Minggu, 26 Agustus 2012

Tugas 1 - Autobiografi Salsabila Raihana Radian




15 Tahun; 185 Bulan; 5654 Hari

            Pukul 10 pagi bertanggal 3 Maret 1997, seorang bayi perempuan lahir di Rumah Sakit Pondok Indah dengan berat 4 gram dari pasangan Rantih Fiandary dan Diwan Permantara. Bayi itu dinamakan Salsabila Raihana Radian, dan ya, bayi tersebut adalah saya, yang kini lebih sering dipanggil Sarah Radian. Saya mempunya seorang kakak bernama Nadhila Nuhanisa Radian, yang berjarak sekitar 5 tahun dari saya. Saya merupakan anak kedua dari dua bersaudara.     

MASA BALITA.
            Sejak dulu, bahkan ketika saya memulai pendidikan saya di Kelompok Bermain An-Nisaa’ (bahkan ketika saya masih botak), membaca telah menjadi kegiatan favorit saya. Saya telah lancar membaca sejak saya pertama kali masuk KB, meskipun tulisan saya masih susah terbaca dan amburadul. Ketika saya memasuki TK, saya telah membaca seluruh ensiklopedia di rumah saya. Sempat, ketika guru kelas kami sedang mengenalkan gambar tumbuhan pada kami, teman saya bertanya tentang lingkaran-lingkaran di sebuah gambar penampang batang. Saya, dengan ke-sok tahuan luar biasa, menjawab, “Ih, itu namanya lingkaran tahun, jadi kita bisa lihat umur pohon dari lingkarannya.” Teman saya tidak percaya dan menuduh saya pembohong. Saya, yang kesal sekali mendengarnya, menyumpah bahwa saya tak mau bertemu dengannya di SD nanti.

MASA SD.

            Usia saya menginjak 6 tahun 2 bulan ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di ruang-ruang kelas SD An-Nisaa’.  Saya memang tidak pindah sekolah sejak saya masih berada di Kelompok Bermain (KB), tetapi, di sekolah saya yang dulu, gedung antara SD dan KB-TK dipisah, meskipun masih berdiri di satu lahan yang luas. Seragam saya pun hanya berubah sedikit; bahan batik yang dulu saya pakai sejak KB kini dipakai lagi, tetapi lebih mirip dengan bentuk kemeja dan rok terusan berlipit yang berwarna hijau tua. Pada mulanya saya heran mengapa saya dimasukkan ke dalam sekolah yang sama dengan sekolah yang telah saya datangi setiap harinya sejak saya berusia 3 tahun. Ternyata, orangtua saya memilih sekolah ini karena kakak saya juga bersekolah di tempat yang sama, meskipun ia saat itu merupakan siswa kelas 6 karena berjarak 5 tahun dengan saya. Selain itu, orangtua saya berpendapat bahwa SD An-Nisaa’ merupakan pilihan yang tepat bagi saya untuk menempuh pendidikan dasar, dikarenakan pendidikan moral yang dapat dinilai bagus, akreditasi yang tinggi, dan karena nenek saya sendiri yang menitipkan saya kepada pendiri sekolah An-Nisaa’.
            Sekolah saya tidak bisa dikatakan sekolah elite, meskipun bayaran sekolah yang sudah cukup mahal pada tahun itu (sekitar 2003). Bangunannya terlihat sudah cukup tua, dengan cat yang sudah mengelupas disana-sini. Playground yang merupakan tujuan bermain kebanyakan anak saat istirahat, dipenuhi mainan yang terlihat sudah tua. Sekolah saya dulu berdiri di dekat sawah, tidak menggunakan AC (Air Conditioner), hanya menggunakan kipas angin atau angin sawah yang berhembus dari jendela. Terkadang, malah beberapa jenis binatang masuk ke kelas saya. Tapi dulu saya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena saya suka bermain dengan binatang-binatang tersebut.
            Dulu saya termasuk cepat beradaptasi. Dalam beberapa minggu, saya telah mempunyai 2 orang sahabat, meskipun pada mulanya saya kecewa karena tidak sekelas dengan teman dekat saya semasa TK. Kami bertiga selalu bermain bersama, mulai dari bermain tebak-tebakan hingga bermain petak umpet. Kami berusaha masuk ke dalam ekstrakurikuler yang sama. Di sekolah saya, ekstrakurikuler mulanya merupakan kegiatan wajib. Tetapi, pelajaran dan agama tetap dinomorsatukan. Saya selalu sholat berjama’ah di kelas bersama teman-teman sekelas. Meskipun dulu pelajarannya saya anggap membosankan dan saya tak pernah berusaha keras untuk menjadi yang terbaik, saya bingung mengapa saya mendapat ranking kedua saat itu. Hanya nilai olahraga saya saja yang berada di bawah angka 8.
            Guru saya pernah berkata bahwa saya adalah seorang dengan otak dewasa yang terjebak di tengah anak-anak biasa. Pada masa itu saya telah membaca lebih banyak dari yang teman-teman saya pernah baca. Saya pernah bertengkar dengan teman saya hanya karena masalah sepele; teman saya tidak percaya ketika saya katakan bahwa semut membuat terowongan mini di bawah tanah. Meskipun begitu, saya tetap merasa tidak berbeda dengan anak-anak lainnya, dan tetap tidak pernah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Tetapi di akhir kelas 1 SD saya berhasil menjadi ranking 1 dan meraih 2 piala di akhir tahun.

            Ketika saya akan naik ke kelas 2, sahabat saya menangis dan memaksa ibunya untuk meminta kepada kepala sekolah agar saya kembali sekelas dengannya. Kembali, kelas 2 saya tak pernah turun dari peringkat 3 besar meskipun saya sendiri bingung kenapa saya bisa meraihnya. Di kelas 2 pula, saya mendapat masalah pertama saya. Sekolah saya memulai jam pelajaran pada pukul 7:30. Rumah saya memang tergolong jauh, tetapi saya selalu berangkat 7:00. Alhasil, saya hampir selalu terlambat pergi ke sekolah. Saya pernah terlambat pergi ke sekolah selama 3 bulan penuh berturut-turut, dan dipanggil oleh kepala sekolah. Saya pernah memanjat pohon di tengah sekolah, siang hari bolong tepat dimana kepala sekolah saya lewat. Anehnya, orangtua saya tak pernah dipanggil. Mungkin ini dikarenakan pemilik sekolah yang memang sudah mengenal saya sejak bayi, dan menganggap saya seperti keluarganya sendiri.
            Di kelas 3, untuk pertama kalinya, saya mendapat wali kelas laki-laki. Saya mulai menggerai rambut saya yang dulu panjangnya sepinggang, lurus, dan lemas seperti kertas krep. Tetapi, karena suatu insiden, saya terpaksa menggunting rambut saya menjadi cepak seperti anak laki-laki. Insiden ini memang disebabkan oleh saya sendiri, yang dengan ceroboh menjatuhkan penjepit kertas di kepala saya dan tak bisa ditarik. Ketika saya menginjak kelas 5, ibu saya mengatakan saya mulai harus belajar dengan serius karena saya akan menentukan pilihan SMP saya. Tetap saja saya malas belajar dan hampir selalu tidur ketika guru menerangkan. Memang, di kelas 5, saya tergolong nakal sekali. Saya sudah sering bolak-balik dipanggil kepala sekolah karena kenakalan saya yang terdengar sampai ke telinganya. Saya pernah mengerjai seorang guru yang merupakan guru pengganti wakil wali kelas saya yang sakit habis-habisan. Saya menggerakkan sekelas saya untuk ikut menjahilinya. Saya memanjat pohon rambutan di dekat kos guru di belakang sekolah dan mengambilnya. Saya pernah ikut adu hantam dengan kakak kelas saya. Meskipun begitu, ibu saya tetap senang karena akademis saya yang tidak turun (didorong dengan faktor bahwa beliau tidak pernah mendengar saya masuk ke ruang kepala sekolah).
            Saat kelas 6, akhirnya saya telah menentukan pilihan bahwa saya akan masuk SMP Labschool Kebayoran. Mengapa saya memilih masuk ke sekolah tersebut? Pada mulanya, tujuan saya hanya satu: lulus cepat, kerja cepat, membuat perubahan cepat (idealis sekali, bukan?). Dulu, tujuan saya masuk ke SMP tersebut ialah karena saya ingin mengambil program akselerasi. Tapi sementara teman-teman saya melakukan bimbel ini-itu agar bisa meraih SMP yang mereka inginkan (pada masa itu, angkatan saya banyak yang bertekad masuk SMP Labschool), saya sudah sibuk akan les piano saya, serta memang sudah terlalu malas untuk bimbel. Ibu saya yang pada waktu itu takut saya tidak bisa meraih kursi di SMP Labschool Kebayoran, bersikeras agar saya mencoba tes di tempat lain. Saya menyutujuinya dengan syarat, sekolah yang saya tuju harus memiliki program akselerasi. Saya tes untuk program akselerasi di SMP Al-Azhar Pusat, serta SMPN 19 Jakarta. Memang, saya diterima di kedua tempat tersebut dengan ranking yang bisa dibilang bagus, tetapi saya menolak karena saya bertekad untuk masuk Labschool. Saya ditawari beasiswa sebesar 30% uang pangkal bila saya mau masuk SMP An-Nisaa’, dan saya tidak perlu melakukan tes apapun. Tapi, ah, memang saya yang merupakan siswa maha malas luar biasa, saya tidak belajar seperti teman-teman saya untuk masuk Labschool. Apalagi ketika kakek saya meninggal sebulan sebelum tes PSB dilaksanakan. Ibu saya takut konsentrasi saya akan terpecah, karena saya termasuk yang paling dekat dengan ibu saya—dan ibu saya tak pernah melihat saya belajar. Akhirnya, ketika PSB datang dan berjalan, saya hanya mengisinya dengan ingatan saya yang pas-pasan, campuran antara intuisi dan logika, dan beberapa pengetahuan umum yang saya dapat dari ensiklopedia. Yang mengejutkan adalah, ketika hasil PSB diumumkan, orangtua teman saya memberitahu saya bahwa saya mendapat nilai tertinggi untuk PSB SMP Labschool Kebayoran, yaitu setinggi 98,75. Tentunya saya kaget bukan kepalang—dan saya sangat bersyukur karena saya memiliki kesempatan untuk masuk akselerasi. Saya lalu menjalani psikotes dan Alhamdulillah, setelah 3 bulan observasi di kelas 7, saya resmi menjadi siswa akselerasi.

MASA SMP.
            Seminggu pertama di SMP Labschool dihabiskan dengan LabFresh SchoolDay, yang juga dikenal sebagai MOS. Setelah itu, saya langsung memulai pembelajaran di kelas 7 biasa. Saya langsung merasa dekat dengan 3 orang yang berasal dari sekolah berbeda, dikarenakan saya yang tak sekelas dengan teman-teman SD saya. Setelah 3 bulan berlalu, secara resmi saya dan beberapa anak lainnya dipindahkan ke kelas akselerasi.
            Kelas akselerasi kami merupakan akselerasi dengan siswa terbanyak. Mulanya, kami beranggotakan 22 orang, tetapi, salah satu dari kami memohon pada guru BK agar ia dikembalikan ke kelas reguler, yang akhirnya dikabulkan. Hal ini menyebabkan kelas kami berisi 21 orang, dan saya sebagai absen nomor 20. 7 September, yang akhirnya dinobatkan sebagai ulang tahun kelas akselerasi kami, merupakan hari pertama kami berada di kelas itu. Segera saja saya merasa kerasan, karena ini memang tujuan utama saya masuk ke SMP Labschool Kebayoran. Mulanya kami memang hampir tidak mengenal satu sama lain, tapi, setelah begitu banyak peristiwa yang kami lewati, kami mulai merasa menjadi satu. Wali kelas saya, Pak Mustofa, pernah mengatakan pada ibu saya bahwa sebenarnya saya bisa saja meraih peringkat-peringkat atas tapi karena saya yang terlalu malas untuk belajar dan seperti orang yang sudah kehilangan motivasi hidup, saya kembali ke kebiasaan lama saya: tidak belajar, tidur saat pelajaran, dan menggantungkan harapan pada pengetahuan umum serta intuisi saya. Tampaknya guru-guru juga sudah mulai sebal dengan tindakan saya yang ogah-ogahan belajar (meskipun Alhamdulillah, nilai rapot saya tidak ada yang dibawah KKM), dan mereka tetap mempercayakan saya beberapa event yang cukup besar. Menjelang UAS semester 3, saya dipilih untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional cabang Biologi, dan saya berhasil lolos hingga menjadi tim OSN Biologi se-Jakarta. Disini saya bertemu dengan berbagai teman baru yang jauh lebih pintar dari saya, tetapi kami selalu pergi kesana-kemari bersama. Pada mulanya saya ingin sekali melanjutkan OSN ini hingga ke tingkat nasional—tetapi, waktu OSN ini bentrok dengan UAS kenaikan kelas ke semester 5, dan saya terkena Demam Dengue. Akhirnya saya lebih memilih untuk beristirahat dan mencoba belajar untuk kenaikan kelas, dan saya gugur di tahap penyisihan nasional. Saya sempat pula menerima beasiswa pendidikan dari Departemen Pendidikan. Di akhir semester 5 menjelang semester 6, saya ditunjuk lagi untuk mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia Tingkat SMP dan Sederajat, penyisihan tahap Jakarta. Saya meraih juara kedua, dan saya merasa cukup bangga pada diri saya sendiri meskipun saya tidak lolos ke tahap nasional.
            Akhir-akhir SMP saya yang hanya 2 tahun itu terasa berlalu sangat cepat. Kami memang sudah dekat sekali, melewati susah dan senang akselerasi bersama. Mulanya kami dicap sebagai kelas akselerasi yang ‘sangat tidak bersikap akselerasi’, dikarenakan tingkah kami yang bisa dibilang terlalu liar, nilai-nilai yang terlihat biasa saja, dan insiden-insiden kami dengan hampir seluruh guru, bahkan dengan wali kelas kami sendiri. Pada titik ini, saya sendiri bingung menentukan pilihan SMA. Saya tidak diperbolehkan mengikuti tes SMA M.H. Thamrin yang sangat saya ingini, karena jarak yang jauh dan fakta bahwa sekolah itu merupakan sekolah boarding school. Saya mendapat tawaran beasiswa untuk masuk ke Korean Science Academy, tetapi ibu saya mengatakan bahwa Korea terlalu jauh, dan faktor bahasa berbeda yang akan memberatkan. Akhirnya, sebagai pilihan terakhir, saya melakukan tes untuk PPSBB SMA Labschool Kebayoran dan alhamdulillah, saya diterima dan akhirnya resmi menjadi siswa SMA.

MASA SMA.
            Kembali, seperti dua tahun lalu di SMP, hari-hari pertama saya dihabiskan untuk MOS yang mengambil waktu selama tiga hari, lalu matrikulasi—untuk mengetahui kemampuan dasar matematika saya. Kelas saya pertama kali adalah kelas XD, dan dengan cepat orang-orang di kelas saya beradaptasi satu sama lain. Mulanya saya merasa kaget dengan jumlah murid yang sejumlah 41. Saya tak pernah mengira akan mendapat teman sekelas sebanyak itu—kelas terbanyak saya hanya berjumlah 21 orang. Tapi itu tak begitu menjadi masalah bagi saya.
            Saya, yang sebelum masa liburan berakhir telah menjalani tes untuk akselerasi di SMA, dengan tidak sabar menunggu hasil tes saya. Tetapi, ketika akhirnya saya dinyatakan lulus tes dan tinggal menandatangani persetujuan untuk ikut kelas akselerasi, saya melupakan mimpi-mimpi saya untuk menjalani SMA selama 2 tahun. Saya merasa bahwa hidup bukan hanya untuk belajar saja. Di samping itu, saya merasa takut dengan konsekuensi degradasi (bila nilainya tak mencukupi), dan keluarga saya yang kurang mendukung saya mengambill kelas akselerasi lagi. Salah seorang teman saya akhirnya meninggalkan kelas dan pindah ke kelas akselerasi. Saya, yang dengan lugas dan cepat menolak penawaran akselerasi, menghabiskan beberapa bulan pertama sekolah ‘diusir’ oleh guru-guru ke kelas akselerasi.
            Hari-hari pertama di kelas X berlalu dengan cepat, dikarenakan banyaknya kegiatan yang ditumpukkan dalam waktu yang singkat seperti pesantren, TO, Bintama, dan yang lainnya. Kegiatan yang sekilas terkesan melelahkan tapi kalau dipikir-pikir, diperlukan untuk membuat generasi bermental baja. Saya sendiri menyesal tidak bisa total mengikuti Bintama dikarenakan tulang belakang saya yang bermasalah.
            Meskipun begitu banyak kegiatan yang harus diselesaikan, guru-guru menghajar benak kami dengan pengetahuan-pengetahuan yang kami anggap asing di awalnya. Kelas kami, memang dicap sebagai kelas paling ribut dan paling susah diatur—meskipun beberapa dari kami memiliki nilai-nilai yang tinggi. Guru-guru yang mulanya menganggap saya mampu bertahan di kelas akselerasi hanya bisa pasrah menghadapi saya yang kembali, terlihat seperti tidak punya motivasi belajar, berisik, dan tukang tidur di kelas. Saya lebih menyibukkan diri dengan komunitas LAMURU dibandingkan dengan belajar. Bahkan ketika ulangan kenaikan kelas sekalipun, saya memilih untuk tidak belajar dan malah bermain bersama teman-teman saya. Akhinya nilai-nilai saya hanya bisa dianggap cukup dan batas lulus saja.
            Telah banyak yang saya lalui selama 15 tahun saya berdiri di bumi pertiwi ini. Pengalaman telah mengikis sebagian diri saya, sehingga saya merubah pandangan saya akan dunia. Saya yang dulu membentuk pertanyaan-pertanyaan kecil dan menyimpannya di kepala saya, saya yang kini membuat pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi besar. Dan saya yang nantinya akan pergi, membiarkan pertanyaan tersebut terjawab dengan sendirinya.



Jakarta, 25 Agustus 2012



1 komentar:

  1. Membaca keseluruhan autobiografi Salsabila Raihana ini, saya sebagai guru mungkin sependapat dengan guru Salsabila bahwa, gurunya pernah berkata bahwa dia adalah "seorang dengan otak dewasa yang terjebak di tengah anak-anak biasa".
    Rahasianya jelas. Seperti yang diakui Salsabila bahwa pada masa itu dia telah membaca lebih banyak dari yang teman-temannya.

    Rahasia ini sebenarnya bukan rahasia lagi. Ini adalah resep untuk mengembangkan diri secara akademik. Autobiografi Salsabila membuktikannya.

    BalasHapus