Minggu, 19 Agustus 2012

Tugas 1-Autobiografi Ridha Aulia Rahmi


15 Tahun Petualangan si Ridha

            Palembang, 14 September 1996 tepatnya pada pukul 02.00 lahirlah seorang bayi perempuan.  Itulah aku,  yang kemudian diberi nama Ridha Aulia Rahmi oleh Ayah dan Ibuku yang menikah pada 9 Juli 1995. Keluargaku biasa memanggilku Luli, kata nenekku panggilan itu berasal dari nama tengahku yaitu Aulia. Tetapi teman-temanku lebih mengenalku dengan sebutan Ridha. Ridha loh bukan Ridho. Aku anak pertama dari dua bersaudara.  Adikku,  Fajar Bakuh Lumaksono berusia  16 bulan lebih muda dariku.



Perjalanan Awal Hidupku

            Aku menghabiskan masa kecilku di Pulau Sumatera, di 3 provinsi yang berbeda. Hal tersebut dikarenakan Ayahku yang sering dipindah tugaskan. Aku dan adikku lahir di Palembang, hampir 2 tahun aku merasakan hidup di Palembang. Sayangnya aku tidak ingat apa-apa tentang Palembang dikarenakan umurku yang masih sangat kecil. Dan sampai saat ini aku belum memiliki kesempatan untuk berkunjung ke Palembang lagi.

Aku dan Nenek bersantai di teras rumah :)
            Dari Palembang aku beranjak ke Bengkulu, provinsi yang terkenal dengan Rafflesia Arnoldii dan pantainya yang panjang yaitu Pantai Panjang. Rumahku di Bengkulu berada tidak jauh dari Pantai Panjang. Aku sangat suka menghabiskan waktu di pantai, mengejar ombak, dan juga membangun istana pasir. Tidak hanya menghabiskan waktu, menghabiskan makan pun kulakukan di pantai.

Aku dan Ibu bermain di Pantai Panjang

            Suatu kejadian pada malam gelap yang tidak dapat kulupa, aku terbangun dalam dekapan ibuku. Terdengar jeritan, teriakan dan juga suara orang-orang yang menyerukan nama Allah Yang Maha Besar. Pohon terlihat seperti sedang menari, disertai dengan tiang listrik dan lampu-lampu yang ikut bergoyang. Itulah pertama kalinya aku merasakan gempa, kekuatan gempa saat itu cukup besar dan berpotensi tsunami. Gempa ini menelan korban yang tidak sedikit.  Alhamdulillah tidak terjadi tsunami, apabila tsunami terjadi mungkin saat ini aku tidak dapat menulis biografi ini.

Masa Taman Kanak-kanak

            Di Bengkulu ini juga aku mulai menduduki bangku Taman Kanak-kanak di TK Sandhy Putra. Aku sangat suka dengan guruku saat itu yaitu, Bu Lis. Beliau sangat baik dan suaranya indah, selain itu Bu Lis juga banyak membantuku dalam belajar  berbicara, membaca dan berhitung. Saat mulai fasih berbicara aku sangat suka bernyanyi dan menari. Ibuku bilang aku tidak ada kesulitan untuk bernyanyi mengikuti nada dan menghafal lirik lagu. Aku juga kerap mengkuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh TK terutama kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Setelah kurang lebih 4 tahun di Bengkulu, aku dan keluarga bermutasi ke Medan.

Ridha kecil yang mengikuti lomba tarik tambang
            Di Medan aku melanjutkan sekolahku di TK Dharma Wanita USU, meskipun hanya 6 bulan bersekolah di sana aku sangat menikmati masa kecilku. Di TK ini aku bertemu dan mengenal Yara, ia adalah teman sekelasku. Kebetulan rumah Yara tidak jauh dari rumahku, kami sering menghabiskan waktu bersama dengan bermain masak-masakan, sepeda, barbie dan masih banyak lagi.

Karya wisata bersama teman-teman TK

Wisuda TK Dharma Wanita USU

Masa Sekolah Dasar

            Pada tahun 2002 aku menginjakkan kaki di SDPN Sei Petani, Medan. Tak disangka lagi-lagi aku sekelas dengan Yara. Aku dan Yara menjadi sangat dekat karena kami selalu sekelas sampai kelas 5. Saat kelas 3 seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti psikotes. Psikotes tersebut untuk menjaring anak-anak yang mampu untuk masuk ke kelas akselerasi. Aku ingat sekali betapa banyak gambar, pola dan angka yang diberikan saat tes.

Aku dan Yara berpose di depan kamera :$
            Berdasarkan hasil psikotes itu aku lolos dan masuk ke kelas akselerasi, begitu juga dengan Yara. Benar-benar hasil yang mengejutkan. Kelas itu hanya terdiri dari 13 murid dengan seorang wali kelas yang sangat baik, sabar dan seru; ialah Bu Nurzani. Aku dan 12 teman-temanku, kami sangat dekat. Sebagian besar dari kami tinggal di satu komplek yang sama, kami pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Akselerasi ini tidak membuatku penat ataupun tertekan, bahkan aku pun tidak sadar bahwa kelasku belajar lebih cepat dari kelas lainnya. Setiap hari guru-guru mengadakan kuis cerdas cermat, siapa cepat dia yang dapat. Kuis yang diadakan oleh guru-guru membuat kelas seakan-akan berisi lebih dari 30 orang, karena suara teriakan heboh dan sikap rusuh dari 13 murid yang berebut untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.         

            Setelah satu tahun berda di kelas akselerasi, ayahku harus pindah kerja lagi. Kali ini beliau ditugaskan untuk ke Jakarta. Awalnya aku enggan untuk ikut ayahku pindah karena letak Jakarta dan Medan itu sangat jauh, bagaimana kalau aku rindu teman-temanku?.  Ayah dan ibuku sudah sibuk mencarikan sekolah untukku dan adikku di Jakarta. Setiap mendengar percakapan mereka tentang hal tersebut, hatiku sangat sedih. Teman-temanku juga mulai mengucapkan kata-kata perpisahan yang membuatku semakin sedih. Tetapi berkat rayuan dan ajakan orangtuaku akhirnya aku luluh dan  ikut ke Jakarta. Hari-hari terakhirku di Medan sangat berkesan, kuhabiskan satu minggu terakhirku dengan makan sate padang, berenang, bermain ke rumah teman, dan makan durian bersama teman-temanku.

Foto bersama teman-teman dari kelas akselerasi
            Sesampainya di Jakarta aku melanjutkan pendidikanku di SDN Gunung 05 Pagi. Aku mengulang kelas 5 di Jakarta, karena sulitnya mencari sekolah yang menerima murid baru di kelas akselerasinya. Susana di Medan dan di Jakarta sangat berbeda. Dimana anak-anak di Medan masih bermain dengan boneka dan mobil-mobilan, anak Jakarta sudah mengenal dan memiliki alat-alat dan mainan yang canggih. Saat memperkenalkan diri di depan teman-temanku yang baru aku masih menggunakan bahasa dan logat Medan.

Karya wisata ke Istana Bogor dan Cipanas

            Aku ingat kejadian dimana aku belajar mengucapkan ‘lo’ dan ‘gue’ untuk pertama kalinya. Ketika bel istirahat berbunyi aku berkenalan dengan teman-temanku secara personal. Lalu salah satu dari temanku berkata; “Jangan make aku kamu gitu dong, coba pake lo gue deh”. Seketika aku bingung, aku masih terbiasa dengan ‘aku’ dan ‘kamu’ mengucapkan ‘lo’ dan ‘gue’ terasa aneh di mulutku dan terdengar asing di telingaku. Tetapi seiring berjalannya waktu aku mulai meninggalkan kebiasaan berbicara menggunakan ‘aku kamu’ dan beralih ke ‘lo gue’. Setelah sudah berkenalan dan mengenal banyak orang, aku mulai ikut serta dalam kegiatan-kegiatan sekolah seperti basket.

Foto bersama sebelum pertandingan
             Di Jakarta aku tidak bisa bermain ke rumah teman dengan menggunakan sepeda seperti di Medan. Rumah teman-temanku letaknya berjauhan,  hal tersebut membuatku harus meminta tolong ibu untuk mengantarkanku ke rumah teman. Dua tahun melanjutkan sekolah dasar di Jakarta, akhirnya aku berhasil lulus dan menyelesaikannya dengan nilai yang memuaskan.

Hari terakhir duduk di bangku Sekolah Dasar!!

Masa Sekolah Menengah Pertama

            Melihat kakak-kakak sepupuku yang merupakan alumni SMPN 19 Jakarta, membuatku ingin meneruskan perjalananku dalam menuntut ilmu di SMPN 19 Jakarta. Alhamdulillah aku lolos tes dan diterima di SMP tersebut. Aku masuk kelas 7B bersama dengan Dahlia, temanku yang berasal dari SD yang sama. Untung saja aku tidak mendapati kesulitan untuk bergaul dengan teman-teman yang berasal dari sekolah yang berbeda-beda. 7B terkenal dengan kenakalannya, Bu Lilis sebagai wali kelas 7B harus sangat sabar menghadapi kelas yang sulit diatur ini.

Aku dan teman-teman 7B

             Selama 3 tahun di SMP aku belajar menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Itu adalah tuntutan dari sekolah karena aku berada di kelas SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Awalnya aku terkejut belajar matematika dan IPA menggunakan Bahasa Inggris, aku juga takut nilaiku jelek karena Bahasa Inggris yang digunakan dalam pelajaran berbeda dengan Bahasa Inggris yang digunakan sehari-hari. Tetapi karena sudah mulai terbiasa, Alhamdulillah aku dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

            Saat kelas 8 aku dan teman-teman mengikuti pertukaran pelajar ke Singapura tepatnya ke Loyang Secondary School. Pengalaman yang aku dapatkan dari pertukaran tersebut sangat berharga. Dari perjalanan tersebut aku bisa melihat dan membandingkan cara mereka belajar sekaligus mendapatkan teman baru.

Berpose di depan Science Center, Singapura

            Pada masa SMP aku berkesempatan untuk menjadi OSIS. Program kerja terbesar OSIS di sekolahku pada waktu itu adalah menyelenggarakan “19 CUP III”. Dari pengalaman tersebut aku belajar bahwa untuk membuat acara yang besar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak hanya OSIS yang bekerja keras untuk mengadakan “19 CUP III” pada saat itu, seluruh warga sekolah ikut serta dalam menyukseskan acara tersebut. Dan pada akhirnya “19 CUP III” dapat terlaksana dengan baik.

OSIS SMPN 19 periode 2011-2012

Bersama teman-teman di 19 CUP III

            Kelas 9 merupakan tahun terakhir di SMP, tahun dimana aku harus belajar dengan tekun untuk UN (Ujian Nasional) dan tes masuk SMA.  Teman-temanku dan aku sudah memiliki target nilai dan cita-cita ingin melanjutkan ke sekolah mana. Guru-guru tak henti-hentinya membekali kami dengan ilmu. Meskipun kelas 9 lebih disibukkan dengan belajar daripada bermain, masa-masa itulah yang paling aku rindukan. Saat aku dan teman-teman penat dan bosan belajar, kami akan bermain bersama-sama melakukan hal-hal yang seru. Di tahun inilah aku dan teman-temanku menjadi sangat dekat, saling mendukung satu sama lain, bertukar informasi tentang SMA, menyusun dan membangun mimpi bersama-sama. Seiring berjalannya waktu kami pun harus berpisah dan berjalan di  jalan masing-masing.  Alhamdulillah akhirnya aku pun lulus SMP dengan predikat yang baik.

Foto bersama teman-teman di malam perpisahan

Liburan bersama ke Bali

Masa Sekolah Menengah Atas

            Sama seperti saat SMA karena melihat kakak-kakak sepupuku, aku memiliki keinginan untuk masuk SMAN 70. Di tengah perjalananku menggapai impian, datanglah sebuah kemudahan. Ibuku mendapatkan informasi bahwa SMA Labchool Kebayoran membuka jalur prestasti untuk murid yang berasal dari luar SMP Labschool Kebayoran. Akhirnya aku mencoba jalur tersebut, setelah lolos berkas tibalah saatnya untuk diwawancara. Saat itu aku diwawancarai oleh Pak Azhar, beliau menanyakan alasanku masuk SMA Labchool Kebayoran. Salah satu alasanku saat itu adalah karena adikku adalah murid SMP Labschool Kebayoran. Sebenarnya itu alasan yang tidak penting, tapi itulah salah satu hal yang membuatku meninggalkan keinginanku masuk SMAN 70. Hasil tes pun keluar, Alhamdulillah aku diterima di SMA Labschool Kebayoran.

            Kegiatanku di  SMA Labchool Kebayoran diawali dengan MOS (Masa Orientasi Siswa). Awalnya aku bingung harus berbuat apa karena murid yang ada didominasi oleh murid dari SMP Labschool Kebayoran. Di hari terakhir MOS, kami menyaksikan Expo Ekskul. Saat itu semua siswa diwajibkan untuk memilih 1 kegiatan ekstrakurikuler. Awalnya aku ingin masuk LAMURU, tetapi sayangnya LAMURU (Labsky Community Drum) itu adalah sebuah komunitas bukan ekstrakurikuler. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti ekstrakurikuler tari tradisional dan kegiatan LAMURU. Setelah kegiatan MOS berakhir, kegiatan pembelajaran dimulai dan aku sudah mulai mengenal banyak teman baru.  

Name-tag MOS yang super ribet

            Di kelas 10 aku berada di kelas X-A, kelas yang terdiri dari 37 orang. Di awal tahun pembelajaran, orang tua diberikan kalender pembelajaran selama setahun. Setelah aku melihat daftar kegiatan selama satu tahun tersebut,  hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menjerit sekeras-kerasnya. Banyak sekali kegiatan yang harus aku ikuti, mulai dari KALAM, TO, Study Tour hingga BINTAMA.

Bersama XA dan wali kelas tersayang, Pak Yusuf :)

            Sekarang aku dapat membuktikan aku telah berhasil mengikuti semua kegiatan tersebut.  Banyaknya kegiatan di tahun pertama sekolah membuat kelas 10 menjadi berkesan. Dari semua kegiatan di kelas 10 kegiatan TO (Trip Observasi) yang paling berkesan untukku. Di dusun yang terkenal dengan sebutan Parakan Ceuri, aku mendapatkan banyak pembelajaran hidup. Selama TO aku tinggal di rumah warga bersama beberapa temanku. Aku dituntut untuk memasak sendiri, mencuci baju sendiri, semua dilakukan sendiri. Selain diajarkan untuk mandiri, TO juga mengajarkanku untuk hidup gotong royong. Banyak aktivitas yang  dilakukan di sana, mulai dari bertani, memberi makan hewan ternak, mengadakan penelitian, beraksi di pentas seni untuk menghibur warga sekitar dan juga  menjelajahi desa tersebut. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

Di pos kesenian saat penjelajahan
            Di penghujung masa kelas 10 yang aku miliki, aku berkesempatan mengikuti kegiatan misi budaya. Persiapaan untuk misi budaya dilakukan kurang lebih hampir 1 semester lamanya. Aku berkesempatan untuk belajar tari tradisional seperti; Nandak Ganjen yang berasal dari Jakarta, Lontar berasal dari NTT, Soya-soya dari Maluku Utara dan Saman  yang berasal dari Aceh.

            Setelah aku dan teman-temanku mempersiapkan diri selama kurang lebih 1 semester dengan didampingi Bu Yuni dan 2 kakak pelatih yaitu; Kak Ayu dan Kak Fitri, kami berangkat ke Turki tepatnya ke Büyükçekmece untuk mengikuti festival dan lomba disana. Setibanya di sana, kami tercengang melihat orang-orang yang sangat tinggi dan terlihat seperti penari profesional dan kenyataannya mereka memang profesional. Sebagian besar peserta festival berasal dari daerah bagian barat, sedangkan kami berasal dari bagian timur yang masih berumur kurang dari 17 tahun. Dapat dibayangkan betapa kecilnya kami diantara orang-orang jangkung.


Suasana pembukaan festival
            Sembilan hari mengikuti festival, tiada hari tanpa parade dan menari. Hal tersebut praktis membuatku dan teman-temanku harus selalu dalam keadaan berbalut make-up dan busana menari yang lengkap setiap harinya. Berada di tengah-tengah orang asing menampilkan budaya dari negara tercinta yang disambut dengan sambutan hangat dan tepuk tangan meriah membuatku merasa bangga dan bahagia, tanpa aku sadari senyum yang lebar menghiasi wajahku.


Svarnabhadaya Balawandipta bersama Bu Yuni di  Büyükçekmece

            Saat mengikuti dan menjalani hari-hari selama festival aku dan teman-temanku tidak berharap terlalu banyak untuk mendapatkan sebuah penghargaan, karena hanya dengan berpartisipasi  di dalamnya sudah membuat kami sangat bangga. Tetapi, tak kusangka aku dan teman-temanku berhasil meraih penghargaan "The Best Female Performance". Betapa bersyukur dan bahagianya aku, sulit mencari kata yang pas untuk menggambarkan perasaanku saat itu.


Penghargaan "The Best Female Performance"
            
            Tak terasa kelas 10 telah berakhir. Alhamdulillah sekarang aku duduk di bangku kelas  11 dengan jurusan IPA,  sesuai dengan keinginanku. Untuk saat ini dan kedepannya aku berharap dapat mengisi masa-masa SMA-ku dengan kegiatan yang bermanfaat, agar kelak dapat aku dapat menggapai cita-citaku dan membuat orang tuaku bangga. Amiiin.

1 komentar: