Rabu, 22 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Nisya Putri Shaliha


16 Tahun Yang Menyenangkan
Lahir
Aku lahir pada tanggal 18 Februari 1996 di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, dari pasangan Firmansyah, seorang advokat (pengacara) dan Erni Farida, seorang Ibu Rumah Tangga. Namaku, Nisya Putri Shaliha, adalah gabungan dari nama mereka, yakni Er(ni) dan Firman(sya)h. Sedangkan Putri artinya anak perempuan dan Shaliha artinya aku diharapkan menjadi anak yang shaliha.
Foto pertama
Kata Mami (panggilanku untuk ibu), saat itu sore hari di bulan puasa. Aku menjadi semacam kado terindah untuk Papi (panggilanku untuk ayah)  yang berulang tahun pada tanggal 14 Februari. Ketika lahir, aku termasuk bayi yang kecil, hanya seberat 2,9 kilogram. Kelahiranku disambut keluarga besar dengan bahagia. Karena saat itu Mami dan Papi masih tinggal dengan Yayah (panggilanku untuk ayah dari Papi) dan Mamah (panggilanku untuk ibu dari Papi), maka aku sering didatangi tante, oom, dan sepupu-sepupuku.
Yayah dan Mamah
            Papi yang sembilan bersaudara dan Mami yang tujuh bersaudara membuat keluarga besarku keluarga yang benar-benar besar. Jika dijumlah, anggota keluarga besar dari pihak Papi berjumlah 60-an dan pihak Mami berjumlah hampir 50. Dengan orang sebanyak ini, aku tidak pernah merasa kesepian saat kecil. Meskipun hanya bertemu dengan keluarga besar dari pihak Mami di Solo setahun sekali saat libur Lebaran, aku mengenal dan cukup  dekat dengan setiap anggota keluargaku dengan baik.
            “Nisya kecil pertumbuhannya bagus sekali. Umur 6 bulan sudah bisa duduk. Umur 7-8 bulan belajar berdiri. Umur 9 bulan—masih gundul dan kalau digendong masih seperti bayi—eh, kalau dilepas, sudah bisa jalan. Umur 1 tahun saja sudah bisa lari. Sampai-sampai kamu tuh bingung saat diajak main kambing-kambingan, nggak bisa merangkak, soalnya memang nggak pernah belajar merangkak,” kata Mami.
            Sampai berumur 5 tahun, tempat tinggalku berpindah-pindah. Aku sempat tinggal di Bekasi ketika berumur 1 sampai 2 tahun, lalu kembali ke rumah Yayah dan Mamah karena adikku yang bernama Alim Kahfi lahir. Kemudian, saat berumur 3 tahun, keluargaku memutuskan untuk pindah karena aku dan Alim sudah mulai besar. Kami mengontrak rumah di daerah Krisdoren, Jakarta Barat. Setelah 2 tahun mengontrak, Papi akhirnya membeli rumah di Regensi Melati Mas, Serpong.
            “Kamu tuh waktu kecil lincah banget, Nisy,” kata Tante Nana. “Waktu kamu ulang tahun, kuemu tuh kamu bejek-bejek,” tambah Bude Fathonah. “Mau diajak foto, susah, kabur terus,” lanjut Bude Endang. “Pokoknya kamu nggak bisa diem, deh,” singkat Mami. Hmm, sepertinya aku “pecicilan” sekali, ya, hehehe.
Aku umur 1 tahun
TK
            Aku masuk Taman Kanak-kanak Kartini pada umur 3 tahun. “Dulu nggak ada Playgroup di situ. Tapi kamu sama Alim bertengkar mulu, Mami capai melerainya. Jadi, ya sudah, Mami masukkan saja ke TK A,” cerita Mami. Aku pun akhirnya lulus TK pada umur 5 tahun. Pindah ke Serpong dan mendapati SD di sekitar rumahku tidak menerima anak berumur 5 tahun, akhirnya aku kembali besekolah di TK Sakinah selama setahun. Lalu, aku melanjutkan ke SD Islam Cikal Harapan 1 BSD.

SD
Di SD, aku termasuk anak yang biasa. Nilaiku baik dan aku berteman dengan siapa saja. Aku tidak suka mengikuti lomba-lomba karena aku pemalu. Namun, aku tetap berusaha aktif dengan menjadi Dokter Cilik. Oh iya, saat aku kelas 2 SD, adikku Iman Azhari lahir.
Meskipun di sekolah aku biasa saja, di rumah aku senang sekali menghabiskan waktu dengan Alim dan teman-teman sekomplek. Kami bersepeda setiap sore, bermain PlayStation, gundu, kejar-kejaran, petak umpet, panjat-panjatan pohon, dan masih banyak lagi. Aku dulu memang tomboi sekali! Aku juga tidak sering merasa capai, tidak rewel, dan sangat suka bermain. Aku bisa menikmati dimana pun aku berada. Begitu juga adik-adikku. Mungkin turunan dari Papi yang memang suka jalan. Tempat yang selalu kami datangi setiap bulan adalah Puncak. Tak terhitung lagi berapa banyak hotel, restoran, tempat rekreasi, dan masjid yang kami singgahi. Rasanya semua sudah pernah!
Di Taman Safari
Menempati urutan kedua setelah hobi jalan-jalan adalah wisata kuliner. Papi yang karena kesibukannnya jarang sekali makan di rumah dan sering meeting dengan kliennya di restoran, ahli sekali menilai mana makanan yang enak atau kurang enak. Wah, pokoknya, kalau sudah ketemu weekend, keluargaku jalan dan makan terus! Hehehe. Kebayang, dong, bagaimana aku mulai menggendut?
Kebiasaan lain yang selalu keluargaku lakukan adalah pulang kampung. Tak pernah sekalipun kami tidak pulang ke Solo. Ya, Solo, karena kalau hanya ke rumah Yayah dan Mamah yang juga di Jakarta, tidak perlu menunggu libur lama seperti libur lebaran. Hal yang aku paling suka dari pulang kampung adalah tradisi Takbiran. Takbiran adalah berjalan mengelilingi kampung dan meneriakkan takbir sambil membawa obor diiringi musik pada malam terakhir puasa. Kegiatan ini diakhiri dengan mengantri “jaburan” atau jajanan dan uang sebanyak Rp 2000. Jajanan dan uang akan dibagikan oleh Mbah Putri (panggilanku untuk nenek dari Mami) dan Mbah Kakung (panggilanku untuk kakek dari Mami). Meskipun hampir selalu ikut pada setiap tahunnya, perasaan senang dan bersemangat selalu aku rasakan saat api di oborku mulai berkobar.
Mbah Kakung dan Mbah Putri
Belum lama tinggal di Serpong, aku pindah ke BSD saat kelas 5. Dan alhamdulillah, berkat ajaran agama yang cukup kuat dari kedua keluarga besarku, aku mulai memakai kerudung atau jilbab sejak kelas 5 SD semester 2. Sepupu-sepupuku yang perempuan juga hampir semuanya sudah memakai jilbab, hanya sedikit sekali yang belum dan itu pun karena mereka masih SD.
Ketika aku kelas 6, Pemerintah mengumumkan bahwa Ujian Nasional atau UASBN untuk SD akan dimulai pada tahun itu. Karena tahu aku tidak suka belajar, Mami mengharuskanku les di salah satu bimbingan belajar ternama. Alhamdulillah, hasil UASBN-ku memuaskan. Aku juga diterima di SMP Labschool Kebayoran, Jakarta Selatan. Wah, sebagai ‘orang luar Jakarta’, aku khawatir sekali dengan sekolah baru ini.

SMP
Hari-hari pertamaku di Labschool cukup mengejutkan. Guru-gurunya disiplin, teman-temannya pintar-pintar, kegiatannya padat, dan pekerjaan rumahnya sangat banyak serta melelahkan. Sebagai anak yang suka malas-malasan, aku benar-benar kewalahan. Pernah beberapa kali aku hampir menangis saking capainya.
Papi akhirnya memutuskan untuk membeli rumah di Jakarta, tepatnya di Jalan Praja 6 Nomor 67, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Aku sedikit tertolong dengan lokasi rumah yang dekat dengan sekolah. Walaupun Alim dan Iman harus pindah sekolah, untungnya mereka menerima dengan baik. Aku pun berusaha untuk “bertahan” di Labschool.
Ternyata, aku melakukan hal yang benar. Labschool berbeda dari sekolah-sekolah yang lain. Kegiatan seperti MOS, KALAM, LDKS, BIMENSI, Refleksi, bahkan TO UAN-nya, seru dan tidak terlupakan! Semuanya hal baru buatku. Kebiasaan lari pagi—apalagi lari pagi terakhir yang berkostum—dan kelas yang diberi nama menurutku lucu sekali. Sedih karena gagal diterima menjadi OSIS dan tidak terpilih menjadi panitia apa pun mendorongku mengikuti pertukaran pelajar, salah satu dari sekian banyak pengalaman berharga yang kudapat di Labschool.
Foto LDKS
            Pertama, aku mengikuti pertukaran pelajar tahap lokal. Selama seminggu, aku belajar di SMPN 12 Wijaya, Jakarta Selatan. Kalau tidak salah, saat itu bulan Januari 2010. Buddy- ku bernama Amanda. Sifatnya lucu dan heboh sekali. Karena hanya sebatas “pindah tempat belajar”, tidak banyak perbedaan yang kurasakan.
Maret 2010, aku melanjutkan ke tahap nasional, yaitu di SMPN 1 Jambi. Wah, itu pertama kalinya aku ke Pulau Sumatera. Terasa sekali deh, jauh dari orangtua. Tapi, pengalaman yang aku dapat juga sangat banyak. Ke sekolah naik angkot, foto-foto di Jembatan Batanghari yang terkenal, menarikan tarian Betawi di hari terakhir sekolah, sampai pergi makan bakso malam-malam dibonceng motor oleh Natasha. Oh iya, Natasha ini buddy-ku. Ia datang ke Jakarta seminggu sebelum keberangkatanku ke Jambi. Ia belajar di Labschool selama satu minggu dan tinggalnya di rumahku. Minggu depannya, gantian aku yang belajar di sekolahnya dan tinggal di rumahnya.      
Di depan rumah adat Jambi
Akhir Juni-Awal Juli 2010, aku mengikuti tahap terakhir yaitu tahap internasional. Pada tahap ini, aku bersama teman-temanku belajar di Sri Cempaka Damansara Secondary School, Malaysia. Walaupun sekolah nasional, tetapi bahasa Inggris mereka bagus sekali. Kami ditempatkan menyebar di kelas 7, 8, dan 9. Aku ditempatkan di kelas 7 yang bernama Form 1 Sri Cempaka. Buddy-ku kali ini juga bernama Amanda, tepatnya Amanda Lee. Oh iya, di pertukaran pelajar tingkat internasional ini, kami harus tampil lagi. Pilihannya dua, menampilkan tarian tradisional atau silat. Karena aku tidak suka menari dan kebetulan dulu ban-ku (sabuk dalam silat, taekwondo, dan semacamnya) lebih tinggi dari mayoritas anak, aku memilih untuk silat bersama 5 orang yang lain. Setelah 3 hari merasakan belajar dengan bahasa Inggris dan Malaysia, kami melaksanakan trip di Malaysia dan Singapura.
Universal Studio
            Kelasku saat SMP adalah ra7Chet, fli8Ckr, dan van9Couver. Ya, semuanya C. Dan aku satu-satunya yang ditempatkan di kelas C selama 3 tahun. Angkatanku, angkatan 8, bernama Scavolendra Talvoreight. Kami cukup kompak. Kami berjuang bersama-sama untuk mencapai lulus 100% dan kami berhasil melakukan itu. Alhamdulillah, rata-rata NEM kami juga bagus-bagus.

SMA
            Aku masuk di SMA Labschool Kebayoran lewat Jalur Khusus atau tanpa tes. Saat pertama menjadi murid SMA, langsung kuputuskan untuk mencoba hal baru, yaitu aktif. Tak tanggung-tanggung, semua komunitas kuikuti. Lamuru, Pemeriah (paskibraka), sampai Rohani Islam atau Rohis. Aku juga langsung mengikuti 2 ekskul yang tak pernah aku bayangkan akan aku ikuti, yaitu Tari Tradisional dan Bulu Tangkis.
            Dengan kegiatan sebanyak itu ditambah jadwal kegiatan kelas 10 yang paling padat dibandingkan dengan kelas 11 dan 12, alhamdulillah aku masih bisa mengatur waktu dengan baik. Meskipun tentu saja sangat capai, nilaiku tetap stabil. Kegiatanku juga menghasilkan hal yang positif.
Di tahun aku masuk Lamuru, Kak Abe selaku pendiri membuat proyek membuat music video Lamuru (http://www.youtube.com/watch?v=G7odXaqTBkQ) dan aku tergabung di dalamnya walaupun hanya di bagian kolosal. Pemeriah sekarang sudah menjadi ekstrakurikuler. Rohis angkatanku cukup sukses dan adik-adik kelas jadi banyak yang tertarik untuk ikut Rohis. Tari Tradisional membawa aku dan teman-teman yang mengikuti Misi Budaya (Misbud) 2012 ke Turki untuk festival dan lomba serta memberiku pengalaman ke beberapa negara di Eropa untuk pertama kalinya. Alhamdulillah,  kami menang Best Female Performance/Performer! Sayangnya, karena latihan Misbud yang padat, aku tidak ikut ekskul Bulu Tangkis lagi sejak semester 2.
Paskibraka 17 Agustus 2011
Setelah selesai syuting music video Lamuru
SkyNation 2012
Di Amsterdam saat trip Misi Budaya 2012
Karena kesukaanku bermain gitar, aku bersama temanku sejak kelas 7, Camilia Adianti (Lia), membuat video yang kami post di YouTube (http://www.youtube.com/watch?v=H_-IF5xrpss). Hanya iseng saja, kok, soalnya Lia yang bagus suaranya ini sudah sering bernyanyi diiringi gitarku saat SMP. Kebetulan jenis musik dan penyanyi yang kami suka sama.
Camilia
Di SMA, aku berusaha lebih keras agar diterima OSIS. Semua kegiatan sekolah seperti MOS, PILAR, TO, dan LAPINSI aku ikuti, Aku berusaha aktif di komunitas dan ekskul pun tujuannya itu. Saat setengah dari angkatanku bersantai di rumah saat weekend, aku harus ikut LAPINSI. Lalu aku mengikuti TPO dan alhamdulillah diterima. Sekarang, aku CAPSIS dan akan dilantik menjadi OSIS tanggal 9 September nanti.
TO 2011
            Aku sempat bimbang akan memilih jurusan IPA atau IPS. Mami membebaskan pilihanku dan Papi menyarankanku untuk mengambil IPA, karena jika masih bimbang sebaiknya ambil jurusan yang bisa ke dua jalur tersebut saat kuliah nanti. Dan akhirnya, aku memilih IPA. Sekarang aku kelas XI-IPA 2. Meskipun sudah di jurusan IPA, aku masih belum tau akan melanjutkan ke fakultas apa nanti. Cita-cita sejak SMP, sih, menjadi penerjemah. Kalau bisa, penerjemah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Soalnya, aku ingin novel dan film Indonesia terkenal di seluruh dunia. Tapi, aku belum tau, soalnya cita-citaku masih berubah tiap 5 detik layaknya anak TK.
Keluarga inti, Idul Adha 2011
            Hmm, sepertinya, cukup segitu ceritaku. Seiring berjalannya waktu, semoga aku bisa lebih baik, lebih aktif, dan lebih berprestasi lagi. Dan tentu saja.. cepat-cepat menemukan cita-cita yang permanen!

P.S.: Ini video saat Takbiran kemarin. Maaf editannya sangat sederhana, hehehe.


video

Tidak ada komentar:

Posting Komentar