Senin, 27 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Niken Rahadiani Maheswari



Catatan 16 Tahun Perjalanan Hidupku




Aku saat foto studio sewaktu berumur 6 bulan

Aku dilahirkan sebagai anak kedua dari dua bersaudara, dari pasangan suami-istri Laksmana Budi Indrasmawan dan Sri Andam Dewi Wahyuni. Aku lahir di Rumah Sakit Fatmawati setelah 11 bulan ibu mengandungku dalam perutnya yang kupikir –dengan pikiranku yang masih bayi­– cukup nyaman hingga aku betah berlama-lama tinggal di sana. Aku lahir Rabu siang hari pukul 11.45. Kupikir itulah sebabnya mengapa aku takut akan gelap. Orang-orang tua dan teman-temanku pernah berkata bahwa jika seorang anak lahir pada malam hari, maka ia akan berani pada kegelapan. Dan yang lahir di siang hari malah sebaliknya.

Tangisan pertama tanda kehidupanku itu menggema di ruang bersalin RS. Fatmawati pada 27 November 1996.Dengan dibantu dokter bedah yang bernama Dr. Taufik, akhirnya aku dengan selamat terlahir ke dunia. Aku sungguh berterimakasih atas jasa beliau.

Aku tinggal di daerah perkampungan kota Jakarta. Tepatnya Jakarta Selatan.  Di Jl. H. Sulaiman No. 49A. Memang bukan daerah elit dengan rumah mewah dan berjarak beberapa meter dari pusat-pusat perbelanjaan. Tapi aku suka di sini. Di sini aku banyak memiliki teman. Dan antar tetangga, kami saling membantu. Kupikir itu tidak terjadi bila aku tinggal di daerah perumahan yang elit. Rumahku tepat berhadap-hadapan dengan Musholla. Jadi, aku dapat dengan mudah menjangkaunya jika waktu sholat tiba. Namun di saat malam takbiran, anak-anak kampung, biasanya lelaki (tak terkecuali kakakku) datang bergerombol ke beranda musholla dan menabur bedug serta peralatan perkusi lainnya sambil bertakbir. Suasananya  ramai riuh, sampai kadang aku tidak bisa tidur di malam hari karena mereka melakukannya hingga subuh tiba. Sejujurnya, aku merindukan saat-saat itu. Karena sekarang, kami tak terbiasa lagi melakukannya. Alasannya adalah umur. Kakakku dan teman-temannya menganggap hal tersebut dilakukan hanya oleh “anak kecil”. Seiring berjalannya waktu, mereka juga tumbuh baik secara mental maupun fisik. Mereka tak mau lagi menabur bedug dan menyuarakan takbir di malam takbiran. Mushollaku kini sepi dari anak-anak yang bertakbir di malam takbiran.

Seperti anak pada umumnya, aku juga memiliki cita-cita. Sejak taman kanak-kanak aku ingin sekali menjadi pramugari. Sebab dengan menjadi pramugari, aku bisa keliling dunia gratis. Namun, seiring berjalannya waktu dan pertumbuhanku, cita-citaku ini perlahan mulai redup. Ditambah lagi dengan tinggi badanku yang tidak memenuhi kriteria tinggi badan proporsional seorang pramugari dan sekarang aku memakai kacamata.  Aku menemukan bahwa masih banyak profesi lain di luar sana yang jauh lebih menarik buatku. Tetapi seiring dengan berjalannya pencarian cita-citaku, aku mengalami krisis identitas. Aku suka melukis. Suatu hari nanti aku ingin jadi seorang pelukis profesional. Aku suka bernyanyi. Suatu hari nanti, aku akan menjadi seorang penyanyi yang memiliki suara merdu. Tapi aku juga suka mendesain rumah dan bangunan lainnya. Jadi kupikir bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang arsitek. Tapi ibuku ingin aku menjadi seorang dokter. Lagipula aku menyukai pelajaran biologi, meski aku tidak terlalu suka belajar kimia. Jadi, apakah aku ingin menjadi seorang dokter? Dengan begitu banyak cita-cita dan kesukaanku, aku menjadi terlalu bingung dan akhirnya tak bisa memilih satu di antara mereka, hingga akhirnya aku –bisa dikatakan– tidak memiliki cita-cita. Seorang guru semasa SMP-ku pernah berkata bahwa seiring bertambahnya usia kita, kita harus mempersempit cita-cita kita agar kita memiliki tujuan hidup yang jelas. Tapi aku terlalu bingung dan gugup untuk memilih salah satu atau dua diantara banyak kesukaanku. Aku ingin jadi seperti apa yang aku sukai. Itu berarti, aku akan memiliki banyak profesi. Kadang, kupikir aku perlu untuk berkonsultasi dengan psikolog untuk membantuku memilih cita-cita yang paling tepat untukku. Tapi sekarang kupikir aku sudah menemukan cita-cita yang jelas. Aku ingin menjadi seorang aritek yang mendesain bangunan-bangunan unik dengan gayaku sendiri yang profesional dan di waktu luangku, akan kuisi dengan hobiku, seperti melukis. Hidup itu penuh dengan tantangan. Tapi aku merasa terlalu takut untuk menghadapinya. Ya, aku takut gagal. Tapi kupikir sekarang aku harus berubah. Kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dan jika aku ingin sukses, aku harus bekerja keras. Aku tak boleh takut gagal. Lagipula, di setiap tantangan pasti ada kesuksesan di baliknya.


Masa Balita

Semasa balita, ibu bilang aku anak ceria. Aku hanya menangis jika memang saatnya. Tapi satu hal yang aku yakini hingga sekarang, adalah bahwa aku tidak menyukai susu sejak aku masih balita. Ibuku dan tanteku bercerita, bahwa setiap waktunya untuk memenuhi nutrisi tubuhku dengan meminumkan susu padaku, baik ASI (Air Susu Ibu) maupun susu formula, aku dengan tegas menolak. Aku sendiri tak tahu mengapa aku tak menyukai susu. Bahkan hingga sekarang. Seperti kata ibuku, “Kamu tuh, dari umur 2 bulan udah enggak suka susu. Makanya, sama ibu, ibu sendokin ke mulut kamu” .

Tetapi ibuku memang ibu yang hebat. Beliau selalu memiliki berbagai macam ide dan cara unik untuk membuatku minum susu. Jika aku selalu menolak mentah-mentah  jika seseorang memberiku susu, maka satu-satunya cara agar aku mau minum susu, adalah di saat aku tidak sedang dalam keadaan sadar. Dengan kata lain, saat aku sedang tidur. Cara ini kupikir cukup unik. Ibu atau tanteku (yang sudah kuanggap sebagai ibu sendiri) akan menaruh botol dengan dot berisi susu dan meminumkannya ke dalam mulutku. Upaya ini memang berhasil. Tetapi, ketika aku bangun dan mengumpulkan kesadaranku, segera setelah itu aku langsung melemparkan botol susu itu jauh-jauh dariku. Cara lain adalah memaksaku meminumnya dengan menyendokiku susu sedikit demi sedikit.

Aku saat berumur 10 bulan

Waktu kecil, aku termasuk anak yang sulit makan. Orangtuaku bingung mencari cara bagaimana agar aku bisa makan layaknya anak-anak lain. Tapi sekali lagi, Tuhan memang menciptakan ibu dan keluarga terbaik untukku. Ibuku memang berdarah Sumatera. Tepatnya Sumatera Barat. Kota Padang Pariaman. Dan orang – orang Padang adalah pecinta cabai sejati. Termasuk ibuku. Ibuku memang luar biasa. Dengan insting ke-ibuan dan keingintahuannya, sebagai orang Padang, ibu memasukkan sedikit cabai pada makananku. Sedikit saja, karena ibu tahu pencernaanku belum kuat. Satu suap..dua suap.. aku cukup terengah-engah. Karena pedas, keringat keluar dari dahiku. Ibu dan tanteku mulai khawatir. Kalau-kalau terjadi gangguan pencernaan padaku, sebab cabai itu. Tapi apa reaksiku setelahya? Aku mengangguk-anggukan kepala, dan tersenyum bahagia. Memperlihatkan dua deretan gigi susu bawahku yang belum tumbuh sempurna. Aku menyukainya. Dan sejak saat itu, ibu selalu menambahkan sedikit cabai dalam makananku dan membuatku dapat makan seperti anak-anak lainnya. Bahkan tak jarang ibu atau tanteku menambahkan sedikit porsi cabainya. Membuatku semakin ke-pedasan, namun semakin menyukainya


Aku saat berumur 4 tahun, memegang boneka ‘Pooh” yang dibelikan om-ku dari Jepang

Tanteku pernah bercerita, suatu hari, ibu dan tenteku (ya, aku memang akrab sekali dengan mereka) membawaku pergi ke Pasar Kebayoran Lama saat aku berumur sekitar 1 tahun. Dan sekali lagi keluargaku dibuat takjub atas tingkahku. Saat itu, kami sedang di tempat pemotongan belut. Lalu, tanpa diketahui oleh keluargaku, memasukkan tanganku ke dalam ember yang penuh dengan belut. Mungkin dulu aku penasaran dengan benda hitam-panjang yang menggeliat-geliat dalam ember. Jadi aku meraih dua belut dengan kedua tangan mungilku dan memegangnya erat sambil tertawa bahagia. Belut itu tak dapat lepas dari tanganku. Mungkin karena aku menjepit tubuhnya terlalu keras di tanganku. Bosan, aku kembalikan mereka ke dalam ember dan memulai lagi dengan belut yang lain. Ibu dan tenteku kubuat tertawa dengan tingkahku yang ‘berani’ itu. “Wii... kamu dulu berani banget. Belutnya kamu angkat terus kamu main-mainin”, komentar tanteku.

Berdiam diri di rumah hingga menginjak usia 3 tahun 6 bulan, aku mulai jenuh dengan keadaan yang itu-itu saja. Akhirnya pada usia tersebut, orang tuaku memasukkanku ke sebuah taman kanak-kanak (TK) di daerah Jakarta Selatan yang tak terlalu jauh dari rumahku. TK tempatku menimba ilmu pra-sekolah dasar itu berada dalam kawasan Komando Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. Nama TK tersebut adalah TK Hang Tuah 7. Aku senang sekali saat pertama kali masuk ke sana. Satu hal yang baru kusadari sekarang, adalah bahawa aku mengagumi seragam sekolahanya. Seragam biasa adalah kemeja putih lengan pendek dan rompi terusan biru sepanjang lutut. Dan pada saat upacara hari senin, kami memakai baju yang biasa dipakai para pelaut lengkap dengan topinya itu.

Aku masuk di kelas A1 untuk tahun pertamaku. Wali kelasku adalah Bu Titi dan Bu Sibit. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Bu Titi, menurutku cukup galak dan sangat disiplin. Aku pernah sekali waktu dijewer olehnya. Berbeda dengan Bu Titi, Bu Sibit adalah guru yang sangat baik. Beliau sabar dan penyayang. Tapi aku percaya,Bu Titi juga sangat sayang pada murid-muridnya.

Salah satu pelajaran yang aku sukai semasa di taman kanak-kanak adalah berenang. Di belakang sekolah, kami memiliki sebuah kolam berenang kecil yang cukup untuk menampung satu kelas. Jadwal pelajaran renang untuk kelasku adalah hari Sabtu, setelah pelajaran tari. Aku selalu sangat bersemangat untuk mengikuti pelajaran yang satu ini.

Setelah lulus dari kelas A1, aku masuk ke kelas B3. Bu Kiki menjadi wali kelasku di kelas ini. Beliau baik dan sayang pada murid-muridnya. Pernah sekali waktu, aku terlambat masuk sekolah dikarenakan banjir tahunan yang melanda Jakarta. Sekolahku masuk pukul 8 dan pulang pukul 10. Biasanya aku diantar om naik sepeda motor sebelum beliau berangkat kerja. Tapi karena suatu alasan, hari itu omku tak bisa mengantar. Pada awalnya tanteku menyarankan aku agar tidak masuk sekolah saja. Toh, cuma satu hari.  Tapi aku bersikeras agar tetap masuk sekolah. Aku tak ingin tertinggal satu materipun. Di bawah jembatan Cipulir, aku terpaksa naik gerobak karena air banjir yang cukup tinggi. Tanteku yang saat itu mengantar, dengan tulus manggandeng tanganku, hingga aku sampai di sekolah. Aku sampai di sekolah pukul 9 pagi. Itu artinya satu jam lagi sebelum bel pulang berbunyi. Setidaknya aku masih punya satu jam untuk dihargai dengan belajar sungguh-sungguh.

Banyak pengalaman yang aku rasakan selama aku berada di TK. Namun ada satu pengalaman yang paling melekat dalam benakku hingga sekarang. Suatu kali aku bermain kejar-kejaran dengan salah seorang temanku. Aku bertindak sebagai orang yang mengejar. Saat sedang berlari, temanku itu terjatuh karena tersandung batu. Namun, ia berkata bahwa aku mendorongnya dari belakang. Padahal aku berada cukup jauh darinya waktu ia terjatuh. Dan berhari-hari setelahnya, kami jarang mengobrol lagi. Namun, saat kelulusan, aku dan dia kembali bicara seperti biasa lagi.

Setelah 2 setengah tahun aku belajar berbagai macam hal di Taman Kanak-kanak tersebut, aku lulus sebagai “Bintang Kelompok B3” tahun 2001-2002. Pada saat kelulusan, aku terpilih menari secara berkelompok untuk dipertontonkan di depan orang tua murid.


Masa Sekolah Dasar (SD)

Lulus dari TK Hang Tuah 7, aku mendaftarkan diri di sebuah sekolah dasar yang masih berada dalam komplek Seskoal (Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Laut). SD Hang Tuah 4. SD-ku berlokasi hanya beberapa meter dari TK-ku dulu. Seingatku aku mendapat nilai 8,5 untuk ujian masuk Sekolah Dasarku. Setelah itu, aku dimasukkan ke kelas 1A. Kelas pertama yang akan kutempuh agar aku dapat naik ke kelas berikutnya dan akhirnya lulus dari Sekolah Dasar ini. Kelas pertamaku di sekolah dasar ini, boleh kubilang agak seram. Terutama bila jam pelajaran selesai dan lampu dimatikan. Wali kelasku saat aku duduk di kelas 1 SD adalah Ibu Sri Bandini. Guruku ini cukup tegas dan menjabat sebagai wakil kepala sekolah juga. Di kelas ini aku dibimbing 100% dalam pengawasan wali kelasku, karena di SD tempatku besekolah, semua mata pelajaran diajar langsung oleh wali kelas, kecuali pelajaran agama, bahasa inggris, dan olahraga. Aku memang bukan murid terpandai di SD-ku. Tapi aku selalu bersemangat untuk belajar. Itulah kenapa wali kelasku menyukaiku. Nilai rapot kenaikan kelasku cukup bagus meski aku bukan murid terbaik. Aku meraih ranking 6 di tahun pertamaku belajar di SD Hang Tuah 4.

Aku berumur 6 tahun, saat hari pertama masuk sekolah dasar

Lulus dari kelas 1, aku naik ke kelas 2A. Hanya berpindah satu ruangan ke belakang. Wali kelasku di tahun ini adalah ibu Nur Pratiwi, atau biasa kupanggil Bu Tiwi. Pada tahun pertama dan kedua bersekolah di Sekolah Dasar Hang Tuah 4, anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pagi (kelas A), dan kelompok siang (kelas B). Dikarenakan jumlah kelas yang terbatas. Tahun ini berjalan seperti biasa. Aku selalu bersungguh-sungguh dalam belajar.
Setelah naik ke kelas 3, ada seorang guru pengajar baru bernama Bu Dewi. Beliau menjadi guruku di tahun ini. Menurutku, dari semua pengajar di sekolah dasarku, Bu Dewi lah guru yang paling baik. Beliau hampir tidak pernah marah. Hanya sesekali saja kalau kami benar-benar nakal. Saat di tahun ini jugalah, sekolahku mendapatkan sebuah pelajaran baru, yaitu komputer. Guru pengajarnya masih muda. Umur mereka sekitar 20-an, yaitu Miss Sumi dan Kak Dimas.

Naik ke kelas 4, aku bertemu guru terkocak seantero SD ku. Namanya Pak Susilo. Beliau ini sama sekali tidak bisa marah, dan selalu menggunakan 2 koin 500-an yang dijepitkan di kedua jari telunjuk dan jempolnya untuk mencabut janggut yang tumbuh kecil di dagunya. Di kelas 5, aku bertemu wali kelas baru, bernama Bu Lasmi. Beliau menjadi wali kelasku juga saat kelas 6 karena Pak Budi, wali kelasku yang sebelumnya dipindahtugaskan ke SD Hang Tuah 6 di Tanjung Priuk.

Aku, saat perayaan ulang tahunku yang ke- 9, kelas 4 SD



Aku, saat kelas 5 SD, juara 2 lomba mirip R.A. Kartini

Karena bersekolah di sekolah milik TNI angkatan Laut, tentu ada kurikulum tersendiri yang menjadi ciri khas sekolah kami. Selama bersekolah di SD Hang Tuah 4, aku mendapat pelajaran tambahan bernama “Kebaharian”. Pelajaran ini membahas mengenai kelautan. Dan peralatan keamanan di laut. Berbagai macam sekoci, jenis-jenis pantai, sampai sejarah kelautan bangsa kita.

Selain itu selama di sekolah dasar aku juga mengikuti kegiatan pramuka. Kegiatan wajib di sekolahku. Saat duduk di kelas 1-3, aku masuk ke kelompok Siaga. Upacara pramuka selalu dimulai dengan pembacaan Pancasila dan Janji Siaga. Memasuki periode kelas 4-6 aku masuk ke kelompok penggalang. Dan saat kelas 6, aku menjadi ketua Regu Anggrek. Dalam pramuka, aku mempelajari bagaimana bertahan hidup di alam liar. Aku belajar mengenal sandi morse, semaphore, mencari jejak dan berbagai macam simpul. Sayang, karena lama tidak belajar, aku sudah lupa semuanya.

Satu hal lagi yang unik bersekolah di lingkungan TNI, adalah setiap kegiatan outdoor (seperti pelajaran olahraga, upacara dan senam) harus dihentikan sementara jika sedang ada penaikan bendera di lapangan upacara TNI. Kami semua harus menghadap ke arah lapangan upacara dan memberi hormat pada sang saka merah putih. Aku tak begitu mengetahui apakah ini hanya tradisi untuk menghormati atau memang kewajiban yang tertera dalam peraturan.

Semenjak duduk di kelas 6A semester 1, aku sudah berdiskusi dengan sahabat-sahabatku dan menetapkan kalau kami akan memasuki SMP yang sama. Dulu SMPN 19 menjadi salah satu SMP negeri terkenal di jamanku. Kesannya, siswa yang bisa masuk ke SMPN 19 adalah siswa yang cerdas. Setelah hasil UASBN diumumkan, aku mendapatkan nem yang menurutku cukup bagus. Lagipula aku tidak terlalu peduli berapapun hasil Nem-ku. Tapi ternyata dengan Nem-ku itu, aku tak berhasil menembus SMPN favorit yang berada diurutan teratas daftar SMP pilihanku, SMPN 19. Aku justru nyangkut dipilihan kedua, SMPN 11.


Masa Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Sejujurnya, aku tidak mengetahui tentang SMP Labschool Kebayoran sebelum ayahku menyuruhku tes masuk SMP tersebut. Bahkan mendengar namanya saja aku tidak pernah. Ayahku hanya berkata, “Dik, coba kamu ikut tes di SMP Labschool  Kebayoran. Siapa tau kamu lulus”. Aku sendiri hanya meng-iyakan saran ayahku. Aku tidak terlalu peduli apakah aku diterima atau tidak di SMP ini. Jadi, bersama salah seorang temanku yang berasal dari SD yang sama aku mendaftar masuk dan mengikuti tes di SMP ini. Dari 100 soal yang di berikan aku hanya mampu mengerjakan 30%-40%-nya saja. Sementara yang lain mengarang jawaban. Kurasa itulah sebabnya aku tidak terlalu (bahkan tidak sama sekali) yakin aku bisa masuk SMP tersebut. Lawanku ada seribu lebih. Dan mereka semua pintar-pintar. Tapi ayahku tetap optimis. Beliau yakin aku bisa menimba ilmu di SMP Labschool Kebayoran.

Dan doa orangtuaku rupanya didengar Tuhan. Aku (dengan kapasitas otak ‘40%-ku’) Pada bulan Juli 2008 menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah swasta ini. Aku merupakan satu-satunya siswa yang berasal dari SD ku. Temanku tidak lolos tes seleksi. Saat MOS berlangsung aku bertemu dengan banyak teman baru. Orang yang pertama kali kukenal saat pra-MOS adalah Farah Tsabitha. Selanjut Nabilla Khairunnisa Ishadi yang pada akhirnya menjadi ‘teman tiga tahun’ ku selama di SMP Labschool Kebayoran.

Setelah Masa Orientasi Siswa berakhir, kegiatan belajar-mengajarpun dimulai. Pada hari pertama masuk sekolah, aku tidak langsung belajar. Melainkan perkenalan terlebih dahulu. Aku masuk di kelas 7A yang diberi nama “Ra7Atouille”. Awalnya aku merasa asing dengan teman-teman sekelasku. Namun lama-kelamaan aku merasa nyaman berada di kelas tersebut. Di kelas 7A, aku bertemu sahabat baikku, Aulia yang pada tahun kedua dan ketiga meneruskan pendidikannya di Amerika. Ia orang yang baik dan manis. Bersama wali kelas Pak Tri Asmoro Pamuji dan wakil wali kelas Pak Cep Andi Alim S. , kami menempuh tahun pertama di SMP Labschool kebayoran dan belajar saling menghargai.

Sejak pertama kali duduk di bangku kelas 7A, aku tidak memiliki ketertarikan terhadap Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Entah mengapa, aku tidak terlalu ingin menjadi salah satu dari mereka. Maka, saat pengumuman Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) diumumkan dan aku tidak lulus seleksi tahap pertama tersebut, aku merasa biasa saja.

Selain itu salah satu kegiatan yang asyik semasa aku duduk di bangku kelas 7A adalah AKTUAL  yang berlokasi di Pasir Mukti, Bogor.


Bersama Ra7Atouille

Setelah lulus dari kelas 7A, Aku naik ke kelas 8C yang diberi nama “Fli8ckr”. Wali kelasku adalah guru komputer, Pak Hasyim Subarna dan wakil wali kelasku (tetap) Pak Cep Andi Alim S. Di kelas ini aku bertemu banyak teman baru yang sebelumnya belum kukenal saat aku duduk di kelas 7. Tahun kedua ini adalah tahun terbaik selama aku bersekolah di SMP Labschool Kebayoran. Aku sangat nyaman dengan teman-teman sekelas. Dan di tahun ini pula, aku mengikuti kegiatan pertukaran pelajar (Student Exchange) Lokal ke SMPN 29. Menurutku, ini sungguh pengalaman yang berharga. Setelah sukses dengan pertukaran pelajar tingkat lokal, aku tidak meneruskan ke tingkat nasional. Sebab aku ingin konsentrasi belajar saja. Sejujurnya aku agak menyesal juga, sebab kesempatan yang begitu besar kulewatkan begitu saja.

Bersama teman-teman kelas VIII 4 SMPN 29, saat aku mengikuti porgram Student Exchange tingkat lokal

Pada tahun kedua bersekolah di SMP ini, kelasku juga tidak berkesempatan tampil di acara Expresi Anak Labsky (EXASKY). Kelasku mendapat giliran tampil terakhir. Jadi, kupikir kami akan mendapat cukup banyak waktu untuk latihan yang kuharapkan akan dapat menampilkan drama terbaik. Namun karena tanggal tampilnya kelas kami sungguh tidak menguntungkan (banyak dipotong libur dan mendekati ujian akhir), akhrinya kelas kami tidak jadi tampil EXASKY. Kami cukup kecewa, lantaran kami sudah berlatih cukup maksimal  untuk mempersiapkan EXASKY.




Bersama FLI8CKR

Selama di tahun kedua ini juga aku mengikuti Pembukaan Kejuaraan Silat Internasional di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah. Sejujurnya aku sangat bangga bisa terpilih mengikuti acara ini oleh guru silatku, Pak Limonukatili atau biasa kupanggil Pak Monu. Sebab tidak sembarang orang yang bisa mengikuti ajang ini.

Di tahun terakhir aku menimba ilmu di SMP ini, aku menghabiskan waktuku dengan teman – teman Vuvu9Ela. Di kelas ini, Pak M. Taufiq dan Pak Asril menjadi wali kelas dan wakil wali kelas kami yang bertanggung jawab.  Kelas ini benar-benar kelas ter ‘rusuh’ dari 3 kelas yang pernah aku jalani semasa SMP. Saking bandelnya, guru fisikaku semasa SMP, Pak Moestofa atau biasa kami panggil pak Mus, berkata bahwa jika ada kelas yang paling susah untuk berbaris, itu adalah kelas kami, kelas 9E. Kadang aku juga rindu dengan kutipan-kutipan pembangkit semangat yang diberikan Pak Mus kepada kami. Beliau juga termasuk guru yang sabar dalam menerangkan pelajaran, dan akan mengulangnya terus kalau kami masih belum mengerti.

Di awal kelas 9 ini, aku mengikuti program Homestay di Sydney, Australia bersama 19 orang temanku yang lain. Ditemani 2 guru pendamping, Pak Taufiq dan Bu Yati, dari tanggal 25 juli 2011 sampai tanggal 8 Agustus 2011. Selama 14 hari program homstay ini berlangsung, aku bersekolah di Menai High School, Sydney, Australia.Pengalaman hidup di negeri orang ini, sungguh pengalaman yang tak ternilai harganya buatku.


Aku dan beberapa orang temanku yang mengikuti program Homestay, berfoto di depan Harbour Bridge, 25 Juli 2011


Di kelas 9 ini jugalah angkatan kami, angkatan 8 mengesahkan nama angkatannya berdasarkan polling , pada tanggal 3 September 2010. Sebuah nama yang terpatri di hati kami, satu nama untuk satu tujuan, Scavolendra Talvoreight. Memiliki makna bahwa angkatan 8 adalah sebuah kesatuan yang menandakan perjalan tanpa akhir. Kami akan terus menimba ilmu dan memberikan manfaat hingga akhir hayat kami.

Semakin dekat pada kelulusan berarti semakin dekat juga pada ujian akhir nasional (UAN). Maka selama beberapa bulan, kami dicekoki oleh pelajaran-pelajaran tambahan yang cukup menyita waktu, bahkan di hari Sabtu. Pelajaran tambahan ini, kami sebut “Paket”. Setelah bulan-bulan ‘Paket’ kami lalui, akhirnya tiba jugalah saat kami menghadapi ujian nasional. Bu Cinthya (Bu Thya) selalu memberikan hipnoterapi sebelum kami memasuki ruangan ujian kami.
Lari Pagi terakhir bersama Vuvu9Ela, dengan tema ‘kuning’. 

Acara refleksi Vuvu9Ela di Pantai Carita, Ancol


Acara farewell party – pun digelar sebelum pengumuman hasil ujian nasional. Tepatnya pada tanggal 21 Mei 2011. Salah satu acara angkatan yang tidak bisa kulupakan. Perasaan gelisah akan Nem hasil ujian nasional pun seakan hilang untuk sementara waktu.


Aku dan teman-teman SMP ku saat aca Farewell party, 21 Mei 2011


Tanggal 4 Juni 2011, satu hari yang bersejarah bagi angkatan kami. Pengumuman hasil ujian nasional telah keluar. Oranng tua kami dipanggil kedalam kelas untuk menerima hasilnya, sedang kami, angkatan 8 duduk di Plaza dan menonton video angkatan yang sempat diputar di acara farewell party. Alhamdulillah, kami semua lulus 100% dan mendapat nilai yang baik. Kami juga berhasil memperbaiki posisi peringkat SMP kami, naik 1 peringkat menjadi peringkat 7 se-DKI Jakarta, dari tahun sebelumnya. Sekali lagi SVR telah membuktikan kekompakkannya dan pengabdiannya pada SMP Labschool Kebayoran. Aku sendiri mendapatkan Nem yang cukup bagus dari hasil jerih payah sendiri. Dan aku cukup bangga dengan Nem ku ini.

Namun, aku belum resmi menjadi seorang alumni SMP Labschool Kebayoran sebelum acara kelulusan berlangsung. Pada tanggal 25 Juni 2011, dengan memakai seragam batik, aku dengan hati bahagia bercampur sedih duduk kursi yang telah disediakan di ballroom Plaza Bapindo. Dengan berakhirnya acara ini, aku sudah resmi menjadi seorang alumni SMP Labschool Kebayoran.



Bersama ayah dan ibuku, pada foto studio pelulusan angkatanku, Plaza Bapindo 25 Juni 2011

Perjalananku ini adalah perjalanan yang tak dapat digantikan dengan apapun. Menginjakkan kaki dan menimba ilmu di SMP Labschool Kebayoran adalah satu dari perjalanan hidupku yang akan terkenang hingga akhir hayatku. Dan aku bersyukur aku telh diberi kesempatan untuk mengenal, belajar, menghargai dan menjadikan sekolah ini sebagai satu dari beberapa catatan perjalanan hidupku.

Namun pada akhirnya, hidup harus terus bergulir. Aku memutuskan menapakkan kakiku dan melanjutkan studi di SMA Labschool Kebayoran, tempatku belajar sekarang. Meski hanya ‘pindah gedung’, kehidupan di sini jauh berbeda dengan kehidupan di  SMP. Di sini jauh lebih liar dan akan bertambah sulit. Akupun harus menyesuaikan diri dan memiliki teman sebanyak mungkin. Kuharap di SMA ini pula, aku dapat mengukir berbagai prestasi yang akan dikenang sepanjang masa.





Masa Sekolah Menengah Atas (SMA)

Pada akhirnya, hidup harus terus berlanjut. Semua bergerak dalam satu arus. Akupun akhirnya mulai memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Sejujurnya, saat di SMP –pun aku masih bingung menentukan SMA mana yang akan aku masuki kelak. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti tes masuk SMA Labschool Kebayoran melalui jalur khusus. Alhamdulillah, aku diterima seleksi penerimaan siswa baru di jalur khusus.

Masa orientasi siswa (MOS) berlangsung dari tanggal...... hingga tanggal..... .  MOS berlangsung cukup menyenangkan. Mungkin karena aku dulunya berasal dari SMP yang sama, maka aku tidak terlalu kaget dengan tata cara MOS nya. Kakak OSIS & MPK yang me-MOS kami adalah Osis dan MPK dari angkatan 9, Nawastra. Kini mereka sudah lulus.

Kelas pertama yang aku masuki di SMA Labschool Kebayoran adalah kelas XF (sepuluh F). Aku masih ingat, kami dikumpulkan di ruang Bahasa Indonesia lantai 3 yang selama setahun ke depan akan menjadi Homebased kami. Wali kelas kami adalah Ibu Indriati Wulandari. Ketua kelas kami adalah Helmi Qasthari Fauzi dan wakilnya Ega Adiwena. Sekretaris adalah Excelita Syahrani dan Bendahara, Kristal Amalia serta Fakhry Aufar. Rohis kelas kami adalah Bagoes Raditya, Dwiki Syahbana Putra, Excelita Syahrani, dan Ega Adiwena. Kelas ini cukup menyenangkan. Teman-teman pertamaku di kelas ini adalah Demira Kania, Nur Azzahra Melanavitri, Andre Nugraha dan Wina serta Gia yang memang merupakan teman lamaku saat duduk di bangku SMP. Senang sekali rasanya setahun bersama-sama dengan XF.

Di kelas sepuluh, kami memiliki nama angkatan Dasa Eka Cakra Bayangkara (Dasecakra), yang melambangkan angkatan 11 yang tangguh dalam  menjaga roda kehidupan. Di kelas sepuluh juga kami menikmati masa-masa Pilar, Trip Observasi (TO) , dan Bintama.

Pilar

Kegiatan ini hanya ada pada bulan Ramadhan saja. Semacam pesantren kilat.  Kegiatan kami, mendengarkan materi yang disampaikan mengenai Islam, bulan ramadhan atau apa saja. Selain itu, kami juga buka puasa bersama. Dan di malam terakhir, kami disuruh menulis surat untuk orang tua kami. Kami tidak tahu kalau surat itu akan diberikan pada orang tua kami masing-masing. Malam itu, setelah penjelasan materi, sekitarpukul 11 malam, aku dan teman-teman seangkatanku di bariskan dan ditutup matanya. Kami berjalan menuruni tangga dari lantai 4, hingga lantai satu dengan memegang habu teman kami yang di depan. Ternyata kami dibariskan untuk mencapai Hall basket dan didudukkan berlutut di hadapan orang tua kami. Selepas itu, kami kembali tidur, karena malam sudah larut dan esok kami harus bangun pagi, berkemas dan pulang.

Trip Observasi (TO)

Setelah kupikir-pikir, sepertinya kegiatan ini mirip dengan acara reality show di TV, “Jika Aku Menjadi”. Namun, kami memiliki tugas dan misi tersendiri yang harus diselesaikan selama kami berada di sana. Yah, kurang lebih seperti itulah kegiatan yang akan kami jalani selama 5 hari Trip Observasi di Kampung Parakan Ceuri, Purwakarta, Jawa Barat. Dari tanggal 20-24 Oktober 2011.

Kelompokku (Yamko Rambe Yamko) tinggal sementara di rumah keluarga Pak Lili, seorang kuli dan petani sayuran. Rumah beliau sangat sederhana. Tapi entah mengapa aku justru betah di sana. Udara sejuk dan jauh dari polusi. Sesama tetangga juga dekat. Suasananya tenang dan akrab. Kelompokku (Akang, Helmi, Nadhiv, Bagus, Farah, Niken, Tara dan Annisa) bersama kakak pendamping (Kak Mirsa dan Kak Dilla) serta guru pendamping Sensei Rusdi, bersama keluarga Pak Lili berkumpul di ruang keluarga dan saling memperkenalkan diri masing-masing. 


Pendamping Kelompok 14. Kak Dilla dan Kak Mirsa

Di tujuan akhir kami, saat penjelahan

Kelompok 14, Yamko Rambe Yamko , Lintas budaya dengan tema ESKIMO


PKD

Di sana banyak sekali kegiatan yang menarik seperti Peduli Kehidupan Desa (PKD), Pengambilan Data Penelitian (PDP), Bhakti Sosial, Penjelajahan, menjaga vendel, Lintas Budaya (kalompokku mendapat  tema ESKIMO), Pentas Seni dan lain-lain. Meski ada pula yang melelahkan seperti lari pagi yang harus melalui medan menanjak dan menurun.

Bintama

Berlokasi di Markas Kopassus di Serang, Banten. Merupakan salah satu kegiatan tahunan SMA Labschool yang membedakan dengan sekolah lain. Saat pertama tiba, kami disambut dentuman meriam. Aku sangat kaget waktu itu, karena suaranya begitu keras. Di dalam kegiatan bintama ini, kami dilatih mengenai kekompakkan, kekeluargaan, kedisiplinan, kesigapan, keberanian dan lain sebagainya.

Aktivitas yang dilaksanakan seperti jurit malam, rapling, rafting, flying fox dan lain sebagainya, menuntut kami agar berani menghadapi tantangan dan menjalaninya sebaik mungkin. Pelatih-pelatih di sana sangat baik dan menyenangkan. Namun, sangat serius bila menjalani tugas.
Aku sempat panik dan terkejut sebab di hari pertama, kami disuruh memakai baju angkatan. Dan aku todak membawa baju angkatan. Kupikir memang tidak perlu dibawa. Namun, ternyata ada di daftar barang yang harus dibawa. Alhasil, aku memakai kaus TO yang kubalik dan kugulung lengannya.

Aku masuk di barak 1. Kami tidur di atas vel bed. Ini kali pertama aku tidur di vel bed. Rasanya memang tidak begitu nyaman. Namun aku mulai terbiasa. Di hari pertama, yang paling ku ingat adalah, kami dibangunkan pukul 3 pagi dengan sirine yang sangat keras. Rupanya, itu hanya latihan bila terjadi gempa. Banyak dari kami yang keluar tidak memakai atribut lengkap sepert kaus kaki, topi, sepatu dan sebagainya. Yang tidak lengkap diberi hukuman seperti push up.

Setiap pagi, kami melaksankan senam pagi. Makanan disana cukup enak. Namun, snacknya sempat membuatku tak tahan. Pelatih-pelatih di sana lucu-lucu. Terutama Pelatih Ribut.

Saat hari terakhir, kami melaksankan apel penutupan disertai dentuman meriam. Kami menerima sertifikat. Aku tak kuasa menahan air mata sebab aku memang benar-benar menikmati saat-saat di bintama ini.

Aku tidak sempat ikut perpisahan XF di puncak, sebab aku tidak ada yang mengantar. Rencananya aku ingin  berangkat bersama Syifa dan yang lain, tapi aku harus menemani ibu mengambil buku pelajaranku kelas 11, karena Demira ikut menitip buku pelajarannya padaku. Namun ternyata, tak ada yang mengantarku ke puncak. Namun, di kelas ini aku merasa nyaman sebab teman-teman kelasku baik dan ramah. Jika ada reuni XF lagi, aku harus ikut! J

sebagian XF

Lulus dari kelas X, aku mendapat nilai rapot yang lumayan memuaskan. Alhamdulilah. Akhirnya aku dapat naik ke kelas XI dan masuk ke kelas XI IPA 1. Tak banyak teman-temanku dari kelas XF yang masuk di kelas yang sama. Namun aku berharap, kelas XI ini akan menjadi jauh lebih baik dibanding kelas X. Akupun akan berjuang lebih keras lagi, agar di kelas XI aku bisa meraih nilai yang lebih baik lagi. Itu semua kulakukan demi meraih impianku. J






1 komentar:

  1. Cerita anak mendekam pada rahim ibundanya selama 11 bulan, adalah sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan umum anak-anak manusia. Maka, seluruh fenomena dari anak ini dapat diteliti: apa ada hubungan terlalu lama dalam kandungan ibu dengan kebiasaan setelah dewasa, dengan cita-cita hidup, dengan emosional, dengan pribadi, dengan intelegensi dan lain-lain. Tentu saja, catatan autobiografi ini akan memberi kontribusi yang luar biasa bagi para psikolog, biolog, antropolog, sosiolog dan ...log-...log lainnya.

    Cita-cita yang berubah-ubah, kemampuan dan keberanian menangkap belut semasa balita, bahkan kemampuan menulisnya yang memikat, niscaya merupakan harapan-harapan masa depan bagi Niken.

    Saya menunggu catatan autobiografi berikutnya.

    BalasHapus