Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas-3 Solusi Labsky Untuk Indonesia


Pendidikan yang Masih Mengedepankan Nilai


            Indonesia adalah negara pekerja. Sejak kecil, seorang anak dididik untuk mencapai pendidikan yang tinggi agar mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya (baca: gaji yang lebih besar). Tak usah mengelak, memang itu yang terjadi dalam negeri kita sekarang. Banyak warga Indonesia yang bekerja menjadi karyawan perusahaan asing. Sementara kita bersusah payah di lapangan, para ‘bule’ itu menggunakan otaknya di belakang layar dan mendapat keuntungan yang jauh lebih banyak daripada upah yang kita terima. Mengapa bukan kita yang menciptakan suatu hal baru dan memimpin perusahaan itu?
Jawabannya, karena angan-angan kita dikunci. Imaginasi kita diblokir. Bagaimana bisa? Lewat pendidikan yang masih mengedepankan nilai.

Masalah

Tes Masuk
Seorang anak harus mempunyai kecerdasan yang tinggi untuk bisa masuk SD. Jika nilainya lebih rendah dari calon siswa yang lain, otomatis ia akan tergeser. Begitu juga untuk masuk SMP, SMA, dan kuliah. Sampai ada yang harus menunda satu tahun hanya karena nilainya selalu kalah dari calon-calon lain di sekolah mana pun. Akhir-akhir ini bahkan ada Taman Kanak-kanak yang menggunakan tes masuk. Di luar negeri, tes masuk diberlakukan untuk siswa yang akan masuk kuliah.

Tuntutan Orangtua
Siswa Indonesia dituntut untuk mendapat nilai yang tinggi oleh orangtuanya. Tekanan itu terlihat jelas. Orangtua bangga bila anaknya mendapat ranking tinggi. Bukannya tidak boleh, tapi masa ada anak yang dimarahi jika tidak menjadi 10 besar di kelas? Padahal, anak itu baru kelas 2 SD. Kasus lain, ada anak yang diharuskan ikut bimbingan belajar setiap hari sampai malam. Semua itu dilakukan hanya karena ibunya tak mau anak tersebut NEM UASBN-nya kurang dari 27. Kadang juga dilakukan penyogokan oleh orangtua agar anaknya tetap bisa masuk di jurusan IPA walaupun nilainya tidak cukup. Sebagian orangtua memang masih berpikiran kuno, menganggap ranking dan jurusan IPA adalah segala-galanya.

Jam Belajar dan Hari Masuk
Sekolah-sekolah di Indonesia sudah termasuk lama sekali jam belajarnya (mencapai 5-6 jam untuk siswa SD, 7 jam untuk siswa SMP, dan 8 jam untuk siswa SMA). Itu belum termasuk jam tambahan untuk ekskul dan jika anak harus remedial/memperbaiki nilai. Sekolah di Indonesia juga termasuk yang paling banyak hari masuknya dalam setahun. Jumlah hari libur rata-rata yang kalau ditotal kurang dari 3 bulan, berbanding jauh dengan libur sekolah di negara lain yang bisa mencapai 5-6 bulan dalam setahun. Terlihat jelas upaya Pemerintah untuk membuat warganya pintar agar nilainya bagus dengan cara terlalu banyak belajar.

            Minimnya Dukungan Pada Muatan Lokal
            Mata pelajaran wajib di sekolah lebih didukung ketimbang muatan lokal. Padahal, muatan lokal seperti bahasa daerah, tata boga, tata busana, pendidikan kehidupan dan lingkungan, dan kesenian daerah yang membuat anak menjadi terampil, berkarya, dan bisa melestarikan budaya mereka. Misalnya, mereka yang mengikuti OSN dibiayai dan diberi banyak fasilitas jika menang. Namun, yang pergi ke luar negeri untuk mengikuti festival budaya tidak dibiayai sedikit pun. Sama-sama mengharumkan nama Indonesia, tapi beda penghargaannya. Seharusnya ada keseimbangan di antara keduanya.
            Pikiran Mayoritas
“Eksak itu penting. Memasak itu tidak harus bisa. Mata pelajaran IPA itu harus ada di sekolah, tata boga tidak wajib. Pelajaran tentang kelautan? Buat apa. Kamu kan nggak mau jadi nelayan, tapi insinyur. Bagaimana cara memotong kayu itu tidak penting, kamu kan bisa menggaji kuli saat sudah jadi dokter nanti. Cita-cita kamu seniman? Waah, hati-hati ya, susah loh dapat duitnya,” seakan-akan kini semua orang menjunjung tinggi hal tersebut.
Kurangnya Ajakan Untuk Berakhlak Baik
Tidak seperti di Indonesia, guru-guru di sekolah-sekolah di luar negeri contohnya Australia lebih khawatir jika anak-anak didiknya buang sampah sembarangan, menyeberang jalan seenaknya, tidak sopan pada orang yang lebih tua, tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan tempat tidur, dan tidak bisa mengantri ketimbang mereka belum bisa membaca dengan baik. Bagi mereka, membaca, menulis, dan berhitung, bisa diajarkan dalam kurun waktu singkat. Namun akhlak dan perilaku membutuhkan waktu sejak lahir sampai dewasa untuk dibentuk. Begitu juga siswanya. Mereka tidak suka jika guru mereka terlambat datang atau jika teman mereka mengotori toilet. Sementara di Indonesia, guru-guru masih lebih suka jika murid mereka terkenal dengan kepintarannya.

Akhirnya terdikte di kepala siswa kalau yang dicari itu nilai. Tidak apa tidak sopan sama guru asal nilainya bagus. Tidak apa-apa tawuran, toh nilainya tidak jelek. Tidak apa-apa menyontek asal nilainya mencukupi standar. Tidak apa-apa disiksa kakak kelas saat MOS, yang penting sudah masuk di sekolah terkenal yang (katanya) bagus. Tidak apa-apa nyogok asal bisa diterima di jurusan IPA. Tidak apa-apa masuk perguruan tinggi yang tidak sesuai minat, toh nanti lebih gampang diterima kerja. Tidak apa-apa cita-cita tidak tersampaikan, yang penting punya gaji tetap. Tidak apa-apa tidak suka dengan pekerjaan, yang penting gajinya banyak. Tidak apa-apa tidak bisa pekerjaan rumah sama sekali, toh bisa menggaji pembantu.
           
Solusi

 Pemerintah
Meskipun ada dua jenis sekolah di Indonesia, negeri dan swasta, namun sistem pendidikan yang dipakai cenderung sama. Kecuali sekolah itu adalah sekolah internasional yang memang memakai sistem internasional, maka apa-apa yang dilakukan sekolah tersebut harus sesuai dengan apa yang diatur pemerintah. Contohnya, KTSPN dan kewajiban melaksanakan UAN. Karena itu, Pemerintahlah yang harus membuat gebrakan di sekolah-sekolah Indonesia.
Menurut saya, langkah pertama, tes masuk TK dan SD harus dihilangkan. Anak-anak pada umur tersebut belum mengerti banyak hal. Tidak adil jika mereka tidak diterima karena tidak cukup pintar, padahal kan mereka mau masuk sekolah itu agar pintar. Jika kuotanya penuh, Pemerintah harus menyediakan lebih banyak gedung sekolah bagi mereka. Berikan juga anak-anak yang tidak mampu sekolah pendidikan gratis, karena bagaimana pun juga, sekolahlah yang membuat anak bisa beradaptasi di masyarakat setelah keluarga.
Kedua, adakan dana untuk fasilitas kebersihan sekolah dan bus sekolah. Jika tempat sampah, ember, dan gayung yang baik saja tidak disediakan, bagaimana siswa mau menjaga kebersihan di sekolahnya. Jika fasilitas sudah ada, maka selanjutnya tugas guru untuk mengajari dan mengingatkan siswa. Hal ini akan mendorong peduli dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan bus sekolah akan membuat siswa lebih bertanggung jawab. Berikan kewajiban ikut bus sekolah terhadap siswa yang rute rumahnya dilewati oleh bus sehingga mereka harus bangun pagi agar tidak terlambat. Ini juga salah satu pembiasaan hal yang positif. Lambat laun, luaskan rute bus sekolah agar semua anak bisa berpartisipasi.
Ketiga, sediakan mata pelajaran dan kegiatan yang mengasah keterampilan. Walaupun kedengarannya aneh bagi sebagian besar warga Indonesia, negara-negara lain mempunyai mata pelajaran mengurus binatang peliharaan, memasak (bukan teori, tetapi benar-benar bagaimana cara memasak yang enak), membuat pakaian, pelestarian budaya, kelautan, bahkan ‘pertukangan’ (sehingga tidak perlu memanggil tukang untuk membetulkan bagian rumah yang rusak) yang wajib diikuti siswa SD-SMA. Fieldtrip yang dilakukan juga bukan sekadar mengunjungi museum lalu membuat laporan tentang itu, tetapi mendengarkan sedikit demi sedikit penjelasan dari gurunya. Karena, jika siswa pergi sendiri ke museum dan mengambil foto atau data yang diperlukan untuk nilai tugas, ia bisa melakukan apapun agar nilainya baik termasuk mengambil data dari internet. Akhirnya, ilmu tak didapat. Nah, inilah yang perlu Pemerintah perlu perhatikan dan terapkan di Indonesia.

Orangtua
Orangtua adalah orang pertama yang anak dengar perkataannya dan tiru tindakannya. Jika orangtua memberikan pengertian bahwa yang terpenting itu nilai dan bertingkah seakan-akan nilai adalah segalanya, maka anak akan berusaha mewujudkan itu walaupun harus mencontek atau menghapus cita-citanya.
Tidak boleh lagi ada anggapan mata pelajaran IPA lebih baik dari IPS. Tidak boleh lagi ada anggapan menjadi dokter itu lebih baik daripada menjadi pemain bola. Tidak boleh lagi ada ketidakyakinan saat anak mengatakan bahwa ia ingin membuat toko kue paling terkenal di seluruh dunia. Mengapa? Karena hampir semua orang terkenal di dunia saat ini dulunya tidak didukung bahkan dilecehkan orangtua, guru, teman, dan orang-orang terdekatnya. Jika dilecehkan saja bisa sukses, apalagi yang didukung sepenuhnya?

Guru
Guru berada di urutan kedua setelah orangtua. Jadi, menjadi guru harus memenuhi kriteria. Tidak cukup sertifikat sarjana pendidikan atau sarjana suatu mata pelajaran, seorang guru harus bisa mendidik, bukan hanya mengajar. Ia dianggap sukses jika murid didiknya bertambah ilmu, akhlak, serta terbentuk kepribadiannya.
Pertama, tanamkan pada siswa bahwa mereka sekolah agar bisa beradab dengan baik dan terarah. Bukan nilai yang dicari, tapi ilmu, akhlak, dan kepribadian. Tidak usah takut jika tidak bisa dalam suatu hal, memang tugas guru untuk membuat mereka mengerti dan paham atas hal tersebut. Tidak perlu mencontek agar lulus. Asal siswa mau, guru pasti akan membantunya sampai bisa lulus. Lagipula, saat pertama kali bertemu, semua orang pasti akan memperhatikan perilaku seseorang, bukan nilainya di sekolah.
Kedua, biasakan hal-hal positif seperti memberi salam ketika bertemu, berbicara dengan sopan, menjaga kenyamanan dan kebersihan sekolah, kewajiban membuang sampah pada tempatnya, piket kelas, dan sebagainya. Jika siswa telah terbiasa melakukan hal positif, pasti tidak akan terpikir oleh mereka untuk melakukan hal yang tidak ada gunanya. Justru mereka akan berusaha keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Maka, guru harus mendukung penuh dan membantu mewujudkan.
Ketiga, hilangkan segala kekerasan di sekolah. Pastikan sekolah mempunyai petugas sekuriti yang bisa mencegah kekerasan dan menjaga keamanan. Dekati siswa yang suka mencari masalah lewat bimbingan konseling dan pertemuan dengan orangtua. Awasi kegiatan sekolah seperti MOS agar tidak terjadi senioritas pada siswa. Batasan antara junior dan senior memang perlu, karena menghormati itu harus. Namun hal tidak penting apalagi yang menggunakan kekerasan harus diberantas. Jika ada siswa yang tawuran, langsung diberi surat peringatan dan dibimbing sampai ia benar-benar sadar dan tidak mengulanginya lagi.

Siswa
Siswa adalah korban sekaligus pelaku dalam esai ini. Karena, siswa yang terpaku pada nilai akan menjadi orangtua, guru, dan anggota pemerintahan yang terpaku pada nilai. Sehingga, tidak ada perubahan yang berarti dalam sistem pendidikan di Indonesia sejauh ini.
Siswa seharusnya bisa melihat nilai sebagai sesuatu yang setingkat dengan keterampilan dan akhlak. Belajar yang rajin itu harus, bertanya jika tidak tahu itu harus, evaluasi pelajaran itu harus, jujur saat ulangan itu harus, berdoa kepada Tuhan itu harus, dan akhirnya ilmu didapat dengan sempurna. Bonusnya, nilai bagus.
Hal paling sederhana yang bisa kita, saya dan Anda lakukan adalah ‘melapor’. Karena kita adalah orang yang merasakan, maka kita perlu memberi laporan. Jika kurang merasa nyaman dengan kondisi sekolah atau ingin memberi masukkan, beri tahu guru dan orangtua agar bisa diperbaiki.
Saya, sebagai siswa di SMA Labschool Kebayoran, sudah merasa cukup nyaman dan tidak disia-siakan dengan sistem pendidikan di sini. Kegiatan MOS, PILAR, TO, BINTAMA, LAPINSI, dan TPO-nya yang berbeda dengan sekolah lain berpengaruh besar pada cara berpikir, akhlak, dan kepribadian saya. Namun, jujur saja, masih terasa sedikit atmosfer yang mengedepankan nilai. Bagaimana pun, langkah kecil masih lebih baik daripada tidak bertindak. Menurut saya, kegiatan-kegiatan yang saya sebutkan tadi cocok jika diterapkan di semua sekolah di Indonesia. Karena dari situlah mental saya terbentuk.
Sekian esai saya tentang sistem pendidikan di Indonesia yang masih mengedepankan nilai. Semoga, bagi semua yang membaca, terbuka pikirannya bahwa kita harus mulai melakukan hal-hal yang saya sarankan di atas. Sudah cukup kita dipekerjakan. Mari membentuk generasi berakhlak mulia, berkepribadian yang utuh, dan berintelektual yang tinggi. Mari memulai hal baru yang berasal dari impian kita. Mari mempekerjakan. Indonesia bisa!


Sumber:





Tidak ada komentar:

Posting Komentar