita, kita menjadi terlatih kembali untuk mendengar maupun menyentuh langsung segala gerak kehidupan di sekitar kita. Rasa keterlibatan dengan alam yang tadinya tumpul secara perlahan akan menjadi tajam kembali.

Terapi diri bisa pula diperoleh dengan intensifnya kita bergaul, berkomunikasi, dan membina persahabatan. Dengan berboseh bersama di alam bebas, kita tetap mampu mengobrol dengan mudah. Suara kita masih terdengar oleh pesepeda lain dalam rombongan. Kita masih nyaman bertukar info tentang apa saja, mulai kualitas kesehatan hingga persoalan keseharian dan pengetahuan tentang sepeda. Komunikasi antar-pesepeda tidak akan terhalang karena heningnya bunyi sepeda, tidak seperti kendaraan bermotor yang deru mesinnya mengalahkan suara kita.

Kini, bersepeda bersama memang telah menjadi suatu fenomena besar di tataran gaya hidup perkotaan. Di kota-kota besar, komunitas sepeda mulai langgeng ekstensinya dan bahkan makin bervariasi, dari komunitas yang terbentuk berdasarkan jenis sepeda (komunitas cruiser, onthel, sepeda lipat, dan lain-lain), wilayah jelajah (Bandung All Mountains, Terjal) hingga kampanye penyadaran (Bike 2 Work, Bike to School, Robek, BCB). Dengan berboseh bersama ternyata kita bisa memiliki setidaknya lima manfaat. Pertama, mempererat silaturahmi di antara pesepeda. Kedua, berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian. Ketiga, mengapresiasi alam dan medan jelajah. Keempat, menyehatkan tubuh. Dan kelima, membuktikan kepedulian kita terhadap lingkungan. Mari kita peroleh kelima manfaat ini dengan memulainya pada Sabtu dan Minggu.

sumber :
http://tokoh-teknologi.infogue.com/sejarah_sepeda
http://gowes.inilah.com/read/detail/1843358/ini-dia-sejarah-sepeda-lipat
http://www.engineeringtown.com/kids/index.php/penemuan/103-sejarah-ditemukannya-sepeda-

Wiyancoko, Dudy. 2010. Desain Sepeda Indonesia. Jakarta: Gramedia.


                                                                                                             

      

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar