Minggu, 26 Agustus 2012

Tugas 3 - Solusi Labsky Untuk Indonesia

Pengelolaan Sampah di Indonesia

Hai teman-teman :) Keluhan seperti ini pasti sering kalian dengar, terutama dari orang-orang yang pekerjaannya membersihkan lingkungan setiap hari:
 “Sampah ngga pernah ada habisnya! Dibersihin tiap hari juga eh sampahnya ada lagi, ada lagi.”



Saat ini, sampah tidak hanya menjadi masalah di kawasan daerah Jakarta, tetapi telah menjadi masalah serius di hampir seluruh kota di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia telah meningkatkan taraf kehidupan penduduknya. Peningkatan pendapatan di negara ini ditunjukkan dengan peningkatan kegiatan produksi dan konsumsi. Pertumbuhan ini juga membawa pada penggunaan sumber daya alam yang lebih banyak untuk keperluan  industri, bisnis dan aktivitas  sosial. Di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, pengurusan sampah sering mengalami masalah. Pembuangan sampah yang tidak diurus dengan baik, akan mengakibatkan masalah besar. Masalah sampah sudah saatnya dilihat dari konteks nasional.

Permasalahan sampah di Indonesia antara lain semakin banyaknya limbah sampah yang dihasilkan masyarakat, kurangnya tempat sebagai pembuangan sampah, sampah sebagai tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus, menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air, dan udara, menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang membahayakan kesehatan. Membakar sampah perlu dihindari, karena akan menyebabkan polusi udara. Jalan pintas dengan membuang sampah ke sungai hanya akan menimbulkan persoalan baru, seperti banjir dan pencemaran air.


Penyebab banjir umumnya sampah an-organik, plastik atau kaleng-kaleng yang sulit terurai. Sampah-sampah jenis ini juga perlu mendapat perhatian untuk di daur ulang. Dalam konteks inilah, perlu dicari solusi penanganan sampah yang tepat, yang mampu meminimalisir menumpuknya timbulan sampah. Sudah saatnya dilakukan pengurangan jumlah sampah, air sisa, serta peningkatan kegiatan dalam menangani sampah. Tidak akan ada lagi cerita tentang menumpuknya sampah di TPA atau di pinggir jalan atau dikali/selokan ataupun di lingkungan yang mengganggu aliran air.

3R atau Reuse, Reduce, dan Recycle sampai sekarang masih menjadi cara yang umum digunakan dalam mengelola dan menangani sampah dengan berbagai permasalahannya. Penerapan sistem 3R atau reuse, reduce, dan recycle menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah di samping mengolah sampah menjadi kompos atau meanfaatkan sampah menjadi sumber listrik (PLTSa; Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Justru pengelolaan sampah dengan sistem 3R (Reuse Reduce Recycle) dapat dilaksanakan oleh setiap orang dalam kegiatan sehari-hari.


3R terdiri atas reuse, reduce, dan recycle. Reuse berarti menggunakan kembali sampah yang masih dapat digunakan untuk fungsi yang sama ataupun fungsi lainnya. Reduce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan sampah. Dan Recycle berarti mengolah kembali (daur ulang) sampah menjadi barang atau produk baru yang bermanfaat. Mengelola sampah dengan sistem 3R (Reuse Reduce Recycle) dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja (setiap hari), di mana saja, dan tanpa biaya. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu dan kepedulian kita.

Jika ditanya, solusi apa yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini? Saya yakin pasti sebagian besar dari kalian menjawab: “Mendaur ulang sampah-sampah an-organik”. Contoh konkritnya sudah ada di sekolah kita, yaitu dengan kegiatan Lamuru, sebuah kegiatan perkusi yang menggunakan barang-barang seperti galon dan tong bekas. Kegiatan perkusi ini bisa mengurangi jumlah sampah. Juga beberapa tahun lalu di beberapa kota sempat ada trend menggunakan tas yang terbuat dari bungkus plastik sabun atau detergen yang disusun dan dirangkai sedemikian rupa sehingga membentuk tas yang lucu dan awet.

Tetapi apakah kalian tahu? Sebanyak 60-70 % sampah di Indonesia bukanlah sampah kaleng dan plastik melainkan  sampah mudah membusuk alias sampah organik, yang diketahui karena pola konsumsi masih bercorak agraris. Maka, solusi untuk mendaur ulang sampah kaleng, plastik, dan sampah-sampah an-organik lainnya menjadi barang-barang berguna, walaupun sangat membantu namun belum dapat menyelesaikan masalah lingkungan di negara kita tercinta ini.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Sederhana saja, sesederhana yang dilakukan orang tua jaman dulu, yaitu memisahkan sampah basah dan mudah membusuk terlebih dulu. Seperti di sekolah kita, SMA Labschool Kebayoran, sering kita lihat ada dua tempat sampah yang berbeda warna, yaitu tong berwarna kuning dan tong berwarna biru. Tong berwarna kuning untuk sampah an-organik dan tong berwarna biru untuk sampah organik. Hanya saja semua itu tergantung diri kita masing-masing untuk mempunyai kesadaran dalam memisahkan sampah-sampah tersebut, yang kadang-kadang kita pun malas melakukannya.



Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan ilmu pengetahuan, mengolah sampah organik yang mendominasi sampah di perkotaan Indonesia dengan penemuan mesin kompos, menggunakan proses pengomposan modern, dan telah di modifikasi bagi kepentingan untuk mengolah sampah di sumber-sumber timbulnya atau dengan kata lain bisa dilakukan di rumah-rumah atau pabrik tanpa harus ke tempat pembuatan pupuk kompos, bisa dipertimbangkan sebagai pilihan utama. Salah satunya dengan cara menggunakan komposter di halaman, menjadikan sampah kebun dan dapur sebagai bahan pengomposan- yang kemudian amat berguna dalam kegiatan pertamanan. Cara itu dikenalkan di Indonesia dalam komposter sebagai media dekomposisi dan memanfaatkan mikroba-bakteri dan jamur sebagai aktivator proses dekomposisi tersebut. Maka, menggunakan komposter di rumah-rumah di Indonesia menjadi amat praktis dan berguna jika mengingat keperluan akan pupuk organik bagi penyuburan kebun pekarangan serta sekaligus mengurangi beban TPA- yang makin bermasalah di banyak kota di tanah air.
Sampah organik yang mudah membusuk juga dapat dimasukkan ke lubang resapan biopori (LRB). Lubang resapan biopori sangat mudah dibuat. Lubang resapan biopori mempunyai multi fungsi, selain menyimpan sampah organik yang menjadikan tanah tersebut subur juga sebagai penyimpan air hujan di perkotaan. Air hujan yang menimbulkan banjir, kemacetan dan rusaknya jalan-jalan umum. Lubang resapan biopori juga cara termudah untuk anak-anak muda yang mulai peduli sampah. Kita bisa bikin acara bersama-sama untuk membuat lubang resapan biopori di taman-taman kota yang bisa diisi daun-daun kering dan rumput. Selain itu juga membuat lubang resapan biopori di rumah-rumah secara bergantian. Jadi selain mengurangi sampah organik, kita juga sekaligus menyelamatkan lingkungan kita dari kerusakan.

Garbage Truck
Untuk solusi pengolahan sampah dengan teknologi yang lebih tinggi lagi, sebagai siswa-siswa berprestasi, di masa depan kita dapat membuat truk sampah yang tidak memberlukan bensin, bahkan sampah bisa dijadikan bahan bakarnya. Seperti yang terjadi di Inggris bagian tengan, tepatnya di kota Heddersfield. Truk sampah itu mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan sampah sebagai sumber tenaganya. Pada akhirnya truk tiba di tempat pembuangan akhir dalam kondisi sampah telah terurai. Tentu saja ramah lingkungan karena tidak mengeluarkan emisi atau gas buang berupa karbon berbahaya. Cara kerjanya, sampah dibakar dan diubah menjadi energi listrik di dalam generator sampah. Hasil pembakaran kemudian diubah menjadi energi listrik oleh generator. Garbage Truck diciptakan karena inspirasi dari mobil DeLorean dalam film Back To The Future. Mobil dalam film itu menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya. Harapannya, Garbage Truck dapat diaplikasikan pula di negara lain terutama Indonesia. Selain ramah lingkungan, masalah sampah pun teratasi perlahan. Apalagi untuk masalah sampah yang tidak dapat terurai secara alami.

Dari sisi sosial, untuk masyarakat yang lebih luas, kita bisa melakukan kampanye untuk menyadarkan masyarakat akan penumpukan sampah di tempat tinggal sekitar. Terutama untuk masyarakat yang tinggal di bantaran sungai, kita bisa memberi tahu mereka untuk tidak membuang sampah di sungai karena bisa berakibat buruk bagi mereka sendiri. Kita juga bisa mempelajari metode pengolahan pupuk kompos modern yang sederhana agar dapat disebarluaskan ke masyarakat lainnya, atau bahkan dimulai dari keluarga kita di rumah kita sendiri. Diharapkan dengan adanya aksi sosial ini, masyarakat mempunyai kesadaran untuk berusaha mengolah sampah sebaik-baiknya sebelum membuangnya. Masyarakat dapat mengubah mindset mereka bahwa tempat pembuangan akhir bukanlah solusi terbaik untuk persoalan sampah, karena suatu saat ketika tempat pembuangan akhir pun tidak mampu menampung sampah-sampah yang dihasilkan oleh penduduk, kita yang bahkan tinggal di perkotaan juga akan merasakan getahnya seperti polusi udara yang membuat tidak nyaman, dan semakin menyempitnya lahan karena sebagian digunakan untuk tempat penampungan sampah. Kesadaran yang paling sederhana adalah untuk mengurangi pemakaian barang-barang yang nantinya akan dibuang juga. Contohnya tisu, bisa kita ganti dengan menggunakan lap kain, atau saat menggunakan produk rumah tangga seperti pewangi dan sabun, sampah bisa kita kurangi dengan membeli refillnya saja dan bukan membeli tempat yang berupa botol atau kaleng berkali-kali, serta memakai baterai yang bisa di charge agar tidak harus membuang dan membeli baterai baru karena baterai adalalah salah satu benda yang tidak mudah terurai dan  menimbulkan zat berbahaya untuk tanah. Bisa juga menggunakan kembali wadah atau kemasan yang telah kosong untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya. Misalnya botol bekas minuman digunakan kembali menjadi tempat minyak goreng.




Ketika nanti beberapa di antara kita menjadi pengusaha, terutama pengusaha produk yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, kita bisa memakai bahan untuk bungkus atau tempat yang terbuat dari bahan ramah lingkungan sehingga lebih mudah terurai dan menyatu dengan tanah, sekaligus tidak membahayakan kesehatan manusia. Atau bisa juga dengan memproduksi barang yang dapat digunakan berkali-kali sehingga mengurangi jumlah sampah yang akan dibuang. Dengan begini kita dapat menyelamatkan lingkungan kita dari sampah, dan bisa hidup tenang menikmati lingkungan yang indah di negara tercinta kita, Indonesia. 




referensi

3 komentar:

  1. Melihat dan membaca solusi mengatasi persoalan sapah tsb.jelas cara tsb sdah lama dipergunakan,tapi toh hingga saat ini juga dimana mana sama hasilnya belum bisa dibilang berhasil mengatasi persoalan sampah,ande saja dengan cara yg tepat niscaya tidak mungkin kejadiannya seperti sekarang ini,cara tsb bisa (buka)http://teknologitpa.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Terima kasih Pak Salikun, semoga infonya bermanfaat bagi pegiat yang peduli pada persoalan sampah

    BalasHapus