Jumat, 24 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Nillam Widiastuti

16 tahun hidup yang penuh pengalaman


Masa balita
Pagi-pagi buta tepatnya tanggal 30 Desember 1995, jam masih menunjukan pukul 5 kurang beberapa menit. Sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya, mesjid-mesjid baru mengumandangkan adzan, dan hanya beberapa orang yang baru terbangun untuk menjalankan ibadah sholat subuh. Dirumah sakit bersalin Sarana Husada, Tangerang Selatan terdengar suara rengekan bayi yang baru keluar dengan normal dari rahim sang Ibunda. Bayi itu diberi nama Nillam Widiastuti. Ya, bayi itu adalah saya. Saya dilahirkan dari pasangan suami-istri yang bernama Muhammad Nasirun dan Eva Helmi. Sepasang suami-istri itu sudah memiliki 1 anak perempuan yang bernama Nella Kurnia Jasmine yang tak lain adalah kakak dari bayi yang baru terlahir tersebut. Bayi itu adalah anak kedua buah hati mereka. Bayi itu adalah anak bungsu yang hanya memiliki 1 saudara perempuan.

Awalnya dokter mengira bundaku akan memiliki bayi laki-laki, bunda dan ayah sudah membelikan beberapa pakaian dan kebutuhan-kebutuhan bayi laki-laki. Tapi ternyata…yang keluar adalah seorang bayi perempuan yang sehat :)  ”Dulu saat kamu baru lahir, kamu sangat-sangat putih, mata kamu bulat kecil dengan badan yang cukup gemuk dan rambut jabrik. “Banyak yang menyangka kamu orang Jepang” Kata bunda. Nama Nillam terinspirasi bunda dari salah seorang sahabatnya yang cantik, pintar, lembut, dan baik hati yang bernama Nilla. Dan nama belakangku diberikan oleh ayahku sendiri, terdengar seperti nama-nama jawa karena memang jawa adalah daerah dimana ayahku berasal, tepatnya di kota Solo, Jawa Tengah. Jika digabungkan, nama Nillam Widiastuti berarti “batu berlian yang kuat”.

Sungguh hari yang sangat membahagiakan, tapi ada pula na’asnya. Sebelum-sebelumnya bunda sudah merasakan sakit, tapi tak lama setelah itu ketahuan lah bahwa ada yang tak beres saat proses saya dilahirkan, akhirnya bunda diberikan ramuan seperti jamu oleh nenekku untuk beberapa lama agar memulihkan sakitnya, tapi selama itu pula sang bayi tidak bias diberikan asi. Alhasil sampai seterusnya saya pun tidak pernah minum asi, hanya susu-susu formula atau yang lainnya.

Sampai balita aku masih sangat lahap makan, sehingga badanku cukup gembul. Saya ingat dulu saya sedikit nakal, dan gampang menangis. Saya sering membuat ulah, tapi tak jarang pula menangis karena ulah sendiri. Saya dulu diasuh oleh bibi yang sangat baik, dia sudah ada dari sebelum saya lahir sampai saya tamat SD. Hampir 13 tahun dia bekerja dirumahku, dari pekerjaan rumah, menjagaku, dan merawat Alm. Kakekku telah ia lakukan. Benar-benar sangat berjasa.

Bunda :)

Usia 10 bulan

Baru belajar berjalan


Usia 1 setengah bulan
Masa di Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar
Saya mulai bersekolah saat umur ±4 tahun. Saya tidak mengikuti playgroup, begitu mulai sekolah saya langsung TK A. Masa Taman kanak-kanakku berada di sekolah kecil dekat rumahku yang dulu di pamulang, nama sekolah itu adalah Al-Inayah. Memang tidak terkenal, tapi yang terpenting saya mulai diajari hal-hal dasar cukup banyak disana. Disana saya tidak kenal lelah, senang bermain dengan semua teman-temanku.
”Dulu sebenarnya kamu bisa loncat ke tingkat kelas yang selanjutnya, langsung ke TK B lalu masuk SD. Tapi kamu tidak mau dengan alasan masih mau main ayunan. Alhasil sekarang kamu paling tua di angkatanmu karena lahir pada akhir tahun 1995” Itu hal yang paling saya ingat dari bundaku setiap membicarakan tentang masa TK. Sepertinya saat itu saya sangat polos dan hanya mengutamakan bermain.

Sejak TK B saya memulai berlatih bela diri Taekwondo, dan saat itu saya masih main-main saja dan tidak ada serius-seriusnya. Tetapi sejak saat itu saya sudah berniat untuk menjadi baik dan hebat kedepannya. Tempat latihannya persis dilapangan depan rumah saya di Vila Pamulang Mas. Saya terus menekuni Taekwondo, saya mulai berlatih giat dan semangat.

Umur ±6 tahun, saya mulai menginjakkan kaki di Sekolah Dasar. Saya bersekolah di suatu sekolah yang bernama SDI Al-Syukro. Sekolahnya yang luas, rindang, sejuk, dll membuat sangat nyaman untuk belajar. Teman-temannya pun sangat baik dan akrab-akrab. 6 tahun bersekolah disana sungguh tidak terasa, terasa sangat cepat. Disana tempat dimana saya mulai sungguh-sungguh belajar dan mendapat banyak pelajaran, mulai banyak terinspirasi dengan orang-orang dan hal-hal lain. Di SD ini saya menemukan teman-teman terbaik yang sampai sekarang pun masih berhubungan baik. Mereka adalah Dinta, Maitsa, Mia, Iput, Saskia, dan Deasy. Walaupun sekarang kami terpisah jauuuh, kami tetap akrab dan tidak lupa satu sama lain.

Saat SD pun saya masih mengikuti bela diri Taekwondo, dan mulai saat itulah saya tekun berlatih dan sungguh-sungguh. Saya juga mendapat banyak dukungan dari banyak orang terutama orangtua saya. Dari situlah saya terinspirasi untuk maju dan membanggakan orang-orang yang mendukung saya. Tetapi saat duduk dibangku kelas 3 SD, selain mengikuti Taekwondo saya pun mencoba Balet. Memang 2 kegiatan yang sangat bertolak belakang. Di Taekwondo diharuskan untuk kuat dan keras, sedangkan di Balet dituntut untuk lentik sehingga terlihat elegan dan cantik. Disana saya pun cukup bingung. Orangtua saya menganjurkan untuk memilih 1 yang benar-benar bakat diri saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mempertahankan Taekwondo dan meninggalkan Balet yang sudah saya tekuni ±1 tahun.

Saat saya duduk dibangku kelas 6, disana lah ujung akhir keminatan saya terhadap Taekwondo. Saya sudah ditingkat sabuk yang paling maksimal, yaitu merah strip hitam 2 (sabuk hitam hanya boleh diatas 17 tahun dan ujiannya sangat berat) saat mengikuti ujian untuk mendapat sabuk tersebut saya pun dipanggil maju saat pengumuman dan pembagian sertifikat naik tingkat sebagai peserta terbaik untuk wakil sabuk merah, sebagai hadiah dari itu saya mendapat sabuk khusus yang penuh dengan tanda tangan pelatih-pelatih dan pendiri club. Saat itu salah satu moment terbaik dalam hidup saya, sangat membanggakan dan saya pun sangat senang. Saya sudah mendapatkan 5 mendali dalam kejuaraan-kejuaraan fighting, 3 perak dan 2 perunggu dan salah satunya dari tingkat nasional. Sebenarnya sebelum saya meninggalkan bela diri ini, ada 1 hal yang membuat risih untuk tinggal, yaitu karena saya belum mendapatkan mendali emas.

Di kelas 6, saya pun fokus belajar untuk menghadapi UAMBN untuk melanjutkan ke jenjang SMP. Cukup banyak rintangan yang saya hadapi dalam masa-masa itu. Salah satunya adalah ketidak cocokan belajar dengan guru les. Walaupun sudah ada program bimbingan untuk menghadapi UAMBN dari sekolah di pagi hari, saat itu saya cukup bingung, karena saya masih memerlukan bantuan orang lain untuk lebih siap menghadapi ujian dan juga agar mendapat nilai yang lebih unggul. Tapi setelah dicoba ke tempat-tempat les, memanggil guru-guru private, akhirnya dengan anjuran bunda saya, saya meminta bantuan bimbingan kepada sepupu saya yang cukup pintar dan handal mengajar anak-anak.

Akhirnya keseriusan saya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Saya mendapatkan nem yg berjumlah 26.65, sayangnya nem itu tidak saya gunakan untuk tes ke sekolah menengah pertama negri. Saya mengikuti perintah ayah saya untuk melanjutkan ke sekolah swasta. Saya mencoba tes di 2 sekolah, yang pertama saya mencoba di Madrasah Pembangunan dan yang kedua saya mencoba SMP Al-Azhar BSD. 2 sekolah itu menerima, tapi yang saya pilih adalah yang saya coba pertama kali, atas anjuran dari ayah saya.
Kelas 1 SD
Kelas 2 SD
Bersama teman-teman dan pelatih tahun 2003

Teman SD acara buka puasa bersama 
Bersama Deasy, Saskia, Dinta, dan Iput bertemu setelah awal masuk SMP
Bersama Maitsa, Dinta, dan Mia. Liburan kenaikan kelas menuju SMA.



Masa SMP
Saya melanjutkan pendidikan saya ke sekolah menengah pertama swasta yang bernama Madrasah Pembangunan UIN, Jakarta. Rumah saya yang saat itu masih berada di Pamulang menyebabkan saya harus bangun dan berangkat pagi karena takut terkena macet. Tapi beberapa bulan setelah itu, sebelum semester 1 usai saya pindah rumah ke Pesona Gintung Residence.

Di SMP, Alhamdulillah prestasi dalam belajar saya meningkat. Saya dapat mengikuti pelajaran dengan mudah, tidak tercecer, menguasai satu demi satu, dan mendapat nilai-nilai yang sangat memuaskan. Berbeda pada waktu SD, peringkat yang saya dapat tak jauh dari 5 besar, sementara di SMP saya tidak pernah dibawah 3 besar dan dapat meraih juara umum dari seangkatan, walaupun bukan juara umum yang nomor satu. Semoga ini tetap bisa saya pertahankan baik di SMA maupun seterusnya, Amin.

Selama 3 tahun itu, saya hanya mengikuti 1 les, yaitu EF. Awalnya sebelum rumah saya pindah saya mengikuti EF Pamulang. Setelah pindah saya tetap meneruskan, hanya saja dipindah ke EF Pondok Indah. Dua tempat itu (EF PI dan EF Pamulang) mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang penting dari semua itu adalah mendapatkan ilmu yang bermanfaat baik untuk sekarang maupun untuk kedepannya :}

Kembali ke masalah sekolah. Di SMP saya mendapatkan teman-teman yang penuh dengan perbedaan karakter di masing-masing orang, tetapi itu tidak membuat kita tidak bersatu, justru hal itu yang membuat kita bersatu, kompak, dan solid. Berbeda tapi tetap satu! Mungkin banyak masalah yang kita hadapi, tetapi masalah itu tak berkunjung lama. Masalah-masalah tersebut hanya ”numpang lewat”. ”jadi senang rasanya kalau berteman dilingkungan yang tidak membedakan satu sama lain” Itu kata-kata yang sering terlintas dikepala saya dari ucapan teman sebangku di kelas 8. Tidak enak bermain jika hanya 1 atau 2 orang saja, atau yang itu-itu saja. Mereka peduli, selalu merasa dirinya tidak lengkap tanpa yang lain. Lebih ramai lebih asyik. :’D Mulai dari kelas 8 sampai kelas 9 saya menemukan teman-teman terbaik saya, diantaranya Beiby, Nicun, Dhaya, Iik, Anjani, dan Fina. Mereka semua adalah mood-booster ;-)

Setiap tahun disana ada acara masing-masing (sekolah-sekolah lain juga ada pasti) seperti kelas 7 ada jambore dan pesantren, kelas 8 ada jambore lagi dan study tour ke Bandung, dan kelas 9...Perpisahan:’)
Sebelum membicarakan perpisahan, ada 1 tembok penghalang yaitu Ujian Akhir Nasional. Ya, setiap jenjang pendidikan ada ujiannya. Kita dituntut agar terus gigih dan berjuang semaksimal mungkin untuk menghadapinya. Anak-anak yang lain pasti merasakan bagaimana sulit dan lelahnya melewati hari-hari menjelang UAN. Semua anak kelas 9 mengikuti kegiatan pendalaman materi setiap hari di pagi hari, mengikuti kegiatan muhasabah, dan yang lainnya sebagai penyemangat dalam detik-detik menghadapi UAN.

Alhamdulillah sekrang semuanya telah kami lewati dengan baik. Stelah ujian itu berlalu, bebas rasanya datang sudah. Anak-anak kelas 3 SMP mendapat libur ±2 bulan penuh. Sangat melegakan.

Setelah UAN setiap sekolah pasti mengadakan jalan-jalan sebagai acara perpisahan bagi mereka. Sekolah saya mengadakan perpisahan selama ±4 hari 3 malam di Yogyakarta.

Setelah perpisahan, hasil yang terus dipikirkan dan ditunggu-tunggu, pengumuman nem. Tepatnya tanggal 4 Juni. Semua anak kelas 9 dari seluruh propinsi di Indonesia diumumkan hasil ujiannya secara serentak. Alhamdulillah hampir kebanyakan sekolah lulus 100%, begitupun sekolah saya. Dan saya pun lulus dengan nem yang cukup membagakan pula, yaitu 37,65 dari 4 pelajaran tersebut.

Setelah pengumuman tersebut, banyak anak-anak yang kerepotan mencari sekolah selanjutnya. Kebanyakan mereka semua mencari sekolah negri reguler. Untung saja saya sudah diterima di Labschool Kebayoran jauh hari, kira-kira pada bulan Februari.

Semua orang berdoa agar mendapatkan sekolah yang mereka inginkan. Walaupun tahun ini pilihan bagi anak yang memilih sekolah negri reguler dipersulit, yaitu hanya boleh memilih 3 pilihan dari sekolah yang diinginkan, tapi syukur Alhamdulillah sekarang semua mendapatkan sekolahnya masing-masing. :)



Bersama teman-teman kelas 7 akhir
Bersama Ravaladies 35 <3
 Bersama Dhaya, Jani, Iik, dan Fina :D


 Masa SMA
Saya melanjutkan pendidikan saya ke SMA swasta unggulan yang berlokasi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yaitu SMA Labschool Kebayoran. Awalnya saya tidak begitu yakin akan mengambil Labschool ini. Saya ingin ke sekolah negeri karena kebanyakan teman saya mengambil sekolah negeri. Tapi karena jarak yang lumayan jauh dari rumah, dan keputusan dari ayah yang sudah bulat, akhirnya saya pasrah untuk mengambil & memilih Labschool. ”Kamu harusnya bersyukur dan bangga karena sudah diterima disana. Dari 1000an orang yang mendaftar pada awal test, hanya 200 kurang yang diterima. Kamu beruntung menjadi salah satunya.” Itulah ucapan ayah saya setiap kali saya memohon kepadanya untuk mencoba test ke sekolah lain.

Sudah 1 tahun lebih saya berada di Labsky, tahun ini adalah tahun kedua saya. Sekarang saya berada di kelas 11 dan Alhamdulillah saya mendapatkan target saya yaitu masuk IPA. Awalnya memang sangat sulit beradaptasi dengan pelajaran-pelajaran di labsky. Kuncinya adalah ketekunan dan kedisiplinan dalam belajar. Bukan lagi guru yang mengejar dan mengingati muridnya. Sekarang waktunya murid yang mengejar guru.

Selama kelas 10 saya dan teman-teman saya mengikuti banyak kegiatan wajib yang diselenggarakan labschool untuk mendidik siswa-siswi nya agar menjadi anak yang lebih baik kedepannya. Mulai dari MOS, Pilar, TO, Study Tour Bandung, Bintama, dan Lapinsi. Tapi dari semua kegiatan itu yang paling berat bagi saya adalah Pra-TO dan Bintama. Disana sangat dituntut kedisiplinan, rasa solidaritas, rasa sopan dan santun, juga jiwa kepemimpinannya.

Di kelas 10 akhir tepatnya saat liburan saya dan beberapa teman saya mengikuti Misi Budaya. Setelah latihan selama kurang lebih 4 bulan, kami pergi ke Turki untuk mengikuti Adult Festival and Competition yang diselenggarakan di Buyukcekmece. Walaupun tidak bias meraih juara 1, 2, ataupun 3, kami sudah sangat senang karena kami mendapat penghargaan Best Female Dancer, Padahal dari 21 negara yang mengikuti kami paling kecil dan paling muda. Mereka semua juga sudah professional. Selain itu kami mendapat pelajaran berharga selama 10 hari di Turki. Walaupun capek kami tetap enjoy dan menikmati setiap harinya setelah selesai mengikuti festival kami pergi ke Eropa Barat untuk refreshing berkeliling dan jalan-jalan, mulai dari Paris-Belgia-Amsterdam-Jerman-Swiss-Milan-Venice. Kami pergi ke monumen dan bangunan juga tempat perbelanjaan terkenal. Kami sangat menikmati 11 hari mengunjungi tempat demi tempat disana :-D 
Awal SMA di kelas X-E ;)
Kelompok 28 Trip Observasi
Surprise di malam tahun baru :)
Bersama Farina Sekar Avi Tikka di Museum Geologi.
Tara&Dissa :^D

Foto bersama tim dari Brazil di Turki
malam closing ceremonial!!
Tim Misbud 2012, Paris.

1 komentar:

  1. Percaya atau tidak, SDI al-Syukro dan SMP Madrasah Pembangunan yang telah dilewati oleh atlet taekwondo ini, pasti akan mempengaruhi pada kehidupan belajar di SMA Labsky. Ketiganya, pasti akan mempengaruhi pola kehidupan Nillam di kemudian hari. Bukan sekedar "numpang lewat" sebagaimana yang disebut Nillam.

    Kebenaran kalimat ini bukan tampak pada hari ini, tetapi mungkin pada beberapa tahun mendatang. Kita perhatikan saja....

    BalasHapus