Selasa, 28 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Arkandiptyo (Bag. 1/8)

"16 Tahun Kehidupan Yang Menumbuhkan Harapan (Bag. 1/8)"


Prolog: Rabu Pagi Yang Diundur 
(Rabu, 29 Mei 1996)
-Tentang Persalinan & Latar Belakang Keluarga

Hari itu hari ke empat dalam suatu minggu, Robi’ kalau kata orang Arab, diserap oleh bangsa Indonesia ini menjadi hari Rabu. Tanggal saat itu ialah 29 Mei, tahun 1996 menurut kalender Masehi. Jam menurut Waktu Mean Greenwich baru lah jam 3 pagi, namun di satu sudut kota Jakarta ini jarum pendek telah menunjuk angka sepuluh,  dan matahari yang angkuh namun gagah itu sudah memulai naik perlahan ke singgasananya di langit tertinggi.

Tersebutlah sudut kota Jakarta itu sebenarnya adalah sudut di bagian tengah kota Jakarta, tepatnya di bilangan Matraman. Lebih spesifik lagi di sebuah rumah sakit katolik tua peninggalan kolonial misionaris Belanda awal abad ke-20 yang bernama RS St. Carolus, disalah satu bangsal-bangsal itu, sedang terjadi sebuah operasi persalinan.

Operasi persalinan itu terlambat satu hari dari perkiraan para dokter, katanya akan terjadi tanggal 28, namun tidak terjadi, karena hingga pukul 17 hari itu sang ibu belum merasakan apa-apa dan tidak ingin memaksakan operasi – tapi di malam hari antara tanggal 28 dan 29 sakit luar biasa mulai dirasakan oleh sang ibu yang sedang mengandung. Pagi dini hari menjelang, di tengah kegelapan malam di rumahnya yang kecil di daerah Manggarai pada sekitar pukul 2-3 air ketuban sang ibu mulai pecah, segera tindakan diambil, persalinan dimulai pukul tujuh tanggal 29, meskipun kondisi darurat tak terduga sang ibu tetap menolak untuk memakai teknik operasi semacam Caesar atau alternatif lainnya. Pasangan itu besikeras bahwa hanya persalinan normal seperti umumnya yang akan dilaksanakan

Sang ibu yang sedang mengandung 40 minggu itu adalah seorang akuntan berumur 30 tahun yang kala itu bekerja di Natra Raya, sebuah korporasi dibawah perusahaan Honda Astra Motor Indonesia. Ia akuntan yang mulai berkelana dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain sejak tahun 1994 setelah menyelesaikan masa kerja wajibnya di Departemen Keuangan, karena notabene ia adalah lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang para lulusannya wajib bekerja di Departemen Keuangan terlebih dahulu. Kala itu ia telah menjajal firma akuntansi ternama Pricewaterhouse-Coopers & mengaudit perusahaan nutrisi ternama dari Swiss, Nestle. Natra Raya menjadi petualangannya yang ke-tiga, namun ia kala itu sedang melamar untuk mendapat posisi di PT. Van Melle Indonesia, perusahaan yang produknya jauh lebih terkenal di kalangan pasar, yaitu permen-permen seperti Alpenliebe, Marbles, Happydent dan Mentos. Namanya tidak lain tidak bukan, Wrenges Widyastuti.

Sosok sang ibu adalah harapan keluarganya, sebagai anak pertama dari empat bersaudara yang adik-adiknya masih kuliah pada zaman itu; dua di UI dan satu sedang meniti karir sebagai pilot. Berasal dari sebuah keluarga yang memiliki darah priayi Jawa dari garis Raden Adipati Sawunggalih namun kehilangan semuanya ketika kondisi politik Indonesia tahun 1940an terjadi dan harus memulai dari titik nol lagi, sempat beberapa tahun harus meninggalkan keluarganya ke Jogja demi menghemat biaya untuk adik-adiknya, dan berjuang menjadi kakak perempuan tumpuan yang menafkahi adik-adiknya agar mereka bisa masuk kuliah yang diinginkan, darinyalah darah kepribadian yang memiliki keteguhan dan kelembutan hati namun kritis, besar mulut dan penuh harapan diturunkan.

Tak jauh darinya ialah sang sosok ayah yang menunggu di luar, umurnya 31 tahun. Ia bertemu sang ibu awalnya juga dari STAN dan masuk Departemen Keuangan, selama tahun-tahun baktinya pada negara ia telah berkelana ke beberapa pojok nusantara, mulai bekerja bersama Pertamina di Riau, bersama Kadin di Surabaya, namun yang paling diingat olehnya, ialah memori bekerja bersama BPKP & Lemigas di Irian. Tahun 1992 karena merasa birokrasi Orde Baru yang saat itu sudah sangat dirasuki oleh mental KKN ia memutuskan berhenti dari masa bakti wajibnya dengan konsekuensi membayar sejumlah uang sebagai kompensasi kepada Depkeu, mencoba mencari peruntungan yang lebih halal. Tahun 1994 ia berangkat ke Filipina dalam rangka menempuh pendidikan paska sarjana, ia belajar di Asian Institute of Management, sebuah kampus ternama di bilangan Makati, pusat bisnis Manila dimana dosen-dosennya adalah para ekspatriat Filipina lulusan Amerika Serikat yang dipanggil kembali ke negaranya. Disana ia mengambil program manajemen bisnis / Master of Business Management (MBM). Akhir tahun 1996 ia diperkirakan akan lulus, dan saat itu sedang menyusun tugas skripsi khas AIM, yang biasa disebut oleh dosennya sebagai Management Review Report atau MRR.
Dan dimasa-masa penting itu, ia berani mengambil izin satu minggu kepada dosen pembimbingnya, Prof. Gabino Mendoza, salah satu dosen terkeras dan figur penting dalam perekonomian Filipina, untuk menemani istrinya yang akan bersalin.

Namanya Unggul Suprayitno, berasal dari sebuah keluarga Jawa yang pindah dari desa ke kota anak ke enam dari tujuh bersaudara, figur-figur migran Jawa biasa pada umumnya di Jakarta, namun ia mampu menggebrak tradisi-tradisi keluarganya; pada saat SD dia mulai berlangganan dan berjualan koran untuk uang jajannya sendiri, pada saat SMP dia mampu berpergian sendiri bersama teman-temannya ke berbagai tempat di pulau Jawa, saat SMA dia mampu menjadi ketua organisasi antar sekolah yang mampu menjembatani perbedaan dan kondisi sekolah-sekolah yang sering rusuh pada saat itu, dan masih banyak lagi hingga akhirnya puncaknya menjadi anggota keluarga besar pertama yang mampu sekolah S2 di luar negeri. Dari figur inilah, genetika yang cenderung ingin tahu, ingin berkelana, ingin mencoba, kreatif dan tidak takut kalah namun seringkali nekat dan tidak kenal malu turun ke sang bayi yang akan turun ke dunia itu.

Bersama dengan segenap keluarga dari pihak sang ayah maupun sang ibu menunggu dengan antusias kedatangan sang cucu bungsu, dari pihak sang ayah, dan kedatangan cucu sulung, dari pihak keluarga sang ibu.

Tepat pukul 10.15, dokter keluar dari bangsal dan menyatakan bahwa persalinan dengan metode normal tanpa adanya operasi tambahan seperti metode Caesar atau sebagainya, sukses. Tak lama kemudian, sang bayi langsung diazani oleh kakak tertua sang ayah yang bernama Agus. Beberapa saat kemudian pula, sebuah doa dan harapan abadi dipanjatkan oleh pasangan yang berbahagia itu dalam bentuk sebuah nama yang akan dibawa oleh sang bayi itu sepanjang hidupnya – aku, diberi nama Muhammad Arkandiptyo.

Kata ayah & ibu, Muhammad Arkandiptyo berasal dari tiga bahasa – Arab, Persia & Jawa. Muhammad adalah bahasa Arab yang mengacu kepada Sang Rasulullah Muhammad SAW, namun yang mereka ingin tegaskan adalah karakter sang Nabi yang sejak saat muda telah menjadi orang terpercaya hingga bergelar Al-Amin bahkan oleh golongan Kafir Quraisy yang notabene merupakan musuhnya kala itu. Arkan adalah penyederhanaan dari sebuah kata bahasa Persia; “Ar’khand”, yang artinya Kemuliaan, seperti halnya manusia Jawa yang suka menyederhanakan dan menyingkat kata serapan. Bahasa Persia digunakan untuk menghormati salah satu kakek buyut dari ibu, Abdullah, yang notabene adalah pedagang Persia asli yang datang ke pulau Jawa lewat perjalanan dari Gujarat, India menuju Semarang. Sementara Diptyo berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil (Tingkatan bahasa Jawa terluhur & tertinggi), yaitu dari kata ‘Diptya’ yang berarti Lentera atau Sosok Pembawa Cahaya. Sementara huruf ‘o’ diujung kata adalah imbuhan yang menyatakan sang empu nama itu adalah sesosok lelaki. Jadilah harapan yang terpanjat oleh ibu & ayahku adalah agar aku kelak menjadi seorang Arkan, sesosok lelaki terpercaya yang membawa cahaya kemuliaan.

"Jadilah harapan yang terpanjat oleh ibu & ayahku......
....Agar aku kelak menjadi seorang Arkan, sesosok lelaki terpercaya yang membawa cahaya kemuliaan"

Dan sosok Muhammad Arkandiptyo itu, barulah akan menelusuri perjalanan hidupnya yang penuh pengalaman yang berisi berpuluh torehan prestasi dan kegagalan, yang dalam perjalanannya membentuk sesosok figur yang memiliki seladang harapan untuk dirinya, keluarganya, orang-orang disekitarnya yang dicintainya, dan masyarakat tempat ia berada.

Telentangnya bayi berberat 3,5 kg sepanjang 49 cm itu barulah sebuah permulaan....

Aku di pangkuan ayahku, umur 2 minggu, tidak lama setelah keluar dari RS St. Carolus


(Berikutnya:
Bag 2/8: Saharjo nan Sederhana~ 
Masa Balita di Gang Lontar, Saharjo, Manggarai 1996-2001)

2 komentar:

  1. Sebenarnya ingin segera memberi komentar, tetapi karena catatan ini belum usai, maka komentarnya ditunda. Yang pasti, saya menyukai ketika seseorang menulis dan tidak melakukannya sebagai sebuah beban. Ini salah satu kunci menjadi penulis kreatif dan penulis produktif.

    Meski belum mengomentari catatan 1/8, tetapi saya optimis kalau Arkan akan menjadi penulis kreatif yang produktif.

    Jakarta, 30 Agustus 2012
    ms_rasyid@yahoo.com

    BalasHapus
  2. Terima kasih untuk inputnya Pak Shobirin.
    FYI saja pak, untuk bagian 2 & 3 bahasa yang saya gunakan mungkin standar saja dan tidak sekreatif yang Prolog, mengingat memori dan hasil mencari-cari cerita yang saya lakukan tidak begitu tajam... Namun saya bisa janjikan kreatifitas bahasa di bagian2 berikutnya...

    Saya juga sudah gak sabar untuk publish post lain, namun jujur bagian 2 & 3 yang saya kerjakan adalah yang paling berat, berbeda dengan bagian 4 seterusnya dimana ingatan, dokumentasi, dan sumber lain untuk ditanya masih berlimpah....

    Thanks before,
    -Arkan

    BalasHapus