Jumat, 24 Agustus 2012

Tugas 1 - Autobiografi Naryndra Nastiti

15 Tahun Hidup yang Berkesan


Pada hari Sabtu, 25 Januari 1997 pukul 09.35, saya lahir melalui proses kelahiran normal, dari pasangan Dinar Setiasih dan Alexandra. Kelahiran tersebut sebenarnya melalui proses yang agak panjang, karena tubuh saya pada saat masih di rahim Ibu sempat terlilit ari-ari. Namun, pada akhirnya saya dapat lahir dengan normal, juga dengan berat yang termasuk ideal, 3,55 kg dan panjang 51 cm.


Masa Balita


Saya menghabiskan masa balita saya di kota Bandung, kota kelahiran saya.
Saat saya berusia satu tahun, saya sudah mulai bisa berbicara dan berjalan dengan lancar. Pada saat itu, saya belum mengerti akan banyak hal. Sempat suatu kali, saya memakan tinja dari kakak saya, karena warnanya hampir sama seperti coklat.

Usia dua tahun merupakan saat-saat yang menyenangkan. Dahulu, Ibu sering mengajak saya pergi ke taman kanak-kanak kakak saya, TK Ar-Rahman, Cihanjuang, Bandung. Ibu ingat sekali bahwa saya bercita-cita menjadi tukang sulap.

“Dulu kamu sering Ibu bawa ke sekolah Mas Adi (kakak saya). Waktu itu ibu nunggu di dekat jendela sama kamu, gurunya Mas Adi tanya “Siapa yang mau jadi tukang sulap?” tapi malah kamu yang tunjuk tangan” - Ibu

Melihat antusiasme saya yang sangat ingin bersekolah, Ibu dan Bapak memasukkan saya ke taman kanak-kanak saat saya masih berusia 2 tahun 7 bulan, usia yang terbilang terlalu muda untuk masuk taman kanak-kanak. Saya dimasukkan ke TK Al-Hamid, Bandung. Saya cukup ingat bahwa ambisi saya bersekolah di TK adalah agar saya bisa bermain ayunan setiap hari.


Pada saat saya berusia tiga tahun, Bapak pergi ke Jepang untuk melanjutkan studi kedokteran bedahnya selama satu tahun. Merupakan sebuah kesulitan bagi Ibu untuk mengurus kami (saya dan kakak laki-laki dengan jarak usia 1,5 tahun) yang pada saat itu masih kecil. Hilangnya sosok seorang ayah selama satu tahun sebenarnya membuat saya bisa menjadi sedikit lebih mandiri pada saat itu.


Pada tahun 2001, saya dipindahkan menuju TK Asih Putera, Cihanjuang, Bandung. Saya senang sekali karena di taman kanak-kanak tersebut terdapat lebih banyak wahana permainan, seperti tangga pelangi yang lebih tinggi, perosotan yang lebih banyak, dan juga spider web yang menantang. Di TK Asih Putera tersebut juga bertemu banyak teman-teman yang sangat menyenangkan.


Di tahun 2001 pula, Bapak kembali dari Jepang. Namun, Bapak berpindah kerja menjadi di Jakarta, tepatnya di RSAB Harapan Kita. Beliau menjadi salah satu dokter spesialis bedah anak di rumah sakit tersebut. Saat Bapak bekerja di Jakarta, saya, Ibu dan kakak saya tetap tinggal di Bandung.


Saat saya masih di Bandung dan Bapak berada di Jakarta, saya sempat beberapa kali mengunjungi Bapak. Bapak tinggal di asrama karyawan RSAB. Saya masih ingat, saya dan kakak saya senang sekali duduk di jendela kamar asrama Bapak, yang berada di lantai 7. Namun, karena saya senang duduk di jendela lantai 7 tersebut saya sempat diteriaki ibu-ibu tersebut karena berbahaya. Namun pada saat itu saya masih belum bisa mengerti dan tetap saja mengulangi hal yang sama.


“Pas kamu masih kecil hobinya duduk di jendela kamar Bapak lantai 7, udah diteriakin sama ibu-ibu masih aja gak mau turun.” - Bapak


Pada tahun 2002, Bapak memutuskan bahwa kami sekeluarga harus tinggal bersama di Jakarta, agar memudahkan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga. Sedih memang untuk meninggalkan rumah yang sudah saya tinggali selama 5 tahun tersebut di Bandung. Banyak kejadian-kejadian yang benar-benar tidak bisa saya lupakan, dan itu semua merupakan hal yang menyenangkan dan mewarnai masa kecil saya.


Masa SD


Pada bulan Juli tahun 2002, saya duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Bapak mendaftarkan saya di SD Muhammadiyah Tomang, salah satu sekolah yang dekat dengan rumah saya di Slipi, Jakarta Barat. Sekolah yang cukup besar itu hanya mempunyai 1 kelas untuk kelas 1, yang terdiri dari hanya sekitar 35 siswa.


Saya sangat ingat bahwa teman-teman di SD Muhammadiyah terdiri dari berbagai kalangan. Banyak diantaranya yang merupakan anak-anak yang kurang mampu. Salah satu teman saya, Indah, mempunyai orang tua yang hanya seorang pedagang es teh di Sekolah Muhammadiyah juga. Dan masih banyak lagi teman-teman saya yang kurang mampu di sana.


Saat saya naik ke kelas 2 SD, saya memiliki kesulitan dalam belajar. Disiplin belajar yang kurang saat duduk di kelas 2 sedikit menyulitkan saya dalam memahami pelajaran. Namun, saat menerima hasil akhir belajar, nilai saya cukup memuaskan. Pada saat kelas 2 juga saya memulai kursus biola, tetapi berhenti di bangku kelas 4 SD karena saya yang tidak menyukai cara mengajar guru saya yang baru.

Ibu dan Bapak memutuskan untuk memindahkan saya ke sekolah lain saat saya naik ke kelas 3 bangku sekolah dasar. Saya dipindahkan menuju SD Lematang, Jakarta Pusat. Di sana, terdapat sekitar 48 anak yang dijadikan dalam satu kelas, yang terbilang terlalu banyak untuk ditempatkan dalam satu kelas.


Di SD Lematang, saya untuk pertama kalinya belajar untuk berbisnis. Saya dan beberapa teman saya sempat berjualan origami dengan bentuk yang berbagai macam. Origami tersebut dibuat oleh saya dan Ibu saya, dan kami membagi hasil dari penjualan origami tersebut. Namun, di tengah jalan kami berhenti berjualan karena adanya perselisihan antara saya dan salah satu teman saya mengenai hasil dari penjualan tersebut.

Pada saat saya naik ke kelas 5 SD, sekolah mengumumkan bahwa gedung sekolah akan direnovasi selama kurang lebih 2 tahun dan kami harus menumpang ke gedung sekolah lain dan harus sekolah siang. Ibu dan Bapak kurang menyetujui ide sekolah siang karena bertabrakan dengan kegiatan les yang saya ikuti (les bahasa Inggris). Saya dipindahkan ke SD Republik Argentina, Menteng, Jakarta Pusat.


Bersekolah di sekolah ini merupakan salah satu pengalaman berharga bagi saya. Saya mendapatkan kesempatan untuk ikut berlomba marching band hingga ke tingkat nasional dan mengikuti berbagai macam lomba lainnya, salah satunya adalah Olimpiade Matematika.


“Nilai matematika kamu waktu itu cukup baik sehingga bapak ikutkan Olimpiade Matematika.”  Bapak Wimbuh, guru matematika SD

Pada tahun 2008, saya mengikuti tes masuk SMP Labschool Kebayoran. Pada saat itu, saya tidak mengharapkan agar masuk sekolah tersebut karena saya bercita-cita untuk masuk SMPN 115 Jakarta. Tetapi, saya diterima di SMP Labschool Kebayoran dan orang tua saya menganjurkan saya untuk mengambil kesempatan tersebut.


Setelah itu, saya menjalankan berbagai rangkaian ujian kelulusan dari SD, mulai dari UAS, Ujian Praktek dan UASBN. Sekitar akhir dari bulan Juni, saya telah resmi lulus dari sekolah dasar.


Saya bersyukur karena sempat berpindah-pindah sekolah dasar. Saya dapat melihat berbagai macam kondisi masyarakat Jakarta yang sebenarnya, dan relasi saya pun semakin banyak. Benar-benar pengalaman yang sangat berharga di masa kanak-kanak saya.


Masa SMP


Memasuki kelas tujuh di SMP Labschool Kebayoran, saya dapat memiliki teman-teman baru dan juga pengalaman baru. Pada saat SMP juga saya baru merasakan sengitnya kompetisi nilai akademik antar siswa.


Sekitar pertengahan bulan Juli tahun 2008, saya masuk menjadi siswa SMP Labschool Kebayoran Angkatan ke 8. Bersama 214 teman-teman lainnya, kami semua menjalani program Masa Orientasi Sekolah. Di dalam program ini, saya mempelajari budaya-budaya yang sebelumnya belum pernah saya kenal, seperti cara bersalaman yang berbeda, duduk dengan aba-aba, pergerakan yang selalu cepat, dan lain-lain. Saya juga belajar untuk bekerja sama dengan orang lain dan disiplin waktu.


Kelas tujuh merupakan salah satu pengalaman yang paling berharga saat saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya berada di kelas dengan teman-teman yang menyenangkan dan juga pintar-pintar. Mereka adalah teman-teman pertama saya di Labschool, dan mereka merupakan teman-teman yang dapat dipercaya.


Kegiatan yang saya ikuti pada saat saya berada di bangku kelas delapan adalah mengikuti kegiatan OSIS. Terdapat seleksi saat kita ingin menjadi OSIS. Pertama, nilai akademik dan catatan kesiswaan yang kita miliki harus baik. Kedua, siswa harus mengikuti serangkaian seleksi, mulai dari Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS), serangkaian tes-tes mulai dari tes agama, bakat, fisik dan makalah. Setelah tes tersebut, terpilihlah sekitar 60 anggota OSIS dan MPK. Setiap tanggal 17 Agustus, OSIS dan MPK yang lama dan yang akan naik jabatan akan berlari dari Museum Satria Mandala menuju Labschool Kebayoran. Pada 17 Agustus 2009, saya dan teman-teman berlari dari Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga menuju Labschool Kebayoran.


Pada saat saya masih kelas delapan, saya juga mendapat kesempatan untuk pergi ke Jepang dalam rangka pertukaran budaya. Kegiatan ini merupakan salah satu pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena bisa menampilkan budaya Indonesia di depan masyarakat Jepang. Antusiasme siswa-siswa Jepang terhadap budaya Indonesia juga sangat baik, mereka dapat menghargai juga menikmati penampilan budaya Indonesia yang saya dan teman-teman saya bawa.


Saat pertengahan kelas delapan pula, sekitar bulan Januari 2010, saya dan teman-teman Angkatan 8 mengikuti kegiatan Bina Mental Siswa (Bimensi) yang diadakan di SPN Lido, Sukabumi. Saat kegiatan ini, kami dituntut untuk disiplin dan belajar tepat waktu.


Kelas delapan yang penuh dengan kegiatan dan hal-hal menyenangkan yang lainnya, berbeda dengan kelas sembilan yang lebih berkonsentrasi kepada ujian-ujian. Di kelas sembilan, kegiatan siswanya lebih banyak yang menyangkut tentang nilai-nilai akademik siswa. Tetapi, di kelas sembilan juga merupakan kesempatan angkatan kami pula untuk menyatukan seluruh angkatan.


Pada tanggal 25 April 2011, saya dan teman-teman seangkatan melaksanakan Ujian Nasional selama empat hari. Hasil yang kami terima terbilang sangat memuaskan, dan kami berhasil membawa SMP Labschool Kebayoran ke peringkat 7 se-DKI Jakarta.


Banyak sekali pengalaman berharga lainnya yang saya dapatkan di SMP. Pengalaman tersebut belum tentu bisa didapatkan di SMP lain. Saya bersyukur bisa masuk ke sekolah yang mempunyai banyak kegiatan seperti SMP Labschool Kebayoran.

Masa SMA
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, saya meneruskan pendidikan ke jenjang SMA di SMA Labschool Kebayoran. Pada saat kelas 9, saya mengikuti jalur khusus dari SMP Labsky dengan syarat nilai rata-rata rapor semester 3, 4 dan 5 harus mencapai nilai 8,0. Alhamdulillah, saya diterima dan lulus tes wawancara.

Kegiatan yang saya ikuti di SMA Labsky mirip dengan kegiatan di SMP. Di SMA, program yang pertama saya ikuti adalah MOS. Setelah itu, ada kegiatan PILAR yakni Pesantren Islam Ramadhan selama tiga hari. Selama PILAR kami diberi siraman rohani dan pengetahuan seputar Islam. Kegiatan yang paling berkesan menurut saya adalah Pra-TO dan Trip Observasi. 

Kegiatan wajib terakhir yang saya ikuti adalah BINTAMA. Saat kegiatan tersebut, saya sempat dibawa ke KSA karena saya sakit perut kanan bawah dan tidak beraktifitas selama sehari. Kegiatan di BINTAMA memang berat, terutama kegiatan fisiknya, karena kami dididik oleh Kopassus sendiri.

Setelah selesai BINTAMA, saya memeriksakan diri ke dokter (teman bapak saya) karena sakit perut saya bertambah parah. Ternyata, saya didiagnosis menderita usus buntu akut dan harus segera dioperasi. Teman-teman saya kaget karena sehari setelah pemeriksaan, saya masuk sekolah dan besoknya langsung dioperasi. Usus buntu saya terbilang parah, karena usus saya yang dipotong sekitar 10 cm, padahal normalnya hanya 3 cm yang dipotong.

Saya mengikuti kegiatan LAPINSI sekitar tiga minggu setelah saya dioperasi, sehingga saya tidak bisa mengikuti banyak latihan fisik. Setelah LAPINSI, saya mengikuti TPO tetapi saya tidak lolos. Saya sempat merasa sedih, namun saya berusaha untuk tetap senang. Walaupun saya tidak menjadi OSIS, saya tetap senang karena saya bisa berkembang di bidang akademik. Alhamdulillah, saya selalu masuk peringkat 10 besar di kelas sepuluh.

Masa kelas sepuluh merupakan masa yang sangat menyenangkan, karena saya mendapatkan kelas X-E dengan anak-anak yang asik dan hiperaktif tapi pintar-pintar.

Pada akhir tahun ajaran (sekitar bulan Juni) saya dan 7 teman saya di SMA mengikuti misi budaya ke Spanyol dan beberapa negara Eropa lainnya. Kami menari Tari Saman, Tari Piring dan Tari Batak. Pengalaman tersebut sangat berharga, karena kami bisa menampilkan budaya Indonesia yang sangat diapresiasikan di sana. Kami juga mendapat predikat “Best Performance” dari panitia Festival Lloret de Mar. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami karena dapat mengharumkan nama bangsa, juga mengharumkan nama benua Asia karena kami hanya satu-satunya peserta dari Asia.

Saat naik ke kelas XI, saya diterima di kelas IPA. Alhamdulillah, saya juga dipercaya guru untuk menjadi anggota MPK. Saya mengambil program IPA karena saya ingin menjadi dokter gigi. Semoga di kelas XI IPA 2 saya menjadi lebih sukses dan dapat meraih cita-cita saya.

Usia 40 hari

 
Usia 3 tahun

Pertama kali masuk TK, 2 tahun 7 bulan

Usia 6 tahun, Bali

Usia 7 tahun



Usia 8 tahun pada saat lomba lari


Usia 12 tahun, Nagoya, Jepang


Usia 13 tahun, Lari Lintas Juang 2010


Lari pagi bersama kelas 9


Usia 14 tahun, Wisuda SMP Labschool Kebayoran #8

Bersama Avi, Nabila R, Nillam, & Fiera (Buka Puasa Bersama XE 2011)

Bersama Tata & Dhirkhan :) Sekitar Mei/Juni 2012


Usia 15 tahun, setelah menari di festival di Lloret de Mar, Costa Brava, Spanyol (bersama penari dari Serbia)
Bersama Aza, Ziha, Anne dan Tikka di Cannes, Perancis


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar