Kamis, 23 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Nadhira Zhafirany


14 Tahun Hidup Penuh Kisah


Pada pukul 20.00, 14 tahun yang lalu, tepatnya pada Hari Rabu tanggal 05 November 1997, saya lahir di Rumah Sakit Puri Cinere yang berada di Cinere. Orang tua saya bernama Martediansyah dan Yunanda Amandey. Merekalah yang memberikan nama kepada saya, yaitu Nadhira Zhafirany, yang berasal dari bahasa arab dan memiliki arti “Ratu yang beruntung dan elok”. Di keluarga saya, saya merupakan anak pertama dari 4 bersaudara
Saya, adik-adik saya, dan Ibu Saya

Setelah beberapa hari di rumah sakit, saya dibawa pulang oleh orang tua saya ke kediaman nenek dan kakek saya, yang berada di Komplek TNI Angkatan Laut, Pondok Labu. Saat itu, saya dan orang tua saya maish tinggal bersama di rumah nenek dan kakek saya. Di rumah itu ada kakek dan nenek saya, orang tua saya, tante saya, saya, kakak dari nenek saya, dan satu orang pembantu. Saya tinggal di rumah itu sampai kira-kira umur 1 tahun. Selanjutnya, saya tinggal di lingkungan Komplek BRI, Cipete, Jakarta Selatan.

Bersama orang tua saat usia 1 bulan

Ulang Tahun yang ke 1

Ulang Tahun yang ke 2

Masa KB-TK
Saat berumur 1 tahun 8 bulan, saya memasuki sebuah pre-school yang bernama “Twinkle Stars”. Di tempat tersebut, saya diharuskan berbicara dalam bahasa inggris. Saya biasanya diantar ke sana bersama nenek saya, karena orang tua saya dua-duanya bekerja. Aktifitasnya antara lain bermain, menonton video, bernyanyi, dsb.
Saya melanjutkan pendidikan saya di TK Islam Birrul Amin. Orang tua saya memilih TK tersebut karena dekat dengan rumah saya. Beberapa teman TK saya juga masih berhubungan dekat dengan saya.
Pada tahun 2002, saat saya berada di jenjang TK B, ibu saya melahirkan adik perempuan saya. Ia bernama Nabila Fauzirany. Kami memiliki perbedaan umur 5 tahun. Saya sangat senang dengan kehadiran Nabila. Karena sebelumnya ibu saya pernah keguguran 2 kali. Padahal saya sangat menginginkan adik.

Memakai seragam "Twinkle Star"

Lomba paduan suara dengan TK Birrul Amin

Masa SD
Saya lulus dari TK pada tahun 2003. Saat itu, saya masih berumur 5 tahun 8 bulan. Beberapa sekolah mengharuskan muridnya untuk berumur paling tidak 6 atau 7 tahun, karena itu saya agak sulit memilih sekolah. Tapi pada akhirnya, saya masuk ke SD Islam Al-Ikhlas yang juga berada di daerah Cipete. Banyak teman TK saya yang masuk ke SDI Al-Ikhlas, karena itu saya tidak susah saat menyesuaikan diri di sekolah tersebut.
Saat kelas 1 saya masuk ke kelas 1D. Saat itu, sekolah saya memiliki sistem pagi-siang. Kelas 1A & 1B bergantian dengan1C & 1D. Saat kelas 2, saya masuk ke kelas 2B. Saat itu adalah tahun 2004, dan pada saat itulah saya mendapatkan adik kedua saya yang bernama Muhammad Zaki Fazansyah.
Di kelas 3, saya masuk ke kelas 3A. Pada bulan-bulan terakhir kelas 3, saya sudah mempersiapkan kepindahan saya ke Bandung. Ibu saya dimutasi oleh kantornya ke Bandung, karena itu kami sekeluarga ikut pindah ke sana.
Saya masuk ke SDN Karang Pawulang 1 di Bandung. Di sana, saya sangat diterima dengan baik. Saya juga masuk ke grup Marching Band SDN Karang Pawulang 1 sebagai Caller Guard. Saya dapat mengikuti semua pelajaran di sana kecuali 1 pelajaran, yaitu Bahasa Sunda. Saat membaca buku bahasa sunda, guru saya meminta murid-murid untuk melingkari kata-kata yang tidak dimengerti. Saya langsung membuat lingkaran besar pada satu halaman, karena saya tidak mengerti sama sekali.

Bersama teman di SDN Karang Pawulang 1


Menjadi Caller Guard di Marching Band sekolah

Walaupun saya merupakan murid baru di sekolah tersebut, tetapi guru bahasa inggris saya sering mendaftarkan saya ke lomba-lomba bahasa inggris. Lomba Speech Contest pertama saya berakhir baik, saya mendapatkan juara 1. Setelah beberapa lomba, akhirnya saya didaftarkan oleh sekolah untuk mengikuti lomba tingkat nasional di Yogyakarta. Sayangnya, saya hanya berhasil sampai babak final.
Pada tahun 2007, saya kembali lagi ke Jakarta, dan saya kembali lagi ke SD Islam Al-Ikhlas. Saat itu, saya berada di kelas 5. Saya masuk ke kelas 5B. Walau pada awalnya teman-teman di kelas saya tidak menerima saya dengan baik, pada akhirnya kami semua tetap berteman baik.
Kelas 6 pada tahun 2008, saya masuk ke kelas 6A. Di tahun ini, saya mendapatkan adik terakhir saya yang bernama Nafisa Faizarany. Ia layaknya hadiah ulang tahun untuk saya –tapi ia jauh lebih berarti dari itu–, karena dia lahir 19 hari dari ulang tahun saya dan merupakan permohonan saya saat saya berulang tahun ke 10 tahun 2007 lalu. Saya memiliki perbedaan tahun yang cukup jauh dengan Nafisa, yaitu 11 tahun.
                Di kelas 6 ini, saya mendapatkan pelajaran tambahan tiap pagi untuk persiapan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Saya juga mendapatkan try out-try out untuk melatih menjawab soal-soal yang diperkirakan keluar. Saat hasil UASBN keluar, saya merasa kurang puas karena tidak mencapai rata-rata 9. Tetapi saya tetap bersyukur dan bangga karena itu merupakan hasil kerja saya sendiri,

Angkatan 24 SD Islam Al-Ikhlas

Masa SMP
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya saya dan orang tua saya memilih SMPN 68 Jakarta sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan saya. Letaknya ada di sebelah SD Islam Al-Ikhlas, masih di daerah cipete. Ibu saya memilih sekolah ini karena termasuk sekolah terbaik di Jakarta Selatan dan juga dekat dengan rumah.
Pada awalnya, saya tidak merasa terlalu nyaman berada di sekolah ini. Karena teman-teman dekat saya dari SD tidak ada yang mendaftar disini dan lingkungannyapun sangat asing. Tapi serelah beberapa bulan, saya mulai merasa nyaman. Kelas 7, saya masuk ke kelas 7-1. Tetapi, dari hasil psikotes dan tes-tes lain, saya lolos untuk masuk ke kelas Akselerasi. Awalnya saya tidak ingin menerimanya. Tapi karena merasa tertantang, saya akhirnya menerima tawaran itu dan masuk ke kelas akselerasi.
Jumlah murid di kelas akselerasi hanya 12 orang. 3 dari 15 orang yang lolos menolak untuk masuk dan akhirnya masuk ke kelas bilingual. 12 orang ini mengandung 5 orang perempuan dan 7 orang laki-laki. Pada awalnya, murid-murid di kelas akselerasi tidak begitu nyambung karena masih belum kenal satu sama lain. Tapi dengan berjalannya waktu, kamipun menjadi sangat dekat layaknya keluarga. Mungkin karena jumlah kami yang  sedikit yaitu hanya 12, apapun yang kami lakukan di kelas pasti bersama-sama.
Perbedaan kelas akselerasi dan kelas biasa hanyalah di waktunya. Kelas akselerasi menjalani SMP hanya 2 tahun. Satu semester yang seharusnya 6 bulan menjadi 4 bulan di kelas akselerasi. Awalnya saya masih bisa mengikuti, tapi saat kelas 8 semester 2, semester ini yang harusnya 4 bulan disingkat lagi menjadi 2 bulan. Disini adalah saat-saat dimana saya menghadapi ulangan-ulangan tiap harinya. Ini dilakukan agar kelas akselerasi bisa mengejar kelas 9 dan bisa mengikuti pendalaman materi untuk persiapan UN bersama angkatan atas.
Disaat-saat yang stress seperti ini, saya dan keempat teman perempuan saya sangat sering mengunjungi rumah salah satu dari kami sepulang sekolah. Bukan untuk belajar, tapi sekedar mengobrol dan melepas stress. Sambil juga mengingat bahwa dalam waktu beberapa bulan kita akan jarang bertemu karena sudah masuk ke SMA masing-masing.

Saya dan 4 orang teman perempuan dari kelas akselerasi

Setelah UN selesai, saya merasa sangat lega. Dan saat hasilnya keluar pada tanggal 4 Juni 2011, saya sangat senang karena hasilnya mencapai ekspektasi saya. Saya mendapat nilai 37,80 dan Alhamdulillah berhasil masuk top 10 sekolah.

Saya dan teman-teman dari kelas akselerasi

Masa SMA
Pada bulan februari 2011, saya mengikuti tes masuk SMA Labschool Kebayoran. Saat pertama saya melihat lembar soalnya, saya sudah patah semangat. Soalnya lumayan sulit menurut saya, apalagi di bagian IPS, karena saya sudah lupa pelajaran tersebut. Tapi, apapun yang terjadi, saya harus tetap mengerjakan soal-soal ini, jadi saya berusaha semampu mungkin. Setelah hasilnya keluar, saya sangat senang saat tahu saya lolos tes yang menurut saya sangat susah ini dan berhasil masuk ke SMA Labschool Kebayoran.
Pada awalnya, saya bingung untuk memilih antara SMA 34 dan SMA Labschool Kebayoran. Faktor yang paling dipikirkan oleh saya dan orang tua saya adalah jarak. Kalau di SMA 34, saya sudah bisa pulang pergi sendiri. Sedangkan di SMA Labschool Kebayoran, saya berada di tempat yang baru dan diharuskan naik bis, bukan angkot, jika ingin pulang sendiri. Tetapi setelah banyak saran dari teman-teman dan pertimbangan-pertimbangan, saya memilih SMA Labschool Kebayoran.
Di kelas 10, saya masuk ke kelas XC. Awalnya, kelas ini tidak begitu berisik dan masih canggung satu sama lain. Mungkin karena kita masih baru bertemu jadi belum betul-betul membaur. Tapi, saya merasa sangat nyaman di kelas ini karena semua teman-teman di XC mau menerima satu sama lain. Bisa dibilang sedih seneng bareng bareng. Kelas paling solid yang pernah saya dapatkan.

Kelas XC

Bersama sebagian anak perempuan XC saat lari pagi terakhir kelas X

SMA Labschool Kebayoran memiliki banyak sekali kegiatan-kegiatan dan komunitas-komunitas. Karena ingin masuk ke OSIS, saya melatih keterampilan berorganisasi dengan masuk ke komunitas rohani islam atau Rohis.
Ada beberapa program wajib di SMA Labschool Kebayoran yaitu Trip Observasi (TO) dan Bintama. TO tahun 2011 lalu diadakan di Kampung Parakan Ceuri dan dilaksanakan pada bulan Oktober. Di TO, kami diajak untuk tinggal di rumah penduduk setempat dan hidup di sana selama beberapa hari, di tahun kami selama 5 hari. Kami dibagi menjadi banyak kelompok yang berisi 8 orang dan didampingi oleh kakak osis. Sedangkan di Bintama, kami diajak ke Kopassus untuk melatih fisik dan mental kami selama beberapa hari. Pengalaman di TO dan Bintama sangat-sangat tidak terlupakan dan menjadi bekal penting untuk kehidupan mendatang.
Di semester 2 kelas 10, kelas XC kedatangan 3 murid baru yaitu Zhafira, Devi, dan Via. Di semester 2 jugalah XC menjadi sangat-sangat dekat satu sama lainnya. XC juga mendapatkan wali kelas baru yaitu Bu Fitri. Di semester 2 ini juga saya mengalami banyak kejadian-kejadian yang tidak terlupakan bersama kelas XC yang membuat saya susah untuk melupakan kelas ini.
SMA Labschool Kebayoran juga memiliki program yang tidak wajib tetapi harus diikuti untuk murid-murid yang ingin menjadi OSIS yang bernama Lapinsi. Saya mengikuti lapinsi dengan harapan lolos untuk menjadi pengurus osis, dan Alhamdulillah saya lolos.
Di kelas XI, saya Alhamdulillah diterima di program IPA dan sekarang berada di kelas XI IPA 1. Semuanya memang terasa beda dari kelas 10. Pelajaran-pelajaran saya sudah fokus ke IPA dan teman-temannyapun berbeda lagi. Tetapi, saya merasa cukup senang di kelas ini karena teman-teman yang friendly dan mau menerima satu sama lain.
Perjalanan hidup saya masih panjang dan masih banyak yang harus saya pelajari untuk menjalani kehidupan ini. Harapan saya adalah saya dapat terus membanggakan orang tua saya dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk ke depannya.

1 komentar:

  1. Cerita lucu memang seringkali mewarnai kehidupan anak manusia. Demikian juga dengan yang dialami Nadhira Zhafirany. Perhatikan saja tentang pelajaran bahasa Sunda yang dialaminya:
    "Saya masuk ke SDN Karang Pawulang 1 di Bandung.... Saya dapat mengikuti semua pelajaran di sana kecuali 1 pelajaran, yaitu Bahasa Sunda. Saat membaca buku bahasa sunda, guru saya meminta murid-murid untuk melingkari kata-kata yang tidak dimengerti. Saya langsung membuat lingkaran besar pada satu halaman, karena saya tidak mengerti sama sekali."
    Hal ini sering dialami oleh masyarakat yang multikultural seperti Indonesia ini. Karena itu, pemahaman dan pengalaman transkultural seperti yang dialami Nadhira Zhafirany ini menjadi sesuatu yang penting bagi kehidupannya kelak.

    Semoga saja

    BalasHapus