Sabtu, 25 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Nabila Shaza


Perjalanan Menyongsong 16 Tahun Usiaku... 

MASA BALITA
Pada  hari Rabu tanggal 13 Desember 1995 tepatnya pada pukul 17.50 WIB, seorang bayi perempuan dengan massa 3890 gram dan tinggi 51 cm lahir ke dunia. Bayi perempuan ini adalah saya Nabila Shaza, Nabila diambil dari bahasa arab yang artinya cerdas dan mulia, sedangkan Shaza diambil dari nama kakek dan nenek saya yaitu Shaleh dan Zainab. 
Hasil USG 2 bulan dikandungan

Surat Keterangan Lahir dari Rumah Sakit


Cap telapak kaki saya

 Saya lahir dari pasangan Ir. Perry Shaza Surbakti dan Harlina Wahdini. Ibu saya melahirkan saya ke dunia dengan cara operasi sesar, dikarenakan badan saya yang terlalu besar dan air ketuban ibu saya yang sudah terlanjur pecah, sehingga jika saya tidak segera dikeluarkan dari perut ibu saya dengan segera, saya bisa keracunan air ketuban. Saya Lahir di Jakarta, tepatnya di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), dengan bantuan dokter kandungan yaitu dr.Djoko Sekti dan dokter anak yaitu dr. Karel Staa. 
Tanda pengenal di box bayi saat di rumah sakit
Saya lahir dengan kulit yang putih bersih dan rambut yang hitam, seperti yang selalu Mbah putri saya katakan,
            “Nabila itu sewaktu lahir kulitnya putih sekali, dan rambutnya hitam.” 
saya saat umur 1 bulan

Saya memanggil orang tua saya dengan sebutan mama dan ayah. Mama dan ayah menikah pada tanggal 3 April 1994. Mama saya berasal Jogyakarta, sedangkan ayah saya berasal dari Medan.  Setelah menikah, orang tua saya harus sabar menanti kedatangan saya selama kurang lebih satu tahun, karena itu kelahiran saya adalah yang mereka dan nenek juga kakek saya dambakan. Saya adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik saya yang pertama bernama Ginanjar Hidayatullah, umur kami hanya berjarak 15 bulan. Sedangkan adik saya yang kedua adalah seorang anak perempuan, bernama Aliyyah Fidinillah Shaza, dengan adik perempuan saya ini, umur kami berbeda jauh yaitu 6 tahun.
Sebagian masa batita, saya habiskan di rumah nenek saya yang letaknya dibilangan Tomang, Jakarta Barat. Saya di sini tidak tinggal sendiri, melainkan bersama sepupu-sepupu saya. Ketika kacil saya selalu diberikan baju yang sama dengan sepupu saya Meutia oleh Mbah Kakung. Oleh sebab itu kami sering dikira kembar ketika dilihat orang-orang dijalan. Itu juga karena umur kami yang hanya terpaut satu bulan saja. 
Saya saat di gendong mbah putri dan mbah kakung (umur 2 bulan)

saya saat menggunakan baby walker (umur 8 bulan)
Saya saat memakai baju yang sama dengan Meutia (saya baju merah,umur 1 tahun)


Saya saat belajar sholat (sebelah kanan,umur 1 tahun)

Saya juga tidak mau digendong oleh orang lain, selain mama, bahkan oleh ayah saya pun saya tidak mau. Kecuali jika ayah sudah lama berada di rumah. Seperti yang pernah mama bilang,
            “Waktu kecil, Nabila nggak mau digendong sama siapa-siapa kecuali mama. Padahal dulu Nabila itu besar badannya. Sama ayah juga nggak mau digendong, kecuali kalau sudah lama dirumah, dan sudah mau berangkat kerja lagi”.
Ayah memang sering pergi ke luar kota. Sewaktu saya masih kecil, ayah bekerja di Gunung Salak, Sukabumi. Untuk sebuah perusahaan panas bumi.

Saya tinggal di rumah nenek hingga saya berumur 2 tahun. Kemudian orang tua saya memutuskan untuk pindah kerumah mereka sendiri, yang telah mereka beli setelah menikah. Letak rumah saya ini berada di daerah Pamulang. Rumah itu bukan lagi berada di ibukota, melainkan berada di wilayah Tangerang, Banten. 
Saya bersama Ginanjar saat berfoto di studio

Saat ulang tahun ke 2 di McD Citraland (yang kanan)

Saya saat ulang tahun sepupu (yang sedang tepuk tangan)

MASA KB-TK
Ketika saya berusia kurang lebih 3 tahun. Mama saya memasukkan saya ke KB Islam Nurul Azhar. KB ini letaknya sangat dekat dari rumah saya, hanya 7 menit jika naik mobil. Sebenarnya  mama ingin memasukan saya di tahun sebelumnya, namun kepala sekolahnya tidak mengizinkan, sehingga saya harus menunggu beberapa bulan dahulu sebelum akhirnya bisa belajar di sana. Ini dikarenakan usia saya yang belum cukup, saya tidak bisa masuk ke tahun di atas saya karena saya lahir di bulan Desember. Kebijakan sekolah itu menyebutkan bahwa minimal masuk ke tahun diatas saya adalah jika saya lahir di bulan Oktober.
Pada masa ini saya tumbuh menjadi anak yang sehat dan bersemangat, saya selalu di berikan makanan apa saja yang saya minta, sehingga saya tumbuh menjadi anak yang gemuk. 
Saat lomba 17 Agustus di sekolah (ke 3 dari kanan)

Saya saat sedang melewati papan titian (baju jeans biru)

Di KB inilah saya bertemu dengan sahabat saya yang sampai saat ini masih dekat, dan masih satu sekolah hingga SMA, yaitu Nadia Khairunnisa.
Setelah menari hula-hula (ki-ka:Nadia,Irfan,Saya,Ginanjar)

Pada saat TK saya bersekolah di TKI Al-Azhar 19 Pamulang, berada masih satu area dengan KB saya. Banyak lomba-lomba yang saya ikuti dan menangkan saat di TK. Pada masa ini pula, adik perempuan saya lahir, sehingga orang tua saya tidak dapat menemani saya ketika saya harus melakukan kegiatan sekolah yaitu manasik haji. Oleh sebab itu saya harus diantar oleh tetangga saya sekaligus orang tua dari teman TK saya yang bernama Sarah Astari, atau sekarang lebih akrab di panggil Ara.
Ketika TK saya mengikuti lomba gerak jalan yang membawa saya ke juara pertama. Kemudian saya juga selalu memenangkan lomba busana daerah yang tiap hari Kartini diadakan di sekolah saya. Dan masih banyak lagi lomba yang pernah saya ikuti di TK. Saat perpisahan TK, saya menjadi salah satu pemeran dalam drama kisah Nabi Ayyub AS. Di sini saya mendapatkan peran sebagai tetangga Nabi Ayyub yang jahat.  Selain drama, saya juga mengikuti pentas menari. 
Saat pentas menari (ki-ka: Saya, Anggia, Anie)
Saat membaca Qur'an di acara wisuda TK (yang pegang mic)
Saat wisuda TK (paling belakang)

Saat merayakan ulang tahun ke 5 bersama nenek dan Ginanjar
Saya setelah lomba di Masjid Pondok Indah bersama Nadia (saya baju merah)
Saya saat lomba busana daerah di hari Kartini (paling kiri)


MASA SD
            Sekolah dasar yang mejadi tempat saya menuntut ilmu selama 6 tahun masih terdapat di satu wilayah dengan KB dan TK saya. Ayah dan mama memasukkan saya di SDI Al-Azhar 15 Pamulang. Menurut orang tua saya, bersekolah di sini adalah pilihan yang paling tepat, sebab, mama tidak perlu sibuk menjemput ketiga anaknya di tempat yang berbeda-beda. Mama hanya tinggal menuggu di parkiran sekolah dan menunggu kami bertiga datang.
            Menjelang masuk SD, saya sedikit ketakutan karena teman-teman mama bilang kalau wali kelas saya nanti adalah orang yang tegas dan galak. Wali kelas saya ini bernama Ibu Rostini, atau yang lebih sering dipanggil dengan Ibu Ros. Ibu Ros ternyata tidak segalak yang saya kira. Dia memang sedikit tegas namun penyabar. Di kelas 1, saya mandapatkan kelas 1B. Anak-anak yang berada di sini tidak terlalu asing bagi saya, karena banyak dari teman TK saya yang bersekolah lagi di SD yang sama dengan saya.
Hari pertama di kelas 1, saya membawa semua buku cetak dan buku tulis yang telah disampul rapi oleh mama. Semua itu saya bawa karena saya takut dihukum jika tidak membawa buku. Buku-buku tersebut saya bawa dengan satu tas dorong besar berwarna pink yang bergambar tokoh kartun kesenangan saya yaitu The Powerpuff Gilrs. Tentu saja tas itu sangat berat, ditambah lagi dengan badan saya yang tidak cukup besar untuk membawa semua itu. 
Saat pertama kali masuk SD
Di kelas satu saya harus berpisah dengan sahabat saya Nadia, karena di harus pindah ke Balikpapan. Saya ingat, sebagai kenang-kenangan dia memberikan saya sebuah gantungan kunci dengan bentuk boneka Eeyore yang merupakan salah satu tokoh di film Winnie the Pooh. Nadia sangat suka dengan Winnie the Pooh sehingga banyak barang yang dia miliki, mempunyai unsur Winnie the Pooh. Tapi pada akhirnya di kelas 2 semester 2 Nadia kembali lagi ke Jakarta.
Pelajaran di kelas 1 adalah pelajaran dasar, pelajaran seperti tulisan cetak dan sambung, matematika dasar, hafalan surat-surat pendek, dan masih banyak lagi yang saya enyam di kelas 1 ini. Bakat dan kemampuan saya sudah mulai terlihat disini, semester 1 dikelas 1 saya bisa meraih peringkat 1 di kelas, walaupun di semester 2 saya harus turun ke peringkat 2, namun saya tidak patah semangat, dan kembali meraih peringkat 1 di kelas 2.
Banyak aktivitas yang saya mulai di kelas 1, seperti bela diri. Saya mengikuti bela diri Tae kwon do, sebuah bela diri yang berasal dari Korea. Suatu hari, ada seseorang yang mengantarkan proposal mengenai Taekwondo ke rumah saya. Ayah, selaku ketua RT menyetujui proposal tersebut sehingga dibukalah cabang Taekwondo dari Club Protec di lapangan bulu tangkis dekat rumah saya.
Berawal dari sabuk putih, latihan dimulai setiap pagi di hari Minggu. Latihan sekitar 2 jam dengan pemanasan selama 15 menit. Karena Taekwondo inilah badan saya bisa menjadi lentur saat itu. Sewaktu ujian kenaikan tingkat, saya diharuskan pergi ke Gelora Bung Karno, tepatnya di sasana tinju pintu VI, yaitu pusat Club Protec berada. Untuk mengikuti ujian, ujian diawali dengan lari satu putaran GBK untuk sabuk putih. Saya yang berbadan gemuk cukup kewalahan, sehingga saya mengalami sesak napas. Kedua kaki saya juga terasa seperti melepuh karena berlari tanpa alas kaki di atas aspal yang panas. Pada saat ujian saya diharuskan melakukan gerakan-gerakan dasar dan juga taegeuk yaitu jurus yang berbeda yang diberikan untuk tiap tingkatan sabuk.
saya saat ujian kenaikan tingkat ( barisan ke 2, ke 8 dari kanan)
Di kelas 3, saya mencoba untuk mengikuti les piano. Saya mengikuti les ini karena, ketika sedang mengantar Ginanjar pergi les gitar, dari ruang tunggu, saya mendengar suara seorang anak yang sedang memainkan piano, permainannya sangat bagus, sehingga saya memohon pada mama agar bisa ikut les piano. Namun les piano ini hanya bertahan selama 1 tahun, karena selain pelajarannya tidak mudah, guru yang mengajar saya saat itu tergolong galak. Hari pertama les, saya melihat guru piano saya dengan tatapan yang tidak biasa, karena dandanannya yang cukup nyentrik. Guru saya memakai kalung dan gelang rantai ala preman padahal dia seorang laki-laki, rambutnya juga keriting dan acak-acakan, membuat saya sedikit takut. Benar saja, ternyata dia galak, dan setiap les, dia selalu membawa alat penunjuk seperti antena radio, yang selalu dia pukulkan ke piano jika saya tidak bisa membaca suatu partitur. Akhirnya setelah ujian kenaikan tingkat saya pun keluar tanpa mengambil sertifikat naik tingkat.
Di sini saya juga menyadari bahwa hidup tidak selalu mulus, saya mengalami sedikit konflik dengan teman-teman perempuan saya di kelas 3, mereka mengganggap,  wali kelas saya meng-anak emaskan saya, sehingga, banyak anak yang iri dan mereka memusuhi saya. Jadilah ketika saya duduk di kelas 3, saya harus berteman dengan anak laki-laki jika sedang berada dalam kelas. Guru saya yang kasihan melihat saya akhirnya memisahkan saya dengan beberapa teman yang memprovokatori teman-teman lainnya untuk menjauhi saya ketika saya naik ke kelas 4.
Saya sangat bahagia karena teman-teman yang berada di kelas ini anaknya baik-baik. Mereka tidak suka main sirik-sirikan, sehingga saya merasa aman di sini. Namun wali kelas saya ketika kelas 4 suka bermain fisik dengan siswanya. Dia tidak segan menjewer telinga atau menarik jambang para siswanya jika tidak mengerjakan pr. Saat itu saya lupa bahwa ada pr bahasa indonesia, sehingga saya dan beberapa teman sekelas harus maju dan menerima hukuman berupa jeweran yang sangat keras. Telinga saya langsung merah dan panas. Setibanya di rumah, telinga saya bertambah parah. Saya akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi pada saya ketika di sekolah kepada mama. Rupanya setelah dibawa ke dokter telinga saya memang terdapat bisul.
Karena stress dan takut pada guru tersebut, saya jatuh sakit dan harus di rawat selama seminggu. Sepulangnya dari rumah sakit, ayah menghadap ke kepala sekolah untuk memindahkan saya ke kelas lain. Dari kelas 4B saya di pindahkan ke 4C. Di sini, saya harus bertemu sebagian dari teman kelas 3, pada awalnya saya takut, namun akhirnya bisa menyesuakan diri. Pada pertengahan kelas 4, saya akhirnya bisa berteman lagi dengan teman-teman kelas 3.
Saya dan Sarah setelah ensemble music kelas 4 (saya kiri)
Bersama keluarga di rumah Mbah
Saya, keluarga, dan sepupu saat liburan di Candi Borobudur


Kelas 4 dan 5 saya mengikuti lomba mata pelajaran agama Al-Azhar se-Indonesia. Saya bangga bisa mewakili sekolah untuk mengikuti lomba tersebut. Namun sayangnya saya tidak bisa lolos ke babak final, karena saat itu saya kurang sehat, sehingga tidak bisa mengikuti perlombaan dengan maksimal. 
            Di kelas 5 ini adalah saat ketika saya memutuskan untuk memakai kerudung, sebagai penutup aurat. Sedikit sulit memang, namun alhamdulillah, hingga saat ini saya masih mengenakannya.
Saya saat menjadi peserta terbaik putri di sanlat
Saya dan keluarga saat liburan di Singapura
Kelas 6 adalah masa-masa menegangkan salam hidup saya, karena di tahun ini saya akan mengikuti ujian akhir. Angkatan saya adalah angkatan pertama diselenggarakannya UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional). Mengkikuti les privat matematika adalah cara saya untuk bisa lulus dalam ujian ini. Untuk pelajaran Bahasa Indonesia dan IPA, saya memilih untuk belajar mandiri. Awalnya saya bingung menentukan SMP mana yang harus dipilih. Akhirnya saya mendaftar hanya ke dua sekolah, yaitu MP UIN dan SMP Labschool Kebayoran. Saya diterima di kedua sekolah tersebut, namun karena SMP Labschool pengumumannya lebih cepat satu hari, saya memilih untuk masuk ke SMP Labschool Kebayoran.
Saat pengumuman kelulusan, saya meraih peringkat ke 4 untuk UAS dan ke 6 untuk UASBN. Wisuda dilakukan dengan khidmat. Di wisuda ini saya tampil dalam tim ensemble music dan memainkan recorder. 
Bersama teman-teman kelas 6B (barisan belakang, ke 8 dari kanan)
Jarak rumah saya menjadi sangat jauh dari sekolah, sehingga ayah memutuskan kami sekeluaga pindah rumah ke daerah Legoso, Ciputat. Tinggal di sebuah town house adalah pilihan ayah. Disinilah saya memulai kehidupan yang bisa dibilang tanpa bertetangga. Saya tinggal di lingkungan yang indivialitasnya tinggi. Rata-rata orang-orang yang tinggal di town house ini adalah orang kantoran yang selalu pulang malam dan jarang bersosialisasi dengan tetatangga.
MASA SMP
            Adalah suatu kebanggaan ketika saya bisa memakai rok berwarna biru. Disini awal mulanya ego saya muncul. Banyak konflik juga yang terjadi di SMP, namun perlahan tapi pasti saya melalui itu semua dengan tabah. Harus saya akui hidup di SMP itu susah-susah gampang. Pertama kalinya saya mengenal remedial, organisasi, dan banyak lagi tantangan baru dalam hidup. Masa peralihan dari anak-anak ke remaja.
            Diawali dengan Lab Fresh School Day atau yang biasa dikenal dengan masa orientasi siswa, saya diwajibkan memakai enam pita di atas kepala saya. Kemudian di sini semua kegiatan harus menggunakan name tag, name tag tersebut sangat besar dan talinya terbuat dari tali sepatu yang dikepang. Kelompok saya mendapatkan warna ungu, sehingga semua atribut yang saya pakai harus warna ungu. Pelajaran PBB (Peraturan Baris Berbaris) juga di ajarkan pada saat MOS yang berlangsung selama 5 hari ini. Pada saat PBB, kelompok saya dan beberapa kelompok lainnya disuruh oleh kakak-kakak OSIS MPK Heksatriya Praja Danadyaksa untuk push up dan mencium tanah sebagai tanda cinta tanah air. Walaupun melelahkan, kegiatan ini saya rasa sangat bermanfaat. Saya juga mendapatkan banyak materi yang bermanfaat dari berbagai sumber yang luar biasa.
Saat study tour di Pasir Mukti bersama 7C
            Selain MOS, saya juga mengikuti beberapa kegiatan lain, seperti KALAM kegiatan ini merupakan kegiatan rutin berupa pesantren kilat yang dilaksanakan sebelum bulan puasa. Kemudian ada juga kegiatan-kegiatan lain seperti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) di kegiatan ini terdapat banyak materi yang berguna untuk melatih diri agar bisa memimpin, baik diri sendiri maupun orang lain. LDKS merupakan bagian dari KARISMA yaitu serangkaian kegiatan jika kita ingin menjadi OSIS/MPK di SMP Labschool Kebayoran. Awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk berorganisasi namun, saya berubah pikiran, tidak ada salahnya untuk mencoba mengikuti tes untuk bisa jadi OSIS atau MPK. Saya memilih MPK ketika guru BK membagikan angket kepada saya. Ternyata setelah saya mengikuti LDKS, saya lulus dan bisa maju ke tahap orientasi. Di orientasi tes yang saya lalui cukup berat, namun saya dapat melaluinya dengan baik. Beberpa bulan kemudian hasil tes dibagikan, saya ingat waktu itu hasil tes dibagikan dalam amlop yang tersegel. Sebenarnya surat pengumuman itu harus dibuka bersama orang tua. Namun, saya dan teman se-jemputan yaitu Ara dan Nadia berniat untuk membukanya duluan di dalam mobil. 
 
Awalnya Ara yang mencetuskan ide itu sehingga dia yang membuka amplop itu terlebih dahulu. Ara lolos orientasi. Dilanjutkan dengan Nadia, dia juga lolos dan mereka berdua menjadi CAPSIS (Calon OSIS). Tinggal saya yang belum membuka amplop itu. Saya sedikit tegang karena takut kecewa dengan hasil yang terdapat dalam amplop tersebut. Awalnya saya ingin membukanya dengan mama ketika sampai di rumah. Namun rasa penasaran terus menggelayuti hati saya, sehingga saya buka amplop itu dengan perlahan dan tidak sobek. Dan ketika saya membuka kertas berisi hasil tes saya dapati tulisan LULUS sebagai pengurus MPK dalam kertas tersebut. Suasana haru meliputi hati saya saat itu. Sampai-sampai saya tidak sadar sudah meneteskan air mata bahagia.
Saat orientasi lanjutan di Bumi Mandiri Center (paling belakang kedua dari kiri)
saat perpisahan kelas 7 (paling depan, pertama dari kiri)

Saya juga sempat mendaftarkan diri untuk menjadi Ketua Umum MPK, namun sayang di tes awal yaitu fit and proper tes saya sudah gagal. Akhirnya saya menjadi Sekretaris I MPK Hasthaprawira Satya Mahadhika yang artinya prajurit angkatan 8 yang jujur dan istimewa. Semua tahap akhirnya selesai dan saya pun dilantik pada 17 Agustus 2009 dengan sebelumnya harus mengikuti LALINJU (Lari Lintas Juang). Ketika dilantik penat dan capek pada saat LALINJU hilang sudah. Kedua orang tua saya pun turut memakaikan saya jas MPK yang berwarna hitam. 
Saat pelantikan MPK (ke 4 dari kiri)
Bersama OSIS dan MPK Hastha (barisan paling depan, paling kanan)
            
 Di kelas 8 saya mengikuti BIMENSI (BINA MENTAL SISWA INDONESIA). Bimensi angkatan saya berada di SPN LIDO tepatnya di Sukabumi. Selain pembinaan mental seperti halang rintang dan lain-lain, saya juga sempat mengunjugi BNN (Badan Narkotika Nasional), di sini saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan mantan pengguna narkoba, dan menonton vidio pendek tentang narkoba. 
Saat BIMENSI di SPN Lido
Saat jalan-jalan ke Kota Tua bersama angkatan 8
            Ketika saya kelas 9, saya turun jabatan dari MPK, dan mulai fokus untuk UN. Sekolah tentu saja memberikan perhatian terbaik mereka bagi siswa siswi di kelas 9, karena mereka memang butuh perhatian lebih. Siswa kelas 9 mau tidak mau harus mengikuti paket, yaitu tambahan pelajaran dan pendalaman materi untuk UN. Kami juga mendapatkan materi seperti hypnotherapy yang sangat membangkitkan semangat kami untuk belajar. Untuk mempermatang persiapan UN, sekolah mengadakan acara TO UAN yang berisi materi dengan narasumber tim pembuat soal UN. Di sini saya juga mendapatkan materi hypnotherapy oleh Pak Kirdi Putra. Saya rasa materi ini cukup membantu saya menjadi santai saat mengerjakan soal UN.
            Angkatan saya di tahun ini juga sudah mulai membuat struktur kepengurusan angkatan. Dimulai dari pemilihan ketua angkatan, sekretaris angkatan, ketua buku tahunan, dan ketua celebration day. Angkatan kami diberi nama Scavolendra Talvoreight, yang berarti Eight is a typical entity which figure a never ending story atau angkatan 8 adalah tipikal kesatuan yang ceritanya tidak akan pernah berakhir.
             Pada awalnya saya ingin mendaftar di SMAN Unggulan MH. Thamrin dan SMAN 8. Saya sama sekali tidak berfikir untuk masuk ke SMA Labschool kebayoran lagi. Setelah saya berunding dengan orang tua, saya memutuskan untuk tidak mendaftar jalur khusus dan ikut jalur biasa saja untuk masuk ke SMA Labschool Kebayoran.
            Setelah mengikuti tes masuk SMA Labschool kebayoran dan hasilnya keluar saya pun di terima di sana. Saya sangat senang dan bangga. Namun saya tetap mencoba mendaftar di SMAN 8, namun hanya untuk menaruh berkas. Saya merasa SMAN 8 terlalu jauh dari rumah saya, sehingga saya mengurungkan niat untuk melanjutkan pendaftaran ke tahap selanjutnya. Saya juga tidak jadi mendaftar di SMAN Unggulan MH. Thamrin, karena banyak pertimbangan yang tidak memungkinkan saya untuk masuk ke sana.
Lari pagi terakhir kelas 9B dengan tema merah
            Akhirnya UN pun selesai dan hasilnya dibagikan, walaupun tidak sesuai dengan target yang telah saya buat, namun saya tidak terlalu berkecil hati dan bersyukur bahwa mungkin ini yang terbaik bagi saya. Untuk hiburan setelah UN, saya bersama kelas saya pergi berlibur ke Anyer. Kami menginap disana selama 2 hari 1 malam. 

Perpisahan kelas 9B di Anyer
Saat farewell party (paling kanan)

MASA SMA
            Setelah berlibur selama kurang lebih 3 bulan lamanya, saya akhirnya memasuki jenjang SMA dengan bersekolah di SMA Labschool Kebayoran. Di sana saya melewati MOS kembali.  Pada saat MOS saya di wajibkan memecahkan kode untuk makanan yang akan dibawa setiap harinya. Salah satu contoh minuman yang paling saya ingat adalah “teh kubur jedar-jedor”. Awalnya saya sangat bingung, namun setelah memikirkan lebih lama lagi, saya dan teman-teman akhirnya bisa memecahkan kode tersebut. Ternyata kode itu artinya kami harus membawa liang teh cap pistol. Kekreatifitasan kakak-kakak OSIS saat itu memang sedikit memutar otak saya, tapi saya senang karena ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. Pada waktu itu kami juga disuruh menyanyikan lagi wajib syukur, namun saya bingung ketika secara tiba-tiba kebanyakan teman-teman saya menyanyikan lagi bersyukur kepada Allah yang dinyanyikan oleh Opick, otomatis kakak-kakak OSIS semakin marah dan hukuman kami semakin lama. 
Bersama teman-teman di kelas 10
            Selain MOS, ada juga program sekolah lain seperti pilar. Pilar dilaksanakan ketika sedang bulan Ramadhan. Pada kegiatan ini, sekolah mengundang mentor dari Pesantren Darrut Tauhid Bandung.
            Saya dan teman-teman satu angkatan juga melakukan kegiatan TO (Trip Observasi) di Desa Parakan Ceuri, Purwakarta. Sebelumnya kami melakukan kegiatan Pra-TO yang dilaksanakan selama 3 hari. Pada saat Pra-TO kami mendapatkan nama angkatan dan terdapat pemilihan ketua angkatan. Angkatan kami bernama Dasa Eka Cakra Bayangkara, atau biasa disebut Dasecakra. Sedangkan ketua angkatan kami terdiri dari tiga orang, yaitu ketua umum A. Bayu Siswonegoro, dan didampingi oleh Rayhan Athaya juga Maga Arsena. Di sini kami juga diharuskan mengecat tongkat dan membuat name tag. Saya mendapat tugas untuk membuat name tag. Kelompok saya mendapat mentor yaitu Kak Yoga dan Kak Alia. Ada juga guru yang mendampingi saya dan kelompok saya yaitu Pak Hadi Purwanto yaitu guru fisika dan Pak Kenang Kelana yaitu guru PPL sejarah. Kelompok saya adalah kelompok 23 atau Ilir-ilir, terdiri dari Fikry, Norman, Raka, Zahra, Vania, Kak Erfan, Ghina, dan Rani.
            Perjalanan menuju Purwakarta menggunakan bus tanpa AC. Barang-barang kami sudah dibawa terlebih dahulu dengan truk. Sesampainya di sana, kami masih harus berjalan melewati jalan-jalan setapak dan pematang sawah untuk menuju desa tujuan.
            Di sana kami belajar untuk mandiri. Kami disana melakukan banyak kegiatan seperti PDP, yaitu membuat penelitian tentang sesuatu tentang desa Parakan Ceuri. Kelompok saya mendapatkan tema teknologi minyak cengkeh. Saya dan teman-teman bisa masuk ke babak final, namun tidak menang.
Kelompok 23 saat presentasi di final PDP (saya kedua dari kanan)

TO  membuat kita bisa lebih mandiri, mengetahui caranya masak sendiri, hidup jauh dari teknologi, dan mengajarkan kita untuk berbagi juga bertanggung jawab pada barang bawaan kita. Tongkat harus selalu dibawa kemana-mana. Name tag juga harus selalu dipakai, rambut anak perempuan juga harus selalu terikat rapi dengan pita warna-warni.
Setelah itu saya juga mengikuti study tour ke Bandung. Study tour kami sangat seru, karena kami bisa belajar sambil jalan-jalan. Banyak tempat kami kunjugi seperti Museum Geologi Bandung, PT.Pindat, LEN Industri, dan Sari Ater dan masih banyak lagi.
study tour ke Museum Geologi Bandung (ki-ka: Saya,Venna,Tita,Tara,Adilla,Dina)
Kegiatan yang paling melelahkan namun seru adalah BINTAMA (BINA MENTAL SISWA), kami dilatih untuk tahan banting juga kuat fisik dan mental. Pada saat BINTAMA kami tinggal di barak. Barak saya terletak paling ujung, dan entah mengapa di barak kami tidak ada air, sehingga saya baru bisa madi di hari ke 3. Saya mandi di barak sebelah, karena sampai hari terakhir barak saya tidak mengeluarkan air. Rata-rata semua teman-teman saya termasuk saya menjadi gosong karena terkena sinar matahari. Namun kegiatan ini cukup seru karena kami bisa out bound dan juga diajarkan bertahan hidup jika tersesat dalam hutan (survival). Saya mencoba berbagai macam daun yang bisa dimakan.
Kelas sepuluh menurut saya adalah masa yang paling sulit, karena selain terlalu banyak kegiatan, pelajarannya juga masih banyak. Terdapat 16 mata pelajaran di kelas 10. Penjurusan juga turut menambah beban pikiran saya. Saya berusaha keras untuk terus meraih hasil yang maksimal. Akhirnya pada saat pembagian rapot saya bersyukur karena saya bisa masuk ke kelas IPA. Saya sangat bersyukur karena cita-cita saya untuk menjadi dokter peluang lebih besar jika saya masuk program IPA di SMA. Di kelas sebelas ini saya juga pindah rumah lagi ke komp. PT Inhutani I, Ciputat.
Sekarang saya tidak lagi mengikuti organisasi formal di sekolah seperti OSIS maupun MPK, karena saya ingin lebih fokus pada nilai-nilai saya. Namun saya mengikuti komunitas ROHIS dan PEMERIAH sebagai pengisi waktu luang.
Di kelas sebelas ini, usaha yang lebih keras pastinya harus saya lakukan agar bisa masuk FKUNPAD dengan jalaur SNMPTN undangan. Tantangan di kelas sebelas mulai berdatangan, oleh karena itu saya harus mempersiapkan diri saya agar lebih kuat menghadapi tantangan demi tantangan tersebut. Satu tahun pembelajaran di SMA sudah cukup menjadi bekal saya menuju jenjang yang lebih jauh lagi.
Saat pakai kostum bola di akhir semester 1 kelas 10 (ki-ka : Nisya Saya,Rafi,Ajeng,Ipeh,Nadia)
Saat upacara bendera 17 Agustus 2011 (ki-ka: Nisya dan Saya)

Saat Sky Nation (ki-ka:Nisya,Saya,Venna)
           

3 komentar:

  1. Bisakah dibayangkan kalau kalimat yang saya kutipkan ini muncul dari kesadaran anak ketika mengingat masa usia kelas 3 SD?
    "Hidup tidak selalu mulus, saya mengalami sedikit konflik dengan teman-teman perempuan saya"

    Nabila yang tidak pernah membayangkan masuk SMA Labsky ini, adalah Nabila yang memiliki kesadaran bahwa "hidup tidak selalu mulus". Kesadaran ini penting bagi hidup. Kesadaran ini sudah dibuktikan oleh Nabila ketika menetapkan diri untuk memilih Labsky dan mengandaskan dua SMA lainnya.

    Hidup memang tidak selalu mulus seperti yang kita bayangkan.

    BalasHapus
  2. Terima kasih ya informasinya

    BalasHapus
  3. Terima kasih ya informasinya

    BalasHapus