Kamis, 23 Agustus 2012

Tugas-1 Autobiografi Muhammad Adif Herawan


                   Pagi itu  pukul 07.40 pagi hari Senin, 12 Agustus 1996. Lahirlah seorang bayi laki-laki bernama Muhammad Adif Herawan. Bertempat di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta selatan. Dengan berat 3.210 gram, dengan panjang 49 cm. Pagi itu lahirlah bayi dengan prosesi Caesar, atau dengan cara operasi. Saya sendiri adalah anak pertama dan satu-satunya (hingga saat ini) dari pasangan Dudi Herawan dan Rinda Safyanti. 

Masa Balita

Masa kecil saya, sebagai anak balita kurang lebih sama dengan anak-anak yang lainya. Sebagai anak laki-laki sebagaimana biasanya, pastilah suka dengan mainan-mainan seperti robot, mobil-mobilan, dan lainya. Namun entah mengapa terakhir kali saya mampir ke gudang rumah. Dan memeriksa tumpukan kardus, didalamnya terdapat banyak sekali boneka. Tentunya yang memiliki dan bermain dengan boneka identik dengan anak perempuan. Ketika bertanya dengan orang tua saya, memang benar adanya, ternyata boneka-boneka itu milik saya. Entah mengapa, mungkin memang benar itu semua milik saya. Pada suatu hari, ketika orang tua saya benar-benar sibuk. Mereka menitipkan saya untuk tinggal bersama kakek dan nenek saya yang bertempat tinggal di kawasan Cilandak. Selama beberapa pekan.

Dengan kakek di Cilandak

 Kebetulan bertepatan dengan hari di mana nenek saya akan pulang kampung ke tempat asalnya selama beberapa hari, di Kota  Medan tepatnya. Perjalanan dimulai  dengan menggunakan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Saya hanya ditemani oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya berdecak heran dengan sifat saya yang tidak bisa diam selama perjalanan. Ya mungkin termasuk anak yang cukup aktif. Dia bilang dengan logat Aceh khas nya “Sungguh lasak kali kau Adif, gak bisa diam sedikit ya”, ya mungkin membuat sedikit kerepotan selama dalam kabin kapal. Sampai akhirnya, kakek saya mempunyai inisiatif untuk sedikit menenangkan dengan bermain-main dengan termometer. Entah kenapa ada thermometer disitu. Namun karena suhu disekitar kota Medan yang panas, termasuk juga didalam kabin kapal laut itu. Akhirnya termometer itu pecah, dan melukai tubuh saya. 


MASA TK

Saya menghabiskan masa kanak-kanak saya di TK Al-Muttaqin, yang teletak di kawasan Rempoa. Setiap hari kalau tidak salah disana diajakarkan bernyanyi, bermain, dan menggambar. Entah apa serunya, tapi menurut saya masa inilah yang paling bebas, belum terbebani tugas kimia atau fisika yang harus memutar otak. Tetapi yang namanya anak-anak tidaklah afdol bila tidak bertengkar dengan teman nya. Dulu saya punya teman yang namanya Akram panggilanya (kalau tidak salah) dan sering sekali berkelahi denganya, mulai dari kejar-kejaran, pukul-pukulan, sampai saling cakar. Entah mengapa saya juga tidak ingat tanpa alasan yang pasti kami punya masalah. 

Pembelajaran Manasik Haji



MASA SD
                                                                                                                                             
Masa SD saya dilalui di MI Pembangunan UIN Jakarta, terletak di Jl. Ciputat Raya. Walaupun tidak termasuk dalam wilayah DKI Jakarta, namun status sekolahnya adalah sekolah swasta Jakarta. Jadi tidaklah sulit untuk masuk sekolah negeri Jakarta. Masih ingat sekali saya masuk pertama kali di MP di kelas 1G. Dengan wali kelas yang biasa dipanggil “Bu Cici”. Masih ingat sekali sebuah kejadian yang agak konyol sebenarnya. Jadi sewaktu kelas 1, saya diberi uang jajan sekedar 2 ribu rupiah. Jumlah yang sangat kecil bila dipikir-pikir saat ini. Sewaktu jam istirahat, saya menyempatkan diri ke kantin. Dengan uang dua ribu rupiah itu saya dapat membeli sebotol Teh Botol, yang sekarang harganya sudah mencapai 3000 rupiah. Setelah selesai meminumnya, pedagang itu pun memberikan uang kembalian nya kepada saya. Dengan gugup saya pun menerimanya. Dan karena takut harus di apakan uang itu, sejenak saya berpikir. Lalu saya berinisiatif (yang sebenernya bodoh) malah membuang uang logam 500an, kedalam pot bunga. Dan setelah sepulang sekolah, saya dijemput oleh ayah, dan menceritakan kejadian tadi. Namun ternyata ayah saya tertawa lebar. Katanya, “kenapa dibuang Dif? Kan bisa dibuat untuk tabungan…” Semenjak itu saya pun sadar dan tidak membuang uang kedalam pot bunga lagi. Mulai dari situ saya menjadi sadar betapa pentingnya uang dan menabung. Mengapa bisa dibuang-buang kalau begitu?  Dikelas 1 ini saya di ikutkan kursus matematika di AIA (Aloha Indonesia Abacus) dari TK dan tamat pada awal kelas 3 SD. Di sana saya di ikutkan dalam berbagai kejuaran lomba aritmatika mulai dari tingkat region sampai nasional.


Foto Dengan Hadiah dan Piala Juara 1 Lomba Aritmatika Nasional



 Pada UAS semester 2 kelas satu ini saya hanya mendapat ranking 7. Ya, cukup mengecewakan. Mungkin masih terbawa “suasana” TK yang asyik dengan bermain.

Naik di kelas 2, sebenarnya sama saja keseluruhan dengan kelas 1. Namun terdapat kabar kurang gembira datang dari ayah saya. Kami terpaksa harus berpisah, karena ia akan pindah kerja ke negri sebrang, Australia sambil kuliah S2 nya juga. Tapi tak mengapa karena setiap 6 bulan sekali kami dapat bertemu, bila ayah saya yang tidak pulang, maka giliran saya dan ibu saya yang pergi kesana, ya mungkin sekitar 2-3 minggu. Lalu pulang kembali lagi ke Jakarta. Sebenarnya saya sendiri lebih senang bila kami (saya dan ibu) yang pergi ke sana. Selain bisa jalan-jalan dan menikmati suasana baru, juga sembari menikmati penerbangan pesawat, yang memang menjadi minat saya. Hal ini pun berlangsung sampai 6 tahun kedepan. Dan benar saja pada semester akhir kelas 2, kenaikan ke kelas 3. Pada tenggat liburan nya. Kami pergi menungjungi ayah saya ke Sydney untuk yang pertama kalinya. Kesan pertama kali sampai disana adalah dingin. 

Ya, kebetulan karena sedang Bulan Juni, yang berarti musim dingin. Sesampainya di bandara, terlihat ayah saya yang menjemput. Setelah mencari troli dan meletekan koper ke atas kereta troli, kamipun beranjak mencari Bus kota untuk menuju tempat tinggal ayah saya. Mulailah perjalanan saya di Kota Sydney. Masih ingat sekali, kami seharusnya menumpang kereta untuk mencapai tujuan, sekitar 5-6 Km, dari bandara. Namun karena sedang ada perawatan selama satu minggu, maka armada transportasi kereta ditutup. Dan digantikan dengan sarana Bus, dan ferry. Disana, semua tertata sangat rapi, mulai dari transportasi, lingkungan, dan juga masyarakat nya yang sudah maju. Lalu kamipun menikmati tempat-tempat wisatanya seperi Opera House, Darling Harbour, Taronga Zoo, dll. 

Dengan Ayah di Cicular Quay
Dengan Ibu di Circular Quay

Pada kelas 3, saya mulai memilih ekskul yang tersedia di sekolah. Saya pun diantaranya memilih ekskul Futsal. Memang dari awal minat saya, dan sayapun senang sekali bermain bola. Dari situ saya rutin berlatih Futsal disekolah, dengan waktu dua kali seminggu, setelah sepulang sekolah. Pada tahun ini, saya tidak mengunjungi ayah saya karena, om atau adik dari ibu saya akan menikah. Maka ayah saya yang pulang ke Indonesia untuk beberapa pekan lalu kembali lagi.

Di kelas 5, prestasi saya akhirnya dapat dibanggakan juga. Sebenarnya dari kelas 4 semester dua, saya dapat masuk 3 besar rangking di kelas. Alhamdulillah. Di kelas 4 ini, dibuka pendaftaran dan seleksi untuk mengikuti lomba olimpiade Sains pada tingkat SD. Saya pun mengikuti seleksi tahap sekolah ini dan ternyata hasilnya lolos. Terimakasaih Ya Allah. Syukur saya saat itu. Sebenarnya saya juga tidak sendirian, bersama teman-teman yang lain juga, dan mereka selanjutnya bersekolah di SMP Labschool Kebayoran yang mungkin sudah anda kenal namanya. Diantaranya adalah Raditya Ramadhan Rompas, dan Fachrizal Imam. Mereka berdua dulu  cukup dekat dengan saya, sampai kami lulus dan berbeda sekolah hingga hilang kontak. Dan patut disyukuri dapat membawa nama sekolah hingga tingkat Kota Madya, yang dimananya setelah itu semua kandidat gugur, termasuk diri saya sendiri. Selanjutnya semenjak itu, saya dapat dipercaya untuk mengikuti lomba-lomba seperti olimpiade yang serupa. Dikelas 4 saya juga di suruh ayah saya untuk mendalami sepak bola, dengan mendaftar di Akademi Sepak Bola Inti Nusa Olah Prima atau disebut AS-IOP, klub besutan alm. Ronny Pattinasarany. Yang menjadi legenda Timnas pada era nya. 

Naik di kelas 5, angkatan saya mulai dipercaya untuk mengikuti lomba futsal antar sekolah, dan beruntung dapat dijadikan kaptenya. Beberapa kejuaraan dapat kami menangi, mengantarkan nama harum bagi sekolah kami. Cukup dapat dibanggakan. Hingga pada suatu waktu, sekolah saya mengikuti kejuaran Menpora, yang bertanding dengan tim-tim sekolah unggulan. Yang pada akhirnya tim sekolah kami kalah. Namun saya tidak kecewa ternyata setelah 3 hari lekas dari kekalahan itu. Nama saya dipanggil dan di pilih menjadi 20 pemain terbaik pada kejuaraan itu. Sungguh berita yang menggembirakan buat saya, namun hanya saya dan Ical (panggilannya) yang menjadi perwakilan dari sekolah. Dan 20 pemain itu berhak untuk mengikuti pelatihan di Arsenal Soccer School, di Ciputat. Yang pelatih-pelatih nya berlisensikan dunia, walaupun melatih anak-anak. Disana fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari tempat berolahragar/fitness sampai pada dalam game. Jauh sekali dengan fasilitas klub saya pada saat itu.

 Di kelas 6, dikagetkan dengan berita adanya UASBN bagi angkatan saya. Yang angkatan sebelumnya kalau tidak salah, tidak menjalaninya. Maka dari itu angkatan kamipun diberikan pelajaran tambahan untuk menghadapi UASBN tersebut. Saya pun berusaha dengan giat, dan menargetkan untuk masuk di SMP Labschool Kebayoran. Karena lebih dekat ke tempat latihan sepak bola saya berada. Sampai lah pada hari H nya, saya berusaha tenang dan berpikiran jernih dengan ujian yang saya hadapi. Dan mengharapkan nilainya nanti dapat mencukupi untuk masuk SMP tujuan. Di saat kemudian hari untuk seleksi masuk SMP Labsky, namun bertepatan dimana pertandingan antar klub pada Danone Cup kala itu. Apabila dapat menjadi juara Indonesia, kami yang mewakili Indonesia akan berangkat ke Perancis, dan melawan tim-tim dari negara lain. Akhirnya orang tua saya memberi masukan kepada saya untuk mengikuti pertandingan itu. Dan melupakan tentang seleksi masuk SMP Labsky. Namun takapalah bagi saya. "Mungkin di lain hari", pikir saya kala itu. Namun akhirnya tim kami yang telah berhasil mewakili Jakarta, dan bertanding dalam laga Nasional. Karena faktor teknis, gugur dalam kejuaraan itu. Ya, mungkin tim kami memang kurang beruntung saat itu. Tapi tak mengapa, masih banyak kejuaraan lain diluar sana. Dan menjadikan motivasi kami untuk giat berlatih agar bisa bermain lebih baik di kemudian hari.
Dan pengumuman ujian pun tiba, nilai saya cukup pas-pasan pada IPA yakni hanya 6. Sementara Matematika dan Bahasa Indonesia tertulis 9. Memang membuat sedikit kecewa, namun saya berjanji dalam UN selanjutnya akan lebih baik lagi. Akhirnya saya dapat masuk SMPN 11 Jakarta, yang jadi salah satu unggulan di DKI.

MASA SMP

SMP saya adalah SMPN 11 Jakarta yang terletak di Jl. Kerinci, Jakarta selatan. Kehidupan pada masa SMP jauh sekali dengan masa-masa SD, dimana lebih kental rasa persahabatan diantara kami, dan lainya. Masuk dikelas 1 SMP, mengenal lingkungan baru, yang menurut saya sangatlah asing. Namun akhirnya setelah 6 bulan lama-lama terbiasa juga. Sejak kelas 1 saya pun telah mengetahui harus ikut ekskul apa. Ya sama seperti kala SD, yaitu Futsal. Selain itu sewaktu           kelas 1, diadakan seleksi pemilihan untuk lomba Karya Ilmiah Remaja, yang akan mewakilkan sekolah untuk bertanding  melawan SMP se-DKI Jakarta. Dan Alhamdulillah ternyata saya dan 3 kelompok kandidat lainya lulus dalam tahap seleksi. Dan berhasil maju sampai tingkat final. Cukup prestasi yang membanggakan di awal tahun ajaran baru ini.

 Beralih ke kelas 2 semakin asyik menjalani hari-hari di jenjang Sekolah Menengah Pertama ini. Dan mungkin dalam masa nakal-nakalnya sebagaimana anak lelaki remaja.


Foto Buku Tahunan

 Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali lagi mengunjungi ayah saya di Australia selama liburan 3 pekan. Kali ini saya mulai terbiasa di sana. Mulai hafal dengan jalan-jalan dan tempat di sana.



Saat St. Patricks Day

Setiap tahun di SMP saya diadakan acara Pesantren Kilat. Dimana kegiatanya dimulai pukul 5 sore, dan di isi dengan tausyiah agama, serta membaca Al-Quran. Dan acara berlangsung sampai pukul 7 selepas sholat maghrib berjamaah. Naik ke jenjang kelas 3, dimana haruslah serius untuk menghadapi Ujian Nasional. Setiap hari diadakan pendalaman materi. Dimana siswa diwajibkan hadir disekolah setiap pukul 5.30 pagi. Memang butuh perjuangan yang berat. Namun pada akhirnya dapat membuahkan hasil  yang maksimal. Alhamdulillah dengan NEM yang cukup untuk masuk ke SMA Negeri unggulan, tetapi saya terlebih dahulu tes di SMA Labschool Kebayoran dan lulus serta di terima di SMA ini.


MASA SMA

Masa-masa kelas X di SMA Labschool memang melelahkan. Sepertinya ada benarnya yang dikatakan Kak Danto di blog nya. "masa kelas 10 adalah masa babu..." Disini saya mengartikan lebih banyak penderitaan nya. Karena banyak program-program Labsky yang kompleks dan berat. Saat pertama kali menginkkan kaki di Labsky sebagai Peserta MOS lengkap dengan atribut yang di minta kakak OSIS, perasaan campura aduk, dari rasa bangga hingga takut karena akan di dikerjai dihari itu. Pendapat saya ketiak di kelompokkan ke dalam kelas X-E adalah suram. Ya suram, menurut saya kala itu Labschool yang identik dengan anak-anak yang notabene super jenius, yang bahkan tes masuknya saja sulit, merupakan anak-anak yang isinya baik-baik dan seperti kutu buku. Di benak saya sudah malas saja terasa, setiap hari akan belajar serius dan membosankan. Tetapi itu semua salah, anak-anak dikelas X-E jauh dari hal itu. Setengah semester berlalu, sudah bisa dinilai anak-anak kelas X-E bisa dibilang rame-asik-barbar-gak bermoral. Pokoknya benar-benar kelas yang penuh arti. 


Refleksi di Tanjung Lesung (ki-ka: Adif-Satrio-Ikko-Hafizh)

bar-bar

Di Sinou Cafe

TO lengkap dengan Pra-TO nya pun di mulai. Saat Pra-TO kami di bimbing oleh kakak OSIS angkatan Daswira. Dalam program ini kami di ajarkan bagaimana hidup bersosialisasi, berbagi dengan orang lain, serta yang paling penting rasa kemandirian. 


Kelompok Trip Observasi



Di lanjutkan dengan BINTAMA yang dilatih ala semi militer oleh anggota KOPASSUS, di markas Grup-1 Serang, Banten. Disana kami di didik seperti baru kenal etika dan perilaku. Kalau salah-salah sedikit saja akan di hukum, mungkin dengan Push-up, guling-guling di tanah, sampai naik pohon lalu bernyanyi.    Ada bagian yang seru yakni saat survival di hutan dengan membawa persediaan logistik seadanya, kami diajarkan bagaimana bertahan hidup. Memasang perangkap, mencari kayu bakar, dan menyembelih ular serta biawak. Lalu di bakar dibumbui dengan kecap serta garam ala kadarnya lalu di makan hangat-hangat sudah cukup mengganjal perut saya rasa. Makna dari program sekolah yang satu ini adalah menempa mental para penerus bangsa, agar menjadi pemuda-pemudi yang tidak pantang menyerah dan giat berusaha.


Salah satu teman saya Reza, yang di sinyalir kerasukan saat jurit malam


Penyambutan Peserta BINTAMA, dengan dentuman TNT


Di SMA ini, sama seperti sebelum-sebelumnya kembali memilih ekskul futsal. Karena memang hanya itu yang saya bisa. Dengan giat berlatih dan bekerja keras, Alhamdulillah saya di percaya untuk mengikuti beberapa kejuaran. Debut pertama saya adalah pada Skybatt 2011 namun karena lawan yang lebih unggul, tim kami hanya dapat bertahan di fase grup. Selanjutnya adalah kejuaraan SMAN 28 di GOR Soemantri Bojonegoro. Dan tim kami dapat memenangkan juara 3


Labsky FC



Labsky FC




































              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar