Senin, 20 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Nadia Khairunnisa


16 Tahun Kisah Kehidupan

4 Desember 1995, hari itu yang bertepatan dengan hari Senin. Hari yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan bagi kedua orang tua saya, Arief Yusrianto dan Primarini. Setelah penantian panjang 2 tahun untuk memiliki momongan, hari itulah saat-saat mendebarkan. Kandungan yang sungsang, terbelit dengan tali pusat, diharuskan untuk menjalani operasi sesar. Setelah 1 jam menjalani operasi di RS Budi Jaya Pancoran, pada pukul 09.00 lahirlah anak perempuan yang rambutnya sangat tebal, bermata sipit, dan berbobot 3,5 kg serta memiliki panjang 52 cm. 
Saat baru pulang dari rumah sakit setelah kelahiran

Ya, saya yang merupakan anak tunggal pertama dari pasangan yang merupakan anak tertua di keluarga mereka, manjadikan saya sebagai cucu pertama bagi kedua nenek dan kakek saya. “Waktu kamu baru lahir, kamu langsung senyum..”-mama. Saat itulah anak perempuan itu diberi nama Nadia Khairunnisa yang berartikan, anak perempuan pertama yang baik. Doa itulah yang mengawali perjalanan saya di dunia ini.
Setelah 5 hari menginap di rumah sakit, kami pun pulang ke rumah yang masih berada dikawasan Pamulang. 3 bulan pun berlalu, Ibu saya yang ternyata mengalami sakit jantung karena mengandung saya, tidak bisa lagi menyusui. Akhirnya sayapun hanya mendapat asi selama 3 bulan dan diteruskan dengan susu formula. 
Saya yang tumbuh sangat pesat, dan orang lain menganggapnya sangat lucu. Sering saat kami sekeluarga pergi ke mall atau tempat wisata lainnya, orang yang berpapasan dengan kami mencubiti pipi saya. Saya yang masih berusia beberapa bulan menjadi kesal karena merasa tidak nyaman. Karena kesal, saya melempar botol susu yang ada di genggaman saya ke orang yang mencubiti pipi saya tersebut.
Saya usia 10 bulan, sedang bermain dengan travel bag


MASA KB
Di usia balita, yang tepatnya menginjak 3 tahun, saya yang kemana-mana selalu membawa tas ransel karena sangat bersemangat untuk sekolah akhirnya dimasukan ke Play Group Al-Azhar Pamulang. Sangat senang bersekolah dan memiliki teman-teman baru, menurut kedua orang tua saya, saya sangat pintar. Bahkan untuk membaca dan menulis sudah lancar pada saat itu. Dan walaupun saya memiliki ‘mbak’ yang sudah bersama saya sejak saya lahir, yang saya memanggilnya ‘Uci’, saya tidak minta ditemani selama sekolah. Apalagi sama mama. Saya juga kerap mengikuti lomba di hari Kartini dan mendapat juara.
Saya sedang main bola, tapi tetap membawa tas kemana-mana

Saya (baju kuning) menang saat lomba Kartini-an bersama teman saya, Nabila Shaza

Setelah setahun di KB, saya ingin dimasukan ke TK. Tapi saya ditolah untuk masuk TK karena usia saya dianggap terlalu muda. Walaupun saya sudah memenuhi kriteria untuk memasuki TK, saya tetap ditolak. “Yasudahlah nak, setaun lagi ya kamu play group..”-mama. Saya pun akhirnya menjalani masa KB selama 2 tahun. Hal itulah yang menyebabkan saya kelebihan 1 tahun di posisi saya sekarang.
Ulang tahun ke-3. Ki-Ka: Uci, Mama, Saya, Papa


MASA TK
Setelah menambah porsi KB selama 1 tahun lagi, saya melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, TK. Masih tetap di lingkungan sekolah yang sama, Al-Azhar Pamulang, saya ber-TK di Al-Azhar 19 Pamulang. Banyak teman saya yang dulunya saya kenal di KB, melanjutkan juga di TK yang sama.
Saya yang sedang bersiap-siap pergi sekolah TK

Saat TK, saya sering kali dijemput oleh kakek saya, saya memanggilnya Akung, yang setelah pulang, kami biasanya mampir ke sejenis taman bermain kecil di Serpong. Atau, setelah sampai ke rumah, ketika nenek saya, saya memanggilnya Titi, yang merupakan guru, pulang kerja, ia mampir dan membawakan kue ke rumah saya. Hal itu bisa dibilang sebagai rutinitas pulang sekolah. Ya, hal ini sangat tidak mengherankan mengingat saya adalah cucu pertamanya.Tapi, menjadi anak tunggal membuat saya sangat dekat dengan saudara sepupu-sepupu saya. Kami sering bermain bersama, bepergian bersama, dan seringkali kami saling menginap bergantian ketika liburan.
Naik kuda-kudaan diantar oleh Akung (kakek)

Saya menjalani TK selama 2 tahun. TK kecil dan TK besar. Saat saya masih TK besar, saya diharuskan memakai kaca mata. Saya yang masih tidak mengerti apa-apa hanya bisa pasrah. Tapi, menurut orang tua saya, mereka cukup sedih mengetahui hal itu.

MASA SD
Umur 7 tahun, menjadi tahun yang sangat berkesan bagi saya. Mulai menjadi siswa SD. Saya bersekolah di SD Islam Al-Azhar Pamulang. Ya, jadi jika dihitung-hitung, saya berada di lingkungan Al-Azhar Pamulang sudah 10 tahun. Tetapi, banyak juga teman-teman saya yang seperti saya, 10 tahun di Al-Azhar Pamulang.
Pada saat kelas 1 SD semester 1, saya harus mengikuti ayah saya yang ditugaskan ke Kalimantan Timur. Jadi kami sekeluarga pindah ke sana, Balikpapan. Disana saya bersekolah si SDI Istiqamah. Disana, saya yang berasal dari Jakarta, agak bingung dengan kehidupan di daerah yang dulu, tahun 2002, masih sangat sepi. Hal yang paling saya ingat selama disana adalah saat saya menunggu jemputan yang akan mengantar saya dari rumah ke sekolah. Saat saya menunggu, tiba-tiba di depan rumah saya berhenti sebuah angkot. Saya, Ibu saya, dan Embak saya yang keheranan akhirnya bertanya kenapa angkot berhenti di depan rumah kami. Ternyata angkot tersebut adalah jemputan dari sekolah!
Kelas 1 SD smt 2 di Balikpapan, bersama Titi yang sedang berkunjung

Tapi hidup saya di Balikpapan tidak berlangsung lama. Setelah 6 bulan kami disana, kampi akhirnya pindah kembali ke Jakarta. Pindahan rumah, apalagi berbeda pulau, itu sangat merepotkan. Tapi, karena merasa kurang nyaman tinggal disana, kami kembali memilih tinggal di Jakarta sementara Ayah saya rela mondar mandir Jakarta-Balikpapan setiap 2 minggu sekali.
Sekembalinya saya dari Balikpapan, saya melanjutkan bersekolah kembali di Al-Azhar Pamulang. Kini saya telah beranjak di kelas 2 SD. Kemudian, saat kelas 3 SD, keluarga saya mengajak saya untuk ikut umrah bersama. Dan pada saat saya kelas 5 SD, saya memulai untuk mengenakan jilbab.
Memberi makan burung merpati saat Umrah

Selama SD, saya termasuk anak yang mengikuti pelajaran dengan baik. Dan kemudian, sampailah pada saat saya kelas 6 SD, bagian akhir dari perjalanan dasar yang sudah di ujung perpisahan. Tapi, angkatan kami ternyata adalah angkatan pertama yang benar-benar mendapat ujian setingkat SD yang disebut UASBN. Saat pengumuman hasil UASBN, saya mendapat peringkat ke 3 dari satu angkatan. Dan saya juga berhasil diterima di SMP yang saya impi-impikan, SMP Labschool Kebayoran.
Bersama teman sekelas, 6B. Saya paling belakang, ke 8 dari kiri


MASA SMP
Tahun pertama menjadi siswi SMP Labschool Kebayoran adalah masa yang sangat sulit. Peralihan dari SD yang bisa dibilang santai, ke masa SMP yang sangat berat (apalagi di Labschool), cukup membuat saya kelelahan. Berangkat pukul 05.30 sampai pulang ke rumah pulul 17.00 dengan ditambah tugas yang menumpuk, membuat adaptasi saya agak sulit. Maka sering sekali saya menangis pada malam hari karena kelelahan.
Tapi, akhirnya setelah 6 bulan penyesuaian, saya mulai terbiasa dengan pola hidup yang hectic tersebut. Bahkan saya mencoba untuk menjadi pengurus OSIS. Setelah melalui rangkaian tes yang sangat panjang; mulai dari LDKS, Tes minat dan bakat, OL, baru setelah itu dilantik menjadi pengurus OSIS ketika kelas 8; Alhamdulillah saya berhasil lolos serangkaian tes tersebut dan akhirnya saya di amanahkan jabatan sebagai Sie. Wawasan Global 3 di OSIS Hasthaprawira Satya Mahadhika bersama 3 rekan se-bidang saya, Parusa Seno, Putri Indam Kamila, dan Mutiara Dinanti Siregar.
Saat prosesi pelantikan OSIS. Saya yang memakai kerudung di shaf ke-3 

Setelah setahun menjabat menjadi pengurus OSIS, saya bisa mengambil pelajaran-pelajaran tentang organisasi dan sebagainya. Saya pun kini kelas 9. Di kelas 9, saya mengikuti program Home Stay di Sydney Australia selama 2 minggu. Disana saya bersama beberapa teman-teman yang mengikuti program tersebut, mencoba memperkenalkan budaya Indonesia dengan menari dan melatih kemandirian dengan tinggal langsung bersama dengan Host Parents yang merupakan orang native Australia itu sendiri. Disana, saya serumah dengan teman saya, Rasya Mayona, dan tinggal di rumah Mrs. Jan.
Kami juga bersekolah disana, di Menai High School. Kami pun memiliki teman-teman baru disana. Pengalaman disana sangat banyak dan unik. Seperti pelajaran yang berbeda dengan di Jakarta; karena disana ada pelajaran tentang peternakan, kelas menjahit, marine class, mechanical class, dan bahkan kelas memasak; yang bebas kita pilih dengan ditemani seorang Buddy; yaitu teman pendamping selama kita disekolah; yang bernama Rachel Waterworth.
Saya bersama seorang teman SMP dan Buddy kami. Ki-ka: Icha, Jordan, Rachel (buddy saya), Saya, Bec

Sepulang dari sana, saya kembali disibukkan dengan persiapan UAN. Dengan mengikuti bimbel dan Paket dari sekolah, akhirnya saya berhasil meraih nilai NEM sebesar 38,03 dan diterima di SMA Labschool Kebayoran dengan jalur khusus.
Saat Farewell Party bersama teman SMP. Ki-Ka: Sitta, Rasya, Julia, Saya

Saat pelulusan SMP. Ki-ka: Papa, Saya, Mama


MASA SMA
Kembali memulai adaptasi. Namun kini dari SMP ke SMA. Karena saya bersekolah di lingkungan yang sama, adaptasi yang dilakukan hanya dengan kegiatan-kegiatan yang semakin menumpuk. Mulai dari mengikuti MOS lagi, Pesantren Ramadhan, TO, Study lapangan ke Bandung, Bintama yang sangat melelahkan, sampai Lapinsi.
Bersama beberapa teman SMA saat Studi Lapangan ke Bandung. Saya di belakang ke-2 dari kiri
Saya di SMA ini memang tidak ingin menjadi pengurus OSIS lagi, karena saya ingin memperbaiki nilai-nilai saya agar bisa masuk di perguruan negeri impian saya yaitu FKUI atau Teknik Kimia. Tetapi saya megikuti perkumpulan Rohani Islam yang biasa disebut ROHIS.
Bersama teman-teman anggota ROHIS 11 saat Lampion. Saya duduk di depan, ke-3 dari kanan

Saya yang berasal dari kelas XB, Alhamdulillah bisa memasuki jurusan yang saya inginkan yaitu IPA dan menempati kelas XI IPA 4 yang ber-home base di lantai 4 :’) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar