Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas 1- Autobiografi Safira Azaria I.


Pada tanggal 13 Juli 1996, bertempat di rumah sakit Graha Medika, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tepat pada pukul 1 siang, di waktu dan tempat itulah saya lahir. Seorang anak perempuan yang dilahirkan oleh seorang ibu muda bernama Safitri Chandra Kirana, yang selama proses melahirkan ditemani oleh sang suami yang juga merupakan ayah saya, yaitu Iskandar Zulkarnain. Proses persalinan yang berjalan normal ini dibantu oleh seorang dokter persalinan bernama Ratsarwin. Di kamar 108 rumah sakit Graha Medika lahir anak  perempuan yang diberi nama Safira Azaria Iskandar. Nama ini tentunya memiliki makna. Safira berarti batu safir, Azaria diambil dari bahasa Yunani yang berarti bless by god atau diberkati oleh tuhan, dan Iskandar merupakan nama Ayah saya. Secara keseluruhan nama saya berarti batu safir yang diberkati oleh tuhan. Nama ini dirancang dengan bantuan kakek saya, Wiyono. Ibu saya juga mencari beberapa referensi nama dari buku-buku.Setelah saya dan ibu saya dipastikan sehat, kami segera pulang ke rumah. Rumah saya ini berada di jl. S. Parman blok C no. 10, Slipi, Jakarta Barat. Rumah ini adalah rumah kakek saya. Di rumah ini tinggal ayah dan ibu saya, kakek dan nenek saya,  tante dan om saya, dan 2 orang pembantu rumah tangga.
Di rumah inilah saya tumbuh dan berkembang. Ibu saya terus menerus mengajari saya untuk berbicara, merangkak dan berjalan.  Ayah saya juga tentunya membantu mengajari.Setelah terus menerus belajar berjalan, terus menerus jatuh, saya yang masih berumur 1 tahun tidak pantang menyerah. Saya terus belajar dan belajar, walaupun awalnya tetap saja terus terjatuh. Akhirnya saat berumur 1 tahun saya bisa berjalan. Ayah dan ibu saya tentunya senang sekali. Mungkin seisi rumah sangat gembira saat itu melihat saya bisa berjalan dengan sedikit tertatih-tatih. Saya yang baru bisa berjalan itu tentunya tidak berhenti melangkah kesana kemari. Ayah dan ibu saya terkadang sampai kewalahan mengikuti saya.
Setelah berjalan, masih ada satu hal lagi yang harus saya kuasai, yaitu berbicara. Orang tua saya mulai mengajarkan saya untuk berbicara hal-hal yang mudah diucap, seperti ‘Mama’ dan ‘Papa’. Karena sering mendengar kata-kata itu, saat berumur 15 bulan saya sudah bisa mengucapkan ‘Mama’ dan ‘Papa’. Semenjak saat itu saya memanggil orang tua saya dengan mama dan papa.
Saat saya berumur 2 tahun, ibu saya memutuskan untuk kembali bekerja. Ibu saya kembali bekerja di asuransi Bumiputera, sementara saya dijaga oleh nenek dan babysitter di rumah. Umur 2 tahun, kegiatan saya setiap hari hanya bermain di rumah. Sesekali orang tua dan kakek nenek saya mengajak saya berpergian. Salah satu perjalanan yang saya ingat saat berumur 2 tahun yaitu tamasya ke Kebun Raya Bogor. Saat itu saya pergi bersama orangtua saya, kakek, om saya yang saat itu masih SMA, dan 1 orang babysitter. Di sana saya bermain dan makan siang di pinggir danau. Kami juga berfoto-foto bersama. Saya sangat ingat perjalanan ini karena itulah satu-satunya kenangan saya bersama kakek saya dari ibu. Karena tidak lama setelah itu kakek saya meninggal dunia.
                Semakin hari, saya semakin beranjak besar. Hingga orang tua saya memutuskan untuk mendaftarkan saya ke kelompok bermain pada umur 3 tahun. Orang tua saya memasukkan saya ke kelompok bermain (KB) Kembang yang berada di daerah Kemang. Sebenarnya letak KB ini termasuk jauh dari rumah saya. Namun pada saat itu Ayah saya bekerja di daerah Kemang, karena itu mereka menyekolahkan saya di Kemang.
                Selama di kelompok bermain saya hanya perlu datang ke sekolah 2 kali seminggu. Biasanya saya datang hari Kamis dan Sabtu. Saat sekolah saya diantar oleh Ibu saya. Dan selama sekolah saya ditemani oleh mbak saya, yaitu Mbak Ati. Kegiatan saya saat masih di kelompok bermain terbagi menjadi dua, kegiatan indoor dan outdoor. Kegiatan di dalam kelas sangat banyak seperti menggambar, memanggang kue, mewarnai, menggunting dan melipat, dan masih banyak lagi. Sepulang sekolah biasanya saya pergi kios Koran untuk membeli majalah bobo. Saat masih kecil itu adalah majalah kesukaan saya.
                Setelah  saya lulus dari kelompok bermain Kembang, keluarga saya memutuskan untuk pindah rumah. Kami berpindah dari rumah kakek saya, menuju ke Jl. Anggrek Rosliana 2 blok H no. 37, Slipi. Letak rumah yang baru ini tidak jauh dari rumah sebelumnya. Rumah ini tidak sebesar rumah kakek saya yang dahulu, namun keluarga saya sangat senang dengan rumah ini. Tepat di depan rumah saya terdapat sebuah taman kanak-kanak yaitu TK Anggrek. Disinilah saya bersekolah saat berumur 5 tahun. Namun saya langsung berada di kelas TK B, saya tidak mengikuti kelas A karena umur saya yang saat itu sudah 5 tahun.
                 Kenangan saat berada di TK adalah saat pelulusan. Acara  pelulusan biasanya diisi dengan pembacaan puisi oleh murid yang dinilai sudah bisa membaca dengan lancar. Guru saya memilih saya untuk mewakili murid-murid untuk membaca puisi itu. Betapa senangnya saya waktu itu. Saat pelulusan, saya pun membacakan puisi itu walaupun dengan sedikit terbata-bata.
                Lulus dari TK, saya melanjutkan sekolah ke SDI Al-Azhar 5 Kemandoran. Saat kelas 2 SD, saya sedang giat-giatnya belajar. Ibu saya juga sering menemani saya belajar. Saya juga mulai mengikuti les seperti les bahasa inggris. Seminggu sebelum ujian biasanya ibu saya mengambil cuti dan menemani saya belajar di rumah. Semua itu terbayar saat kenaikan kelas. Saya mendapatkan ranking 1 di kelas. Tentunya hasil jerih payah saya dan ibu saya terbayar.
                Naik ke kelas 3 SD, saya mulai mengambil ekstrakurikuler. Saya mengambil ekskul basket dan pramuka. Saya sangat giat mengikuti ekskul. Namun lama-kelamaan saya mulai merasa letih dan memutuskan untuk keluar dari ekskul pramuka. Giat dengan ekskul basket, saat kelas 4 SD saya mengikuti kejuaraan basket di sekolah saya. Kejuaraan ini diadakan oleh sekolah saya sendiri.  Ini adalah pertandingan pertama bagi  saya dan teman-teman satu tim saya. Karena ini pertandingan pertama untuk kami, kami merasa gugup. Namun rasa gugup kami sedikit berkurang. Kami mendapat suporter begitu banyak karena kami bermain di kandang sendiri. Namun pada akhirnya kami kalah. Tapi tidak apa karena itu merupakan pengalaman berharga bagi kami.
                Saat kelas 5 SD, teman dekat saya mengajak untuk masuk ke ekskul ansambel. Ansambel adalah perpaduan alat music sederhana yaitu recorder (suling) dan pianika. Terbujuk oleh teman saya, saya pun ikut masuk ke ekskul ansambel. Tapi saya juga tidak meninggalkan ekskul basket. Awalnya saya sedikit bingung memainkan recorder, tapi dengan berlatih giat, akhirnya saya mulai menguasainya dan mulai bisa memainkan beberapa lagu. Akhirnya suatu hari, sekolah saya ditunjuk mewakili kelurahan untuk mengikuti lomba ansambel. Jadwal latihan tim ansambel pun dipertambah. Pada hari perlombaan semuanya berjalan lancar. Dan akhirnya kami memenangkan perlombaan dan melanjutkan perlombaan  mewakili kecamatan.
                Naik ke kelas 6 SD, saya dihadapkan dengan UAN. Segala macam persiapan UAN diadakan oleh sekolah saya. 3 kali dalam seminggu murid kelas 6 mendapatkan Pendalaman Materi (PM) dengan pelajaran IPA, Matematika dan B. Indonesia. Begitu juga dengan kegiatan uji coba yang bertubi-tubi. Berbagai macam kegiatan motivasi juga diadakan oleh sekolah saya. Tak lupa pula dengan doa bersama. Saya sendiri selalu menambahkan surat Al-insyirah dalam doa. “Kalau butuh pertolongan, baca saja al-Insyirah.. Di balik kesulitan itu, ada kemudahan.” Bagitulah yang pernah diucapkan nenek saya. Saat hari UAN tiba, sebelum menuju ruangan ujian, kami diarahkan ke ruang transit terlebih dahulu. Di ruang transit ini kami berdoa bersama dan bersiap untuk mengikuti ujian. Saat ujian tiba kami masuk ruangan dengan tenang. 3 hari pun berlalu. Ujian itu dilanjutkan dengan Ujian sekolah. Setelah 7 hari berlalu, akhirnya segala ujian pun berlalu.
                Pada pengumuman kelulusan, murid kelas 6 memberikan nyanyian di atas panggung yang ditujukan untuk orang tua dan guru. Saat bernyanyi, guru kami membacakan puisi untuk kami. Tidak sedikit dari murid kelas 6 yang menangis, termasuk saya. Setelah selesai bernyanyi, kepala sekolah pun berbicara. ‘’Angkatan 17 SDI Al-Azhar lulus….. 100%!!”. Murid-murid kelas 6 yang berada di atas panggung langsung  melakukan sujud syukur. Banyak di antara kami yang menangis, termasuk saya. Setelah sujud, kami kembali ke barisan. Kepala sekolah kembali memberikan pengumuman, yaitu pengumuman 10 nilai terbaik. Alhamdulillah, nama saya dipanggil. Saya menduduki peringkat ke-9 dari nilai terbaik dengan jumlah nilai 26,25.
                Lulus dari SDI al-azhar 5, saya melanjutkan ke SMP Labschool Kebayoran.  Saya termasuk beruntung bisa diterima di sekolah ini, karena dengan begitu banyak pendaftar, hanya 200 yang diterima. Saya ingat ibu saya pernah menenangkan saya sebelum tes masuk SMP. “tenang saja fir.. yang penting kamu sudah berusaha yang terbaik, hasilnya urusan nanti”.
Jujur saja, hal-hal yang saya dengar tentang sekolah ini awalnya membuat saya takut. Ada yang bilang disini tugasnya berat, peraturannya ketat, pelajarannya susah, dan lain sebagainya. Dan ternyata benar saja, saat masih kelas 7 saya sangat kaget dengan pelajaran disini. Tentu saja karena SD dan SMP ternyata sangat berbeda. Pada awalnya nilai saya sempat jatuh, namun akhirnya saya bisa menyesuaikan diri. Di Labschool juga terdapat lari pagi. Hari Jum’at kami harus datang pada pukul 05.30 pagi. Awalnya saya berpikir buat apa datang pagi-pagi hanya untuk lari pagi. Namun ternyata pada akhirnya  lari pagi bersama adalah salah satu yang paling saya rindukan dari masa SMP.
                Di SMP Labschool Kebayoran ada sebuah program bernama student exchange (studex). Student exchange dibagi ke tiga tahap: lokal, nasional dan internasional.Saya yang saat itu masih kelas 7 mencoba-coba untuk mengikuti student exchange local. Setelah mebuat ketentuan-ketentuan peserta, akhirnya saya lulus dan mendapatkan tujuan ke SMPN 13. Student exchange ini berlangsung selama 5 hari. Saya juga mendapatkan 4 orang teman yang bersama-sama melaksanakan studex ke SMPN 13.  
                Selama 5 hari itu, saya berbaur dengan murid-murid SMPN 13. Belajar bersama, upacara bersama dan juga olahraga bersama. Jujur saja, SMPN 13 sangatlah berbeda dengan SMP saya.  Baik dari segi fasilitas maupun dari muridnya. Namun perbedaan itulah yang membuat saya  belajar. Dengan kegiatan ini saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran.
                Saat kelas 8, saya melanjutkan kegiatan studex saya ke tahap selanjutnya, yaitu nasional. Saya mendapatkan tujuan ke Semarang bersama dengan 4 teman saya: Mia, Via, Alvinka dan Luqman. Kebetulan saya belum pernah pergi ke Semarang, jadi ini merupakan pengalaman baru untuk saya. Untuk tingkat nasional, kami diharuskan menampilkan sebuah tarian tradisional dari Jakarta. Setelah berlatih tarian dan persiapan lainnya, kami pun berangkat ke Semarang. Berbeda dengan studex sebelumnya, tingkat national memakai system homestay, yaitu tinggal bersama dengan keluarga asuh.
                Di Semarang saya tinggal dengan keluarga Wasiat, dengan homestay buddy saya Sophie. Selama 5 hari saya merasakan hidup di Semarang. Di semarang saya ikut belajar bersama Sophie di SMPN 3 semarang. Saya merasakan perbedaan belajar di semarang dengan Jakarta. Menurut saya pelajar di Semarang lebih bersemangat dan lebih fokus. Kehidupan di semarang juga sangat berbeda, di sini biaya hidup lebih murah dan orang-orang sekitar sangat ramah. Saya banyak belajar dari program ini.
                Naik ke kelas 9, saya melanjutkan student exchange ke tahap internasional. Saya memilih tujuan Singapore-Malaysia. Student exchange dilaksanakan di Malaysia. Di sana saya bersekolah di Cempaka school selama 3 hari. Cempaka school merupakan sekolah yang sangat luas dan murid-murid disini termasuk golongan menengah ke atas. Sekolah ini menggunakan bahasa Inggris sebgai bahasa pengantar. Awalnya saya kebingungan karena harus berbicara menggunakan bahasa Inggris, namun lama kelamaan bisa menyesuaikan.cempaka school merupakan sekolah yang sangat disiplin. Saya ingat OSIS di sana sangat tegas. Banyak pelajaran yang saya ambil dari sini. Selanjutnya di Singapore saya ddan grup student exchange bertamasya keliling Singapore. Kami juga menyempatkan diri mengunjungi Universal studio.
                Di kelas 9, angkatan saya sudah memiliki nama. Angkatan 8 SMP Labschool Kebayoran ini memiliki nama Scavolendra Talvoreight, yang berarti eight is a typical entity which figures a never ending story. Alhamdulillah angkatan 8 lulus 100% J
               Lulus dari SMP Labschool Kebayoran, saya melanjutkan ke SMA Labschool Kebayoran.  Sebelumnya, saya harus melakukan ujian tes masuk SMA. Ujian masuk SMA Labschool ini terbilang tidak mudah karena pesaingnya yang banyak dan tesnya yang cukup sulit. Namun alhamdulillah saya bisa melaluinya walaupun hanya mendapat posisi cadangan.
               Di kelas 10, sama seperti sekolah lainnya, saya dan teman-teman melaksanakan kegiatan MOS. Kegiatan yang dibimbing kakak-osis ini bertujuan untuk menyesuaikan murid baru dengan budaya SMA Labschool Kebayoran. Disini saya diberi materi dan juga kegiatan yang mendidik dan memperkenalkan saya dengan SMA. MOS ini berlangsung selama 3 hari. Melelahkan namun sangat dikenang, apalagi saat itu saya sedang berulang tahun dan sempat dikerjai oleh kakak-kakak osis.
              Saat pembagian kelas, ternyata saya mendapatkan kelas XE. Awalnya kelas ini sangat diam, suasana sangat hening saat belajar dan teman-teman satu kelas jarang tegur sapa. Namun saat saya meninggalkan kelas ini dan naik ke kelas 11, suasana kelas sudah sangat berubah. Kami sudah akrab dan malah lebih bisa dibilang ‘pecicilan’ saat bermain bersama.
               Di kelas 10, banyak kegiatan yang disiapkan oleh sekolah. Yang pertama adalah PILAR. PILAR adalah pesantren kilat Ramadhan. Selama 3 hari murid kelas 10 menginap di sekolah dan diberi pembekalan untuk mengahadapi bulan Ramadhan. Disini kami juga diajarkan untuk berbakti pada orang tua dan senantiasa menghormati mereka.
               Yang kedua adalah kegiatan Trip Observasi. Di kegiatan ini kelas 10 dibagi perkelompo dan setiap kelompok akan tinggal di satu rumah bersama keluarga asuh. Disini saya dan kelompok disuguhkan berbagai macam kegiatan yang mendidik. TO sangat menyenangkan dan memberikan banyak pembelajaran.
              Yang ketiga adalah Bintama. Di bintama ini, siswa kelas 10 akan dilatih selama 6 hari bersama Kopassus di Serang, Banten. Awalnya saya dan teman-teman sangat malas dan risih dengan kegiatan ini. Bayangan kami akan kegiatan fisik yang melelahkan membuat kami tidak bersemangat melaksanakan Bintama. Namun kenyataannya berbeda sangat jauh. Memang banyak kegiatan fisik di Bintama, tapi kegiatan ini menyenangkan. Terlebih lagi dengan pelatih-pelatih yang ramah namun tegas dan suka melucu. Banyak pengalaman baru saya dapatkan disini seperti makan ular, penjelajahan malam dan belajar kompas. Saat pulang tidak disangka pelatih-pelatih dari kopassus yang tegas ternyata bisa menetaskan air mata. Saya dan teman-teman pun juga menangis karena terharu.
               Demikian perjalanan hidup saya selama 16 tahun. Semoga ke depannya dapat lebih baik lagi.

Sewaktu Bayi

Bersama Ibu

Sewaktu TK



Bersama sepupu



Angkatan 17 SDI al-azhar 5

Bersama teman SD


Kelas 8B Labsky
Bersama kel. Wasiat
Bersama orang tua

Studex spore-malay

Bersama teman SMP

Scavolendra Talvoreight


Kelulusan SMP

Bersama keluarga


Bersama kelompok TO

XE







2 komentar:

  1. Saya begitu tersentuh ketika membaca tulisan yang mengungkapkan kereligiusan seorang anak manusia. Perhatikan kutipan berikut!
    "Saya sendiri selalu menambahkan surat Al-insyirah dalam doa. 'Kalau butuh pertolongan, baca saja al-Insyirah.. Di balik kesulitan itu, ada kemudahan,' begitulah yang pernah diucapkan nenek saya."

    Begitu dahsyat kalimat itu, dan pada blog ini Safira menghadiahkannya untuk semua orang tentang rahasia kereligiusan seorang anak.

    BalasHapus
  2. Selamat ya safira semoga tulisanmu memberi inspirasi untuk yang lain. Sukses tuk kamu ya. pertahankan terus ya doa nya kalau perlu bisa untuk memotivasi teman yang lain. benar dibalik kesulitan pasti ada kemudahan . salut untuk anak kecil yg sudah pandai bermain ansambel dan mengikuti lomba2nya. semoga jadi kenangan manis dan indah ya. kapan mau student exchange ke labs jakarta dan memberi motivasi untuk ensambel disini berbagi pengalaman juga boleh. ditunggu ya say......

    BalasHapus