Senin, 27 Agustus 2012

Tugas-4 Solusi Labsky untuk Kemanusiaan

Kesadaran Masyarakat Terhadap Maraknya Kasus Bullying di Lingkungan Sekolah

            Kasus kekerasan merupakan salah satu kasus terbesar di linkungan anak muda. Tindakan kekerasan telah merajalela ke seluruh dunia. Di Indonesia, menurut KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), angka kekerasan di lingkungan sekolah pada semester awal di tahun 2012 mencapai 87,6%. Kasus tersebut rata-rata berhubungan dengan masalah pencurian, perkelahian, serta bullying. Namun, di antara 3 masalah tersebut, masalah kekerasan yang sering dihadapi anak sekolah adalah bullying.

            Apa itu bullying? Menurut kamus Webster, bullying berarti penyiksaan atau pelecehan yang dilakukan tanpa motif tetapi dengan sengaja dilakukan berulang-ulang terhadap orang yang lebih lemah. Saya sendiri beranggapan bahwa bullying merupakan perilaku yang melibatkan kekerasan secara fisik, maupun secara verbal, yang dapat mempengaruhi orang lain, terutama pada kehidupan dan pola pikirnya. Di beberapa tempat, banyak masyarakat yang mengsalahartikan bullying. Bahkan, banyak yang menganggap bahwa bullying merupakan suatu tradisi atau kebiasaan untuk menunjukkan siapa yang berkuasa dan siapa yang dianggap sebagai "budak". Sebenarnya, secara umum, bullying dapat diartikan sebagai sikap agresi dari seseorang atau kelompok dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental.

            Menurut Barbara Coloroso, jenis-jenis bullying, yang dituliskan dalam bukunya yang berjudul 'The Bully, the Bullied, and the Bystander', ada 4, yaitu sebagai berikut:

1. Bullying Secara Fisik
            Bullying secara fisik merupakan tindakan bullying yang melibatkan kekerasan fisik, seperti memukuli, menendang, menampar, mencekik, meludahi, menggigit, mencakar, dan merusak serta menghancurkan barang-barang seseorang yang dianggap lemah. Jenis bullying seperti ini merupakan tindakan yang paling mudah untuk diidentifikasi. Walaupun jumlah kasus bullying secara fisik tidak sebanyak kasus bullying lainnya, bullying secara fisik dapat membahayakan jiwa seseorang.

            Saya pernah mendengar suatu cerita dari seorang siswa SMA yang pernah dibawa ke suatu tempat yang sedikit jauh dari lingkungan sekolahnya, oleh kakak-kakak kelasnya, untuk dihajar habis-habisan sampai matanya menjadi biru. Pada saat saya bertanya kepada murid tersebut mengenai alasan dia dihajar, dia pun tidak tahu. Murid tersebut merasa bahwa bentuk bullying seperti itu sudah lazim terjadi di sekolahnya. Namun, kasus tersebut tidak dia laporkan. Padahal, kasus tersebut dapat berakibat fatal.

Salah satu bentuk bullying secara fisik

            Bullying secara fisik bukan hanya terjadi di kalangan anak laki-laki saja, namun juga terjadi di kalangan anak perempuan. Biasanya, tindakan yang dilakukan sama seperti tindakan yang dilakukan kepada murid laki-laki. Namun, di beberapa sekolah di Indonesia, tindakan bullying secara fisik justru ditujukan untuk anak perempuan. Ada beberapa anak perempuan yang seragamnya dirusak dan rambutnya sengaja dipotong oleh kakak kelasnya, dengan alasan yang kurang jelas. Walaupun tidak ada dampak fisik yang dapat mengakibatkan kematian, tindakan-tindakan tersebut tidak terlihat adil bagi korban yang diperlakukan seperti itu. Bahkan di beberapa sekolah, tindakan bullying secara fisik untuk perempuan dibuat lebih sadis dan lebih menakutkan.

Contoh bullying secara fisik terhadap perempuan
        
            Menurut hasil monitoring KPAI, 29,9% tindakan bullying yang melibatkan kekerasan fisik di Indonesia dilakukan oleh guru, 42,1% dilakukan oleh teman sekelas, dan 28% dilakukan oleh teman di luar kelas, dengan jumlah responden 1026 anak. Hal pertama yang dapat dilakukan oleh para korban adalah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, atau bahkan KPAI.
"Kita bisa segera lapor ke polisi kalau memang kasusnya semakin berat. Jangan lupa untuk membawa saksi yang mendukung supaya kasus ini bisa diproses lebih lanjut," saran Kak Seto.
Namun, ada baiknya apabila para korban tersebut membicarakan mengenai kasusnya terlebih dahulu kepada orang-orang terdekat, seperti orang tua, kakak, adik, maupun teman sekolah. Dengan membicarakan mengenai masalah bullying yang pernah dan atau sedang terjadi di kehidupannya, para korban bisa mendapatkan nasihat atau bahkan motivasi hidup, serta memikirkan mengenai kesiapannya dalam melaporkan kasus bullying, karena melaporkan mengenai hal tersebut tidak mudah secara psikologis.

          Para korban bullying secara fisik sebaiknya juga harus berhati-hati apabila kejadian tersebut terjadi lagi. Bagaimana caranya? Dengan mempelajari bela diri. Bela diri, seperti karate, pencak silat, dan taekwondo, dapat membantu mereka, khususnya para perempuan, untuk melindungi diri dari serangan kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba. Namun, jangan sampai para korban tersebut menyalahgunakan kemampuan bela dirinya untuk melawan dan memberi pelajaran kepada orang-orang yang telah mem-bully mereka.

Salah satu cara untuk mengatasi bullying secara fisik: belajar bela diri

2. Bullying Secara Verbal
            Berbeda dengan bullying secara fisik, bullying secara verbal tidak melibatkan kekerasan fisik. Walaupun tidak, bullying secara verbal dipandang lebih menakutkan daripada bullying secara fisik bagi beberapa orang. Bullying secara verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritikan kejam, penghinaan, pernyataan-pernyataan yang bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual, terror, surat-surat yang mengintimidasi, tuduhan-tuduhan yang tidak benar, gosip, dan sebagainya. Terkadang, manusia kurang sadar bahwa perkataan yang diucapkan dari mulut mereka dapat berubah menjadi tindakan bullying secara verbal.

Ilustrasi kejadian bullying secara verbal

            Contoh permasalahan bullying secara verbal di sekolah sangat sederhana. Katakanlah ada sekelompok orang yang sedang dibicarakan. Namun, sekelompok orang tersebut dibicarakan mengenai keburukannya, lalu disebarkan berita yang menyangkut sekelompok orang tersebut tanpa ada fakta yang konkrit (berupa gosip). Di kemudian hari, sekelompok orang tersebut dipanggil dengan nama atau julukan yang kurang sopan dan kurang pantas, sehingga membuat orang tersebut terluka. Bullying secara verbal, yang hanya menggunakan kata-kata, dapat menjadi langkah pertama menuju kekerasan yang lebih lanjut.
"Gossip is a type of a verbal terrorism. To destroy somebody's good name is to commit a kind of murder," kata Joseph Telushkin, seorang penulis buku 'Words that Hurt, Words that Heal'.
Ilustrasi bullying secara verbal dari perkataan Joseph Telushkin

            Di Indonesia, sudah banyak kasus bullying secara verbal yang mengakibatkan korban melakukan aksi bunuh diri. Pada tahun 2006, seorang anak perempuan yang berumur 15 tahun ditemukan dalam keadaan meninggal akibat bunuh diri. Hal tersebut terjadi karena ia sering dicaci maki oleh teman-temannya karena pernah tidak naik kelas pada saat SMP. Setahun kemudian, kejadian yang sama menimpa seorang anak perempuan yang berumur 13 tahun, karena merasa malu setelah dicaci maki oleh teman-teman sekolahnya karena status pekerjaan bapaknya. 3 tahun kemudian, seorang anak perempuan berusaha untuk melakukan aksi bunuh diri dengan melompat dari jendela kamarnya. Namun, anak perempuan tersebut terselamatkan. Menurut orang tua dari anak tersebut, anak mereka mengalami depresi mengenai masalah berat badan. Teman-teman sekolahnya memanggil dia dengan panggilan "gendut".

            Menurut saya, kasus bullying secara verbal merupakan kasus bullying yang cukup susah untuk ditangani. Namun, para korban dapat memilih untuk diam dan menghiraukan ocehan mengenai diri mereka. Apabila para korban terus mendengar ejekan atau ocehan tersebut, permasalahannya tidak akan selesai. Memang sepertinya susah, tetapi dengan menghiraukan para bully tersebut, ada kemungkinan yang cukup besar bahwa para bully tersebut tidak akan menganggu mereka lagi. Selain itu, untuk melupakan permasalahan bullying tersebut, para korban dapat menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, atau melatih bakat yang dimiliki.

            Sama seperti kasus bullying secara fisik, para korban bullying secara verbal sebaiknya membicarakan mengenai permasalahannya kepada orang yang paling dipercaya, seperti guru. Dengan memberi tahu seorang guru, para korban bullying dapat diberi nasihat serta motivasi dalam menjalankan kehidupan di sekolah. Selain itu, berbicaralah kepada teman yang dapat dipercaya. Apapun yang terjadi, teman terdekat yang dapat dipercaya tidak akan mengkhianati kita. Bermain dengan mereka juga dapat membuat para korban melupakan mengenai kejadian-kejadian bullying tersebut.

3. Bullying Secara Relasional
            Bullying secara relasional, atau kadang disebut bullying secara sosial, hampir sama dengan bullying secara verbal. Kedua jenis bullying tersebut tidak melibatkan kekerasan fisik. Namun, kedua jenis bullying tersebut berbeda. Bullying secara verbal terlihat dari perkataan, sedangkan bullying secara relasional terlihat dari sikap seseorang terhadap orang lain. Bullying secara relasional adalah pelemahan harga diri korban secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, atau penghindaran. Ada beberapa tipe bullying secara relasional, antara lain:
1. The Silent Treatment 
Tipe bullying secara relasional yang seperti ini biasanya dilakukan dengan mengabaikan seseorang yang dianggap lemah atau tidak berdaya. Apabila ada sekelompok orang yang tidak menyukai seseorang, mereka lebih memilih untuk mengabaikan orang tersebut dan tidak akan merespon satupun perkataan yang keluar dari mulut orang tersebut.
Ilustrasi gambar 'the silent treatment'
2. Pengecualian Dari Suatu Kelompok 
Tipe bullying secara relasional yang seperti ini biasanya terjadi, apabila seseorang yang berada di dalam suatu kelompok tidak dianggap dan tidak didengar oleh orang lain yang berada di kelompok tersebut. Perlakuan seperti ini sedikit berbeda dari tipe the silent treatment, karena suatu kelompok tersebut ingin dan akan memastikan agar orang tersebut mengerti bahwa tidak ada yang mau menganggapnya dan melibatkannya dalam kelompok tersebut. 
3. Menyebarkan Rumor dan Gosip 
Penyebaran rumor dan gosip yang dimaksud bertujuan untuk menjauhkan seseorang dari suatu kelompok atau komunitas sosial. Dengan menyebarkan rumor dan gosip, seseorang yang menjadi korban dapat dijatuhkan reputasinya dan dijauhkan oleh orang-orang di sekitarnya. 
4. Persahabatan dengan Syarat 
Hal ini biasanya terjadi apabila seseorang ingin berteman, tetapi ingin sesuatu yang lebih dan dianggap kurang pantas dari orang yang akan dijadikan temannya tersebut, misalnya seseorang mengatakan "Saya ingin menjadi teman Anda apabila Anda bersedia untuk memberikan saya semua jawaban pada saat ulangan." Hal tersebut membuat orang lain menjadi kurang nyaman dan merasa bahwa dirinya hanya ingin didekati karena kepintaran dan kepandaiannya.

             Walaupun bullying secara relasional terlihat seperti jenis bullying yang tidak terlalu menyakitkan, bukan berarti kita harus diam dan tidak melakukan apapun. Pihak orang tua sangat dibutuhkan untuk mengatasi kasus-kasus bullying seperti ini. Yang dapat dilakukan oleh orang tua kepada anaknya adalah menetapkan perilaku yang positif di rumah sehingga anak tersebut sudah terlatih untuk berperilaku sopan terhadap orang lain. Apabila orang tua di rumah sering menyebarkan rumor dan gosip yang dapat menjatuhkan harga diri orang lain kepada anaknya, anak tersebut kemungkinan akan berperilaku seperti itu terhadap temannya. Selain itu, orang tua sebaiknya membicarakan mengenai bullying sejak usia dini. Dengan memahami apa itu bullying, anak-anak dapat mengerti mengenai betapa bahayanya bullying.

            Para korban bullying secara relasional sebaiknya lebih banyak berpartisipasi di dalam kelompok atau organisasi sosial. Dengan bertasipasi di dalam suatu kelompok atau organisasi, para korban bullying tersebut akan lebih dikenal dengan kontribusinya terhadap lingkungan sosial dan kepandaiannya dalam bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, para korban juga harus belajar untuk mengetahui kebaikan yang ada di dalam dirinya masing-masing. Apabila mereka sudah mengenali dan percaya dengan kebaikan masing-masing, rasa sakit dari tindakan bullying tersebut tidak akan muncul di dalam hatinya. Mereka sudah mempunyai persepsi bahwa orang-orang mengabaikan dirinya hanya karena sifat iri.

4. Cyber Bullying (Bullying Elektronik)
            Cyber bullying, atau bullying elektronik, merupakan jenis bullying yang paling sering terjadi belakangan ini. Dengan berkembangnya teknologi, semua orang dapat menulis apa saja di dunia maya. Jenis bullying yang seperti ini merupakan bentuk perilaku bullying yang dilakukan melalui sarana elektronik, seperti komputer, handphone, internet, website, chatting room, e-mail, SMS, dan sebagainya. Biasanya cyber bullying ditujukan untuk meneror korban dengan menggunakan tulisan, animasi, gambar, dan rekaman video atau film yang bersifat mengintimidasi, menyakiti, atau menyudutkan.
Contoh cyber bullying

            Cyber bullying bisa menjadi langkah awal untuk menciptakan suatu tindakan bullying yang ekstrim, seperti kasus bullying terhadap anak-anak remaja yang memiliki rambut merah di suatu sekolah di California, Los Angeles. Pada tanggal 20 November 2009, sekelompok murid mengajak kawan-kawan satu sekolah untuk berpartisipasi dalam kegiatan 'Kick A Ginger Day' melalui facebook. Akibatnya, hampir seluruh murid kelas 7-9 yang berambut merah mengalami kekerasan fisik. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang mengalami luka berat. Pihak sekolah dan polisi pun langsung bertindak. 20 orang siswa menjalani hukuman skorsing dari sekolah dan 3 orang siswa, yang baru berumur 13 tahun, terpaksa ditahan polisi dan diadili, karena terbukti sebagai pembuat rencana 'Kick A Ginger Day'.
Salah satu korban 'Kick A Ginger Day'

            Internet memang banyak disalahgunakan oleh masyarakat dan sejauh ini, internet telah dijadikan sebagai sarana untuk melakukan tindakan bullying. Pada saat hal tersebut terjadi kepada kita, sebaiknya jangan direspon. Para pelaku bullying pasti selalu menunggu reaksi dari korban. Untuk itu, jangan mudah terpancing untuk merespon perkataan pelaku tersebut dan jangan mudah terpancing untuk membalas perlakuan pelaku tersebut. Yang kedua, simpan semua bukti yang ada. Perlakuan tersebut berlangsung di media digital, sehingga korban akan lebih mudah untuk menyimpan pesan, gambar, atau materi lainnya yang dikirimkan oleh pelaku. Selanjutnya, laporkanlah perbuatan pelaku ke orang-orang yang dapat dipercaya seperti guru dan atau orang tua. Yang paling penting yang harus dilakukan untuk mencegah tindakan cyber bullying adalah menjaga perilaku di dunia maya. Perilaku buruk, seperti membicarakan orang lain, bergosip, atau mengfitnah, akan meningkatkan risiko seseorang menjadi korban cyber bullying.
STOP Cyber Bullying!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar