Senin, 27 Agustus 2012

Tugas 5 - Perkembangan Arsitektur dan Gaya Bangunan di Indonesia

Mengikuti Perkembangan Arsitektur Indonesia Seiring Berkembangnya Peradaban Manusia

Ilmu Arsitektur merupakan sebuah ilmu yang mengikuti perkembangan peradaban manusia. Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, manusia pun memperkaya inovasi dalam merancang bangunan-bangunan untuk menunjang aktifitas sehari-hari.

Bangunan-bangunan di Indonesia pula dibangun mengikuti perkembangan peradaban masyarakat Indonesia. Kultur yang masuk dan tertanam di Indonesia merupakan faktor terpenting dalam pembedaan arsitektur dan gaya bangunan di negeri ini. Terdapat beberapa periode perkembangan arsitektur dan gaya bangunan di Indonesia yang secara umum dibagi menjadi lima, yakni Arsitektur Vernakular (Tradisional), Arsitektur Zaman Hindu-Buddha, Arsitektur Zaman Islam, Arsitektur Kolonial (Pra-Kemerdekaan) dan Arsitektur Pasca Kemerdekaan (Kontemporer).

ARSITEKTUR VERNAKULAR (TRADISIONAL)

Arsitektur vernakular merupakan arsitektur yang tumbuh dan berasal dari arsitektur rakyat di suatu daerah. Arsitektur ini juga dapat disebut sebagai identitas dari setiap daerah, karena gaya bangunan tersebut menggambarkan tradisi dari daerah tersebut. Indonesia merupakan sebuah negeri yang kaya akan etnis, sehingga Indonesia memiliki berbagai macam bangunan dengan gaya arsitektur vernakular.

Berdasarkan sejarah linguistik, sebagian besar dari bangsa Indonesia menguasai bahasa Austronesia beserta kebudayaannya, sehingga berpengaruh pula terhadap gaya bangunan yang ada di Indonesia. Budaya Austronesia ini diperkirakan berasal dari masyarakat di sekitar Cina Selatan serta Vietnam Utara, dan muncul pada sekitar abad ke-4 SM.

Bagi bangsa Austronesia, rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, melainkan merupakan bangunan dengan kandungan budaya para leluhur, ciri khas dari suatu kelompok, dunia kecil di jagad raya, dan sebagai indikator kedudukan sosial. Adapun ciri-ciri dari bangunan bangsa Austronesia adalah sebagai berikut:

  • Bangunan berbentuk segi empat
  • Terdapat tiang-tiang sebagai penyangga dan ilalang sebagai atap
  • Pintu masuk merupakan tangga yang ditakik dan terdapat perapian dan penyimpanan kayu bakar


Contoh dari bangunan bangsa Austronesia yang diperbaharui oleh bangsa Indonesia adalah Rumah Gadang (Sumatera Barat), Rumah Batak (Sumatera Utara) dan Rumah Tongkonan (Toraja, Sulawesi Selatan).
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembangunan rumah atau bangunan dengan arsitektur vernakular adalah bahan-bahan yang berasal dari alam, seperti balok kayu, dan juga dengan alat-alat tradisional seperti kapak, pisau, dan lain-lain.

Pada saat ini, masih banyak ditemukan bangunan di beberapa daerah di Indonesia. Rumah-rumah tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal dan juga sebagai objek wisata. Beberapa rumah tersebut juga masih dijadikan sebagai tempat beribadah atau pemujaan terhadap leluhur.

ARSITEKTUR ZAMAN HINDU-BUDDHA

Pada zaman Megalithikum, manusia telah mengenal teknologi membuat bangunan dari bahan batu. Bangunan yang dibuat adalah menhir, sarkofagus, dan lain sebagainya. Teknologi membangun bangunan dari bahan batu ini pada akhirnya diterapkan pada pembuatan bangunan zaman Hindu-Buddha. Contoh bangunan dari zaman Hindu-Buddha adalah candi.

Dalam istilah Bahasa Indonesia, candi mengarah pada bangunan keagamaan atau tempat ibadah peninggalan masa lalu yang  berasal dari zaman Hindu-Buddha. Pada zaman dahulu, bangunan ini dijadikan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi (zaman Hindu) ataupun memuliakan Buddha (zaman Buddha). Zaman sekarang, candi digunakan sebagai objek wisata saja.

Seperti yang kita ketahui, keindahan candi terdapat pada arsitektur, relief serta arcanya. Pesan yang disampaikan lewat unsur-unsur tersebut tidak lepas dari unsur spiritualitas, kreatifitas dan keterampilan para pembangun candi.

Dalam pembangunan candi, terdapat beberapa ketentuan yang tercantum dalam kitab Vastusastra atau Silpasastra yang dikerjakan oleh silpin (arsitek masa lalu). Kitab Vastusastra sendiri tidak hanya berisi tentang pedoman membangun candi, tetapi berisi juga tentang arsitektur profan, bentuk desa, kota, dan penempatan lokasi candi/kuil dan kompleks kota dan desa.

Berdasarkan bagian-bagiannya, bangunan candi terbagi atas tiga bagian:

  • Kaki Candi à Merupakan alas candi. Melambangkan dunia bawah (bhurloka), yaitu dunia hewan, makhluk halus, raksasa dan asura, juga tempat manusia biasa yang masih terikat nafsu yang rendah. Berbentuk bujur sangkar dengan jenjang di salah satu sisinya.
  • Tubuh Candi à Merupakan bagian tengah candi. Melambangkan dunia antara (bhuwarloka), yaitu manusia suci yang hendak mendapatkan kesempurnaan batin. Berbentuk kubus.
  • Atap Candi à Merupakan bagian atas candi. Melambangkan dunia atas (swarloka), yaitu tempat dewa dan jiwa yang sudah mencapai kesempurnaan bersemayam. Pada umumnya atap candi terdiri dari tiga tingkat dan semakin atas semakin kecil ukurannya.
Bahan bangunan candi sebagian besar merupakan batu. Candi di Jawa Tengah menggunakan batu andesit (batu vulkanik), sedangkan candi di Jawa Timur pada zaman Majapahit banyak menggunakan bata merah. Candi-candi di Sumatera juga menggunakan bata merah. Bahan-bahan yang biasa dipakai untuk membuat candi adalah sebagai berikut:
  • Batu andesit (untuk dinding candi bagian luar)                  
  • Batu putih (untuk dinding candi bagian dalam)
  • Bata merah (dinding candi)
  • Stuko
  • Bajralepa (bahan lepa pelapis dinding candi, sebagai pelindung dari kerusakan)
  • Kayu (untuk Pura modern)
ARSITEKTUR ZAMAN ISLAM

Penyebaran Islam di Indonesia dari abad ke-12 mempunyai pengaruh penting terhadap arsitektur di Indonesia. Masjid-masjid kuno peninggalan kerajaan Islam memiliki ciri khasnya masing-masing, namun ciri khas tersebut erat hubungannya dengan daerah tempat masjid itu berada. Seperti contohnya Menara Kudus, bangunan tersebut sangat mirip dengan candi di era kerajaan Majapahit. Demikian pula dengan masjid-masjid lainnya yang bentuk bangunannya mirip dengan unsur bangunan di zaman Hindu-Buddha.
ARSITEKTUR KOLONIAL (PRA-KEMERDEKAAN)
Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang digunakan pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda. Arsitektur kolonial lebih mengarah kepada arsitektur gaya Belanda karena Belanda merupakan negara yang menjajah Indonesia paling lama, sehingga pemerintah Belanda sempat membangun berbagai bangunan dengan gaya khas Belanda.
Karakteristik arsitektur kolonial dapat ditinjau dari periodisasi perkembangan arsitekturnya maupun ornamen yang digunakan bangunan.

Periodisasi Arsitektur Kolonial

Helen Jessup dalam Handinoto (1996: 129-130) membagi periodisasi arsitektur kolonial dari abad 16 sampai tahun 1940-an menjadi empat bagian.

1.       Abad 16 - Tahun 1800-an
Pada zaman ini, Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan dagang Belanda yaitu VOC. Bangunan di zaman ini belum jelas orientasinya; bangunan-bangunan tersebut tidak dibangun menyesuaikan iklim dan lingkungan Hindia Belanda.

2.       Tahun 1800-an – 1900

Pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda dari VOC. Pada saat itu, di Hindia Belanda terbentuk arsitektur tersendiri, yaitu The Dutch Colonial Villa, yang dipelopori Gubernur Jenderal HW Daendels. Daendels merupakan mantan jenderal angkatan darat Napoleon, sehingga gaya arsitektur yang dibangun Daendels memiliki gaya-gaya khas Perancis.
Arsitektur The Dutch Colonial Villa sendiri merupakan gaya arsitektur neo-klasik dan banyak terdapat di Eropa (terutama Prancis) dan dimodifikasi. Bangunan berkesan megah dengan gaya arsitektur neo-klasik dikenal dengan Indische Architectuur dengan ciri khas arsitektur sebagai berikut:
·         Denah simetris dengan satu lantai, terbuka, ada pilar di serambi depan dan belakang dan terdapat ruang tengah (serambi tengah) menuju ruang-ruang lainnya
·         Pilar dengan gaya Yunani, terdapat mahkota di atas serambi depan dan belakang
·         Atap perisai


3.       Perkembangan Arsitektur 1900-1920

Handinoto (1996: 163) menyebutkan bahwa bentuk arsitektur kolonial Belanda setelah tahun 1900 mempunyai bentuk yang lebih spesifik. Bentuk bangunan sendiri merupakan bentuk bangunan modern di Belanda pada saat itu, dan disesuaikan dengan iklim di tropis Indonesia. Elemen tradisional juga ditambahkan ke dalam pendirian bangunan.

Handinoto (1996: 151-163) juga mengatakan bahwa kebangkitan arsitektur Belanda dimulai oleh arsitek Neo-Gothik, PJH Cuypers (1827-1921), dan disusul oleh para arsitek dengan aliran Niuwe Kunst (Art Nouveau gaya Belanda) dipimpin oleh HP Berlage (1856-1934) dan rekan-rekannya. Gerakan Nieuw Kunst yang dirintis oleh Berlage ini menjadi pemicu munculnya dua aliran arsitektur modern, yakni The Amsterdam School serta De Stijl.

a.      Art Nouveau
Art Nouveau adalah gaya seni arsitektur yang diterapkan terutama pada seni dekoratif. Popularitas dari Art Nouveau mencapai puncaknya pada pergantian abad 20. Art Nouveau sendiri dalam bahasa Perancis memiliki arti ‘seni baru’. Gaya ini terkenal dengan bentuk organic dan motif bunga serta tanaman lain. Gaya Art Nouveau telah diaplikasikan pada tembikar, perhiasan, dan lain-lain. Hal ini sejalan dengan filosofi Art Nouveau yakni seni harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

b.      The Amsterdam School
The Amsterdam School merupakan gaya arsitektur yang muncul di Belanda pada tahun 1910 sampai sekitar 1930. Konstruksi batu bata dan batu dengan penampilan bulat atau organik menjadi salah satu ciri khas dari gaya arsitektur ini. Arsitektur ini juga memiliki skema yang rumit pada elemen bangunan luar dan dalam; batu-batu yang dekoratif, seni kaca dan lain-lain.
Selain ciri-ciri di atas, Amsterdam School juga memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Handinoto: e-book jurnal ilmiah Petra Surabaya):
·         Karya yang orisinil merupakan sesuatu yang harus dimiliki setiap pendiri bangunan
·         Mengekspresikan ide lebih penting daripada melihat kebutuhan suatu bangunan
·         Bangunan sebagai work of art
·         Bangunan disusun dari bata dengan keahlian tangan yang tinggi
·         Arsitektur sebagai unsur utama dalam perancangan bangunan

c.       De Stijl
Gaya De Stijl atau neoplastisisme adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada tahun 1917. Pendukung De Stijl ingin menunjukkan keseimbangan ideal antara keharmonisan spiritual dan ketertiban. De Stijl mengutamakan kesederhanaan dan abstraksi pokok dalam bidang arsitektur maupun seni. Segi warna yang digunakan juga hanya terbatas pada warna-warna pokok dan tiga warna nilai utama (hitam, putih, abu-abu). Gaya ini ingin mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan oposisi.

4.       Perkembangan Arsitektur Setelah Tahun 1920

Dalam Handinoto, 1996:237-238, Akihary menggunakan nama Niuwe Bouwen sebagai istilah gaya bangunan setelah 1920, yang merupakan penganut aliran International Style. Bentuk bangunan biasanya berwarna putih, beratap datar, menggunakan mahkota/gevel horizontal dan bangunan berbentuk kubus.
Karakteristik Niuwe Bouwen adalah sebagai berikut:
·         Transparansi untuk ruang, cahaya dan udara
·         Simetris dan penyeimbangan bagian yang tidak rata
·         Penggunaan warna sebagai sarana ekspresi

Elemen Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia






ARSITEKTUR PASCA KEMERDEKAAN (KONTEMPORER)

Setelah kemerdekaan di tahun 1945, arsitektur di Indonesia berkembang ke arah arsitektur modern.  Sepuluh tahun pertama setelah Indonesia merdeka, bangunan-bangunan berkualitas rendah muncul dikarenakan perkembangan ekonomi yang belum kuat.

Perkembangan di berbagai sektor di Indonesia, salah satunya sektor perekonomian juga berpengaruh. Terdapat pembangunan rumah-rumah murah, gedung pencakar langit, ada pula pembangunan rumah susun. Di Indonesia juga mulai berkembang komplek-komplek perumahan.

Di era 80-an, industri perumahan mencapai puncak popularitasnya. Rumah pribadi banyak yang didesain dengan arsitektur unik dibangun untuk perumahan massal. Mulai era ini pula rumah-rumah dengan berbagai konsep mulai bermunculan, seperti rumah sederhana,dan rumah dengan ide ruang minimal, rasional konstruksi dan non-konvensional.

Sumber:

3 komentar:

  1. Arsitektur adalah jejak peradaban yang paling mudah dikenali, dipelajari dan dibanggakan, karena ia adalah unsur peradaban yang tidak kasat mata dan bersifat monumental.

    Dari arsitektur sesungguhnya manusia bisa mempelajari banyak hal tentang sisik-melik kehidupan manusia. Hal ini karena dalam arsitektur banyak menyimpan pernak-pernik peradaban manusia, yang tampak maupun yang tidak tampak: yang maujud, yang perilaku, maupun yang berupa ide.

    BalasHapus
  2. Memang di lihat dari zaman ke zaman arsitektur di indonesia ini sangat berkembang pesat ya ... maksih banyak buat share nya, sangat bermanfaat sekali ...

    rumah rancamaya
    rumah tanpa dp bekasi
    Daftar Perumahan Depok
    Perumahan Baru

    BalasHapus
  3. makasih untuk infonya sangat bagus sekali .zaman arsitektur untuk kedepannya akan berkembang pesat ,
    ijin share nya , ,
    perumahan dijual didepok

    perumahan dijual semarang

    BalasHapus