Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Rheza Daniswara


16 Tahun Hidup Yang Luar Biasa

Nama saya Rheza Daniswara. Saya lahir pada tanggal 25 Februari 1996, di Jakarta, di rumah sakit harapan ibu tepatnya. Saya lahir dari pasangan Radianto W. (ayah saya) dan Diana Rose (ibu saya). Saya punya satu kakak yang bernama Rafina Diaswari. Di sini saya akan membagi pengalaman saya di masa lampau, mulai dari balita, SD, hingga SMP. Saat pertama saya lahir, keluarga saya masih tinggal di rumah eyang saya di daerah Pinang Ranti, jadi saya dibesarkan di sana hingga kira-kira sampai 3,5 tahun. Saya sempat di beri julukan oleh eyang saya yaitu “soko kadoan sing ketok i depe”, yang sampe sekarang saya tidak tahu apa artinya itu. Lalu tak berapa lama keluarga saya pindah ke Cibubur, tepatnya di kompleks Raffles Hills. Mulai dari sini lah pengalaman saya dimulai.

Masih ingat saya, masa-masa kecil dulu di lingkungan rumah, yang mungkin sekarang rumahnya sudah di huni orang lain, mulai dari bermain bersama kakak, hingga bertengkar. Lalu bermain ke rumah tetangga, mengganggu rumah lain di satu blok (di Raffles Hills blok merupakan satu wilayah untuk beberapa rumah, atau bisa juga di sebut RW). Juga, yang tidak bisa dilupakan adalah saat balapan sepeda bersama teman-teman satu blok, karena saat itu saya jatuh hingga luka-luka. Dan perayaan 17 Agustus dengan lomba-lomba yang menarik bersama teman-teman satu kompleks , merupakan masa-masa indah saat saya masih kecil.

Masa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar

Saat umur empat tahun, saya mulai masuk sekolah, di Taman Kanak-kanak. Sekedar informasi, bahwa saya dari Taman Kanak-kanak hingga SMA sekarang ini, selalu di sekolah swasta. Saya sekolah tingkat Taman Kanam-kanak di Al-Azhar Cibubur. Dulu saya di masukkan ke sekolah Islam seperti Al-Azhar, mungkin karena orang tua saya ingin menanamkan pelajaran agama yang baik dan benar sejak saya masih kecil. Di masa ini memang asal muasal adanya teman. Awalnya teman saya tidak banyak, tapi lama-kelamaan teman saya bertambah dan terus bertambah, membuat saya senang berada di Taman Kanak-kanak. Dan semenjak itu pula saya untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang berbeda pada lawan jenis.

Pada umur enam tahun, atau setelah lulus Taman Kanak-kanak, saya masuk SD. Dan lagi-lagi orang tua saya memilihkan saya sekolah Islam Al-Azhar, tapi kali ini bukan hanya soal pendidikan agama, tapi mungkin karena disini SD yang paling bagus di sekitar Cibubur, atau mungkin karena lokasinya cukup dekat dengan rumah. Saya masuk di SD Al-Azhar 20 Cibubur, di angkatan ke 5, di kelas 1B. Awalnya saya masih takut dengan situasi di SD, tapi saya hanya butuh waktu yang tidak lama untuk beradaptasi. Sebagai bukti, saya dan teman-teman saya waktu itu mungkin berlima, adalah anak angkatan 5 yang pertama kali dihukum. Seperti biasa kami ribut saat pelajaran, dan guru pun langsung menghukum kami, kami dipindahkan ke kelas 1C. Dan saat itulah saya merasakan bagaimana rasanya di hukum guru. Saya mulai memperbaiki sifat saya dan berhasil naik kelas ke kelas 2A. Di SD saya mulai dari kelas 2 hingga 6 memang ada pengelompokan sesuai sifat dan nilainya masing-masing. A paling bagus, B pertengahan, dan C yang buruk. Saya memang berkembang menjadi anak baik sejak itu, karena memang didukung dengan kondisi kelas yang anaknya baik semua. Dan saya baru menyadari ternyata saya satu kelas dengan, anak perempuan yang saya idam-idamkan, hingga kelas 2. Saat SD, ada namanya jasa layanan antar jemput, yang mengantar anak-anak yang rumahnya tidak jauh dari sekolah. Mobilnya dibagi sesuai tujuan rumahnya. Karena saya rumahnya di Raffles, saya ikut mobil yang mengarah ke Raffles tentunya, dan ternyata, anak perempuan itu juga naik di mobil yang sama dengan saya. Dan memang, rumahnya hanya beda beberapa blok saja dari rumah saya. Dan bagi saya, kesempatan terbuka lebar. Tapi yang terjadi, saya seperti tidak bisa apa-apa di depan dia, dan itu terjadi hingga kelas 5.

Dan mulai kelas 4, saat satu angkatan mulai mengenal, saya berubah seratus delapan puluh derajat. Saya mulai melakukan hal-hal yang seru tapi sebenarnya buruk, seperti memecahkan lampu kelas, kabur saat ada tadarus Al-Quran, sembunyi di saat yang lainnya upacara, meniru aksi smackdown yang saat itu ramai dibicarakan dan ditonton teman-teman saya, membentuk geng-geng yang tidak jelas, hingga mengganggu anak kampung yang rumahnya ada di belakang sekolah dengan melempari batu hingga kena kepalanya. Saya melakukan itu semua karena teman-teman angkatan saya lebih banyak yang seperti itu. Saya masih beruntung tidak dipanggil orang tuanya. Dan akibatnya saya naik kelas ke kelas 5C. Di kelas 5 saya mencoba kembali ke jalan yang benar, dan itu cukup berjalan dengan lancar, nilai-nilai saya kembali membaik, dan saya sudah tidak melakukan hal-hal ‘seru’ itu lagi. Tapi saat kenaikan kelas ke kelas 6, ada hal yang sulit untuk dilupakan, karena anak perempuan yang saya suka itu, akan pergi jauh ke Kalimantan, karena ayahnya ada urusan disana. Hanya kata-kata perpisahan yang bisa terucap dari mulut. Kejadian itu entah kenapa membuat semangat belajar saya meningkat untuk menghadapi UASBN waktu itu. Tapi hal buruk menerpa saya, mungkin karena terlalu banyak kegiatan, saya jatuh sakit dan tidak masuk beberapa minggu dan melewatkan hari-hari latihan soal. Untungnya itu terjadi setelah ujian praktik, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya mencoba untuk belajar di rumah saat saya sakit, beruntung sakitnya cepat pulih dan saya masih sempat ikut latihan soal sebelum UASBN. Dan pada akhirnya saya mampu melewati ujian dan hasilnya alhamdulilah saya nomor 1 di angkatan, berdua dengan teman saya bernama Iqbal (sekarang sudah SMA kelas 2 karena aksel), karena nilai kami sama. Saya sangat bangga waktu itu, karena bisa membuat orang tua saya bangga.

Selain akademi, saya juga punya pengalaman non-akademi, saya mengikuti ekstrakurikuler silat saat itu. Saya ikut sejak kelas 2 hingga kelas 6. Dan saya pun sudah sampai tingkat sabuk warna ungu strip 2, tingkatan yang cukup tinggi untuk perguruan silat di sekolah saya. Bermula di warna putih, lalu kuning, hijau, hijau strip 2, biru hingga strip 3, baru violet atau ungu hingga strip 2. Tapi diatas ungu masih banyak tingkatan lagi, mulai dari merah, lanjut ke hitam, sampai tingkatan pendekar yang menggunakan selendang, bukan sabuk lagi. Tapi saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya, karena berbagai hal. Dari sekian lama saya ikut perguruan silat di sekolah, banyak kejuaraan atau kompetisi yang saya ikuti. Namun tak banyak yang saya menangkan. Prestasi paling baik saya hanya mendapat medali perunggu se-Jakarta di cabang jurus IPSI (jurus utama yang dimiliki IPSI Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia) dan medali perak di cabang jurus secara berkelompok. Dari cabang fight atau duel satu lawan satu, saya tidak pernah menang, pencapaian terbaik saya hanya sampai semifinal. Dan saya berhenti di akhir semester satu di kelas 6.

Masa Sekolah Menengah Pertama

Naik ke jenjang pendidikan selanjutnya, yaitu SMP. Kini orang tua saya tidak memilihkan lagi sekolah untuk saya, mereka hanya menawarkan sekolah dan saya yang memilih. Dan akhirnya saya memilih ke SMP Labschool Kebayoran. Memang tempatnya sangat jauh dari rumah saya, tapi saudara saya yang sekarang sudah kuliah di ITB, sekolah di SMP Labschool Kebayoran dan mengatakan bahwa itu sekolah yang sangat bagus. Dan lagipula kakak saya sudah sekolah di sana, sehingga akan memudahkan antar-jemput pulang-pergi. Dan sampai sekarang saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya sekolah di Labschool Kebayoran.

Sama seperti saat masuk SD, masuk SMP pun diselimuti rasa takut dan khawatir, ditambah ini adalah lingkungan baru bagi saya, dan saya benar2 tidak ada teman kenal saat pertama kali masuk. Di SMP ini saya baru merasakan apa yang disebut masa orientasi siswa, walaupun sempat di marahi karena saya melakukan kesalahan besar, tapi itu masa yang benar-benar seru, dan mungkin tidak ada di semua sekolah. Saya masuk di kelas 7D, kelas seru dengan teman-teman yang unik. Dan guru yang paling tidak bisa dilupakan saat pelajaran kelas 7 adalah guru bahasa Indonesia. Guru yang merupakan teror bagi semua anak kelas 7. Di kelas, saya punya teman yang beraneka ragam, ada yang humoris, ada yang alim, ada yang berandal, dan ada yang diam saja di kelas. Sempat ada keributan di kelas antara dua anak yang sekarang dikenal dengan sifat berkelahinya. Tapi semua itu adalah hal-hal yang paling dikenang saat kelas 7. Nilai saya bisa dibilang cukup untuk naik kelas, tapi tidak cukup untuk membanggakan orang tua, karena memang pelajarannya lebih sulit dibandingkan pelajaran di SD.

Naik ke kelas 8, saya masuk ke kelas 8B, salah satu kelas yang paling berarti buat saya. Awalnya memang yang saya kenal hanya teman yang sekelas di kelas 7, tapi tak butuh waktu lama, saya mulai kenal dengan semua di kelas 8B. Memang masa-masa SMP baru bisa dirasakan di kelas 8, seperti tugas yang menumpuk, ulangan-ulangan yang membuat pusing kepala. Lalu di kelas 8 pula, awal kebersamaan angkatan, sebagai angkatan 8. Dan pada saat itu juga saya mengenal teman satu angkatan. Lalu di kelas 8 ada yang namanya bina mental siswa, itu merupakan kegiatan sekolah dimana siswa dilatih mental militer. Angkatan saya tidak terlalu menegangkan seperti angkatan lain, karena angkatan saya hanya dilatih polisi, sementara yang lain oleh kopassus atau marinir, yang mungkin lebih menegangkan. Tapi sepertinya sama saja, angkatan saya juga dilatih dengan keras, dan menegangkan. Walaupun begitu, kegiatan itulah yang menjadi kenangan tak terlupakan selama di SMP. Untuk masalah nilai, saya masih berkutat di kata cukup untuk naik, tapi memang tidak bisa memenuhi harapan orang tua yang terlalu tinggi bagi saya. Dan saya pun naik ke kelas 9, dimana masa-masa tersulit di SMP akan ditempuh.

Kelas 9, kelas paling istimewa di saat saya SMP. Saya masuk di kelas 9C, dengan teman-teman yang variatif dan kreatif. Semua tahu kalau di kelas 9 hadapannya adalah ujian, ujian dan ujian. Tapi suasana kelas dibuat asik dan seru, sehingga belajar pun rasanya seru. Saya juga mengikuti bimbingan pelajar yang ada di dekat sekolah bersama teman-teman, untuk lebih menguasai pelajaran demi UAN. Tapi, keuntungan di kelas 9 adalah penguasa SMP, sebagai kelas tertinggi  memang selalu mengasyikkan, sama seperti kelas 6 di SD dulu. Peraturan tidak berlaku ketat untuk kelas 9, dan kebebasan ini memang yang diinginkan sejak kelas 7. Di kelas 9 pula kebersamaan angkatan sampai pada puncaknya, dengan pembentukan nama angkatan 8, yaitu Scavolendra Talvoreight.

Sebenarnya kenangan yang paling berkesan di SMP Labsky ada semua di kelas 9, rasanya seperti ingin mengulang masa-masa tersebut. Mulai dari awal kegiatan angkatan yaitu TO UAN, dimana kami satu angkatan di ajak merenungkan nasib dan diberi motivasi belajar. Lalu setelah itu berbagai Try Out siap menanti kami, dan kami pun siap menghadapinya. Tidak hanya di sekolah, di tempat bimbigan belajar pun menghadirkan banyak Try Out. Semua saya hadapi hanya untuk menghadapi UAN, demi lulus ke SMA, mendapat SMA yang terbaik, dan dapat membanggakan orang tua.

Dan pada akhirnya sampai lah di empat hari menentukan, saya hanya bisa melakukan yang terbaik dan berharap bisa mendapat nilai yang maksimal. Pada akhirnya nilai saya tidak memuaskan, entah kenapa, mungkin karena cara belajar saya yang salah. Tapi saya masih bersyukur dengan hasil tersebut, setidaknya dua harapan saya terwujud, yaitu lulus SMP dan dapat SMA terbaik.

 Masa Sekolah Menengah Atas

Memasuki masa SMA, saya tetap memilih labsky untuk sekolah. Di kelas satu atau kelas sepuluh, banyak sekali kegiatan yang harus diikuti, mulai dari mos, pilar, to, bintama yang sangat melelahkan. Saya masuk di kelas XE, awalnya ketika saya masuk kelas, sepi sekali seperti kuburan. Tapi tidak butuh waktu lama untuk kelas ini disebut sebagai “kelas gila”. Ternyata semua anak di kelas ini asik semua. Memang banyak masalah yang ditimbulkan kelas ini, tapi kita bisa membuat masalah terpecahkan atau tersembunyikan, dan itu membuat kelas ini menjadi asik dan tidak terlupakan.

Di kelas sebelas saya masuk di kelas XI IPA 3. Sama seperti di kelas sepuluh, awalnya sepi-sepi saja, dan memang anak-anaknya terdiri dari anak-anak rajin. Tapi saya berharap kedepannya kelas ini akan se-asik kelas XE, tapi XE akan tetap jadi yang ter”gila” menurut saya.

 Pas kecil bareng kakak
 Anak-anak silat pas SD
 Foto di BuKen SD
 Cowok kelas 7D
 Kelas 8B
Kelas 9C
 Kelas XE
 Bareng Rio, Adif, Satrio pas Bintama
Refleksi kelas XE
Bareng Ojan, Hafizh, Adhitia Sofyan, Satrio, dan Ifad

1 komentar:

  1. Membaca autobiografi Reza, seakan-akan saya membaca sisi lain dari SMP dan SMA Labsky. Yang saya maksudkan adalah Labsky dari kaca mata anak manusia yang sedang tumbuh, yang dapat bermain-main di antara gejolak perkembangan emosional dan aturan-aturan yang mengikatnya. Semua tersimpul pada kata "asik" (baca: asyik), seperti yang ditulis Reza.

    BalasHapus