Senin, 27 Agustus 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan


Solusi Untuk Kasus Rasisme Dalam Sepak Bola

Manusia sebagai makhluk sosial, terkadang dalam memandang hubungannya dengan manusia lain serasa dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan secara fisik. Hal ini wajar karena manusia dilahirkan dengan membawa gen bawaannya masing-masing. Namun apabila dari perbedaan ini sampai memunculkan prasangka, akibatnya bisa mengakibatkan fungsi bermasyarakat kita menjadi terganggu. Apapun nama dan bentuk dari prasangka ini, kesemuanya bermuara pada apa yang disebut rasisme.

Istilah “rasisme” sering kali kita gunakan untuk melukiskan permusuhan dan perasaan negatif suatu kelompok etnis terhadap kelompok etnis lain. Kenyataannya, dalam kehidupan kita sehari-hari, rasisme justru berkembang luas berikut implikasinya. Sikap ketidaksukaan terhadap suatu kelompok, tidak lagi sekedar wacana, tetapi sudah menjurus pada sikap dan pola perilaku destruktif, melebihi prasangka awalnya. Yang terakhir ini, bagaimanapun bentuk dan polanya, boleh dikatakan merupakan cacat kemanusiaan paling universal.

Hitler tanpa merasa bersalah, telah menggunakan teori-teori rasis untuk membenarkan pembantaian massal yang ia lakukan terhadap orang-orang Yahudi Eropa, demi alasan menjaga kesucian bangsa, tepatnya perempuan-perempuan Jerman dari pengaruh kooptasi dan pencampuran Yahudi. Pun hal ini juga dilakukan para penguasa di Amerika Selatan dengan menerapkan hukum Jim Crow yang membatasi pergerakan kulit hitam demi menjaga kemurnian supremasi kulit putih. Dan belakangan politik Apartheid di Afrika Selatan adalah contoh sejenis bagaimana rasisme berkembang hingga sekarang dan bisa terjadi dimanapun.

Masalah

Suarez dan Evra

A. Ferdinand dan Terry
Dari apa yang saya dapat amati selama ini, banyak sekali kasus rasisme yang terjadi. Dan kebanyakan kasus itu melibatkan ras kulit putih dan ras kulit hitam. Contoh yang saya amati adalah di dalam olahraga cabang sepak bola. Kasusnya dimulai dari pelecehan antar pemain, hingga supporter atau fans sebuah klub sepak bola terhadap pemain atau klub lain yang mereka benci. Tidak hanya di level klub, di Ukraina, yang merupakan tuan rumah perhelatan akbar piala eropa atau euro 2012, juga terjadi kasus rasisme tersebut. Bahkan negara ini juga sudah di cap sebagai negara yang sering melakukan tindak rasisme. Kasus terhangat dari rasisme adalah kasus pemain berkebangsaan Uruguay yang bermain untuk klub Liverpool di Inggris, Luiz Suarez, terhadap pemain berkebangsaan Perancis yang bermain di klub Manchester United di Inggris, Patrice Evra. Pertikaian ini berakhir dengan jatuhnya sanksi larangan bermain terhadap yang diduga pelaku rasisme yaitu Luiz Suarez. Ada juga kasus di negara yang sama dan masih dalam persepakbolaan Inggris, yaitu kasus kapten tim nasional Inggris yang bermain untuk klub Chelsea, John Terry, terhadap pemain asal Inggris juga yang bermain untuk klub Queens Park Rangers, Anton Ferdinand. Kasus ini berakhir dengan dicopotnya ban kapten tim nasional Inggris dari lengan John Terry.

Sebenarnya bagaimana awalnya isu rasisme ini bisa muncul pada sepak bola di Inggris. Isu rasisme di Inggris sebenarnya sudah mengakar di berbagai bidang dan pada akhirnya masuk ke sepak bola.

Kasus rasisme di Inggris berawal dari datangnya para imigran kulit hitam yang berasal dari Karibia dan Afrika dipertengahan antara tahun 1950-1960, dan diawal tahun 1970an yang berasal dari Asia. Inggris merupakan negara yang pluralis memiliki masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam etnis, agama, atau ras. Sehingga Inggris disebut juga sebagai negara yang pluralistik. Orang-orang dari Afrika, Karibia dan Asia tadi datang ke Inggris dengan berbagai tujuan. Mulai dari yang ingin terbebas dari permasalahan yang melanda negara mereka berasal, ingin memperoleh pekerjaan yang layak, sampai kepada ingin memperoleh pendidikan yang layak di tanah Inggris. Mereka juga terlibat dalam berbagai bidang kehidupan di Inggris, seperti bidang olahraga. Terutama adalah sepakbola. Orang-orang Afrika dan Asia gemar bermain sepakbola dan kegemaran mereka akan olahraga sepakbola ini tersalurkan dan berkembang di Inggris, mengingat Inggris memiliki kompetisi sepakbola yang baik dan terkenal di dunia, yaitu kompetisi sepakbola liga Inggris atau Premiership League. Inggris juga merupakan negara asal muasal sepakbola modern di dunia.

Di setiap akhir pekan, mereka selalu menyempatkan diri untuk menyaksikan pertandingan sepakbola liga Inggris pada Divisi Utama, Divisi I ataupun Divisi II, khususnya pertandingan yang menyangkut daerah dimana mereka tinggal. Para pendukung masing-masing klub di Inggris sangatlah fanatik terhadap klub asal mereka. Fanatisme masyarakat Inggris dalam mendukung kesebelasan kesayangan mereka terutama yang berasal dari daerah mereka justru melahirkan bumerang terhadap mereka sendiri. Mereka yang dulu dikenal sebagai masyarakat yang hidup bermasyarakat, tidak terpengaruh dengan masalah perbedaan agama, ras, suku, ataupun etnik, justru sangat berbanding terbalik situasinya pada saat mereka menyaksikan pertandingan sepakbola. Orang-orang kulit hitam dan berwarna, baik pendukung kesebelasan maupun pemain, kini dihadapkan pada permasalahan yang sangat krusial sekali dan menakutkan. Mereka seakan-akan menjadi tidak tenang dalam menyaksikan sepakbola bagi para pendukung dan bagi para pemain, mereka dihantui oleh adanya cacian, hinaan terhadap dirinya, sehingga mempengaruhi permainan dirinya dan klub yang dibelanya. Bahkan seorang pemain sepakbola berkulit hitam dan berwarna kerap kali mendapat perlakuan rasisme dari pendukung tim mereka sendiri, apabila mereka gagal memberikan kemenangan bagi tim yang dibelanya ataupun bila seorang pemain itu melakukan suatu kesalahan, misalnya pemain berkulit hitam atau berwarna itu terkena kartu merah atau pemain itu melakukan gol bunuh diri. Dan yang diherankan adalah pendukung suatu kesebelasan ini melakukan aksi rasisme ini hanya terhadap pemain berkulit hitam atau berwarna saja, tidak kepada pemain berkulit putih. Maka disini dapat kita lihat adanya rasa sentimentil orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan berwarna. Ini mungkin diakibatkan oleh masyarakat Inggris yang sangat beragam, sehingga masalah rasisme ini berkembang luas. Karena hampir setiap negara yang memiliki masyarakat yang beragam etnis, agama, sosial, kultur, selalu dihadapkan pada adanya konflik atau masalah rasisme, seperti contohnya Amerika Serikat dan Inggris ini.

Jika kita perhatikan bahwa perilaku rasisme terhadap orang kulit hitam atau berwarna di Inggris ternyata tidak hanya pada pemain sepakbola atau para suporter sepakbola saja, melainkan juga pada orang-orang yang bekerja di suatu badan atau organisasi. Sehubungan dengan perlakuan rasisme yang selalu terjadi pada sepakbola di liga Inggris, ada sekelompok orang yang sangat fanatik terhadap timnya, yang kerap kali berulah dan menimbulkan kekerasan dan kekacauan bahkan menimbulkan perlakuan rasisme terhadap pendukung tim lain. Mereka menamakan diri mereka sebagai Hooliganisme.  Berbicara tentang sepakbola Inggris, pastilah orang membicarakan ulah para hooliganisme yang selalu membuat keresahan masyarakat. Hubungan antara rasisme dengan hooliganisme sejauh ini merupakan ekspresi rasisme dan prasangka rasis menjadi bahasa bersama hooligan, terutama bagi suporter Inggris bila bertanding keluar Inggris.
Contoh Hooligan

Hooliganisme di Inggris tumbuh sangat cepat. Sejak tahun 1970an sampai dengan sekarang, tim nasional Inggris khususnya sangat erat sekali dengan kehadiran para hooligan.  Para hooligan merupakan pendukung setia tim nasional Inggris dimanapun tim ini bertanding, mereka akan selalu mendampingi tim nasional Inggris. Akan tetapi perilaku para hooligan ini sangatlah meresahkan. Mereka selalu melakukan kekerasan dan kekacauan. Mereka selalu melakukan teror terhadap tim lawan dan suporter tim lawan. Mereka melakukan kekerasan dan kekacauan ini pada sebelum atau setelah pertandingan. Contohnya adalah ketika berlangsung pertandingan pada Piala Eropa 2000 lalu di Belgia-Belanda. Ketika itu, pertandingan antara Inggris melawan Jerman di kota Charleroi, Belgia. Para hooligan melakukan aksi kekerasan terhadap penduduk setempat dan pendukung tim Jerman. Mereka melakukan pengrusakan di hampir seluruh kota Charleroi. Isu ini muncul dan memberi derajat keadaan yang berbeda. Yang mempengaruhi para hooligan ini berbuat kekerasan dan kekacauan adalah:  sejarah, pola mengkonsumsi alkohol, faktor sosial-ekonomi, “The Buzz” (diartikan sebagai sekumpulan hooligan oportunis, menakutkan, selalu ikut serta secara spontan dalam setiap kejadian kekerasan yang terjadi), dan perasaan untuk mewakilkan Inggris.   Pada saat ini, hooliganisme merupakan satu-satunya bentuk dan bagian dari rasisme dalam sepakbola di Inggris. Dan persoalan rasisme ini berpengaruh buruk terhadap citra persepakbolaan Inggris.

Kasus rasisme dalam sepak bola sudah tidak hanya di Inggris saja, tetapi sudah menyebar luas, hingga ke dalam negeri kita sendiri. Tidak sedikit supporter sebuah klub di dalam negeri melakukan aksi-aksi rasisme terhadap pemain atau klub rival. Masalahnya, kalau di eropa sana, sepak bola-nya sudah bagus, semuanya sudah bagus. Tapi kalau di sini, di Indonesia, kasus rasisme hanya akan menambah buruk nasib sepak bola di tanah air.

Solusi

Namun isu rasisme ini bukanlah berarti tanpa jalan keluar untuk menanggulanginya. Langkahnya adalah FA selaku otoritas persepakbolaan Inggris wajib menyusun regulasi yang ketat terutama atas setiap pelanggaran rasisme. Pemberlakuan ‘punishment’ seberat-beratnya baik bagi pemain maupun supporter yang melakukan rasisme merupakan hal yang patut diberlakukan. Sejauh ini FA sudah bertindak benar dengan memberikan sanksi berat kepada pemain yang melakukan rasisme, namun belum kepada supporter atau fans. Padahal indikasinya, perlakuan rasisme lebih banyak dilakukan oleh supporter suatu tim khususnya dalam mengintimidasi pemain atau tim lain. So, Let’s Kick Racism Out of Football

Sumber:
http://id.wikipedia.org
http://satriyanku.blogspot.com
http://olahraga.kompasiana.com
http://www.supersoccer.co.id/
http://www.goal.com/id-ID/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar