Senin, 27 Agustus 2012

Tugas 3-Solusi Labsky untuk Indonesia


"Indonesia-ku kaya, tapi, kok, dibilang miskin?"

Indonesia memang negara yang kaya. Semua pasti tahu bahwa kekayaan Indonesia memang sangat berlimpah, bukan? Dapat dilihat dari pulau-pulaunya yang tak terhingga, mulai dari pulau-pulau besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, hingga pulau-pulau kecilnya. Berdasarkan info terkini, Indonesia memiliki pulau sebanyak 13.466. Berletak di iklim tropis, membuat Indonesia juga kaya akan sumber daya alamnya, baik flora maupun faunanya. Mengingat Indonesia merupakan negara maritim, biota lautnya pun juga tidak kalah mencengangkan. Indonesia pun menjadi negara yang paling indah ke 4 menurut First Choice.
Kekayaan dan keindahan laut Indonesia
Selain itu, melihat banyaknya pulau di Indonesia, ini pun juga menghasilkan kayanya budaya di Indonesia. Siapa yang tak kenal reog ponorogo, batik, hingga wayang? Hal lain yang melimpah di Indonesia adalah sumber daya manusianya. Bisa dilihat bahwa Indonesia termasuk negara ke empat di dunia dengan penduduk terbanyak, sekitar 244.775.796 jiwa.
Lalu, kenapa Indonesia sering disebut negara miskin? Meski, Indonesia kaya dalam beberapa hal seperti yang disebutkan tadi, ternyata Indonesia masih cukup jauh dari standar kesejahteraan. Indonesia termasuk negara termiskin ke 68 di dunia, menurut penghitungan GDP per kapita. Meski masuk dalam urutan 68, Indonesia masih tergolong negara miskin.
Angka kemiskinan di Indonesia juga masih sangat tinggi. BPS melaporkan ada sekitar 37 juta orang, sementara ketua PBNU memperkirakan mendekati 100 juta orang tergolong miskin.
Kemiskinan Indonesia ini bisa dilihat dari hutang Indonesia di tahun 2011 yang naik Rp. 17,13triliun yaitu menjadi Rp. 1.695.000.000.000.000. Yang jika dihitung kasar apabila hutang Indonesia Rp. 1.695 triliun dibagi dengan jumlah penduduk indonesia 250 juta jiwa, maka setiap orang warga Indonesia berhutang sebanyak Rp. 6.780.000. Sungguh memprihatinkan, bukan?
Contoh kecilnya saja, yang sering kita lihat di lingkungan kita pun belum semua sejahtera. Terjadi kesenjangan sosial yang jauh antara yang kaya dengan yang miskin, meski dalam satu kota yang sama, contohnya Jakarta. Tak jarang pemulung dan peminta-minta menjadi pemandangan sehari-hari di jalanan.

MASALAH
Kemiskinan sendiri merupakan keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Banyak penyebabnya, bisa dikarenakan kelangkaan kebutuhan dasar, ataupun minimnya/sulitnya mencapai pendidikan/pekerjaan.
Mengapa kemiskinan ini bisa terjadi?
Eksploitasi SDA yang berlebihan
Pertama, faktor alam dan geografis kita tentunya sudah sangat strategis dan menghasilkan sumber daya alam yang berlimpah. Tapi hal ini tidak berhenti begitu saja, karena banyaknya eksploitasi yang tidak terkontrol sehingga terkadang menyebabkan kekurangan bahan sumber daya alam. Selain itu, harganya juga yang sangat tidak dikira-kira, sehingga tak semua bisa menikmati bahan pangan kita ini. Seperti yang kita ketahui, belakangan ini, terdapat berita mengejtukan mengenai melonjaknya harga tahu dan tempe. Jika daging yang biasanya harga nya mahal saja tidak mampu dibeli bgi orang miskin, mereka akan lari ke tahu dan tempe, namun hal ini bisa menjadi masalah dengan kenaikan harga bahan baku tempe yang akan diikuti naiknya harga penjualan kepada konsumen.
Hal ini tidak saja merugikan para konsumen, namun juga para produsen yang harus memperbesar pengeluaran bahan baku dan menyebabkan kerugian para pedagang, hingga berujung bangkrut dan tidak memiliki pekerjaan/pengangguran, sehingga bisa dikategorikan miskin.
Eksploitasi yang berlebihan tentu berdampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat. Contohnya saja, eksploitasi sumber air yang tinggi mengakibatkan miskinnya air bersih dan lahan yang kekeringan, sehingga pengangguran tenaga kerja di sektor pertanian pada lahan tersebut.
Faktor selanjutnya yang sangat berakibatkan kemiskinan adalah padatnya penduduk Indonesia ini. Seperti yang sudah dijelaskan, Indonesia memiliki penduduk sekitar 244.775.796 jiwa. Dengan luas wilayah Indonesia yang sekitar 1.910.931 km2, maka rata-rata tingkat kepadatan penduduk Indonesia adalah sebesar 124 orang per km2. Rata-rata kepadatan penduduk ini masih tergolong tinggi.
Peta Kepadatan Penduduk Indonesia
Dengan padatnya penduduk ini, mengakibatkan muncul-munculnya hal negatif. Contoh, jika kepadatan penduduk sudah membludak sementara lahan di Indonesia terbatas, hal ini mengakibatkan masyarakat tinggal dalam jarak yang sempit bahkan sampai ke daerah/wilayah yang tidak layak, seperti pinggiran rel kereta api maupun bantaran kali, yang sama sekali tidak higienis ataupun aman. Bahkan sampai yang tak memiliki tempat tinggal, contohnya para pemulung dan keluarganya yang tinggal di gerobak saja. Selain faktor tempat yang terbatas, ini juga dikarenakan faktor biaya yang mereka miliki minim.
Rumah tidak layak di bantaran kali
Selain itu, padatnya penduduk mengakibatkan penyempitan kota. Tata ruang kota akan menjadi amburadul, dan pemerintah kewalahan dalam mengaturnya. Serta jumlah kendaraan yang tidak terbatas seiring dengan jumlah penduduk akan menghasilkan kemacetan.
Kembali lagi ke eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, kepadatan penduduk juga merupakan salah satu faktornya. Seiring bertambahnya penduduk, dibutuhkan bahan pangan yang lebih juga. Sementara sumber daya alam kita, meski berlimpah, tentu tetap memiliki batasan tertentu.
Banyaknya penduduk yang tinggal di Indonesia mengharuskan penyediaan lapangan pekerjaan yang banyak agar penduduk bisa mencapai kemakmurannya. Sementara, lapangan pekerjaan yang minim sangat tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada, mengakibatkan banyaknya pengangguran di Indonesia.
Di era globalisasi seperti ini, teknologi pun sudah semakin maju. Sehingga banyak sumber daya manusia yang tergantikan oleh mesin-mesin seiring teknologi yang semakin canggih. Dan kembali, membludaknya pengangguran.
Pendidikan Indonesia yang masih minim
Yang paling memprihatinkan adalah, jika pengangguran diakibatkan karena ketidakmampuan sumber daya itu sendiri, dikarenakan pendidikannya yang kurang. Pendidikan yang rendah tentu memiliki pekerjaan yang terbatas, pekerjaannya pun dengan gaji seadanya yang terkadang tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Bahkan, ada pula yang benar-benar tidak mendapat pekerjaan sekali pun dan berakhir ke pengangguran. Jika menganggur, pastilah sangat susah untuk memenuhi kebutuhannya hingga makmur, dan mereka pun tergolong miskin.
Tidak ratanya pemerataan penduduk juga mengakibatkan kesenjangan sosial yang sangat jauh. Banyaknya penduduk yang melakukan urbanisasi ke Jakarta mengakibatkan Jakarta semakin sempit. Dengan sumber daya alam, lahan, serta lapangan pekerjaan yang terbatas, jalhasil terjadilah kenaikan tingkat kemiskinan.
Dari faktor-faktor tersebut, angka kemiskinan pun bisa terjadi dan berkembang di negara ini. Lalu, apa dampak tersendiri dari kemiskinan?
Secara garis besar, kemiskinan akan berakibat ketidaksejahteraan masyarakat. Namun, ketidaksejahteraan pada masyrakat ini bisa berarti banyak.
Pertama, kemiskinan akan berakhir dengan peralihan lapangan pekerjaan yang tidak layak. Karena masyarakat menuntut untuk mencapai kemakmuran meski tidak mendapat pekerjaan yang layak, maka berbagai cara dilakukan agar mendapat uang.
Pencopetan
Kriminalitas salah satunya. Tak jarang kita temui di bus atau jalanan sekedar pencopet atau maling. Pencuri-pencuri pun juga berkeliaran, dan banyak yang memiliki alasan karena tuntuan ekonomi mereka yang kurang untuk memenuhi keluarga.
Hal lain yang mereka lakukan terkadang juga sebagai pengamen atau peminta-minta. Tentu kita sering melihat fenomena ini setiap hari di jalan, dimana banyak pengamen yang mengandalkan keahliannya dalam musik untuk mencari uang, serta yang tidak memiliki apapun berujung menjadi peminta-minta.
Dampak lain dari kemiskinan adalah kurangnya kualitas sanitasi/kesehatan yang ada. Contohnya saja, masyarakat yang tinggal di bantaran kali yang menjadi tempat buangan sampah pasti akan kesusahan mendapat air bersih, sehingga kesehatan mereka pun ikut terganggu.
Selain itu, kemiskinan juga akan berdampak kepada pendidikan bagi para keturunannya. Dengan ketidakmampuan dalam hal ekonomi, para anak penerus bangsa justru harus berhenti sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya. Kualitas sumber daya manusia pun tidak tinggi, sehingga mereka akan mengulang siklus kemiskinan nantinya dengan pekerjaan seadanya.

SOLUSI
Ditinjau dari sebab dan akibat kemiskinan tadi, terdapat beberapa solusi yang bisa kita laksanakan dalam upaya pengentasan kemiskinan ini.
Pertama, meningkatkan pendidikan rakyat. Pendidikan harus bisa dijangkau oleh rakyat Indonesia, kalangan apa saja. Kualitas pengajar juga harus bagus agar biaya untuk pendidikan tidak sia-sia. Setidaknya terdapat fasilitas memadai yang bisa dipakai rakyat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia lewat pendidikannya.
Beberapa anak memanfaatkan taman bacaan di lingkungannya
Fasilitas ini tidak harus dengan buku-buku sekolah yang mahal namun terkadang tidak ada manfaatnya. Maka, dibutuhkanlah perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar yang lain. Buku-buku sekolah juga bisa dilungsurkan dari kakak kepada adik-adiknya agar mengehmat biaya. Taman bacaan di lingkungan juga perlu untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Pemerintah sudah cukup baik dengan pemberian SPP gratis dalam tingkat SD dan SMP, namun untuk masuk ke perguruan tinggi masih dibutuhkan uang yang tidak sedikit, bahkan dikategorikan sangat mahal.
Pendidikan merupakan faktor penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, tentu dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkurangnya pengangguran.
Kedua, stop eksploitasi sumber daya alam berlebihan, terutama yang diambil oleh perusahaan asing. Sejauh eksploitasi kita masih dalam taraf wajar, tidak masalah. Lebih baik apalagi kita mengerti dalam pemberdayaan sumber daya alam ke arah yang lebih baik dengan cara mengelola dan berinovasi sendiri,sehingga negara kita pun juga ikut lebih maju.
Ketiga, meminimalisir barang impor. Dengan kekayaan alam di Indonesia, tentunya banyak yang bisa kita lakukan terhadap barang dalam negeri dibanding barang dari luar negeri. Kita bisa memproduksi barang-barang dalam negeri sendiri dan membuka lapangan pekerjaan lebih banyak, dibandingkan tergantung terhadap barang impor.
Keempat, pemberdayaan wilayah-wilayah yang tertinggal. Tidak bisa dipungkiri, terdapat kesenjangan sosial yang tidak merata antara kota-kota di Indonesia ini. Terdapat kota yang sudah sangat maju, namun terdapat pula kota yang masih sangat tertinggal. Kota-kota tersebut perlu ditinjau baik dari usaha-usaha yang ada di sana, dll.
Kelima, pemerataan penduduk. Karena adanya kesenjangan yang berbeda di tiap-tiap daerah, perlulah diratakan penduduknya dengan transmigrasi agar tidak terdapat kesenjangan antar kota dan semua sama-sama maju.
Keenam, pemerintah dapat melaksanakan program rehabilitasi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Contohnya adalah Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu Taskin) dan Jaringan Pengaman Sosial (JPS). Program ini bisa melalui proses penanggulangan kemiskinan maupun pemberdayaan penduduk dan masyarakat miskin.

Semoga, dari solusi-solusi yang disebutkan di atas, kemiskinan di Indonesia bisa berkurang dan teratasi. Intinya, semua butuh kerjasama dari pihak pemerintah maupun masyarakat sendiri. Dan semua juga harus berawal dari diri sendiri untuk mencegahnya, kalau bukan kita, siapa lagi?

 
Sumber:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar