Jumat, 24 Agustus 2012

Tugas 1 - Autobiografi

16 Tahun Perjalanan Hidupku


Saat baru beberapa bulan
Pada tanggal 18 Maret 1996, seorang wanita dilarikan ke ruang operasi karena ternyata bayinya akan keluar. Bayi pertamanya. Sang suami sebenarnya ingin masuk ke kamar bersalin tetapi terlalu takut untuk menyaksikan kelahiran anak pertamanya karena iya sangat takut dengan darah. Setelah Persalinan yang cukup lama, lahirlah bayi itu ke dunia dengan jeritan yang menggemparkan kamar bersalin itu.

Bayi tersebut di beri nama Tara Annisa. Tara yang merupakan gabungan dari nama kedua orang tuaku yaitu Sita Ramayanti dan Raymond Amir, dan Annisa adalah nama bahasa Arab yang berarti “perempuan yang mulia”.  Itu adalah namaku. Orangtuaku sangat bahagia pada saat aku lahir, karena ini adalah pertamakalinya mereka mempunyai anak dan menjadi orangtua. Aku adalah cucu ke 3 dari 5 cucu di pihak mamaku, yang semuanya perempuan, dan cucu ke 2 dari 9 cucu dari pihak ayahku.

Baru belajar berenang
 Masa Kecilku dihabiskan di Bintaro jaya karena orangtuaku telah 1 tahun menetap disana saat aku lahir. Aku tumbuh menjadi anak yang cerewet, sok tahu,dan suka makan dan minum susu. Sejak kecil, aku suka ikut ayahku/ibuku ke kantor dan berpurapura mengerjakan pekerjaan mereka padahal aku sama sekali tidak tahu apa yang aku lakukan. Aku juga sangat dimanjakan nenek nenekku, karena aku adalah cucu perempuan pertama dari pihak ayahku(yang kupanggil andung), dan aku tinggal serumah bersama nenek yang dari mamaku(yang ku panggil tuo). Tuo selalu mengajakku jalanjalan ke berbagai tempat. Saat aku belajar berjalan, aku suka belajar jalan di bintaro plaza pagipagi saat masih sepi, karena dulu bintaro plaza belum seramai sekarang dan bintaro plaza itu sangat dekat dengan rumahku. Aku juga suka diajak berpergian ke luar kota karena mamaku dulu suka berpergian untuk urusan kantor. Bahkan saat aku masih kecil, aku suka mandi di wastafel karena ukuran badanku yang cukup kecil.

Jalan Jalan ke Puncak dengan sepupuku, Rasya


Walaupun aku suka jalan jalan dan sebagainya, aku suka kesepian karena tidak ada teman bermain. Ayah ibu ku sangat sibuk di kantor dan aku hanya tinggal bersama nenek dan mbak ku dirumah saat ayah ibuku kantor. Untuk mengusir kebosananku, aku diajari main game komputer saat aku masih kecil oleh ayahku. Tapi tetap saja aku merasa bosan. Akhirnya pada september 1998, adikku yang bernama Mirta Khairunnisa lahir di dunia dan aku pun mendapat teman bermain baru.

"Pulang Kampung" pertama ke Padang


Main Komputer

Masa KB

Bersama Abang Sepupu
Pada umur 3 tahun, saya masuk ke KB (Kelompok Bermain) untuk persiapan ke TK. Aku masuk ke KB tumble tots yang letaknya di Bintaro Plaza. Karena letaknya yang di mall, ibu saya takut saya akan minta dibelikan sesuatu terus tiap ke sana jadi saya dipindahkan ke KB Auliya di sektor 7. Disana saya bertemu banyak teman baru dan belajar bersosialisasi. Saya berteman erat dengan anak yang bernama fitri. Sayangnya, sekarang saya tidak tau ada dimana dia karena setelah kb, saya tidak pernah bertemu dia lagi. Tapi ternyata, disana saya bertemu orang orang yang saat sma saya bertemu lagi seperti Alfath, Amyra, dsb.


Masa TK 

Pentas Akhir Taun di TK PJ
Setelah mengalami KB, aku melanjutkan pendidikan ke TK Pembangunan Jaya. aku tidak terlalu susah bersosialisasi disana karena guru gurunya sangat baik dan temantemannya pun juga baik. Pada hari pertama sekolah, aku tidak menangis. Akan tetapi, karena banyak temantemanku yang menangis, kupikir kita harus menangis dan keluar mencari ibuku. Akhirnya aku pun berhasil menangis dan keluar mencari ibuku.
“Tara kenapa? Kok menangis? Kan udah gede gausah nangis” kata ibuku sambil menenangkanku. “Oh ternyata aku tidak perlu menangis..” kataku pada ibu. Ibuku hanya tertawa dan menyuruhku masuk ke kelas lagi. Aku menyelesaikan TK selama 2 tahun dengan baik. Aku agak sedih karena dulu TK memakai sistem Cawu, jadi setiap 3 bulan sekolah akan libur. Karena sistem itu, aku jadi tidak bisa merayakan ulang tahunku di sekolah. Aku pun akhirnya melaksanakan ulangtahunku di rumah bersama keluargaku saja.


Masa SD 

Foto Kelas 1C 
Selesai TK saya masuk ke SD Pembangunan Jaya. Orangtuaku menyekolahkanku disana karena sekolah itu hanya 15menit dari rumah. Setiap pagi, aku diantar nenekku dengan becak. Walaupun sekolahku dekat, aku tetap saja suka telat. Di sana, aku tidak terlalu susah berteman karena banyak anak TK PeJe yang melanjutkan sekolahnya disana. Aku kadangkala mengikuti ekskul seperti pramuka dan basket. Aku baru ikut basket pada saat kelas 4 karena basket hanya bisa diikuti anak kelas 4 keatas.
Pada saat saya naik kelas 5 dan sudah enak dengan lingkungan sekolahku, aku harus pindah sekolah. Orangtuaku  khawatir dengan peraturan pemerintah yang baru, karena dengan berlakunya peraturan itu, kesempatanku belajar di jakarta akan susah.
Akhirnya aku dipindahkan ke SD Gunung 01 Pagi. Karena aku dipindahkan, adikku yang masih kelas 2 sd juga harus pindah supaya orangtuaku  terlihat “adil”. Awalnya aku tidak terlalu nyaman dengan perubahan ini karena perubahan yang kualami saat itu sangat drastis. Dari SD Swasta yang mayoritas muridnya dari kalangan yang mampu dan sangat “mewah” ke SD Negri yang muridnya dari berbagai macam kalangan dan sangat “beragam”. Di sekolah baruku, aku banyak mendapatkan banyak pengalaman baru. Dari materi pelajaran yang menurut saya jauh lebih sulit dari yang saya dapatkan di Sekolah lamaku sampai pengalaman pengalaman baru yang sangat bernilai seperti mengikuti konferensi anak anak di kantor ASEAN, mengikuti OSN Matematika, sampai menyapu kelas sendiri.
6A
Kelas 6 adalah saat yang sangat berkesan bagi saya. Ini adalah saat dimana temanteman yang saya kenal dan dekat selama 2 tahun belakangan ini terpisah dariku. Banyak temantemanku yang ingin melajutkan sekolanya ke SMP 19 atau SMP Labschool, jadi aku sangat senang. Separuh angkatan (± 50 orang) pergi mendaftar ke labschool dan ikut tes masuknya. Aku mendaftar ke labschool hanya untuk coba coba, dan juga aku membuat tes masuk labschool sebagai gambaran bagaimana UN SD nanti. Ternyata, dari semua temantemanku yang mendaftar hanya aku yang ketrima. Aku menganggap itu sebagai berkah dari tuhan. Tidak lama setelah itu ada tes RSBI SMP 19. SMP yang membuatku pindah SD. Aku dan temantemanku yang lain juga ikut test tersebut. Setelah test tersebut ternyata hanya aku yang ketrima setelah melewati 5 penyaringan ( tes berkas, tes pengetahuan, tes wawancara bahasa inggris, tes komputer, dan psikotest). Aku harus memilih antara 2 sekolah yang samasama bagus. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke SMP yang selama ini menjadi tujuanku pindah sekolah yaitu SMP 19.

Masa SMP

SMP merupakan waktu yang sangat baru untukku karena itu adalah saat pertama aku melakukan masa orientasi siswa (MOS). Banyak yang harus di persiapkan saat mos, seperti nametag dengan foto bajaj biru, makanan dan minuman berkode ( seperti “minuman mempesona”,dsb.) dan yel yel perkelompok. Setelah MOS saya mulai mempunyai teman baru dan mulai mempelajari bagaimana hidup sebagai anak SMP.

Saat kelas 7 aku mengikuti Smart Character Building yang dilaksanakan bersamasama murid kelas 7 di beberapa sekolah RSBI lainnya. Dengan acara itu, aku mendapat banyak teman dan pengalaman baru. Di awal kelas 8 aku ikut OSIS, tetapi karena berbagai hal tertentu aku tidak bisa sepenuhnya mengikuti segala acara. Di akhir kelas 8 aku ikut Discovery camp di Taman Mini Indonesia Indah. Awalnya banyak anak yang ingin ikut acara tersebut, tapi karena persyaratannya yang waktu itu harus menulis makalah dan mempersiapkan makalah dalam waktu yang cukup singkat, banyak yang mengundurkan diri dan akhirnya hanya 4 orang dari sekolahku yang ikut berlomba. Aku mendapat Juara 3, dan dikirim ke korea bersama 9 murid yang lain dan beberapa guru yang lain untuk ikut berlomba di ACGS Student Sumer Camp di Busan, Korea Selatan.


Perlombaan tersebut merupakan hal yang sangat mengesankan karena itu pertama kalinya aku ke luar negri tanpa orang tuaku dan aku tidak perlu membayar apapun untuk kesana. Orangtuaku agak ragu melepasku pergi sendiri tapi karena itu untuk perlombaan dan aku berhasil membuat mereka yakin akhirnya mereka memperbolehkanku pergi dengan syarat aku harus pulang membawa medali. Akhirnya aku berangkat dan disana aku menemukan banyak hal hal menarik. Aku sangat terpukau dengan keindahan kota busan sampai sampai walaupun aku capek pada hari pertama aku sempat berkeliling dan sempat tersesat juga disana. Untungnya aku bertemu dengan mentor kelompok lain dan bertemu dengan kelompokku. Disana aku tinggal di asrama dan teman sekamarku adalah orang brunei yang sangat baik kepadaku. Kita bertukar pengalaman hidup di negara masingmasing. Kelompokku sendiri terdiri dari orang korea, thailand, brunei, dan nigeria. Setelah 9 hari dibekali materi, berkeliling, dan melakukan riset kami harus menampilkan presentasi tentang global warming. Kami membuat PLTA yang bisa dipasang di rumah orang. Akhirnya kami mendapat medali perunggu. Hatiku sangat senang karena janjiku pada orangtuaku pun tercapai. Setelah pemberian medali saya dan temanteman dari indonesia menampilkan tarian dan beberapa kesenian dari indonesia. Walaupun kami tidak sebagus penaripenari profesional, tetapi mereka senang melihat kesenian indonesia dan kami juga melihat kesenian mereka yang ternyata juga sangat bagus. Setelah 10 hari disana akhirnya kami pulang dengan perasaan senang.
ASEAN +3 Children Science Camp di Busan, South Korea
Karena prestasiku di kelas 9 ini, aku tidak perlu bingung mau meneruskan ke sekolah mana. SMA Labschool ternyata membuka Jalur prestasi untuk masuk kesana dan ternyata aku memenuhi kriteria dan lulus tahap wawancara. Saat temantemanku bingung mau masuk mana aku mulai bersantai saja. Tapi aku tidak memungkiri bahwa UN SMP sangat membebani pikiranku karena aku harus mendapat nilai bagus agar membuat orangtuaku bangga dan membuktikan bahwa aku tidak hanya “beruntung” bisa ketrima di Labschool Kebayoran. Dan alhamdulilah itu terbukti dan aku berhasil lulus dengan NEM yang cukup memuaskan.

Masa SMA

Saat hari pertama MOS saya cukup deg degan karena ternyata banyak hal yang harus diperhatikan seperti Nametag, Makanan, dsb. Pada saat MOS aku kaget karena disana banyak hal hal baru yang aku tidak dapatkan dari smp saya seperti makan komando, “tindakan tindakan”, dsb. Hal hal ini membuatku sadar bahwa kebersamaan dan tanggung jawab sangat dijunjung tinggi di Labschool. Aku masuk di kelas XB dengan wali kelas Pak Eri, yang merupakan guru Geografi. Aku cukup senang dengan pembagian kelas yang ternyata sama dengan pembagian kelompok pada saat MOS.

National Children Science Congress - ASEAN team
Pada bulan September akhir aku diajak untuk ikut National Children Science Congress di Jaipur, India yang waktu itu akan dilaksanakan bulan Desember. Awalnya aku kaget karena aku hanya murid kelas 10 yang baru masuk pada saat itu. Tapi aku sangat senang karena aku merupakan perwakilan satusatunya dari labschool, dan pengurusku disana adalah orang yang juga mengurus rombongan orang ASEAN saat aku mengikuti science camp di Korea. Karena kongres tersebut, aku harus bolak balik ke PP IPTEK dan mengurus karya tulis bersama 2 orang temanku yang  berasal dari SMA 28 dan Nurul Fikri. Tapi itu semua terbayar saat aku menampilkan karya tulisnya dan juga berhasil memperkenalkan tanah indonesia di India. Pengalaman ini juga sangat baru untukku karena ini pertamakalinya aku merayakan tahun baru di luar negri tanpa keluargaku.
Kelompok TO 22 - Angin Mamiri (Kelompok Terbaik)
Study tour pertama dengan DASECAKRA
Lari Pagi Terakhir dengan XB
Sejauh ini kehidupan SMA ku sangatlah berwarna. Mulai dari mengikuti mos, ikut PILAR, pergi ke india, mengikuti Pra TO dan TO yang sangat mengubah cara berpikirku dan sangat menyenangkan, mengikuti bintama yang sangat menguras fisik dan mental, Ikut kepanitiaan SkyBattle 2012, dan deg degan saat pemberitahuan penjurusan. Aku sangat senang dapat melalui ini semua dengan angkatanku “Dasa Eka Cakra Bayangkara” atau DASECAKRA. Banyak hal yang kukira tidak akan pernah kulakukan yang ternyata kulakukan saat di SMA. Kedepannya, aku berharap bahwa aku bisa lulus SMA dengan nilai yang sebagusbagusnya, bisa melanjutkan pendidikanku ke luarnegri/berkuliah di ITB, dan membuat Orang tuaku dan diriku sendiri bangga atas apa yang telah aku capai.

1 komentar:

  1. Wajah Tara sekarang dan Tara kecil dapat dikenali dengan mudah. Aktivitas pengalaman yang banyak, mudah-mudahan akan memberi warna pada kehidupannya kelak. Pengalaman berpindah-pindah sekolah akan membuat Tara dapat membanding-bandingkan dengan mudah: ada kelas sosial tertentu yang dimanjakan oleh sistem sekolah, dan ada kelas sosial yang berbeda 180 derajat dengan itu. Ada negara dengan sistem pendidikan yang berbeda-beda dan karenanya menghasilkan lulusan yang berbeda-beda pula.

    Tapi saya tidak melihat perbandingan yang ditulis Tara ketika Sang Papa "takut melihat darah" tidak seperti orang tua yang lain (yang kadang turut menemani istri pada saat melahirkan, terlebih anak pertama). Tara menulis, "Sang suami sebenarnya ingin masuk ke kamar bersalin tetapi terlalu takut untuk menyaksikan kelahiran anak pertamanya karena ia sangat takut dengan darah."

    BalasHapus